NovelToon NovelToon
Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Auzora Maleeka

"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"

"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"

Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

"Aku nggak berpikir begitu." Katanya kepada Nadira.

"Sonia, kau beneran....." Kata Tuan Gavin

"Diam." Potong Nadira.

Saat Nadira memotong ucapan Tuan Gavin, semuanya serempak melihat ke arah Nadira, apalagi Adrian yang masih saja tangannya bersedekap dada sambil melihat ke arah Paman dan Ibunya.

"Obsesi Nyonya Erna, seiring berjalannya waktu, hampir kehilangan kesadaran dan merubah menjadi niat membunuh. Dan kalian semua, menggunakan darah kalian semua saat pemakamannya. Pada saat itu, dia tidak akan mengenali kalian bukan sebagai anak kandung, tetapi sebagai musuh dan akan membunuh kalian semua, mengerti ?"Sambung Nadira.

"Nona Nadira, maksudmu, obsesi ibuku akan membunuh kira ?" Tanya Tuan Gavin dengan kaget.

"Benar." Jawab Nadira tegas.

Tuan Gavin, saat mengetahui hal itu justru sangat syok sekali hingga badannya hampir melemas, seakan tidak ada tenaga lagi, hingga pada akhirnya iapun terjatuh tepat duduk di kursi.

"Paman Gavin." Panggil Adrian kepada Pamannya itu, sedangkan Tuan Gavin langsung melihat ke arah Adrian.

"Tuan Bima dikenalkan oleh Ayah. Sejak Ayah mulai bertapa, dia sudah jarang pulang. Itu pun adalah satu-satunya kesempatan dia pulang, jadi aku nggak pernah menaruh curiga. Mungkinkah Ayah juga tertipu ?" Kata Tuan Gavin sambil bangun dari duduknya dengan keadaan linglung.

"Benar, pasti begitu. Ayah sangat mencintai kita. Dia juga nggak mungkin mencelakai kita." Sambung Tuan Gavin lagi.

Pada saat Tuan Gavin berbicara, Nyonya Sonia, Adrian dan juga Nadira melihat ke arah Tuan Gavin.

"Paman Gavin, kau jangan panik dulu." Ujar Adrian dengan santai sambil berkacak pinggang.

"Aku nggak panik ? Mana mungkin aku nggak panik ? Ibu, sudah sejak kecil nggak pernah menyayangi kami. Ayah yang selalu menemani kami. Ayah yang selalu mencintai kami. Aku mana mungkin...... Mana mungkin mencurigainya akan mencelakai kami ?" Kata Tuan Gavin seakan menolak akan fakta itu.

"Kalau begitu, kakek memang orang yang sangat baik. Lalu kenapa mau mencelakai Nenek ?"Ujar Adrian bingung dalam hati

"Aku akan tanyakan beberapa hal padamu. ?" Tanya Nadira kepada Tuan Gavin.

"Tanyakan saja." Tuan Gavin mengangguk setuju.

"Tentang masalalu orang tuamu, dari siapa kau mendengar semua itu ?" Tanya Nadira.

"Ayahku. Ayahku yang bilang itu semua, tapi masa lalu ibuku yang selingkuh juga diketahui oleh semua orang. selain itu, aku juga melihat sendiri ibuku ingin menenggelamkan Calvin dan Sonia ke dalam air dan hampir mati." jawab Tuan Gavin.

"Kau bilang Ayahmu sangat terpelajar, mengapa dia bertapa ?" Tanya Nadira.

"Ayahku adalah seorang guru yang terkenal di daerah sekitar. Alasan, mengapa dia bertapa adalah karena dia mencintai ibuku. Tapi ibuku, sangat membencinya. Dia bertapa untuk membuat ibuku bahagia, tapi apa masalahnya ?" Jawab Tuan Gavin kepada Nadira.

"Bahkan dalam persidangan, nggak boleh hanya mendengarkan satu orang. Tapi kau, kau hanya mendengarkan ayahmu saja dan menganggap semua yang dia katakan oleh Ayahmu itu benar. Apa kau sudah bertanya pada ibumu ?" Kata Nadira sambil mendongak sedikit ke arah Tuan Gavin, karena Nadira duduk sedangkan Tuan Gavin berdiri.

"Ini sudah jelas, nggak perlu dipertanyakan lagi." Ujar Tuan Gavin.

"Kau bilang Ayahmu, adalah orang yang terpelajar bukan. Tapi, mengapa tulisan di batu nisan yang dia buat untuk ibumu nggak terlihat seperti tulisan orang yang terpelajar."Kata Nadira.

"Memang benar. tulisan yang ayahku ukir di batu nisan ibuku itu, nggak terlalu bagus. Tapi, apa yang bisa dibuktikan dari itu ?" Kata Tuan Gavin.

"Membuktikan, dia membohongimu. Dalam cerita ini, hal terpentingnya adalah semua ceritanya palsu. Itu berarti cerita ini dari awal hingga akhir semuanya adalah palsu." Jelas Nadira.

Mereka yang mendengarkan penjelasan Nadira, sontak merasa kaget dan tidak percaya, jika itu adalah memang kebenarannya. Lalu pertanyaannya untuk apa sang Ayah atau sang Kakek mengarang sebuah cerita tentang sang ibu, yang mana sang ibu tidak menyayangi mereka dan juga apa alasan sang Ayah mengarang cerita tersebut, apa tujuannya.

