Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.
Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.
Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Batas Sabar Para Penguasa
Atmosfer di area parkiran khusus Loren’z High School drop ke titik paling beku. Angin pagi yang berembus pelan seolah membawa hawa dingin yang menusuk tulang, mengiringi benturan ego dari tiga kubu yang tidak terbiasa tunduk pada siapa pun. Murid-murid yang baru berdatangan langsung menghentikan langkah mereka, berkerumun di balik pembatas koridor untuk menonton tontonan paling menegangkan di semester ini.
Kenzie Billy Smith melangkah maju, setiap ketukan sol sepatu pantofelnya di atas aspal terdengar bagai hitung mundur sebuah ledakan. Di belakangnya, Kenzo Willy Smith mengikuti dengan tangan yang sudah terkepal erat di sisi tubuh, sementara empat pengawal berjas hitam keluarga Smith langsung merapat, memasang barikade tak kasat mata untuk mengunci pergerakan Jayden.
"Gua gak suka mengulang ucapan gua, Frederick," desis Kenzie lagi, suaranya berat, rendah, dan sarat akan otoritas mutlak seorang kakak sulung yang merasa wilayahnya diinjak. "Lepasin. Tangan. Adik. Gua."
Jayden tidak bergeming sedikit pun. Tubuh tingginya berdiri tegap menantang tatapan membunuh Kenzie. Cengkeraman jemari panjangnya di pergelangan tangan Elleanor justru terasa stabil—tidak menyakiti, namun mengunci dengan ke-absolut-an yang luar biasa. Sepasang netra hitamnya yang pekat menatap Kenzie dan Kenzo bergantian dengan ekspresi datar yang kelewat tenang, seolah barisan pengawal berbadan kekar di depannya hanyalah angin lalu.
"Gua udah nepati janji gua buat bawa Elleanor ke sekolah dalam keadaan aman dan tepat waktu," balas Jayden, suaranya mengalun tenang tanpa ada riak ketakutan sedikit pun dari balik topeng dinginnya. "Tapi begitu dia ada di dalam gerbang LHS, dia ada di bawah pengawasan gua. Gua gak bakal lepasin apa yang udah jadi tanggung jawab gua."
"Tanggung jawab kepala lo peyang!" semprot Kenzo yang sudah tidak bisa lagi menahan sabar. Cowok itu maju dalam satu gerakan cepat, mencengkeram kerah jaket VULTURES yang tersampir di bahu Jayden, berniat melayangkan tinju mentah tepat ke rahang tegas sang ketua geng. "Dia adik gua, bajingan! Lo gak punya hak seujung kuku pun buat ngatur hidup dia!"
"Bang Kenzo, jangan!" pekik Elleanor panik. Sifat barbarnya mendadak lumpuh melihat situasi yang sudah berada di ambang baku hantam massal ini. Ia mencoba menyentak tangannya agar lepas dari genggaman Jayden, namun cowok bermuka tembok itu justru menarik tubuh mungil Elle hingga merapat di belakang punggung tegapnya, melindunginya dengan insting posesif yang begitu natural.
Sreeett!
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa memecah ketegangan sesaat ketika Shaka, Erlan, dan Haikal berlari dari arah koridor utama, disusul oleh belasan anggota inti VULTURES yang sedang berada di area parkiran. Dalam hitungan detik, situasi berbalik seimbang. Anak-anak Vultures langsung membuat barisan mengepung mobil sedan hitam dan para pengawal keluarga Smith.
"Ada masalah, Bos?" tanya Erlan dengan seringai liarnya yang biasa, meski sorot matanya kali ini berkilat serius dan siaga penuh. Tangan kanannya sudah bertengger di pinggang, siap jika situasi menuntut tindakan fisik.
Shaka maju satu langkah, berdiri di samping Jayden dengan pandangan mata yang tenang namun mengintimidasi. "Tuan Smith, gua saranin lo berdua tenang dulu. Ini lingkungan sekolah. Kalau lo berdua bikin keributan besar di sini, Frederick Group dan Smith Corp bakal masuk berita bisnis utama siang ini, dan gua yakin bokap lo maupun bokap Jayden gak bakal suka liat saham mereka gak stabil cuma karena urusan anak SMA."
Ucapan Shaka yang penuh kalkulasi bisnis itu berhasil membuat gerakan tangan Kenzo di kerah baju Jayden tertahan. Kenzie pun tampak memicingkan matanya, menimbang-nimbang konsekuensi logis dari ucapan wakil ketua Vultures tersebut. Sebagai pewaris utama keluarga Smith, Kenzie tahu betul seberapa sensitifnya hubungan korporasi di tingkat internasional.
