mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Surat yang Tak Terkirim
Pagi di rumah tua Menteng terasa berbeda.
Mungkin karena sinar matahari yang masuk lebih terang dari biasanya, menari-nari di atas lantai tegel yang mulai dibersihkan. Mungkin karena suara burung yang lebih ramai dari kemarin. Atau mungkin karena Arsya sudah berada di sana sejak pukul setengah enam, duduk di tangga teras, menunggu.
Ia tidak bisa tidur semalaman. Pikiran tentang ibunya, tentang surat yang mungkin ditemukan Kalara—meskipun Kalara belum bilang apa-apa lewat pesan, hanya mengajak bertemu—membuatnya gelisah. Ada harapan sekaligus ketakutan di dadanya. Harapan bahwa akhirnya ia mendapat jawaban. Takut bahwa jawaban itu akan menghancurkan segalanya.
Pukul sembilan kurang seperempat, sebuah mobil berhenti di depan pagar. Kalara turun, tas selempang besar di bahu, wajahnya pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata. Jelas ia juga tidak tidur.
"Kamu sudah lama?" tanyanya saat membuka pagar.
"Beberapa jam."
"Beberapa jam? Jam berapa kamu datang?"
"Setengah enam."
Kalara menggeleng. "Gila. Aku juga nggak bisa tidur. Tapi setengah enam?"
Arsya tidak menjawab. Ia hanya menatap Kalara, mencoba membaca apakah ia membawa sesuatu. Tas Kalara terlihat lebih berat dari biasanya.
"Kamu bawa sesuatu?"
Kalara menghela napas. "Iya. Tapi lebih baik kita masuk dulu."
Mereka berjalan menuju rumah. Sepi. Pekerja belum datang. Hanya ada suara langkah kaki mereka di lantai kayu dan derit pintu yang dibuka.
Ruang tamu yang luas terasa lebih lapang setelah beberapa perabotan dipindahkan. Arsya dan Kalara duduk di dua kursi kayu yang tersisa, saling berhadapan. Sejenak mereka hanya diam, masing-masing mengumpulkan keberanian.
"Aku mulai duluan," kata Kalara akhirnya. "Kemarin malam, setelah aku pulang dari rumah Mama, aku buka kotak itu lagi. Dan aku nemu sesuatu."
Ia membuka tasnya, mengeluarkan kotak kayu—kotak yang sama yang kemarin ia kembalikan pada Arsya, tapi kemudian ia pinjam lagi karena Arsya bilang "simpan dulu, kita lihat bersama".
Arsya mengamati kotak itu. "Apa isinya?"
"Surat." Kalara membuka tutup kotak, mengambil selembar kertas kecil yang dilipat rapi. "Untukmu. Dari ibumu."
Dunia Arsya berhenti.
Ia menerima surat itu dengan tangan gemetar. Kertasnya sudah menguning, rapuh di lipatan-lipatannya. Ia membukanya perlahan, takut merobeknya. Tulisan tangan ibu—ia ingat sekali bentuk huruf-huruf itu, meski sudah dua puluh tiga tahun tidak melihatnya.
"Untuk anakku, Arsya. Maafkan Ibu. Ibu harus pergi. Ibu mencintaimu, lebih dari apa pun. Tapi Ibu juga mencintai seseorang. Ibu tidak bisa memilih. Mungkin ini salah, mungkin ini dosa. Tapi Ibu harap, suatu hari kau mengerti. Jaga dirimu baik-baik. Ibu akan selalu menyayangimu."
Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.
Kalara hanya diam, memberikan ruang. Ia tahu ini bukan waktunya bicara. Di luar, matahari semakin tinggi, tapi di dalam ruangan ini, waktu terasa beku.
Beberapa menit berlalu. Arsya masih menatap surat itu, membaca berulang kali, seolah ingin menghafal setiap kata. Akhirnya, ia melipatnya kembali dengan hati-hati, menyimpannya di saku jas—bersebelahan dengan foto ibunya.
"Dia minta maaf," bisiknya. Suaranya serak, pecah. "Dia minta maaf karena pergi."
Kalara mengangguk pelan. "Ibumu... dia mencintaimu. Itu jelas."
"Tapi dia pergi. Demi orang lain." Arsya menatap Kalara, matanya merah. "Demi ayahmu."
Kata-kata itu mengambang di antara mereka. Berat. Menusuk.
