Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 Di Terima Menjadi Guru
Ariel melipat kedua tangannya di dada dan menatap remeh ke arah Sherina. "Memangnya kamu lulusan apa?" tanya Ariel dengan sombongnya.
"SMA, tapi tenang saja bahasa Inggris aku tidak perlu diragukan lagi," dusta Sherina.
"Lulusan SMA mana bisa jadi guru Bahasa Inggris, memangnya kamu ngerti bagaimana menerangkan pelajaran Bahasa Inggris?" seru Ariel dengan sombongnya.
"Kamu mau tes aku dalam berbahasa Inggris?" tantang Sherina.
"Kamu ikut ke ruangan aku," seru Ariel.
Sherina pun mengikuti Ariel, tapi dia menarik tangan Nining untuk ikut masuk juga. "Silakan duduk!" seru Ariel.
Sherina dan Nining duduk. Ariel mulai berbicara menggunakan Bahasa Inggris membuat Nining melongo tidak mengerti sama sekali. Nining menoleh ke arah Sherina dan jantung Nining berdetak tak karuan karena takut Sherina tidak bisa menjawab ucapan Ariel.
Ariel tersenyum penuh kemenangan saat melihat Sherina hanya terdiam, dia mengira jika Sherina memang tidak bisa bahasa Inggris. Lalu dengan senyumannya, Sherina pun membalas ucapan Ariel. Nining kembali melongo, bahkan Bahasa Inggris Sherina lebih bagus dan terlihat natural dibandingkan dengan Ariel.
"Bagaimana Pak Guru yang sombong," seru Sherina dengan nada yang sedikit ditekan.
Ariel terlihat kesal, dia tidak menyangka jika Sherina bisa menggunakan Bahasa Inggris yang baik dan benar. Ariel sebenarnya tidak mau menerima Sherina, tapi saat ini sekolah itu memang membutuhkan guru Bahasa Inggris. "Ih, kamu keren banget Sher," puji Nining bahagia.
"Tapi gaji di sini kecil, kamu siap mengajar dengan gaji kecil?" seru Ariel.
"Tidak masalah," sahut Sherina.
"Baiklah, kamu diterima ngajar di sini. Mulai besok kamu sudah bisa masuk, tunggu sebentar aku ambilkan surat-surat dulu," seru Ariel.
Nining menggenggam tangan Sherina. "Selamat ya, Sher akhirnya kamu bisa ngajar di sini dan kita bisa bareng-bareng berangkat ke sekolah," seru Nining bahagia.
"Iya."
Tidak lama kemudian, Ariel datang dengan membawa baju juga untuk Sherina. "Ini baju untuk kamu. Kamu hanya mengajar dua kali dalam seminggu," ucap Ariel.
"Baik. Kalau begitu aku pamit." Sherina dan Nining pun pergi.
Ariel terlihat kesal, dia terpaksa menerima Sherina karena memang membutuhkan tenaga pengajar. "Serius, dia lulusan SMA? tapi kok Bahasa Inggrisnya fasih banget kaya yang sudah pernah tinggal di luar negeri," batin Ariel.
Bagaimana tidak fasih, sekolah SMA dan kuliah Sherina habiskan di Amerika. Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa sehari-hari bagi Sherina hanya saja Ariel tidak mengetahuinya. Sherina dan Nining pun pulang, keduanya berpisah dan pulang menuju rumah masing-masing.
"Kamu dari mana, Sher?" tanya Mommy Wita.
"Dari sawah Mom, tadi ikut sama Nining," sahut Sherina.
"Kamu bawa apa?" tanya Mommy Wina melihat ke tangan Sherina.
"Baju seragam guru," sahut Sherina.
"Buat apa?"
"Mulai besok, Sherina akan mengajar di sekolah sebagai guru Bahasa Inggris," sahut Sherina bahagia.
"Guru Bahasa Inggris? serius kamu?" Mommy Wita tidak percaya.
"Seriuslah, masa bohong. Ya, sudah Sherina ke kamar dulu ngantuk mau tidur." Sherina pun masuk ke dalam kamarnya.
Sementara itu, Tri dan Syarif tampak kelelahan. Keduanya duduk sebentar sembari melepas rasa lelah yang mendera. "Sumpah, capek sekali Dad," keluh Syarif.
"Jangan ngajak ngobrol, Daddy engap," sahut Daddy Tri terbata-bata.
