Berlatar di sebuah desa bernama Desa Suka Makmur. Anggap saja salah satu desa di Jawa Barat. Desa dengan beberapa fasilitas yang tersedia, seperti bangunan sekolah dasar, balas desa, puskemas pembantu, posyandu , lapangan sepak bola dan lainnya. Namun dibalik itu desa tersebut menyimpan kisah misteri dan terkenal dengan kemistisan nya. Desa pocong sebutan lain dari nama desa itu. Terdapat pantangan untuk tidak membuka pintu dan jendela di malam hari. Lebih-lebih keluar di waktu malam , apapun alasan nya. Jika melanggar maka siapapun akan terkena musibah. Sebuah teror, celaka , jatuh sakit , bahkan hingga kematian. Namun tak hanya itu , teror lain turut membayangi warga desa. Hingga seorang gadis pendatang baru yang tinggal di salah satu rumah yang terkenal angker berusaha mencari tahu tentang desa itu. Fitri namanya, gadis dengan kemampuan spiritual yang akan membantu warga desa terbebas dari ketakutan nyata teror pocong yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon qsk sri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkejut
Seorang pemuda baru saja memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah. Rupanya dia baru saja pulang dari perantauan di ibu kota. Mendapati desanya begitu sunyi ia sudah tak merasa asing lagi,justru batin nya bertanya dengan hati gelisah. Siapa lagi yang meninggal kali ini ,begitu gumam nya. Sebelum melepas sepatu nya,dia berdiri menatap ke rumah di depan nya lumayan lama. Keningnya berkerut.
"Tumben rumah itu kelihatan rapih. Halaman nya pun bersih. Udah direnovasi juga. Apa sudah ada yang nempati ya? Tapi siapa ?" Gumam nya bertanya-tanya sendiri.
Cukup lama pemuda itu tertegun, akhir nya segera melepaskan sepatunya. Akan tetapi saat itu dia mendengar suara deru mesin motor berhenti di rumah depan. Tatapan nya segera tertuju pada seorang gadis cantik dengan rambut di kuncir kuda yang baru saja turun dari motor.
"Makasih ya bang. Ini uang bensin nya " Fitri memberikan uang pada Kojek, yang langsung ditolak pria itu.
"Waduh,gak usah neng geulis " Tolak nya.
"Nolak rezeki itu gak baik. Udah,terima saja itung-itung penglaris. Lo belum narik kan hari ini, bang " Ucap Fitri memaksa.
"Iya sih, belum. Tapi ....gak usah neng beneran!" Tolak Kojek lagi.
"Kalau Lo nolak terus,gue suruh salah satu temen gue ngikutin Lo. Gue suruh dia tinggal bareng Lo. Mau bang ?!" Fitri malah mengancam.
Kojek terkesiap, bola matanya hampir melompat. " J...jangan neng ....! I..iya...deh, Abang terima. Makasih " Ucap Kojek panik lalu dengan cepat menyambar uang yang tadi dia tolak.
"Nah,...begitu kek dari tadi. Mesti diancem dulu baru mau " Ucap Fitri sambil tersenyum. Namun kemudian matanya tertuju pada seseorang yang berdiri menatap nya di depan rumah,yang letaknya berhadapan dengan rumah nya.
"Siapa tuh,kaya lagi liatin gue "Gumam gadis itu dalam hati.
Sementara di sana pria itu pun bergumam ," mungkin kah dia....."
"Ya udah bang,kalau gitu gue masuk dulu "Ucap Fitri segera berbalik.
"Yah,...neng gak nawarin Abang mampir sebentar gitu ? Sekedar nawarin minum lah..." Ucap Kojek basa-basi.
Fitri yang sudah satu langkah memutar kepalanya sedikit ke belakang," Oh,...mau minum...?" Tanya Fitri, Kojek mengangguk semangat.
"Jamilah....tolong buatin air minum dong ! Buat bang Kojek!" Teriak Fitri sengaja untuk menakut-nakuti pria itu.
