NovelToon NovelToon
"Sistem Mengajar Mutlak Dan Wali Kelas Pilihan":

"Sistem Mengajar Mutlak Dan Wali Kelas Pilihan":

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: acep maulana

Arvand Pratama hanyalah seorang guru honorer santai yang menjunjung tinggi prinsip "kerja minimal, damai maksimal". Namun, hidupnya yang tenang mendadak hancur ketika ia dijebak untuk menjadi wali kelas 12 F—kelas buangan paling brutal, berisi sekumpulan murid bermasalah yang dicap sebagai parasit sekolah tanpa masa depan.
​Saat Arvand berniat melarikan diri dan mengundurkan diri, sebuah Sistem Mengajar Mutlak misterius mendadak aktif di kepalanya. Sistem ini memberinya pilihan ekstrem: terima misi menjinakkan kelas 12 F dengan imbalan uang melimpah dan kemampuan guru supranatural, atau menolak dan mati mendadak karena serangan jantung!
​Terjebak di antara ancaman kematian sistem, janji manis kepala sekolah untuk dinikahkan dengan guru matematika yang cantik, dan keliaran murid-murid 12 F yang siap menguji kewarasannya, petualangan Arvand pun dimulai. Mampukah guru honorer bermodal sistem ini mengubah kumpulan "produk gagal" menjadi barisan murid terbaik, atau justru ia yang akan mati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Strategi dan Lamaran Agresif

​Arvand melirik sekilas ke arah tas kerjanya di bawah, memastikan map kulit hitam berisi sertifikat Kompleks Graha Nirwana Utama tetap aman di sana, lalu ia meraba saku celananya yang kini menyimpan empat buah ponsel paling mahal di planet bumi. Efek dari kemampuan khusus "Guru Serba Bisa" yang dijanjikan oleh sistem kini telah meresap sempurna, mengalir perlahan ke dalam setiap tetes aliran darah, jaringan saraf, dan memori otot seluruh tubuhnya.

​Sensasi hangat itu memberikan sebuah ketenangan batin, karisma, dan kepercayaan diri yang luar biasa kuat. Rasa takut, cemas, dan ngeri yang selama ini ia rasakan terhadap reputasi brutal anak-anak nakal kelas 12 F mendadak terkikis habis tanpa sisa, digantikan oleh sebuah perasaan superioritas seorang master yang siap menjinakkan kawanan serigala liar.

​"Jadi, Pak Kepsek," lanjut Arvand dengan nada suara yang berwibawa. Ia mendudukkan kembali dirinya di kursi kerja kayu jatinya, lalu memajukan posisi duduknya mendekati meja utama Pak Hadi dengan gaya yang sangat asertif, dominan, dan tidak lagi menunjukkan gestur seorang honorer kelas bawah yang inferior.

​"Kapan tepatnya saya bisa mulai bertugas secara resmi sebagai wali kelas mereka? Hari ini, jam ini, atau detik ini juga saya sudah sangat siap untuk melangkah masuk ke dalam kelas 12 F dan mengambil alih kendali penuh atas anak-anak itu."

​Arvand menjeda kalimatnya sejenak. Sorot matanya yang kini tajam dan penuh pesona karismatik beralih menatap lurus ke arah Yasmin Adiba, guru matematika cantik yang duduk di sebelah Pak Hadi. Sebuah senyuman tipis yang penuh arti tersungging di bibir Arvand.

​"Dan... karena saya sudah resmi menerima tugas mulia yang teramat berat dan penuh risiko ini demi menjaga nama baik sekolah serta akreditasi yayasan kita, bagaimana kalau sekarang kita juga bisa mulai berbicara secara serius dan konkret mengenai rencana lamaran, hantaran, dan penentuan tanggal pernikahan saya dengan anak gadis Bapak yang sangat cantik dan terpelajar ini? Bukankah dalam prinsip manajemen eksekutif, lebih cepat eksekusi sebuah rencana besar dilakukan, maka akan jauh lebih baik dan berkah untuk masa depan kita semua, Pak?"