Tri dan Syarif baru kali ini bekerja keras seperti itu, biasanya mereka duduk manis di depan AC tapi sekarang mereka harus panas-panasan. "Dad, telepon asisten Daddy saja suruh bawa orang ke sini buat bantuin kita," seru Syarif.
"Gila kamu Syarif, kalau Daddy nyuruh orang bisa ketahuan identitas kita," sahut Daddy Tri.
Pada saat keduanya sedang istirahat melepas lelah, tidak lama kemudian Wita pun datang dengan membawa keranjang piknik. "Daddy, Syarif, lihat Mommy bawa apa!" teriak Mommy Wita.
"Alamak, ngapain Mommy ke sini? jangan sampai Mommy bawa makanan yang aneh-aneh," seru Syarif.
"Perasaan Daddy gak enak, Rif," sahut Daddy Tri.
Wita pun duduk dengan wajah yang sumringah. "Ya, ampun kesayangan-kesayangan Mommy kasihan sekali pasti kalian capek ya," seru Mommy Wita dengan wajah sedihnya.
"Ternyata secapek ini jadi rakyat kecil, Mom," sahut Syarif.
"Nah, sekarang kalian tahu 'kan bagaimana rasanya jadi rakyat kecil? makanya Daddy jangan pelit sama karyawan," seru Mommy Wita.
"Mana ada Daddy pelit, semua karyawan Daddy hidupnya sejahtera gak ada yang menderita," kesal Daddy Tri.
"Iya juga sih. Oh iya, Mommy bawakan yang segar-segar untuk kalian pasti kalian kepanasan 'kan," seru Mommy Wita.
"Mommy bawakan minuman yang dingin-dingin?" tanya Syarif.
"Iya."
"Mana Mom, kita sudah haus begini," ucap Daddy Tri.
Wita pun mulai membuka keranjang piknik itu. "Lihat, Mommy bikin es stik tadi," seru Mommy Wita.
Tri dan Syarif saling pandang satu sama lain. Perasaan keduanya mulai tidak enak karena Wita selalu membuat sesuatu yang diluar nalar dan logika manusia normal. "Taaraaaaa....." Wita mengeluarkan stiknya dan keduanya tampak membelalakkan mata saat melihat es stik yang Wita keluarkan.
"Mommy, itu apa kok ada potongan wortelnya?" tanya Syarif.
"Tadi pagi Mommy bikin sayur sop 'kan, tapi gak ada yang makan sama sekali daripada mubazir dibuang, Mommy punya ide dibikin es stik aja pasti rasanya enak dan pastinya mengandung gizi yang sangat bagus karena baru kali ini Mommy bikin sayur dan dijadikan es stik, hebat 'kan Mommy," seru Mommy Wita dengan bangganya.
Tri dan Syarif menelan ludah mereka sendiri. Seketika Syarif bangkit dari duduknya dan memakai topi kembali. "Syarif sudah kuat, Daddy saja yang cobain Mom katanya tadi Daddy ingin sekali makan es, Syarif lanjut kerja dulu," seru Syarif.
"Syarif tunggu Daddy!" teriak Daddy Tri.
"Daddy, ayo coba dulu," pinta Mommy Wita.
"Astaga, dasar anak durhaka awas kamu, Syarif," batin Daddy Tri dengan kesalnya.
"Ayo Dad!" Wita memberikan satu stik kepada Tri.
Tri tampak mengerutkan keningnya, bahkan dia terasa mual melihat es stik yang isinya wotel dan kol itu. Tapi kalau dia tidak mencicipinya pasti Wita akan marah dan sedih. Akhirnya dengan terpaksa, Tri pun mulai mencicipi es stik yang bikin mual itu.
"Pak Tri, ada Juragan Tama cepat kembali bekerja!" teriak salah satu pegawai.
"Ah iya. Mom, Daddy kembali bekerja dulu ya es stiknya kamu bagikan saja kepada yang lainnya," seru Daddy Tri sembari cepat-cepat pergi.
Tri merasa sangat lega, dia tidak harus menghabiskan es stik yang diluar nalar itu. Tri menepuk pundak orang yang berteriak memanggil namanya itu. "Terima kasih sudah menyelamatkan saya, nanti saya kasih sesuatu untukmu," seru Daddy Tri sembari pergi.
Orang itu hanya mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Tri.
oh Ariel punya sekolah TK juga ya ..kirain SD di kampung itu aja dulu ...rasakan sekarang susah kau jadi tukang ojek