Kalara tidak marah. Ia hanya menunduk. "Aku tahu. Dan itu juga menyakitkan buatku. Ayahku memilih wanita lain, meninggalkan aku dan Mama."
Mereka diam lagi. Tapi kali ini, diam yang berbeda. Bukan diam karena takut, tapi diam karena sama-sama merasakan sakit yang serupa.
"Apa yang kita cari sebenarnya?" tanya Arsya lirih. "Kebenaran? Atau justru kita ingin membuktikan bahwa mereka jahat?"
"Aku tidak tahu." Kalara mengangkat wajah. "Tapi aku merasa, selama ini aku hidup dengan pertanyaan. Dan pertanyaan itu tidak akan hilang sampai aku tahu jawabannya."
"Meskipun jawabannya menyakitkan?"
"Meskipun jawabannya menyakitkan."
Arsya menatapnya lama. Wanita ini kuat. Lebih kuat dari yang ia kira.
"Baik," katanya. "Lalu ke mana kita mencari sekarang?"
Kalara membuka catatannya. "Aku sudah cari informasi di internet semalaman. Tidak ada berita tentang kecelakaan atau kejadian di tanggal itu. Tapi aku ingat, ibumu—Rarasati—punya keluarga, kan? Mungkin kita bisa cari mereka. Atau keluarga ayahku dari pihak kakek-nenek. Mereka mungkin tahu sesuatu."
"Keluarga ibuku... aku tidak tahu. Ayahku tidak pernah bicara tentang mereka. Mungkin karena malu, atau mungkin memang tidak ada hubungan."
"Kita coba cari dari sisi ayahku. Aku tahu alamat nenekku—mama dari ayah. Dia masih hidup, di Solo. Mungkin dia tahu sesuatu."
"Kamu yakin mau ke sana?"
Kalara mengangguk. "Aku harus. Tapi aku tidak bisa sendiri. Kamu mau ikut?"
Arsya terkejut. "Ikut? Ke Solo?"
"Kita cari bersama. Ini juga soal ibumu. Mungkin nenekku tahu tentang Rarasati."
Arsya berpikir. Solo. Perjalanan panjang. Meninggalkan proyek beberapa hari. Tapi di sisi lain, ini kesempatan. Mungkin satu-satunya.
"Aku usahakan," katanya akhirnya. "Tapi aku harus urus izin dengan tim. Proyek ini juga harus jalan."
"Tentu. Aku juga harus atur jadwal. Tapi—"
Suara pintu depan terbuka memotong percakapan mereka.
Langkah kaki masuk. Dan suara berat yang familiar.
"Wah, sudah pada pagi-pagi?"
Pak Willem berdiri di ambang pintu, koper kecil di tangan, wajahnya lelah setelah perjalanan. Ia tersenyum melihat mereka.
"Pak Willem!" Kalara berdiri, berusaha terlihat biasa. "Sudah pulang? Kami pikir Bapak masih di luar kota."
"Baru sampai. Naik kereta malam." Willem mendekat, meletakkan koper. "Saya lihat mobil di luar, jadi saya mampir. Ada perkembangan?"
Arsya dan Kalara bertukar pandang cepat. Haruskah mereka cerita?
"Saya sedang diskusi konsep dengan Bu Kalara," kata Arsya cepat. "Rumah ini luar biasa, banyak potensi."
"Ah, bagus, bagus." Willem duduk di kursi dekat mereka. "Saya senang kalian kompak. Waktu pertama ketemu, saya kira kalian akan saling lempar piring."
Kalara tertawa kecil, agak dipaksakan. "Kami profesional, Pak."
"Syukurlah." Willem menghela napas, memijat pundaknya. "Perjalanan melelahkan. Tapi senang bisa pulang. Rumah ini selalu terasa... tenang."
Arsya melihat kesempatan. "Pak Willem, saya ingin tanya sesuatu. Tentang sejarah rumah ini."
Willem menoleh. "Tanya saja."
"Siapa saja yang pernah tinggal di sini? Selain keluarga Bapak?"
Willem berpikir. "Banyak. Dulu rumah ini seperti kos-kosan besar. Kakek saya suka menampung orang. Ada beberapa keluarga yang tinggal di kamar-kamar belakang. Juga pembantu-pembantu yang menginap."
"Apakah Bapak ingat... seorang perempuan bernama Rarasati?"
Nama itu membuat Willem tertegun. Matanya berkedip cepat, lalu ia menatap Arsya dengan sorot yang sulit diartikan.
