Laura, seorang gadis kota yang mandiri, menemukan belahan jiwanya pada Arka ketika mereka bekerja di tempat yang sama. Cinta mereka yang kuat membawa keduanya ke jenjang pernikahan. Namun, kebahagiaan itu mulai terkikis saat Laura setuju untuk ikut Arka pindah dan tinggal di kampung halamannya.Sejak hari pertama, kehidupan Laura berubah menjadi penuh air mata. Ibu mertuanya, Rohaya, tidak pernah menyukainya. Rohaya selalu mencari-cari kesalahan Laura, mulai dari cara memasak, mengurus rumah, hingga hal-hal kecil lainnya. Laura tidak pernah tahu alasan di balik kebencian mendalam ibu mertuanya tersebut. Di sisi lain, Arka adalah suami yang setia. Arka selalu pasang badan dan mati-matian membela Laura setiap kali Rohaya menyudutkan istrinya.Di balik sifat ketat dan kejamnya, Rohaya menyimpan trauma dan dendam masa lalu yang kelam terhadap "orang kota". Saat Rohaya sedang hamil dulu, suaminya yang bernama Arman berselingkuh dengan seorang wanita kota bernama Sinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellin Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Menurun
...****************...
Pagi itu, Laura terbangun dengan kepala berat dan mata yang masih bengkak.
Ia hampir tidak tidur semalaman.
Peristiwa makan bersama keluarga besar kemarin terus berputar di kepalanya—tatapan sinis para saudara, bentakan Rohaya di depan semua orang, dan rasa malu yang masih terasa seperti luka terbuka.
Laura duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah lantai.
Pikirannya kembali pada satu hal yang terus mengganggunya.
Sayur lodeh itu.
Ia ingat jelas…
sebelum disajikan, ia sudah mencicipinya sendiri.
Rasanya pas.
Tidak terlalu asin.
Tidak ada yang salah.
Bahkan Bella juga sempat mencicipinya dan berkata rasanya sudah enak.
Lalu kenapa…
saat di meja makan, rasanya berubah sangat asin?
Laura mengernyit.
Ia mencoba mengingat semuanya.
Saat itu Bella masuk ke dapur.
Memberinya air minum.
Menyuruhnya mengambil piring ke ruang makan.
Dan selama beberapa menit…
panci itu hanya berdua dengan Bella.
Laura terdiam.
Dadanya mendadak terasa dingin.
“Jangan-jangan…”
Pikiran itu muncul begitu saja.
Apakah ada yang sengaja menyabotase masakannya?
Tangannya mengepal pelan.
Ia tidak ingin menuduh siapa pun tanpa bukti.
Tapi semakin dipikirkan…
semakin semuanya terasa aneh.
Dan satu nama terus muncul di kepalanya.
Bella.
Laura menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan—
dimarahi di depan semua orang,
atau kemungkinan bahwa seseorang di rumah ini memang ingin menghancurkannya.
---
Ia menatap pantulan dirinya di cermin.
Wajahnya terlihat lelah.
Seperti orang yang perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Namun ia tetap berdiri.
Apa pun yang terjadi,
ia tidak ingin terlihat lemah.
Laura mencuci muka, merapikan rambut, lalu keluar kamar seperti biasa.
Di dapur, Rohaya sudah lebih dulu ada di sana.
Wajahnya datar.
Tidak ada penyesalan.
Tidak ada permintaan maaf.
Seolah kejadian kemarin hanyalah hal biasa.
Laura menunduk sopan.
“Pagi, Bu.”
Rohaya hanya menjawab singkat.
“Air panas belum dibuat.”
“Iya, Bu.”
Laura langsung bergerak tanpa banyak bicara.
Beberapa menit kemudian, Bella masuk ke dapur sambil menguap kecil.
“Pagi semuanya.”
Tatapannya bertemu dengan Laura.
Ia melihat mata sembab itu dan tersenyum tipis.
“Kamu kurang tidur?”
Laura memaksakan senyum.
“Sedikit.”
Bella melangkah mendekat, terlalu santai.
“Masih kepikiran soal kemarin?”
Laura menatapnya sebentar.
Ada sesuatu dalam senyum Bella yang membuatnya tidak nyaman.
Namun Laura memilih menjawab pelan.
“Lumayan.”
Rohaya menyela dingin.
“Kalau hanya karena dimarahi sedikit saja sudah tidak bisa tidur, bagaimana mau jadi istri dalam rumah tangga?”
Laura diam.
Bella duduk sambil mengambil roti.
“Ibu terlalu keras. Nanti Laura bisa kabur, lho.”
Nada itu terdengar seperti candaan, tapi justru membuat Rohaya semakin dingin.
