NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

BAB 26: "Kuis Umar Bin Khattab selanjutnya dan Doa di Antara Baju Bayi"

​Matahari sore di Kediri mulai merunduk, menciptakan siluet panjang di sepanjang koridor pesantren. Shania, yang sepanjang siang tadi mencoba beristirahat untuk memulihkan "kendala teknis" pada fisiknya, kini berdiri di depan cermin. Rasa pegal di pangkal paha dan pinggangnya sudah jauh berkurang, berkat botol air hangat yang disiapkan Zain sebelum pria itu berangkat mengajar tadi siang. Namun, debaran jantungnya justru meningkat dua kali lipat saat mengingat janji Zain untuk mengajaknya ke toko perlengkapan bayi.

​“Optimisme itu sebagian dari doa,” gumam Shania menirukan ucapan suaminya.

Ia tersenyum di balik cadarnya. Bagaimana bisa seorang laki-laki yang biasanya bicara soal hukum fiqih yang berat, tiba-tiba menjadi begitu antusias soal masa depan yang bahkan tanda-tandanya pun belum nampak secara medis?

​Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Zain masuk dengan wajah segar, tampaknya ia baru saja membasuh wajahnya di masjid sebelum pulang ke rumah mungil mereka.

​"Sudah siap, 'singa' kecilku?" goda Zain sambil menyampirkan sorbannya.

​"Mas, apa tidak terlalu cepat? Bagaimana kalau nanti penjaga tokonya bertanya berapa bulan usia kandungannya?"

Shania menyuarakan kekhawatiran yang sejak tadi bersarang di kepalanya.

​Zain terkekeh, ia melangkah mendekat dan merangkul bahu Shania.

"Kita, jawab saja, sedang dalam proses 'penanaman modal' yang sangat intensif. Tidak ada yang salah dengan melihat-lihat, Sayang. Itu namanya membangun visualisasi keinginan dalam doa. Ayo."

"​Di Toko Perlengkapan Bayi: Sebuah Harapan Kecil"

​Mereka sampai di sebuah toko perlengkapan bayi terbesar di kota. Shania merasa kikuk saat memasuki ruangan yang didominasi warna pastel, aroma bedak bayi, dan gantungan baju-baju mungil. Sementara itu, Zain tampak sangat tenang, seolah sedang melakukan riset untuk kitab terbarunya.

​Zain berhenti di depan sebuah rak yang memajang sepatu bayi rajut berwarna putih bersih. Ia mengambilnya, meletakkannya di atas telapak tangannya yang lebar. Sepatu itu terlihat sangat kecil dan rapuh di tangan kekar sang Ustadz.

​"Bayangkan, Shania. Suatu hari nanti, akan ada makhluk kecil yang kaki mungilnya masuk ke sini. Dia akan berlari-lari di antara tumpukan kitab saya, mungkin merobek beberapa halaman Fathul Mu'in, atau menarik-narik ujung jilbabmu," bisik Zain dengan nada yang sangat emosional.

​Shania tertegun. Melihat sisi lembut Zain yang seperti ini selalu berhasil meruntuhkan pertahanannya. Ia menyentuh tangan Zain yang memegang sepatu itu.

"Mas, benar-benar ingin segera punya anak ya?"

​Zain menatap Shania dalam-dalam.

"Saya, ingin melihat perpaduan antara keberanianmu dan... mungkin sedikit kecerdasan, saya. Saya, ingin rumah kita ramai dengan suara tawa yang diridhai Allah. Tapi lebih dari itu, saya ingin menyempurnakan ibadah, kita."

​Mereka menghabiskan waktu hampir satu jam di sana. Zain bahkan bersikeras membeli sepasang kaos kaki bayi berwarna netral.

"Ini untuk pancingan doa," katanya mantap saat membayar di kasir.

Shania hanya bisa geleng-geleng kepala, meski hatinya menghangat luar biasa.

"​Rahasia di Balik Pijatan Malam"

​Malam kembali menyelimuti Kediri. Setelah salat Isya berjamaah di masjid dan sesi makan malam yang kali ini lebih tenang di Ndalem—karena Shania sudah bisa berjalan lebih normal—mereka kembali ke rumah mungil mereka.

​Sesuai janjinya, Zain menyiapkan minyak zaitun yang sudah dicampur dengan sedikit aroma terapi. Shania duduk di tepi ranjang, merasa sedikit malu saat Zain berlutut di lantai, memintanya untuk membelakangi dan menyandarkan punggung ke bantal.

​"Tadi katanya mau jadi tukang urut profesional, kan?" goda Shania, mencoba mencairkan suasana yang mulai terasa "berbahaya" lagi.

​"Ustadz tidak pernah ingkar janji," sahut Zain.