"Rarasati?" ulangnya pelan. "Dari mana Anda tahu nama itu?"
Arsya memutuskan untuk jujur. Sebagian. "Saya menemukan foto lama di kamar pembantu. Ada nama itu di belakang foto."
Willem diam lama. Lalu ia menghela napas berat.
"Rarasati... dia pembantu di sini tahun 1998 sampai 1999. Cantik, pendiam, rajin. Tapi ada sesuatu yang aneh dengan dia."
"Aneh bagaimana?" tanya Kalara.
"Dia sering menerima tamu. Laki-laki. Sering sekali, hampir setiap minggu. Kakek saya tidak suka, tapi tidak bisa berbuat banyak karena dia pekerja baik." Willem menatap mereka bergantian. "Dan suatu hari, dia pergi. Tidak pamit. Meninggalkan semua barangnya. Kakek saya sempat cari, tapi tidak ketemu. Akhirnya kamar itu dikunci dan tidak dipakai lagi."
"Hari apa dia pergi?" tanya Arsya, meskipun sudah tahu jawabannya.
"Ah, saya lupa persisnya. Tapi sekitar bulan November 1999. Seingat saya, waktu itu mau hujan terus."
15 November. Tanggal yang sama.
"Laki-laki yang sering datang itu," Kalara memberanikan diri. "Apakah Bapak tahu namanya?"
Willem mengerutkan kening. "Saya... tidak ingat. Tapi dulu saya sempat lihat dia beberapa kali. Wajahnya tampan, berpakaian rapi, seperti orang berada. Mungkin namanya... Asmara? Atau apa gitu?"
Kalara merasakan jantungnya berhenti. "Asmara?"
"Iya, kayaknya itu. Saya ingat karena nama itu unik. Asmara. Seperti cinta." Willem tersenyum kecil, tidak menyadari efek kata-katanya pada kedua anak muda di depannya.
Arsya dan Kalara saling pandang. Ini dia. Konfirmasi.
"Pak Willem," Arsya mencoba tenang. "Apakah Bapak tahu, setelah mereka pergi, ada apa? Mungkin surat? Atau pesan?"
Willem menggeleng. "Tidak ada. Kakek saya marah besar. Katanya, pembantu itu kabur dengan tamunya. Tapi ya sudahlah, urusan mereka. Saya waktu itu masih muda, tidak terlalu peduli."
Kabur. Kata itu menusuk.
Mereka pergi bersama. Kabur. Meninggalkan anak-anak.
Arsya merasakan dadanya sesak. Ia ingin marah, ingin menangis, tapi ia tahan.
"Terima kasih, Pak Willem," katanya datar. "Informasinya sangat membantu."
Willem menatapnya curiga. "Anda kenapa, Nak? Kok tiba-tiba tertarik dengan sejarah pembantu?"
Arsya tersenyum tipis. "Saya arsitek. Saya percaya, untuk merenovasi rumah dengan benar, saya harus tahu cerita di baliknya. Termasuk cerita orang-orang yang pernah tinggal di sini."
Willem mengangguk, menerima penjelasan itu. "Baiklah. Kalau begitu, saya serahkan rumah ini pada kalian. Saya mau istirahat dulu. Capek."
Ia bangkit, mengambil kopernya, lalu melambai sebelum naik ke lantai atas.
Setelah suara langkahnya menghilang, Arsya dan Kalara menghela napas lega.
"Dia tahu," bisik Kalara. "Setidaknya sebagian."
"Iya. Tapi tidak lebih dari yang kita tahu." Arsya meraih surat di sakunya, menyentuhnya lembut. "Mereka kabur. Bersama. Meninggalkan kita."
"Meninggalkan kita."
Kalimat itu menggantung di udara. Dua anak yang ditinggal. Dua luka yang sama.
"Aku tetap harus ke Solo," kata Kalara akhirnya. "Nenekku mungkin tahu lebih banyak. Mungkin dia tahu kenapa ayahku memilih pergi. Mungkin dia tahu tentang Rarasati."
"Aku ikut."
"Yakin?"
"Yakin. Aku butuh jawaban. Dan mungkin... mungkin kita bisa saling menguatkan."
Kalara menatapnya. Manusia es ini, yang kemarin ia kira dingin dan tidak berperasaan, ternyata bisa juga berkata seperti itu. Mungkin luka membuatnya lebih manusiawi.