“Kalau dia tidak kuat, pintu selalu terbuka.”
Kalimat itu menghantam Laura seperti batu.
Tangannya berhenti sesaat.
Namun ia tetap diam.
Arka yang baru turun tangga mendengar kalimat terakhir itu.
Wajahnya langsung berubah.
“Ibu maksudnya apa?”
Rohaya menatap anaknya.
“Tidak ada. Ibu hanya bicara kenyataan.”
Arka berjalan mendekat.
“Laura bukan tamu yang bisa disuruh pergi kapan saja.”
Rohaya berdiri.
“Dan Ibu bukan orang asing yang bisa kamu lawan demi istrimu!”
Suasana kembali menegang.
Bella meminum teh sambil diam-diam menikmati semuanya.
Laura buru-buru berkata,
“Sudah, Ka… jangan pagi-pagi begini…”
Tapi Arka tidak mundur.
“Setiap hari selalu begini. Sampai kapan?”
Rohaya menjawab tajam,
“Sampai istrimu belajar bagaimana menjadi bagian keluarga ini.”
Laura merasa dadanya sesak lagi.
Arman yang baru masuk dari luar melihat ketegangan itu.
“Pagi-pagi sudah ribut lagi?”
Tidak ada yang menjawab.
Arman menatap satu per satu wajah mereka.
Lalu pandangannya berhenti pada Laura.
Ia bisa melihat dengan jelas:
menantu itu sedang terluka.
Dan ia mulai merasa bersalah.
Bukan hanya karena masa lalunya…
tetapi karena luka itu sekarang menimpa orang yang tidak bersalah.
---
Siang hari, Arman duduk sendirian di teras belakang rumah.
Tangannya memegang secangkir kopi yang mulai dingin.
Pikirannya terus kembali pada masa lalu.
Pada Sinta.
Pada kesalahan yang tidak pernah benar-benar ia perbaiki.
Ia tahu Rohaya tidak pernah sembuh.
Dan mungkin…
ia memang tidak pernah memberinya kesempatan untuk sembuh.
Langkah kaki terdengar.
Laura datang membawa cucian yang baru diangkat.
Melihat Arman di sana, ia sedikit terkejut.
“Eh… Pak.”
Arman mengangguk.
“Duduklah sebentar.”
Laura ragu, tapi akhirnya duduk di kursi seberang.
Suasana hening beberapa saat.
Arman menatap halaman depan.
“Kamu pasti berat tinggal di sini.”
Laura tersenyum kecil, pahit.
“Masih belajar, Pak.”
Arman menghela napas.
“Ibu memang keras. Tapi sebenarnya… dia bukan orang jahat.”
Laura menunduk.
“Saya tahu.”
“Dia hanya terlalu lama hidup dengan luka.”
Laura terdiam.
Kalimat itu membuatnya berpikir.
Ia memang tidak tahu semua cerita masa lalu itu, tapi ia bisa merasakan bahwa kebencian Rohaya bukan sekadar soal dirinya.
Arman melanjutkan,
“Kalau suatu hari kamu tahu alasan sebenarnya, mungkin kamu akan lebih mengerti.”
Laura menatap mertuanya.
“Kalau luka seseorang membuat kita terluka juga… apa kita tetap harus mengerti, Pak?”
Pertanyaan itu membuat Arman diam.
Ia tidak langsung punya jawaban.
Karena mungkin…
Laura benar.
Akhirnya ia berkata pelan,
“Kamu tidak harus menerima semuanya. Tapi jangan biarkan luka orang lain mengubah siapa dirimu.”
Laura menahan air mata.
Sudah lama sekali tidak ada yang bicara selembut itu padanya di rumah ini.
“Iya, Pak.”
Namun dalam hati,
pertanyaan lain masih mengganggunya.
Tentang sayur asin itu.
Tentang Bella.
Dan tentang kemungkinan…
bahwa perang di rumah ini jauh lebih rumit dari yang ia kira.
Dari balik jendela,
Rohaya melihat semuanya.
Tatapannya berubah dingin.
Laura kini bukan hanya mendapatkan pembelaan dari Arka.
Tapi juga perhatian dari Arman.
Dan itu membuat Rohaya merasa semakin terancam.
Di sampingnya, Bella berdiri sambil menyilangkan tangan.
Ia melihat arah pandangan ibunya dan tersenyum tipis.
Api itu semakin besar.
Dan Bella tidak perlu melakukan apa-apa lagi.
Cukup menunggu.
Karena dalam rumah yang penuh luka lama,
sedikit kecurigaan saja…
bisa menghancurkan segalanya.
(Bersambung Episode 9)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...