"Oh ya. Kalau kakek memang nggak terpelajar, apa dia masih bisa memulai bisnis dengan metode pembuatan bir yang dipelajarinya dari sebuah buku ? Kalau semua ini palsu, seberapa banyak cerita itu yang benar ?" Tanya Adrian, sedangkan Nadira yang mendengar penjelasan Adrian hanya tersenyum simpul, lalu kemudian Pamannya juga mencerna apa yang barusan di katakan oleh sang keponakan.

"Tapi kenapa juga ayahku berbohong ?" Tanya Paman Gavin.

"Berbohong atau nggak nya, bukankah bisa kita ketahui dengan melihatnya ?" Kata Nadira kepada Tuan Gavin.

"Kak Gavin. Ucapan Nona Nadira benar. Kau bawalah kami untuk bertanya padanya." Kata Nyonya Sonia sambil menunjuk ke arah Nadira sekaligus memegang tangan kakaknya untuk segera di bawa ke tempat dimana sang Ayah berada selama ini

"Baik. Besok pagi, aku akan membawa kalian untuk bertanya padanya." Kata Tuan Gavin

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Keesokan paginya Nyonya Sonia, Tuan Gavin dan juga Adrian datang ke suatu tempat yang diyakini adalah tempat tinggal sang ayah. Yaitu tempat Biara atau Wihara.

"Dimana Nona Nadira ?" Tanya Tuan Gavin sambil membalikkan badan.

"Nggak tahu. Tapi kenapa dia tiba-tiba bisa menghilang ?" Jawab Nyonya Sonia sambil membalikkan badan juga.

"Nona Nadira, memang sulit untuk ditebak keberadaannya." Kata Adrian sambil berkacak pinggang.

"Sudahlah, mari kita masuk ke dalam terlebih dahulu, nanti juga Nona Nadira akan muncul, dan juga tanyakan apa yang sebenarnya terjadi" Ajak Tuan Gavin kepada Nyonya Sonia dan Adrian.

Sedangkan di sisi lain, setelah mereka bertiga masuk, Nadira pun muncul, dengan payung khasnya itu, tapi entah kenapa tiba-tiba payungnya itu bergerak sendiri sehingga Nadira harus menenangkannya dengan cara di putar-putar.

"Apa kau sudah nggak sanggup lagi ? Tenang saja. Sebentar lagi aku akan membawamu kesana, dan juga membalaskan dendammu" kata Nadira kepada payungnya itu.

setelah tenang, Nadira pun kembali menggunakan sang payung untuk melindunginya dari sinar matahari dan lanjut untuk masuk ke dalam, karena Nadira masih berada di luar wihara.

"Tuan, ada apa kalian mencari Biarawan Luki ?" Tanya sang Biarawan Dio

"Aku mencari ayahku... Eh, maaf maksudku Biarawan Luki. Aku ingin melihat apa dia sehat-sehat saja selama ini." Jawab Tuan Gavin.

"Biarawan Luki, berkata padaku kalau kami benar-benar berjodoh. beberapa waktu lalu, dia sakit parah. Tapi dalam semalam ia tiba-tiba jadi sembuh total, dan sekarang tubuhnya pun sangat sehat." Kata Biarawan Dio tersebut.

"Apa ? Ayahku sakit ? Dan sembuh dalam semalam ? Kapan kejadiannya ?" Tanya Tuan Gavin kepada Biarawan tersebut.

"Tanggal 15 April." Jawab Biarawan Dio.

"Tanggal 15 April ? Itu kan hari dimana kematian ibu." Ujar Nyonya Sonia dalam hati.

Sedangkan yang lainnya malah bingung dengan apa yang terjadi, padahal ditanggal itulah sang Ibu atau sang Nenek meninggal.

Kemudian, setelah agak lama Biarawan Luki datang, dan langsung memberikan salam dengan mengepalkan tangan didada kepada sang Biarawan yang berbicara dengan anggota keluarganya tadi.

"Apa ada masalah dirumah ?" Tanya Biarawan Luki kepada sang anak, setelah Biarawan yang tadi telah pergi.

"Kakek, kami datang mencari anda, sehubungan dengan pemakaman Nenek." Kata Adrian menyela sebelum Tuan Gavin berbicara.

"Ada apa ? Gavin, katakan." Tanya Biarawan Luki menunjuk dengan dagunya.

"Sebenarnya bukan masalah besar Ayah. Hanya saja, belakangan ini kami sering bertemu dengan seorang yang ahli di bidang ini. Dia bilang ibuku dicelakai oleh Tuan Bima. Dia belum mati tapi sudah dikubur. Dikubur hidup-hidup." Jawab Gavin.

"Nggak boleh, nggak boleh mempertanyakan tentang Tuan Bima. Tuan Bima, dia punya kekuatan magis yang tak terbatas. Kalau dia bisa membantu keluarga kita, itu adalah kehormatan bagi keluarga kita." Kata Biarawan Luki kepada sang anak Sulung.

"Ayah, bukan hanya dikubur hidup-hidup. Dia juga bahkan menggunakan kutukan untuk menjebak ibu. Membuat obsesi ibu berubah menjadi niat membunuh, agar keluarga kita bisa membayar dengan nyawa." Jawab Nyonya Sonia marah.

"Kalian buka peti mati ? Untung saja sudah lewat dari 49 hari." Tanya biarawan Luki kaget.

"Ayah itu ibu, istrimu. Kenapa kau melakukan hal-hal seperti itu ?" Tanya Nyonya Sonia kepada sang Ayah.

Sedangkan Sang ayah diam membisu ketika ditanya hal ini oleh sang Anak.

1
Andira Rahmawati
absend dulu thor...
Chen Nadari
mampir Thorr
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!