Kojek terkesiap," Siapa lagi tuh Jamilah?" Tanya nya dengan jantung berdebar. Perasaan nya mendadak tidak enak.
Fitri tersenyum tipis ," Salah satu kuntilanak juga di sini. Jadi di sini tuh ada tiga kuntilanak. Namanya Jamilah, Maria,dan Berliana. Selain kuntilanak ada juga...."
"Stop neng stop ! Abang pulang saja ! Assalamualaikum...." Sela Kojek yang sudah gemetar ketakutan. Pria itu langsung tancap gas meninggalkan Fitri yang terkekeh melihat ketakutan Kojek.
"Gak jadi mampir,bang ?!" Seru Fitri tergelak.Namun Kojek yang sudah ketakutan sudah melaju jauh,dan tak mendengar suara Fitri.
"Hahahah.....takut kan....."
Namun tawa gadis itu terhenti saat melihat seorang pemuda berjalan ke arah nya.
"Eh...dia jalan ke sini ?" Gumam nya pelan dengan kening berkerut.
Namun Fitri tak ingin merasa percaya diri,bisa saja kan pria itu bukan hendak berjalan ke arah nya,pikirnya. Fitri pun segera berbalik berjalan memasuki rumah. Melihat hal itu,pria itu pun berseru.
"Tunggu ! Jangan masuk dulu !"
Fitri terdiam beberapa saat , kemudian dia berbalik dan terkejut saat pria itu sudah berdiri di hadapan nya.
Jamilah,Maria,Berliana ,Jefry,Edward ,dan George nampak mengintip di balik pintu. Kepala mereka seakan tersusun dari atas ke bawah. Edward paling bawah karena dia yang paling kecil.
"Eh,...siapa tuh. Ganteng cuy ....!" Bisik Maria.
"Namanya Ridho,anaknya yang punya rumah depan itu" Jawab Jamilah.
"Ohhh..." Maria mengangguk.
"Lah,cepet banget udah depan muka gue aja. Dia jalan apa loncat kaya pocong ? Atau terbang kaya Kunti ? Cepet banget nyampenya. Perasaan tadi dia masih jauhan deh " Batin Fitri. Tak tahu saja dia jika pemuda itu sengaja berlari tadi.
"Maaf,....?" Ucap Fitri namun raut wajah nya lebih kepada sebuah pertanyaan.
"Kamu...orang baru di sini ? Aku baru lihat kamu soalnya " Tanya pria itu. " Duh...kok malah ngomong gitu sih,kenapa gak langsung tanya dia Fitri apa bukan " Keluh pria itu dalam hatinya.
"Iya,baru beberapa hari. Lo sendiri....asli sini ?" Tanya Fitri.
Pria itu tersenyum,lalu mengangguk kecil," Iya,rumah ku tepat di depan sana. Eh,... sebenernya rumah orangtua ku sih,aku cuman numpang " Jawab pria itu sambil meringis senyum.
"Aku Ridho " Ucap pria itu mengulurkan tangannya.
"Gue Fitri " Balas Fitri.
Ridho mengangguk,bibirnya yang tersenyum kini semakin tersenyum lebar.
"Kalau gitu gue masuk ya. Senang bisa berkenalan sama Lo " Ucap Fitri.
"Ok " Sahut Ridho. Pria itu pun kembali ke rumah nya setelah Fitri masuk ke dalam rumah.
"Ternyata dia memang Fitri," Gumam Ridho
"Kenapa tadi gak langsung minta nomor hape nya ya,... Tapi ya sudah lah, rasanya aneh juga kalau tiba-tiba minta nomor hp. Nanti saja,kalau ada kesempatan " Gumam Ridho sambil berjalan. Namun bibirnya tak pernah berhenti tersenyum. Di saat yang bersamaan, orangtuanya datang. Mereka baru saja menghadiri pemakaman Mamat.
"Loh...Ridho ! Kamu pulang nak ? Kok gak ngabarin dulu kalau mau pulang ? Tau gitu tadi ibu masak yang banyak " Ucap ibunya terkejut namun dibalik rasa terkejutnya itu tersirat kegembiraan.
