Kinan Malika, Gadis berusia 23 tahun yang menempuh pendidikan hukum selama 4 tahun, dan setelah lulus dia melamar pekerjaan sebagai notaris dan ingin menjadi pengacara.
Sayangnya, tidak ada yang percaya dengan kemampuannya. Hingga dia di terima di sebuah perusahaan besar untuk menjadi asisten pribadi seorang bos yang tidak pernah terpikir olehnya.
Baskara Rama Jaya, seorang laki-laki berusia 30 tahun. Bos perusahaan besar yang terkenal dingin dan tidak memiliki belas kasih terhadap karyawannya.
Memiliki trauma masa lalu dan mengindap insomnia akut, menyebabkan dirinya susah tidur ketika malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meeting Lagi
Karena besok adalah akhir pekan, Kinan memilih untuk tidur lebih lama karena hari libur.
Tapi, tiba-tiba saja ponselnya berdering dan itu panggilan masuk dari bosnya. Ya, Baskara.
"Bos?" gumamnya berusaha mengumpulkan kesadarannya.
Berharap dia sedang bermimpi. Tapi bagaimana mungkin, pikirnya.
"Ha-halo, Bos. Selamat pagi." sapa Kinan gugup saat mendapatkan panggilan telepon dari Baskara.
"Pagi?" tanya Baskara.
"Apanya yang pagi Kinan? Ini sudah jam 10, dan kamu bilang ini pagi?" sungut Baskara.
Bagaimana bisa gadis ini mengatakan bahwa jam 10.00 itu masih pagi. Jadi, jam berapa biasanya gadis ini bangun.
"Hehehe, maaf Bos. Kan ini libur, jadi boleh dong bangun siang. Jangan bilang bos nelpon aku hari akhir pekan gini ada meeting?" Kinan sudah ketakutan. Dia benar-benar takut jika sampai Baskara menghubunginya untuk meeting.
"Ya, meeting jam 12 siang. Rafli dan Rifki juga ada. Kita akan meninjau lokasi pembangunan hotel baru dari Crown Group. Jadi persiapkan dirimu dengan cepat dan saya akan menjemput kamu."
"Ta, tapi, Bos-"
tut...tut...tut...
Panggilan telepon di putuskan secara sepihak membuat Kinan merasa ambigu saat ini. Dia masih berpikir apakah ini mimpi atau tidak, tapi tiba-tiba saja dia terbayang wajah menyeramkan Baskara membuat dirinya langsung tersadar dan berlari ke kamar mandi.
"Ingat Kinan, jangan lupa keringin rambut Ayo, semangat Kinan!" serunya pada dirinya sendiri untuk menyemangati tubuh yang masih membutuhkan istirahat itu.
Lihat, saat dia turun dari apartemen murah yang dia sewa itu, dia melihat bosnya yang memang sudah menunggunya disana.
"Bos, maaf-"
"Masuk!"
Brak!
Pintu mobol banting cukup keras karena Baskara merasa kesal. Dia menunggu gadis itu selama hampir setengah jam. Tapi lihatlah, penampilan dirinya benar-benar membuat kepalanya sakit.
"Bos, besok-besok bisa nggak kalau mau ngabarin meeting atau apa itu jangan mepet? Soalnya saya nggak sempat keringin rambut, nggak sempat sisiran, tolong ngertiin saya, bos." pinta Kinan, berharap jika Baskara mau sedikit saja lebih pengertian untuk dirinya.
"Bosnya saya atau kamu?" tanya Baskara balik.
"Anda, bos." jawab Kinan tertunduk.
"Yasudah, jangan terlalu banyak bicara. Ambil laptop saya di belakang, dan lihat apakah email sudah masuk atau belum. Jika belum ada konfirmasi, batalkan kerja samanya!"
"Iya, bos." Kinan terlihat masih mengantuk dan beberapa kali menguap dan itu membuat Baskara melirik sekilas ke arahnya.
Tapi, mana dia peduli? Dia hanya ingin gadis ini lebih cepat dan lebih maju. Maka dia ingin melihat seberapa tahan Kinan ini bersamanya dalam bekerja.
"Berikan sarapan itu padanya! pastikan dia kenyang karena jika dia tidak kenyang, orang-orang di ruangan meeting itu akan terganggu dengan suara perutnya yang mengerikan itu!"
Setiap kata-kata yang keluar dari bibir Baskara memang sangat mengerikan bukan? haruskah Kinan sekali lagi, jika dia akan berjuang dan bertahan keras di kota ini. Agar keluarganya di kampung tidak memaksanya untuk menikah.
"Kompak banget sama sih bos pakai kemeja biru muda." goda Rafli membuat Rifki ikut menimpali.
"Soalnya lagi cerah ges...ahahahah..." mereka tertawa melihat bagaimana wajah kesal dan menggemaskan milik Kinan.
"Bodo amat deh!" jawab Kinan mengambil roti dan kopi yang kemungkinan besar di siapkan oleh Baskara untuknya.
"Kinan, semangat!!!" gumamnya dalam hati.
Demi kenaikan gaji dan bonus yang pernah Baskara janjikan padanya, maka dia akan benar-benar bertahan untuk semua itu.
***