NovelToon NovelToon
Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Oktavianiputri77

Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Langkah Balik Sang Pemburu

Pagi di SMA Wijaya terasa lebih dingin dari biasanya.

Bukan karena cuaca.

Tapi karena sesuatu yang berubah di udara.

Seperti ada mata yang kini tidak lagi sekadar mengamati, tapi mulai mengunci target.

Anya berjalan seperti biasa di koridor.

Kacamata bulat.

Rambut dikepang.

Langkah pelan.

Topeng sempurna yang sudah ia pakai bertahun-tahun.

Namun kali ini…

ia merasa ada yang berbeda.

Beberapa siswa tidak lagi sekadar menertawakan atau mengabaikannya.

Mereka… memperhatikannya lebih lama dari biasanya.

Bisik-bisik kecil terdengar.

“Dia itu kan…”

“Katanya kemarin Arsen…”

“Eh, aneh ya…”

Anya berhenti sebentar di dekat jendela.

Matanya menyipit sedikit.

“Ini bukan kebetulan,” bisiknya pelan.

Di telinganya, suara Tulus masuk.

“Queen… ada perubahan di sistem sekolah.”

Anya langsung fokus.

“Perubahan apa?”

“Data siswa di jaringan internal… dibuka sebagian.”

Anya mengerutkan alis.

“Siapa yang akses?”

Jawaban Tulus membuat langkahnya berhenti total.

“…Arsen Rafardhan.”

Sunyi.

Hanya suara angin dari jendela terbuka.

Anya tidak bergerak selama dua detik.

Lalu tersenyum kecil.

“Dia mulai menyerang.”

Di gedung OSIS.

Arsen duduk di depan layar laptop besar.

Baskoro berdiri di belakangnya.

“Tuan, membuka data internal sekolah tanpa izin yayasan bisa memicu masalah besar.”

Arsen tidak menoleh.

“Sudah terlambat untuk bermain aman.”

Ia mengetik cepat.

Layar menampilkan data siswa.

Satu nama ditandai.

Anya Clarissa.

Arsen menatapnya lama.

“Semua orang punya jejak,” gumamnya.

“Dan semua jejak bisa dibaca.”

Baskoro ragu.

“Tapi data gadis itu sudah dimanipulasi tingkat tinggi…”

Arsen tersenyum tipis.

“Aku tahu.”

Ia berhenti mengetik.

“Makanya aku tidak mencari di sini.”

Arsen memutar layar.

Menampilkan jaringan lain.

Server yayasan lama.

“Kalau kamu menyembunyikan sesuatu di sekolah…”

Ia menatap layar dingin.

“…aku tinggal cari di tempat kamu mulai menjadi ‘versi lain’ dari dirimu.”

Di sisi lain sekolah.

Anya masuk ke kelas.

Namun kali ini—

Selene tidak langsung menghina.

Tidak langsung tertawa.

Dia hanya menatap Anya dengan ekspresi aneh.

Seperti ragu.

Seperti takut.

Anya duduk pelan.

“Dia sudah mulai menyebar informasi,” bisik Tulus.

Anya menutup buku pelajaran.

“Arsen?”

“Ya.”

Anya tersenyum kecil.

“Cepat juga.”

Namun di balik ketenangannya…

ada sedikit perubahan.

Tipis.

Hampir tidak terlihat.

Tapi nyata.

Istirahat pertama.

Anya dipanggil ke ruang guru.

Bukan Arsen.

Tapi guru BK.

Seorang wanita paruh baya menatapnya dengan wajah canggung.

“Anya… kamu tahu kenapa kamu dipanggil?”

Anya menggeleng pelan.

Tidak.

Pura-pura tidak.

Guru BK menarik napas.

“Beberapa data kamu… ada yang dipertanyakan.”

Anya tetap diam.

“Tadi pagi, yayasan sekolah menerima permintaan verifikasi ulang data beasiswa kamu.”

Hening.

Nama itu tidak disebut.

Tapi Anya tahu.

Hanya satu orang yang bisa melakukan itu secepat ini.

“Arsen Rafardhan,” bisiknya dalam hati.

Guru BK melanjutkan.

