Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Awal Yang Berbeda
Langit mulai meredup.
Namun lintasan justru semakin hidup.
Suasana yang tadinya tenang
kini berubah tegang.
Semua mata tertuju pada dua mobil.
Mobil yang tadi dikendarai Ryan.
Dan mobil milik Faris.
Dua dunia berbeda.
Namun kini
berada di garis yang sama.
Ryan berdiri di samping mobilnya.
Tatapannya tidak lagi santai.Ia tahu
Ini bukan sekedar uji coba biasa melainkan Ini sinyal.
Faris sudah berada di dalam mobilnya.
Duduk dengan tenang
Seolah semua ini
hal yang biasa baginya.
Mesin mobilnya dinyalakan.
Suara dalam dan berat langsung memenuhi lintasan.
Beberapa teknisi langsung saling pandang.
“Itu suara mesin yang beda…”
“Setting-nya pasti tinggi…”
Ryan memperhatikan.
Matanya fokus.
Ia bisa merasakan levelnya memang berbeda
Namun itu tidak membuatnya mundur.
Raka mendekat. “Jangan terbawa oleh tekanan" Ryan melirik.
“Dia sudah lama di sini”
Ryan mengangguk pelan.
“Tapi lintasan tetap sama”
Raka tersenyum tipis “Bagus”
Ryan membuka pintu mobilnya dan Masuk.
Duduk di kursi pengemudi.
Tangannya memegang setir.
Detak jantungnya mulai meningkat.
Namun kali ini
bukan karena gugup Tapi karena siap.
Ia menyalakan mesin.
Suara mobilnya tidak kalah garang.
Mesin meraung.
Seolah menjawab tantangan.
Di garis awal
dua mobil sejajar.
Jarak mereka hanya beberapa meter.
Namun tekanan di antara mereka
terasa jauh lebih besar.
Ryan melirik ke samping.
Faris juga menoleh.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Tidak ada senyum.
Tidak ada kata.
Hanya satu hal yang jelas.
Mereka tidak akan mengalah.
Di kejauhan Adrian berdiri dan Mengamati.
Tangannya di saku.Matanya tajam.
Ia tidak menghentikan.
Ia juga tidak memberi aba-aba resmi.
Namun semua orang tahu
ini akan terjadi.
Raka mengangkat tangan.
Memberi isyarat sederhana.
Hitungan dimulai.
Tiga.
Ryan menarik napas.
Dua.
Tangannya semakin erat di setir.
Satu.
Pedal diinjak.
Dua mobil melesat bersamaan.
Cepat.
Sangat cepat.
Ban mencengkeram aspal.
Suara gesekan terdengar keras.
Ryan langsung fokus.
Pandangan lurus ke depan.
Namun di sisi lain ia tahu.
Faris ada di sampingnya.
Kecepatan mereka hampir sama.
Namun saat masuk tikungan pertama
Faris sedikit unggul.
“Cepat…” gumam Ryan.
Ia tidak panik.
Ia menahan.
Menunggu momen.
Tikungan kedua
Ryan mulai mengejar.
Ia mengambil garis lebih dalam.
Risiko lebih tinggi.
Namun hasilnya
jarak mulai menipis.
Di dalam mobil
napas Ryan mulai berat Namun matanya
tetap tajam.
“Sekarang…” bisiknya.
Ia menekan pedal lebih dalam.
Mobil melaju lebih agresif.
Namun di titik itu mobil sedikit goyah.
Ryan langsung mengoreksi.
Cepat dan sangat Presisi.
Namun itu cukup
untuk memberi Faris jarak lagi.
Faris tetap stabil.
Tidak terburu-buru.
Seolah
ia sudah tahu batasnya.
Ryan menyipitkan mata.
“Dia main aman…”
Namun justru
itu yang membuatnya kuat.
Lintasan hampir selesai.
Ryan mencoba sekali lagi.
Ia mengambil jalur luar.
Lebih panjang.
Namun dengan kecepatan lebih tinggi.
Mobil melaju.
Mendekat.
Semakin dekat.
Namun di garis akhir
Faris tetap lebih dulu
Selisih tipis Sangat tipis.
Ryan mengerem.
Mobil berhenti perlahan.
Sunyi beberapa detik.
Tidak ada sorakan.
Tidak ada komentar.
Semua masih mencerna.
Ryan keluar dari mobil.
Napasnya berat.
Namun wajahnya tetap tenang.
Faris juga keluar.
Ia melirik Ryan.
Lalu tersenyum tipis.
“Kamu cepat”
Ryan mengangguk.
“Kamu juga”
Faris berjalan mendekat.
“Untuk ukuran baru…”
Ia berhenti sejenak.
“Lumayan”
Ryan tersenyum tipis.
Namun tidak menjawab.
Faris melanjutkan,
“Tapi di kompetisi…”
Tatapannya berubah.
Lebih tajam.
“…tidak ada kata hampir”
Sunyi.
Ryan menatapnya lurus.
“Kita lihat nanti”
Faris tersenyum.
“Ya”
Ia berbalik.
Masuk kembali ke mobilnya.
Dan pergi.
Suasana kembali pelan.
Raka mendekat.
“Kamu kalah tipis”
Ryan mengangguk.
“Karena satu hal”
Raka menatapnya.
“Kamu masih mikir”
Ryan terdiam.
Ia tahu itu benar.
Namun kali ini
ia tidak menyangkal.
Ia hanya menatap ke arah lintasan.
Matanya berubah.
Lebih dingin.
Lebih fokus.
“Lain kali…”gumamnya pelan.“…tidak akan sama”
Dan untuk pertama kalinya
Ryan benar-benar mengerti.
Di dunia ini
bukan hanya skill yang menentukan.
Tapi siapa yang paling siap untuk menang.