​Mendengar ucapan Arvand yang sangat berani, lugas, dan terkesan sangat agresif tanpa basa-basi itu, Drs. Hadi Wicaksana sempat terperangah diam dengan mulut sedikit terbuka. Namun, sedetik kemudian, keheningan itu pecah saat Pak Hadi tertawa terbahak-bahak dengan sangat keras hingga perut tambunnya berguncang hebat. Ia memajukan tubuhnya dan menepuk-nepuk bahu kanan Arvand dengan telapak tangannya yang besar dan gempal berkali-kali.

​"Hahaha! Bagus sekali! Begitu dong, Pak Arvand! Itu baru namanya guru muda generasi baru yang punya jiwa ksatria sejati, bernyali besar, dan tidak penakut menghadapi tantangan! Saya sangat suka dengan efisiensi dan keberanian mu !" ujar Pak Hadi dengan wajah yang memerah gembira karena masalah terbesar sekolahnya akhirnya selesai. "Soal rencana lamaran dan perjodohan itu, pokoknya beres! Nanti malam, kamu harus datang langsung ke rumah pribadi saya untuk makan malam bersama keluarga besar. Kita akan bicarakan seluruh detail tanggal, konsep pernikahan, dan dekorasinya dengan santai sambil menikmati hidangan! Jangan sampai terlambat, ya!"

​Sementara itu, Yasmin Adiba yang berada di samping ayahnya hanya bisa mematung membisu. Ia menyembunyikan seluruh wajahnya yang kini sudah memerah sempurna seperti tomat matang yang siap petik di balik buku silabus tebal dan dokumen kurikulum yang dipegangnya dengan erat. Jantung Yasmin berdegup kencang dengan irama yang tidak beraturan.

​Ia sama sekali tidak menyangka, bahkan tidak pernah membayangkan dalam skenario terliar hidupnya, bahwa seorang Arvand Pratama—guru honorer pengganti yang biasanya selalu terlihat super santai, cuek, berpakaian apa adanya, dan sama sekali tidak pernah ambil pusing dengan urusan politik maupun asmara di sekolah ini—bisa mendadak berubah total menjadi sosok lelaki yang seberani, seagresif, se- berwibawa, dan se- percaya diri ini dalam hitungan satu detik saja di depan ayahnya.

​Ada sebuah daya tarik maskulin dan karisma misterius yang mendadak memancar kuat dari tubuh Arvand, membuat gengsi tinggi yang selama ini dibangun oleh Yasmin perlahan-lahan mulai goyah di dasar hatinya.

​Di luar ruangan kaca kepala sekolah, atmosfer di antara para guru senior dan guru muda yang sejak tadi menguping jalannya negosiasi mendadak berubah menjadi gempar. Mereka yang semula mengira akan menyaksikan drama pengunduran diri tragis atau tangisan frustrasi dari seorang guru honorer miskin, kini justru disuguhi oleh sebuah plot twist yang sangat mencengangkan: Arvand Pratama tidak hanya menerima jabatan maut sebagai wali kelas 12 F, tetapi ia juga berhasil mengamankan tiket emas untuk menjadi menantu tunggal dari penguasa tertinggi SMA Cakrawala Bangsa.

​Bu Ratih Permatasari, guru Bahasa Indonesia muda yang terkenal bermulut tajam, langsung meletakkan pulpennya dengan kasar ke atas meja kerja. Matanya menatap tidak percaya ke arah ruangan kaca melalui celah gorden yang sedikit terbuka.

​"Gila... si Arvand itu benar-benar cari mati atau bagaimana?" bisik Bu Ratih kepada Bu Lestari Anindita yang duduk di sebelahnya dengan nada suara yang bergetar karena heran. "Dia menerima kelas 12 F? Apa dia tidak tahu kalau minggu lalu Pak Bambang sampai pingsan di kelas karena dilempar penghapus papan tulis oleh anak-anak itu? Dan sekarang dia malah dengan berani meminta tanggal pernikahan dengan anak Pak Hadi? Berani sekali bocah honorer itu!"

​Bu Lestari Anindita, sang guru BK, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang, menatap map kasus kelas 12 F yang masih terbuka di mejanya. "Saya tidak tahu harus mengagumi keberaniannya atau mengasihani nasibnya, Bu Ratih. Menjadi menantu kepala sekolah memang sebuah keuntungan besar secara finansial di yayasan ini, tapi kalau taruhannya adalah nyawa dan kesehatan mental di kelas buangan itu... saya rasa harganya terlalu mahal. Kita lihat saja seberapa lama dia bisa bertahan di kelas itu sebelum menyerah menangis seperti guru-guru sebelumnya."

