Hyeana adalah seorang gadis biasa yang tiba-tiba terlempar ke dimensi lain lalu Hyeana mencoba untuk keluar dari sana, ia mencari jalan keluar namun yang dia lalui hanya dunia yang tidak ada ujungnya. lalu tanpa sengaja ia tersandung hingga terjatuh didepan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah, namun pintu itu otomatis terbuka lebar dengan disertai suara yang aneh. Hyeana ingin mencoba masuk ke sana karena ia berfikir siapa tau jalan untuk ia pulang berada dibalik pintu tersebut. Ketika ia hendak memasuki pintu tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria dibelakangnya, lalu pria tersebut mengulurkan tangan-nya dan pria itu berkata, “Belum waktunya kamu berada di sini”.....Tak lama kemudian, Hyeana terbangun kembali di kamarnya dengan seorang pria berdiri di samping tempat tidurnya. Siapakah pria ini dan bagaimana kelanjutan dari kisah mereka? to be continue...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elrznta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WHERE WE GOING?
Koridor sekolah pagi itu ramai seperti biasanya. Suara murid bercampur dengan bunyi langkah kaki memenuhi lantai dua. Beberapa siswa sibuk bercanda, sementara yang lain terburu-buru menuju kelas sebelum guru datang.
“HYEANAAA!”
Bruk.
Seseorang langsung memeluk Hyeana dari belakang.
“Ara!”
Ara tertawa puas sambil melepas pelukannya.
“Makanya jangan bengong mulu.”
“Kaget tau…” ucap Hyeana sambil memegang dadanya.
Ara langsung memperhatikan wajah Hyeana beberapa detik.
“Kamu makin pucet deh hari ini.”
“Engga kok.”
“Bohong.”
Hyeana hanya tersenyum kecil. Padahal semalaman ia hampir tidak bisa tidur dengan tenang.
Setiap kali memejamkan mata, wajah Harvey selalu muncul di kepalanya. Dan yang paling aneh…Hyeana tidak merasa takut saat mengingat pria itu. Mereka berjalan bersama menuju kelas. Saat melewati jendela koridor, tanpa sadar Hyeana melihat pantulan seseorang berdiri di belakangnya. Hyeana langsung menoleh cepat tapi ternyata kosong. Tidak ada siapa-siapa.
“Hyeana?” Suara Ara membuatnya tersadar.
“Hah?”
“Kamu liatin apa sih na?”
“Engga… bukan apa-apa kok ra.”
Namun jantung Hyeana masih berdetak tidak tenang.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Jam pelajaran berlangsung seperti biasa, Guru sedang menjelaskan materi di depan kelas sementara sebagian murid mulai terlihat bosan. Hyeana sama sekali tidak bisa fokus, tatapannya beberapa kali mengarah ke luar jendela dan setiap kali itu juga…Ia merasa seseorang sedang mengawasinya.
“Hyeana.” Suara guru membuatnya tersentak.
“Hah?! I-iya bu?”
Beberapa murid langsung tertawa kecil.
“Kamu dari tadi melamun terus.”
“Maaf bu…” ucap Hyeana malu.
Ara yang duduk di sampingnya langsung menahan tawa.
“Untung gurunya baik.” bisik Ara.
Hyeana langsung memukul pelan lengan Ara.
Saat ia kembali menoleh ke arah jendela…Sosok Harvey terlihat berdiri di bawah pohon dekat lapangan sekolah. Pakaian hitamnya bergerak pelan tertiup angin dan mata merah itu menatap lurus ke arahnya.
Deg.
Napas Hyeana tercekat. Namun beberapa detik kemudian… Harvey menghilang lagi.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Langit sore terlihat mendung ketika bel pulang sekolah akhirnya berbunyi nyaring memenuhi seluruh gedung SMA. Suara kursi yang digeser dan obrolan para murid langsung memenuhi kelas. Sebagian besar siswa segera berhamburan keluar sambil bercanda satu sama lain. Namun berbeda dengan yang lain, Hyeana hanya duduk diam sambil menatap kosong ke arah jendela. Pikirannya masih dipenuhi sosok Harvey, Mata merah itu. Kabut hitam itu, dan dunia aneh bernama Netherveil. Semua terasa terlalu nyata.
“Hyeanaaa.” Suara Ara langsung membuat Hyeana tersadar dari lamunannya.
“Astaga, dari tadi aku ngomong sendiri tau.” ucap Ara sambil mengibaskan tangan di depan wajah Hyeana.
“Hah? Iya? Maaf ra…” jawab Hyeana pelan.
Ara langsung menghela napas panjang.
“Kamu kenapa sih akhir-akhir ini?”
“Kenapa memang?”
“Kamu sering bengong, terus muka kamu pucet banget.”
“Aku cuma kurang tidur aja.”
Ara menyipitkan mata curiga.
“Jangan bohong.”
Hyeana hanya tertawa kecil untuk menghindari pertanyaan itu. Padahal sebenarnya… dirinya sendiri pun tidak tahu apa yang sedang terjadi. Setelah berpamitan dengan Ara, Hyeana berjalan keluar sekolah sendirian. Langit yang tadi mendung perlahan mulai menurunkan hujan kecil.
Tap.
Tap.
Tap.
Suara rintik hujan mengenai payung transparan milik Hyeana. Udara sore terasa dingin. Entah kenapa… dinginnya terasa berbeda. Saat Hyeana melewati jalan kecil menuju halte, langkahnya perlahan melambat. Suasana berubah sunyi. Padahal biasanya jalan itu masih ramai oleh siswa. Namun sore itu tidak ada siapa-siapa. Bahkan suara kendaraan pun nyaris tidak terdengar. Tiba-tiba saja tanda hitam di pergelangan tangan kiri Hyeana terasa panas.