Tangannya yang hangat mulai menyentuh pundak Shania, lalu turun ke pinggang. Pijatannya mantap, tidak terlalu keras namun tepat mengenai titik-titik yang pegal.

"Bagaimana? Enak?"

​"Hmm... lumayan. Mas, belajar dari mana?"

​"Kitab kehidupan, Sayang. Dan sedikit observasi anatomi manusia saat kuliah dulu," jawab Zain santai. "Tapi, sambil saya pijat, sesuai kesepakatan tadi pagi... kita mulai Kuis Umar bin Khattab-nya yang selanjutnya."

​Shania menegang sedikit.

"Kuis apa lagi, Mas? Jangan yang aneh-aneh!"

​Zain tertawa rendah, suara baritonnya terasa bergetar di dekat punggung Shania.

"Ini kuis sejarah dan kepemimpinan. Kamu tahu kenapa Umar bin Khattab disebut Al-Faruq?"

​"Pembeda antara yang hak dan yang batil, kan? Kan sudah kemarin, Mas," jawab Shania cepat.

​"Oh, iya. Lalu, dalam urusan rumah tangga, tahukah kamu bahwa Umar yang dikenal sangat garang dan ditakuti setan sekalipun, ternyata adalah suami yang sangat sabar saat istrinya sedang marah atau mengomel?"

​Shania terdiam.

"Benarkah? Sosok yang setegas itu?"

​"Iya. Beliau diam saat istrinya memarahinya karena beliau ingat jasa istrinya, yang memasakkan makanannya, mencucikan bajunya, dan menjaga kehormatan rumah tangganya. Nah, kuis selanjutnya..."

Zain menghentikan pijatannya sejenak, lalu tangannya merayap naik, memutar tubuh Shania agar menghadapnya.

​Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter. Aroma minyak zaitun bercampur dengan parfum maskulin Zain yang khas.

​"Pertanyaan terakhir untuk malam ini," bisik Zain, suaranya kini lebih berat dan serak. "Jika Umar bin Khattab adalah simbol ketegasan yang melindungi, apakah kamu siap jika malam ini saya menjalankan peran saya sebagai 'pelindung' yang tidak akan membiarkanmu tidur sebelum kuis ini selesai dengan jawaban yang memuaskan?"

​Shania menelan ludah.

"Jawaban memuaskan yang seperti apa, Mas?"

​Zain mendekatkan bibirnya ke telinga Shania.

"Jawaban yang tidak berupa kata-kata, tapi berupa kepatuhan total seorang istri kepada suaminya yang sedang ingin... melanjutkan 'proyek' Zain Junior."

"​Mahar Janji: Babak Kedua"

​Lampu kamar diredupkan hingga menyisakan cahaya remang yang pudar. Zain tidak lagi menjadi ustadz yang berdiri di depan mimbar memberikan ceramah tentang Fathul Izar. Malam ini, ia adalah seorang praktisi yang penuh kasih sayang.

​"Mas... kaki aku masih sedikit pegal, lho," bisik Shania, meski tangannya justru melingkar di leher Zain.

​"Itu karena sirkulasi darahmu butuh dipacu lebih cepat, Sayang. Olahraga malam adalah solusinya," jawab Zain dengan logika yang luar biasa ajaib.

​Zain memulai "kuis"-nya dengan sangat lembut. Setiap sentuhannya adalah pertanyaan yang menuntut jawaban berupa kenyamanan. Setiap kecupannya adalah paragraf baru dalam kitab cinta yang mereka tulis bersama. Jika semalam adalah tentang pembuktian mahar janji, maka malam ini adalah tentang pendalaman materi.

​Shania merasakan betapa Zain memperlakukannya bukan hanya sebagai objek pemuas, melainkan sebagai partner ibadah yang sangat ia muliakan. Tidak ada ketergesaan yang kasar, yang ada hanyalah harmoni antara keinginan dan kasih sayang.

​"Shania," panggil Zain di tengah deru napas mereka yang bersahutan.

​"Ya, Mas?"

​"Terima kasih sudah menjadi rumah untuk saya pulang. Jangan pernah bosan dengan 'kuis-kuis' mendadak seperti ini, ya?"

​Shania hanya bisa menjawab dengan sebuah anggukan dan pelukan yang lebih erat. Di luar, angin malam Kediri berhembus pelan, seolah turut menjaga rahasia di balik pintu kamar itu.

​Sepertiga Malam yang Berbeda

​Waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Udara dingin menusuk tulang, namun di dalam kamar itu, kehangatan masih enggan beranjak. Berbeda dengan malam sebelumnya di mana Shania merasa sangat kelelahan, kali ini ia merasa ada energi baru yang mengalir.

