Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”
Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teori Putra Langit dan Komedi di Balik Semak
Udara sore di Pos Kedua Sekte Awan Azure terasa begitu sejuk, membawa aroma pinus dan uap air dari Sungai Roh Azure yang terus menderu. Namun, bagi seorang pemuda yang sedang berjalan dengan tangan di belakang kepala dan langkah yang sangat santai, kesejukan itu hanyalah bumbu bagi kebosanannya yang sudah mencapai level akut.
Li Fan, atau yang kini lebih dikenal sebagai Ma Liang, si Tuan Muda Pemalas dari Hebei, sedang berada dalam kondisi "gabut" yang luar biasa. Pagi harinya telah diisi dengan rutinitas yang menurutnya sangat membosankan. Ia harus duduk mendengarkan Tetua Mo memberikan ceramah tentang Teknik Pernapasan Awan Mengalir, sebuah teknik dasar yang bagi Li Fan rasanya lebih sederhana daripada instruksi cara menyeduh teh yang benar. Sementara calon murid lain mendengarkan dengan mata berbinar seolah sedang menerima wahyu surgawi, Li Fan justru beberapa kali tertangkap basah sedang menguap lebar hingga air matanya keluar.
Bahkan Jin Tianyu, pengawal setianya yang biasanya hanya peduli pada paha ayam, kini sedang mengalami fase "demam kultivasi". Setelah merasakan nikmatnya membuka gerbang nadi pertama, Jin Tianyu menjadi sangat ambisius. Sore ini, bocah besar itu sedang berendam di bagian sungai yang arusnya paling deras, mencoba menembus gerbang nadi kedua dengan tekad bulat.
“Semua orang sibuk. Semua orang bekerja keras. Dunia ini benar-benar kekurangan orang yang tahu caranya menikmati hidup,” gumam Li Fan sambil menendang sebuah kerikil kecil di jalan setapak.
Awalnya, rencana Li Fan sore ini adalah mengajak Jin Tianyu mencari Lei Bao. Ia ingin melihat bagaimana nasib si "Raja Murid Gagal" itu saat bergelut dengan sapu dan kotoran. Itu pasti akan menjadi hiburan komedi yang sangat berkualitas. Namun, rencana itu gagal total karena Li Fan ketiduran dengan sangat pulas di asrama setelah kelelahan membantu mengarahkan aliran Qi di punggung Jin Tianyu semalam. Saat ia terbangun, matahari sudah mulai condong ke barat, dan Jin Tianyu sudah menghilang ke sungai.
“Yah, apa boleh buat. Mari kita lihat apa yang disajikan oleh alam hari ini,” ucapnya sambil membelokkan langkah menuju area hutan di bagian selatan yang jarang dilewati orang.
Li Fan tidak terburu-buru untuk naik ke puncak gunung. Dengan Nadi Surgawi Sembilan Putaran miliknya, ia bisa saja melompati seluruh ujian ini dalam semalam. Namun, ia sangat menikmati perannya sebagai Ma Liang. Menjadi "low profile" adalah seni yang sulit, terutama ketika kau memiliki jiwa seorang anak dewa di dalam tubuh anak kecil.
Saat ia berjalan lebih dalam ke dalam hutan, telinganya yang tajam menangkap suara tawa kecil yang terdengar sangat akrab. Li Fan segera merunduk dan bersembunyi di balik semak-semak yang rimbun. Insting gosipnya mendadak bangkit.
Di sebuah area terbuka kecil di bawah pohon beringin tua, Li Fan melihat pemandangan yang membuatnya ingin mendengus geli. Ada Xiao Chen, sang "pahlawan gembel", dan Lin Xueyan, dewi es yang biasanya begitu sombong. Mereka tidak sedang berlatih pedang atau bermeditasi. Sebaliknya, mereka tampak sangat santai. Xiao Chen sedang menceritakan sesuatu dengan gaya yang sangat ekspresif, sementara Lin Xueyan, yang biasanya hanya memiliki satu ekspresi datar, kini tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan tangan.
“Wah, wah... lihatlah pasangan muda ini. Di luar mereka berakting seolah-olah hanya teman masa kecil yang terpisah, tapi di sini mereka terlihat seperti sedang syuting drama romantis picisan,” bisik Li Fan pada dirinya sendiri.