Ridho meraih tangan ibunya," Iya Bu,maaf. Aku sengaja mau kasih kejutan. Gak apa-apa Bu,aku udah bawa makanan tadi beli di jalan. Kita makan sama-sama" Ucap Ridho. Pria itu beralih pada ayah nya.
"Gimana kerjaan ? Lancar ?" Tanya ayah nya sambil mengusap bahu putra nya.
"Alhamdulillah...lancar Yah"
"Yuk masuk !" Ucap ibunya setelah membuka kunci.
Mereka lalu duduk di sofa panjang ruang tengah. Ibunya segera pergi ke dapur untuk membawa minum.
"Yah,apa ada yang meninggal ?" Tanya Ridho.
Ayah nya mengangguk,sambil menghela nafas panjang." Iya. Anaknya Bu Nina dan pak Sanip " Jawab ayah nya.
Ridho nampak terkejut ," Mamat ? Mamat Rahmat yang masih sekolah dasar itu ?" Tanya nya terkejut. Ayahnya mengangguk,ibunya yang datang dengan nampan ditangannya ikut menyahut." Iya. Kasihan Mamat "
"Meninggal nya kenapa ?" Tanya Ridho lagi ,kedua orangtuanya pun menceritakan apa yang mereka tahu.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun....." Lirih Ridho.
Sementara itu,Maria segera mencecar Fitri dengan pertanyaan seputar Ridho.
"Kenapa pria tadi menghampiri kamu ?"
"Apa dia cuman ngajak kamu kenalan ?"
"Kamu dapet nomor hapenya gak ?"
"Antara Kojek sama pria itu,kamu pilih siapa ?"
Fitri merasa kesal sendiri mendengar nya,apalagi pertanyaan Maria tak cukup hanya di situ saja. Fitri mengambil ember lalu menutup kepala Maria dengan ember itu.
Pluk'
Seketika suara Maria yang nyerocos seperti petasan renteng berhenti. Seperti jangkrik yang sedang berbunyi tiba-tiba diam saat terinjak. Jamilah, Berliana, Jefry,Edward,dan George terkikik menahan tawa.
"Nah,kan diam juga " Gumam Fitri tersenyum.
"iiihh.... Fitriiii....kok kepalaku dimasukan ember sih,engap tau...." Rengek Maria.
"Emangnya setan bisa nafas ?" Ucap Fitri meledek.
"Makanya jangan kebanyakan nanya. Bikin pusing saja. Udah ya,gue mau mandi dulu! Gerah " Ucap Fitri ,lalu melirik Jefry, George,dan Edward sambil menatap tajam.
"Awas kalau kalian berani ngintipin gue ! Gue colok mata kalian pake tusuk gigi ! " Ancam nya.
"Gak ! Gak berani aku,ngintip itu perbuatan dosa " Sahut Jefry.
Fitri mendengus pelan " Ada ya,setan inget dosa " gumam nya lalu pergi ke kamar mandi. Tak lupa dia juga membawa baju ganti.
Waktu terus berlalu.
Matahari semakin condong ke barat, menghasilkan bayangan memanjang. Fitri yang lupa mengangkat jemuran tadi siang, buru-buru pergi ke halaman belakang,dimana baju-baju nya tengah dijemur. Di saat itu, Fitri melihat sebuah kain berwarna putih menjuntai dari dahan pohon yang digunakan sebagai tiang tali jemuran. Fitri mendongak,sosok pocong tengah duduk dengan sebagian kafan yang koyak. Namun Fitri tersentak kaget saat tak sengaja pandangan nya tertuju pada bagian belakang pocong itu. Kebetulan pocong itu tengah membelakanginya,hingga penampakan bokong nya terlihat jelas.
Reflek Fitri pun menjerit sambil menutup mata. Bukan karena penampakan sosok pocong tersebut tetapi pada penampakan bongkahan pant*t pocong itu.
"Aaaaaaa...."
......