​Di sudut lain, Pak Fajar Aditama, guru Sejarah senior yang tadi melontarkan sindiran tajam tentang energi sisa Arvand, kini melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi wajah yang sangat masam dan kaku. Ia merasa tersindir oleh perubahan aura Arvand yang mendadak menjadi sangat dominan.

​"Paling-paling itu cuma kesombongan sesaat dari anak muda yang silau oleh harta dan kecantikan anak kepala sekolah," dengus Pak Fajar dengan nada merendahkan yang kental kepada Pak Arif Santoso. "Dia pikir mengurus kelas 12 F itu semudah membalikkan telapak tangan atau bermain game di ponsel pintarnya? Kita lihat saja besok pagi, saat dia pertama kali melangkah masuk ke kelas itu. Saya bertaruh dalam waktu tiga hari dia akan datang merangkak ke meja ini meminta surat pengunduran dirinya diproses kembali."

​Pak Arif Santoso, guru Biologi senior yang terkenal sarkastik, hanya tersenyum tipis sambil menyesap kopi hitamnya yang mulai mendingin. Matanya yang tajam menangkap sesuatu yang berbeda dari gestur tubuh Arvand yang sedang berbicara di dalam ruangan kaca. Sebagai seorang pengamat perilaku manusia yang berpengalaman, Pak Arif merasakan ada perubahan fisik yang sangat aneh pada diri Arvand—cara pemuda itu tegak berdiri, sorot matanya yang tajam, hingga cara ia memposisikan tangannya mencerminkan postur seorang petarung kelas atas yang sangat terlatih, bukan lagi seorang honorer lemah yang bisa ditindas oleh sistem feodal sekolah.

​"Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, Pak Fajar," sahut Pak Arif Santoso dengan nada santai yang penuh teka-teki. "Bisa jadi, Pak Arvand yang sekarang bukanlah Pak Arvand yang kita kenal selama ini. Siapa tahu, dia adalah tipe orang yang sengaja menyembunyikan taringnya yang tajam selama ini, dan kelas 12 F adalah mangsa yang paling tepat untuk memperlihatkan siapa dirinya yang sebenarnya. Mari kita tonton saja pertunjukan menarik ini sampai selesai."

​Sementara itu, di dekat meja administrasi, Bu Zahra Kirana, guru Kimia muda yang modis, dan Bu Syifa Salsabila, guru Bahasa Inggris, tampak berbisik-bisik dengan wajah yang memerah dan mata yang berbinar-binar penuh ketertarikan.

​"Eh, Bu Syifa, kamu ngerasa gak sih kalau Pak Arvand mendadak kelihatan... ganteng dan karismatik banget pas berdiri tadi?" bisik Bu Zahra sambil menyenggol lengan rekan sejawatnya itu. "Cara dia senyum dan ngomong ke Pak Hadi tadi bener-bener keren banget, berani banget langsung melamar Bu Yasmin di depan umum! Gak kelihatan kayak guru honorer yang biasanya lemes dan pasrah sama keadaan."

​Bu Syifa Salsabila tersenyum kecil, matanya melirik ke arah Arvand yang mulai bersiap meninggalkan ruangan kaca kepala sekolah. "Iya, Bu Zahra. Auranya mendadak berubah drastis jadi cowok alpha yang dominan banget. Pantesan aja Bu Yasmin sampai mukanya merah merona begitu di balik buku. Kalau aku jadi Bu Yasmin, kayaknya aku juga bakal langsung klepek-klepek denger keberanian Pak Arvand tadi. Tapi tetep aja, aku khawatir sama nasib dia di kelas 12 F nanti."

Di balik senyuman lebarnya yang sangat memesona dan penuh dengan energi positif yang baru, Arvand memalingkan pandangannya sejenak dari hadapan Pak Hadi dan Yasmin. Ia melangkah keluar dari ruangan kaca kepala sekolah dengan langkah kaki yang mantap dan berbunyi tegas di atas lantai ubin.