Melihat adegan itu, Li Fan mendadak merasa sedikit bersimpati pada Ma Liang yang asli. Meskipun Ma Liang adalah sampah, setidaknya secara hukum dialah tunangan sah Lin Xueyan. Melihat tunangannya tertawa bahagia dengan pria lain di tengah hutan tentu saja adalah penghinaan besar bagi setiap pria.
“Tenanglah Ma Liang, meskipun kau sudah di alam sana, aku akan membalaskan rasa malu ini dengan cara yang sangat elegan,” batin Li Fan dengan seringai jahil. “Aku akan membuat Xiao Chen menyadari bahwa dia hanyalah debu di bawah kakiku, dan aku akan membuat Lin Xueyan menyesal karena pernah menganggap Ma Liang sebagai kotoran.”
Namun, di balik niat jahilnya, pikiran Li Fan mulai bekerja dengan lebih serius. Ia mengamati Xiao Chen dengan saksama dari balik semak. Di kehidupan sebelumnya sebagai Su Fan, anak dari Dao Ancestor yang agung, ia menghabiskan ribuan tahun membaca gulungan-gulungan kuno di perpustakaan ayahnya.
Ada satu konsep mitos yang sering dibahas dalam buku-buku itu: Putra Langit.
Dikatakan bahwa dalam setiap generasi, Surga akan memilih satu individu untuk menjadi kesayangan takdir. Orang-orang ini biasanya memiliki asal-usul yang sangat klise. Mereka sering kali direndahkan, dihina sebagai sampah, berasal dari keluarga yang hancur, namun entah bagaimana selalu disukai oleh wanita-wanita paling cantik dengan status tinggi. Mereka akan menemukan musuh bebuyutan dari kalangan bangsawan arogan yang menciptakan konflik demi konflik, yang pada akhirnya hanya menjadi batu loncatan bagi sang Putra Langit untuk menjadi lebih kuat.
“Ciri-cirinya benar-benar pas,” pikir Li Fan sambil mengelus dagunya yang belum ditumbuhi jenggot. “Dia diremehkan? Ya. Dia punya teman masa kecil cantik yang jenius? Ya. Dia punya musuh kaya dan arogan sepertiku? Ya. Dia punya pedang berkarat yang memancarkan aura kuno yang misterius? Sangat ya.”
Li Fan menyipitkan matanya menatap pedang yang bersandar di pohon di samping Xiao Chen. Pedang itu terlihat sangat buruk rupa, penuh karat dan dibungkus kain usang. Namun, persepsi spiritual Li Fan merasakan getaran yang sangat halus dari benda itu. Ada sesuatu yang kuno dan haus darah tersembunyi di dalam besi tua itu.
“Jika benar dia adalah Putra Langit, maka berkonflik dengannya adalah ide yang sangat buruk menurut buku sejarah. Biasanya, siapapun yang melawan mereka akan berakhir menjadi tumpukan tulang atau setidaknya kehilangan seluruh kekayaan keluarga mereka,” Li Fan terkekeh pelan. “Tapi itu berlaku bagi antagonis bodoh yang tidak tahu aturan mainnya. Aku bukan antagonis, aku adalah sutradaranya.”
Li Fan memutuskan bahwa ia harus menguji teori ini. Dan untuk mengetes seorang Putra Langit, ia membutuhkan "pion penguji" yang tepat. Seseorang yang memiliki dendam, kekuatan fisik yang cukup, dan sudah berada di titik terendah dalam hidupnya.
“Lei Bao... kau adalah kandidat yang sempurna,” gumam Li Fan.
Ia segera merayap mundur dengan sangat hati-hati, tidak ingin merusak momen romantis di depannya yang menurutnya sangat mual dan membosankan itu. Setelah merasa cukup jauh, ia berdiri dan membersihkan daun-daun kering dari jubahnya.
“Selamat bersenang-senang, Xiao Chen. Nikmatilah tawanya selagi bisa, karena sebentar lagi aku akan memberimu sebuah badai yang tidak akan bisa kau tangkis dengan pedang berkaratmu itu,” ucap Li Fan sambil melangkah pergi dengan perasaan yang sangat puas.
Cerdas...
Lucu...