“Hngh…kok panas ya”
Hyeana langsung memegang lengannya pelan, rasa panas itu muncul lagi. Lampu jalan di sekitar halte tiba-tiba berkedip.
Ctek….Satu per satu lampu mulai mati, napas Hyeana perlahan memburu.
“H-hah…?”
Kabut tipis mulai muncul di sekitar jalanan, dari tengah hujan…Seseorang berdiri diam menatapnya. Tubuhnya tinggi, kulitnya hitam gosong, dan matanya putih kosong. Lalu satu sosok lagi muncul….Kemudian satu lagi…..Mereka berdiri di tengah hujan sambil menatap Hyeana tanpa berkedip. Tubuh Hyeana langsung membeku.
“Siapa… mereka…”
Salah satu sosok itu perlahan membuka mulutnya terlalu lebar.
“Haaaa…”
Suara seraknya terdengar menyeramkan.
“Tanda itu…”
“Pemilik tanda itu…”
“Makan dia…”
Deg.
Hyeana langsung mundur satu Langkah, Namun tiba-tiba salah satu makhluk itu bergerak cepat ke arahnya.
“AHH—!”
Brukkk!!
Sebelum makhluk itu menyentuh Hyeana, bayangan hitam besar muncul dari samping dan langsung menghantam tubuh roh itu hingga terpental jauh. Kabut hitam langsung menyelimuti jalan. Seseorang berdiri di depan Hyeana. Pakaian hitam panjang.
Rambut hitam pekat. Dan mata merah gelap yang menyala samar. Dia adalah Harvey. Untuk beberapa detik Hyeana hanya diam menatap pria itu. Hujan membasahi pakaian hitam Harvey, namun ekspresinya tetap tenang seperti biasanya.
“Kenapa kau selalu ditemukan mereka?” gumam Harvey dingin.
“H-harvey…”
Harvey menoleh sedikit ke arah Hyeana.
“Kau terluka?”
Hyeana perlahan menggeleng.
Namun sebelum Harvey sempat mengatakan sesuatu, roh-roh di sekitar mereka mulai bergerak mendekat perlahan.
“Makanan…”
“Berikan manusia itu…”
“Dia milik kami…”
Tatapan Harvey langsung berubah dingin, kabut hitam di sekitar tubuhnya mulai bergerak liar.
“Aku sedang tidak ingin bermain dengan kalian.”
DUAKKKK!!
Bayangan hitam tiba-tiba keluar dari tanah dan langsung menelan beberapa roh sekaligus.
Jeritan mereka menggema memenuhi jalan. Hyeana membelalak kaget.
“Itu tadi apa?!”
Harvey tidak menjawab.
Ia justru berjalan mendekat ke arah Hyeana.
“Tanda itu mulai menarik terlalu banyak roh.”
“Aku nggak ngerti…”
Harvey menghela napas pelan.
“Tentu saja kau belum mengerti.”
Tiba-tiba seekor kuda hitam besar muncul dari balik kabut. Matanya merah,
tubuhnya besar, dan bulunya bergerak pelan tertiup angin. Hyeana langsung menatap kuda itu kagum sekaligus takut.
“Kuda ini…”
“Namanya Noir.”
Harvey naik ke atas kudanya lalu mengulurkan tangan ke arah Hyeana.
“Ayo.”
“Mau kemana?”
“Ke tempat yang lebih aman.”
Hyeana ragu beberapa detik. Namun saat melihat roh-roh lain mulai muncul dari balik kabut… akhirnya ia memberanikan diri memegang tangan Harvey. Dingin, Namun anehnya… menenangkan. Harvey langsung menarik tubuh Hyeana ke atas kuda.
“Pegang yang benar.”
“Hah?!”
Belum sempat Hyeana protes, Noir langsung berlari menembus kabut.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara langkah kaki kuda menggema di tengah hujan, kabut putih mulai memenuhi pandangan Hyeana. Udara di sekitar mereka berubah semakin dingin dan beberapa detik kemudian… Pemandangan di depan Hyeana berubah total. Langit merah gelap.
Pepohonan hitam menjulang. Kabut hitam bergerak pelan di sepanjang tanah. Netherveil…..Hyeana langsung membeku melihat dunia itu. Ia masih tidak terbiasa dengan tempat ini, namun kali ini… dirinya bisa melihatnya lebih jelas. Di kejauhan terlihat kastil hitam besar berdiri di atas tebing. Cahaya merah samar keluar dari jendela-jendela kastil tersebut. Sangat Indah, tapi juga terasa sangat sepi.
“Itu tempat tinggalmu?” tanya Hyeana pelan.
Harvey mengangguk kecil.
“Netherveil…” gumam Hyeana sambil menatap sekeliling.
“Tempat ini benar-benar ada…”
Harvey meliriknya sebentar.
“Apa menurutmu aku hanya mimpi?”
Hyeana langsung terdiam, entah kenapa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Noir terus berjalan melewati hutan hitam panjang. suasana Netherveil jauh lebih sunyi dibanding dunia manusia. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada suara manusia, hanya suara angin dan langkah kaki Noir.
“Harvey…”
“Hm?”
“Tempat ini sebenarnya apa?”
Harvey diam beberapa detik sebelum menjawab.
“Tempat bagi mereka yang tak lagi hidup… namun belum benar-benar mati.”
Jawaban itu membuat Hyeana merinding.
Ia kembali menatap langit merah Netherveil. Namun anehnya…Dirinya tidak merasa takut berada di dekat Harvey. Untuk pertama kalinya sejak semua hal aneh ini dimulai…Hyeana merasa jauh lebih aman.