"Besok aku atur jadwal," kata Kalara. "Kita berangkat lusa. Aku cek tiket kereta."
"Baik."
Mereka berdiri bersamaan. Di luar, matahari semakin tinggi, menerangi halaman dengan pohon beringin yang rindang. Rumah tua itu berdiri kokoh, menyimpan rahasia yang perlahan mulai terungkap.
Dua hari kemudian, mereka duduk di kereta jurusan Solo.
Kelas eksekutif, gerbong sepi. Kalara di kursi jendela, Arsya di sampingnya. Di luar, pemandangan Jakarta berganti dengan sawah-sawah hijau dan perbukitan.
"Aku belum pernah ke Solo," kata Arsya.
"Aku juga jarang. Terakhir waktu kecil, diajak Mama. Tapi sudah lupa."
"Mamamu tahu kamu ke sana?"
Kalara menggeleng. "Aku bilang ada urusan pekerjaan. Dia tidak curiga. Lagipula, kalau dia tahu aku cari-cari informasi tentang ayah, dia pasti melarang."
"Orang tuamu melindungimu."
"Atau melindungi diri sendiri." Kalara menatap luar jendela. "Mama mungkin takut aku tahu kebenaran yang pahit."
"Dan kau siap?"
"Aku harus siap."
Arsya diam. Ia juga bertanya hal yang sama pada dirinya. Apa ia siap? Siap tahu bahwa ibunya memilih laki-laki lain? Siap tahu bahwa cinta ibunya pada orang lain lebih besar daripada cintanya padanya?
Tapi tidak ada pilihan lain. Kebenaran harus dikejar.
Perjalanan empat jam terasa lama tapi juga cepat. Mereka banyak diam, masing-masing dengan pikirannya sendiri. Kadang bertukar cerita ringan tentang pekerjaan, tentang masa kecil, tapi selalu kembali pada tujuan utama: mencari jawaban.
Solo tiba saat matahari mulai condong ke barat. Stasiun Solo Balapan ramai seperti biasa. Mereka turun, membawa tas kecil masing-masing, lalu naik taksi menuju alamat yang Kalara dapat dari mama-nya—rumah neneknya di daerah Laweyan, kampung batik.
Perjalanan dari stasiun memakan waktu setengah jam. Rumah-ruma h tua bergaya Jawa berjejer di sepanjang jalan. Beberapa sudah berubah jadi toko batik, beberapa masih asli rumah tinggal.
Taksi berhenti di depan sebuah rumah joglo besar, cat cokelat tua dengan ukiran-ukiran khas Jawa. Halamannya luas, dengan pohon mangga di depan. Di teras, seorang wanita tua duduk di kursi goyang, mengipasi diri dengan kipas bambu.
Itu dia. Nenek Siti, ibu dari ayah Kalara.
Kalara membayar taksi, lalu berdiri di depan pagar, menatap wanita itu. Jantungnya berdebar kencang. Ini pertama kalinya ia menemui neneknya sejak... ia bahkan tidak ingat kapan terakhir. Mungkin waktu kecil, lalu setelah ayahnya pergi, semua hubungan dengan keluarga ayah putus.
"Kamu yakin?" bisik Arsya.
Kalara mengangguk. Lalu membuka pagar dan melangkah masuk.
Wanita tua itu menoleh. Matanya yang kabur karena usia menatap mereka dengan rasa ingin tahu.
"Siapa, ya?" tanyanya dengan suara serak.
Kalara berhenti beberapa langkah di depan teras. "Nenek... saya Kalara. Cucu Nenek. Anak dari Asmara."
Kipas di tangan wanita itu berhenti bergerak. Matanya membelalak, lalu perlahan—sangat perlahan—air mata menggenang di pelupuk matanya.
"Kara?" bisiknya. "Kara, anaknya Asmara?"
"Iya, Nek."
Wanita itu bangkit dengan susah payah, meraih tongkat di samping kursi. Ia mendekati Kalara, menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tangannya yang keriput meraih wajah Kalara, menyentuhnya lembut.
"Dewasa," bisiknya. "Kamu sudah dewasa. Cantik. Seperti ibumu."
"Ibu saya? Maksud Nenek, mama saya?"
Nenek Siti terdiam. Lalu menggeleng pelan. "Bukan. Seperti ibu kandungmu."
Kalara terkesiap. "Apa?"
Bersambung...