​Zain sudah bangun lebih dulu, ia sedang mengenakan sarungnya setelah mandi besar. Ia menoleh ke arah Shania yang masih bergelung di balik selimut tebal.

​"Ayo, Sayang. Mandi. Kita rayakan 'jawaban kuis' tadi dengan sujud yang paling panjang," ajak Zain dengan wajah yang tampak sangat bercahaya.

​Shania bangkit dengan perlahan. Anehnya, rasa kaku di kakinya tidak seburuk kemarin pagi. Mungkin benar kata Zain, 'olahraga' itu justru membantu ototnya beradaptasi.

​Setelah mereka berdua suci, mereka berdiri di atas sajadah yang sama. Zain mengimami dengan bacaan surat Ar-Rahman yang begitu menyentuh hati. Suara Zain bergetar saat sampai pada ayat “Fabiayyi ala i rabbikuma tukazziban” (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?).

​Dalam sujud terakhirnya, Shania berdoa sangat lama. Ia tidak hanya meminta diberikan keturunan yang saleh dan salehah, tapi ia meminta agar Allah menjaga rasa cinta di antara mereka agar tidak pernah hambar. Ia bersyukur bahwa di balik sosok suaminya yang terkadang menyebalkan karena terlalu pintar menggoda, ada ketulusan seorang imam yang siap membimbingnya ke surga.

"​Pagi yang Tenang di Meja Makan"

​Pagi harinya, suasana di Ndalem kembali riuh. Ummi Zainab sudah menyiapkan bubur ayam spesial. Shania muncul dengan langkah yang jauh lebih mantap, meski ia masih tetap waspada.

​"Wah, menantu Ummi sudah segar hari ini," puji Ummi Zainab sambil meletakkan mangkuk bubur. "Jamu kunyit asamnya manjur, kan?"

​Shania melirik Zain yang sedang asyik memotong kerupuk.

"Manjur sekali, Ummi. Tapi mungkin lebih manjur 'pijat refleksi' khusus dari, Mas Zain," jawab Shania berani, membuat Zain hampir tersedak kerupuknya sendiri.

​Abah Abdullah terkekeh.

"Bagus, Zain. Jadi suami itu memang harus multifungsi. Jadi ustadz bisa, jadi tukang urut bisa, jadi pelindung juga harus."

​Zain berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya.

"Tentu, Abah. Apalagi kalau muridnya seperti Shania, sangat cepat menangkap materi."

​Ummi Zainab kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan kecil.

"Oh iya, tadi pagi Ummi menemukan ini di ruang tamu. Punya siapa ya? Kok ada kaos kaki bayi?"

​Shania dan Zain saling pandang. Ternyata bungkusan belanjaan kemarin tertinggal di ruang tamu Ndalem saat mereka mampir sebentar sebelum pulang ke rumah.

​"Itu... anu, Ummi..."

Shania mulai gugup.

​"Itu properti pendidikan, Ummi," potong Zain dengan wajah sangat serius. "Zain, sedang mempersiapkan materi tentang tanggung jawab orang tua dalam Islam. Jadi Zain butuh contoh fisik untuk dijelaskan kepada para santri agar mereka punya gambaran."

​Abah Abdullah tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang.

"Alasanmu itu lho, Le. Terlalu berkelas untuk sekadar bilang kalau kamu sudah ngebet pingin jadi Bapak."

​Shania hanya bisa menunduk dalam, menyembunyikan senyum lebarnya di balik cadar. Di meja makan itu, di bawah tatapan hangat kedua orang tua mereka, Shania merasa hidupnya telah lengkap. Perjodohan yang awalnya ia ragukan, kini menjadi jalan paling indah yang pernah ia tempuh.

​Ia tahu, langkah-langkah ke depan mungkin tidak selalu mudah. Akan ada kerikil dalam rumah tangga, akan ada perbedaan pendapat, namun selama Zain yang menuntun langkahnya—bahkan jika ia harus berjalan "berbeda" karena godaan sang suami—Shania yakin, ia akan selalu sampai pada tujuan yang benar.

​Zain di bawah meja meraih tangan Shania, menggenggamnya erat-erat seolah tak ingin melepaskan. Sebuah janji tanpa kata bahwa petualangan mereka baru saja dimulai.

​Bersambung ....

1
Dian Fitriana
up lg thor
Tri Rusmawati
sabarr zain...sabaarrr🤣🤣🤣
kartini aritonang
sukaaa ceritanya, bikin adem, banyak ilmunya . semangat thor..💪..lanjuutt
Saniaa96: makasih udah suka. semoga ada manfaatnya. 🙏🙏🙏☺️☺️☺️
total 1 replies
Indah Agustini 383
terimakasih udah nulis cerita yg sangat baguss dan banyak ilmu yg bisa didapat 😍
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!