“Tapi anehnya… sebagian data kamu tidak bisa diakses.”

Anya menunduk sedikit.

“Tidak bisa diakses?”

“Iya. Seperti… dikunci dari luar sistem.”

Anya tersenyum tipis.

“Menarik.”

Di saat yang sama.

Di ruang server sekolah.

Sistem mendadak error.

Monitor berkedip.

Dan satu file terbuka sendiri.

FILE LOG AKSES TIDAK DIIZINKAN

Nama pengguna:

ARSEN RAFARDHAN

Status:

“ACCESS BLOCKED – UNKNOWN AUTHORITY”

Baskoro langsung panik.

“Tuan… sistem kita ditolak.”

Arsen menatap layar.

Diam.

Tidak terkejut.

Justru… puas.

“Bagus,” katanya pelan.

“Itu berarti dia sadar aku mendekat.”

Baskoro bingung.

“Dia?”

Arsen menutup laptopnya perlahan.

“Anya.”

Sore hari.

Gerbang sekolah.

Anya berjalan keluar seperti biasa.

Namun kali ini…

Arsen sudah menunggu.

Berdiri di bawah pohon dekat gerbang.

Sendiri.

Tidak ada OSIS.

Tidak ada pengawal.

Hanya dia.

Dan Anya.

Langkah Anya berhenti.

Arsen melangkah mendekat.

Kali ini tidak ada basa-basi.

Tidak ada permainan kecil.

Langsung.

“Aku sudah cek data sekolah,” kata Arsen.

Anya menatapnya tenang.

“Lalu?”

Arsen menyipitkan mata.

“Tidak ada yang cocok.”

Hening.

“Anak beasiswa yang tidak punya masa lalu jelas…”

Ia berhenti.

“…selalu punya satu masalah.”

Anya tidak menjawab.

Arsen melanjutkan.

“Jejaknya selalu sengaja dibuat terlalu bersih.”

Anya tersenyum kecil.

“Dan itu masalah, Kak?”

Arsen menatapnya lama.

“Bukan masalah.”

Ia maju satu langkah.

“Petunjuk.”

Angin bergerak pelan.

Daun jatuh di antara mereka.

Arsen menurunkan suaranya.

“Aku tidak peduli kamu siapa.”

Anya sedikit terdiam.

“Tapi aku tidak suka ada orang yang bermain di wilayahku tanpa aku tahu aturannya.”

Anya mengangkat wajah sedikit.

“Wilayah Kak Arsen?”

Arsen tersenyum tipis.

“Sekolah ini.”

Ia berhenti.

“Dan semua yang ada di dalamnya.”

Hening.

Untuk pertama kalinya…

Anya tidak langsung menjawab.

Karena ini berbeda.

Ini bukan sekadar curiga.

Ini deklarasi perang kecil.

Akhirnya Anya tersenyum.

Tapi kali ini…

tidak sepenuhnya polos.

“Kalau begitu…”

bisiknya pelan.

“…kita punya masalah yang sama.”

Arsen menatapnya tajam.

Namun Anya sudah melangkah pergi.

Dan sebelum benar-benar hilang dari pandangan…

ia berkata pelan tanpa menoleh.

“Karena aku juga tidak suka orang yang terlalu dekat dengan rahasiaku.”

Arsen diam.

Lalu tersenyum kecil.

“Bagus.”

Ia menatap punggung Anya.

“Kalau begitu kita mulai serius.”

Di kejauhan.

Tulus di mobil menatap layar tracking.

“Queen… Arsen baru saja menyalakan mode investigasi penuh.”

Anya menutup mata di dalam mobil.

Dan tersenyum.

“Kalau begitu…”

“aku juga akan berhenti bermain kecil.”

1
Night Watcher
seharusnya cerita yg bagus, tp mc dibuat terlalu monoton, shg cerita jd kaku dan menjemukan.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏
Night Watcher
sekolah kelas atas masa lantainya semen? granit kek, marmer, minimal keramik lah ..😇
Night Watcher
katanya dlm 2 hr, selene hancur. tp msh ttp aja berjaya?
Night Watcher
mungkinkah aku reader pertama?
Night Watcher
coba mampir..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!