​Ia berjalan perlahan menuju ke arah meja kerjanya sendiri untuk mengambil tas kain lusuhnya yang kini telah bertransformasi menjadi tas paling berharga di sekolah tersebut karena berisi dokumen aset perumahan mewah.

​Arvand berdiri tegak di samping mejanya, lalu mengarahkan pandangan matanya lurus-lurus ke arah jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah koridor barat kompleks bangunan SMA Cakrawala Bangsa. Di ujung koridor barat itulah, terletak sebuah ruangan kelas yang paling dihindari, ditakuti, dan dikutuk oleh seluruh civitas akademika sekolah: Ruang Kelas 12 F.

​Dari tempatnya berdiri, Arvand seolah-olah bisa melihat aura hitam pekat, destruktif, dan penuh dengan hawa pemberontakan yang menyelimuti bangunan kelas tersebut di kejauhan. Ia tahu betul bahwa di dalam ruangan kelas itulah berkumpul puluhan murid paling bermasalah, liar, keras kepala, tidak terkendali, dan gemar merusak mental para pendidik yang mencoba mengusik kebebasan anarki mereka. Mereka adalah kumpulan singa-singa muda yang belum pernah bertemu dengan pawang yang tepat.

​Petualangan baru, liar, dan penuh dengan ketidakpastian dalam hidup Arvand Pratama sebagai seorang wali kelas tetap dari sarang penyamun kelas 12 F baru saja resmi dimulai siang ini, tepat saat matahari berada di puncak tertinggi kepala.

​Dengan dipandu, diawasi, dan didukung oleh sebuah sistem misterius berkekuatan mutlak di dalam kepalanya yang siap mengubah takdir hidupnya menjadi seorang penguasa kekayaan luar biasa—atau justru sebaliknya, membuatnya mati konyol akibat serangan jantung misterius jika ia gagal menjinakkan dan mendidik aura destruktif dari kelas buangan tersebut.

​Arvand meraba pergelangan tangan kirinya, merasakan dinginnya logam mulia dari jam tangan Rolex Daytona-nya yang berdetak dengan presisi mutlak. Ia kemudian menepuk saku celananya yang berisi deretan gadget canggih, lalu menghela napas pendek yang dipenuhi oleh rasa percaya diri yang meluap-luap.

​Efek dari kemampuan khusus "Guru Serba Bisa" membuat otaknya kini berputar dengan ribuan strategi taktis, metode psikologis, dan teknik fisik yang siap ia tumpahkan di dalam kelas esok hari.

​Satu hal yang pasti dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun mulai detik ini: Arvand Pratama yang sekarang bukanlah lagi seorang guru honorer lemah, miskin, pasrah, dan bisa mereka sepelekan atau tindas begitu saja dalam roda birokrasi sekolah. Sang pawang telah bangkit, dan neraka akademik kelas 12 F harus bersiap menghadapi kedatangan sang penguasa baru yang sesungguhnya.

1
irena
lanjut thor..
Aisyah Suyuti
good
Mamat Stone
/Tongue/
acep maulana
Hehehe, kalau kalian punya ide gokil, teori liar, atau saran buat novel ini, tulis aja di komentar. 😆
Saya selalu baca komentar kalian, dan siapa tahu ada ide yang bisa menginspirasi jalan cerita ke depannya. Terima kasih sudah mendukung novel ini! 🙏🔥
Mamat Stone
/Chuckle/
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
verto
novel terjemahan kah ini? dengan di modif dikit
acep maulana: Ehh iya, ada sedikit inspirasi dari drama China yang saya tonton, bahkan mungkin ada beberapa ide dari film juga di bab-bab yang akan datang. Tapi saya modifikasi dan kembangkan sesuai alur cerita novel ini. Hehehe 😆🙏 Terima kasih sudah membaca.
total 1 replies
verto
mirip sebuah komik sipnosisnya
acep maulana: Waduh, ketahuan gue deh 🤭 kebanyakan baca komik. 😂 Tapi semoga makin ke depan ceritanya punya warna sendiri dan tetap seru buat diikuti. 😁🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
crazy up Thor
Dewiendahsetiowati
kok banyak yang diulang2 ya paragrafnya
acep maulana: maaf ka hehe saya ngetik nya sambil ngantukk 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!