Elleanor memanfaatkan celah ketegangan yang mengendur itu untuk berbisik tajam tepat di belakang punggung Jayden. "Jayden, lepasin tangan gua sekarang atau gua bakal bener-bener benci sama lo seumur hidup gua. Gua gak bercanda."
Ancaman lirih namun sarat akan kesungguhan dari bibir Elle itu rupanya berhasil menembus dinding obsesi Jayden. Jayden melirik ke belakang sekilas, menatap manik mata indahnya yang berkilat penuh perlawanan dan amarah yang tulus. Perlahan, dengan helaan napas pendek yang hampir tak terdengar, Jayden melonggarkan cengkeraman jarinya hingga pergelangan tangan Elle terlepas sepenuhnya.
Begitu bebas, Elle langsung berlari kecil memutari tubuh Jayden dan berdiri di antara Kenzie dan Kenzo. Ia memegang lengan kedua abangnya, mencoba meredakan sisa-asap amarah yang masih mengepul dari tubuh mereka. "Bang, udah. Elle gak apa-apa, sumpah. Semalam Elle cuma... cuma tersesat terus ditolongin sama mereka. Jangan ribut di sini, malu dilihatin anak-anak satu sekolah."
Kenzie menurunkan pandangannya pada Elle, memeriksa wajah adiknya untuk memastikan tidak ada kebohongan di sana. Setelah mendapati Elle bener-bener dalam kondisi baik-baik saja, Kenzie menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan emosinya yang sempat berada di puncak menara kemarahan.
Kenzie membetulkan posisi kacamata hitamnya, lalu menatap Jayden dengan pandangan permusuhan yang kini terasa jauh lebih dingin dan final. "Urusan semalam gua anggap selesai karena adik gua sendiri yang minta. Tapi denger baik-baik, Frederick. Mulai detik ini, jangan pernah berani lo muncul di depan rumah gua, atau nyentuh Elle di luar area sekolah. Gua bakal rombak semua sistem pengamanan jalanan Jakarta buat mastiin lo gak bisa nemuin celah lagi."
Jayden tidak membalas ancaman itu dengan kata-kata kasar. Ia hanya menaikkan sebelah alisnya tebalnya, sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai tipis yang sangat tipis namun sarat akan tantangan terbuka yang mematikan. Pandangan matanya tetap terkunci pada sosok Elleanor yang kini berlindung di balik tubuh tegap abang-abangnya.
"Silakan dicoba, Tuan Smith," jawab Jayden pendek, suaranya mengalun lambat namun terdengar begitu mengerikan bagi siapa pun yang mendengarnya. "Sistem apa pun yang lo buat... gak bakal pernah cukup kuat buat nahan gua kalau gua udah mau ngambil apa yang jadi milik gua."
"Bajingan sombong," umpat Kenzo dingin, sebelum akhirnya berbalik bersama Kenzie dan menuntun Elleanor berjalan menuju koridor lobi utama sekolah. Keempat pengawal berjas hitam mengawal ketat di sekeliling mereka, memastikan tidak ada satupun anak buah Vultures yang berani mendekat satu sentimeter pun.
Jayden berdiri diam di tempatnya, memandang punggung mungil Elleanor yang perlahan menjauh dan menghilang di balik belokan pintu lobi utama. Di bawah sinar matahari pagi yang mulai menghangat, jemari tangan kanannya bergerak pelan, mengusap bekas kehangatan kulit Elle yang masih tersisa di telapak tangannya.
"Bos, lo beneran biarin dia pergi gitu aja?" tanya Erlan agak heran, mendekati ketuanya sambil membetulkan posisi tas ranselnya. "Gua kira lo bakal nekat nahan dia di sini tadi."
Jayden menurunkan tangannya ke dalam saku celana abu-abunya, kembali ke mode dinginnya yang tak tersentuh.
"Dia gak pergi ke mana-mana, Erlan," ucap Jayden lirih, suaranya teredam oleh bunyi bel masuk sekolah yang tiba-tiba berbunyi nyaring dari arah pengeras suara koridor. "Abang-abangnya cuma bisa jagain dia sampai lobi depan. Begitu dia melangkah masuk ke ruang kelas XI-IPA 3 lima menit lagi... dia bakal tetep duduk di meja nomor tiga, tepat di samping gua. Dan di sana, gak ada keluarga Smith yang bisa intervensi."
Shaka dan Haikal saling melirik sekilas, lalu menggelengkan kepala mereka pelan. Sisi obsesif Jayden Xeno Frederick terbukti tidak berkurang sedikit pun; cowok itu hanya sedang memundurkan langkahnya satu senti demi menarik mangsanya masuk ke dalam jebakan yang jauh lebih dalam dan tak kasat mata di dalam ruang kelas mereka nanti. Poros kegilaannya telah terkunci mati, dan waktu berjalan sepenuhnya di bawah kendali sang penguasa Vultures.