Desakan mama yang menginginkan agar Kevin segera menikah membuat ia dipertemukan dengan seorang wanita penuh akan misteri, atau lebih tepatnya masalah.
Hubungannya dengan sang kekasih memang tidak bisa dipertahankan lagi dengan pengkhianatan yang dilakukan Fira dibelakang Kevin. Sehingga itu pula yang membuat Kevin yakin membawa Nayla masuk ke dalam bagian hidupnya.
Bersama wanita yang dipilihnya itu, Kevin akan membuktikan pada sang mantan bahwa ia bisa hidup tanpa Fira, juga membalas pengkhianat Fira akan hubungan mereka yang lalu.
2021 direvisi ulang 2026
@nyanalyn_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. PHSC NEW
Serangkaian persiapan sudah bisa dikatakan siap delapan puluh persen. Undangan sudah disebar, gaun pengantin sudah jadi, tinggal menunggu hari H saja tiba.
Nayla pun kini tinggal bersama Linda. Ketakutannya saat Akram mendatanginya ke apartemen sudah Nayla ceritakan tanpa di tutup-tutupi pada Kevin.
Beruntung lelaki itu sangat pengertian, ia lalu meminta Nayla untuk tinggal di rumah orang tuanya yang tentu langsung disambut Linda antusias.
Pernikahan Kevin dan Nayla akan digelar di sebuah gedung yang sudah di sewa Mama Linda. Beliau sudah menyusun semua acara saat resepsi itu tiba.
•••
Sejak hari dimana Akram mendatangi Nayla, ia pun mulai menjauhi wanita itu seperti permintaannya, namun bukan seutuhnya menurut, karena Akram tetap membayar orang untuk memata-matai Nayla dari kejauhan.
Bisnisnya dengan Kevin pun sudah berjalan sebagai mana perjanjian yang sudah di buat. Semua aman terkendali. Mungkin Akram pikir Nayla tidak membicarakan ia pada Kevin, makanya lelaki itu masih bersikap biasa saja.
“Tunggulah, sebentar lagi keinginan mu akan kakak kabulkan Disya,” Akram menatap foto yang baru saja dikirimkan anak buahnya.
Terlihat di dalam foto itu Nayla yang sedang bersama Linda di halaman rumah, dua wanita berbeda usia itu menghabiskan waktu sore dengan mengobrol dan menyirami tanaman.
Beberapa kali Fira celingukan, tak mendapati Cakra di ruangannya. Ia pun memberanikan diri memutar gagang pintu. Dinding ruangan Cakra memang tembus pandang, mungkin lelaki itu mematikan layar buram dari kaca dinding ruangannya sehingga Fira bisa melihat kalau ruangan sekretaris penggantinya itu kosong sekarang.
Fira menimbang untuk mengetuk pintu atasannya atau langsung masuk saja. Karena ia masih yakin Kevin masih memiliki perasaan terhadapnya Fira pun dengan percaya diri langsung membuka pintu Kevin tanpa permisi.
“Sayang,” seru Fira melangkah ke meja Kevin.
Lelaki itu pun memicing dari tempatnya, kaca mata yang membingkai wajahnya ia lepas sebentar. “Mau apa kau kesini, Fira? Dan jaga ucapan mu itu, kita sudah tidak ada lagi hubungan!” tegas Kevin bangkit.
“Ayolah Kevin. Kau ini kenapa, apa karena selingkuhan mu itu, kau tega memutuskan hubungan kita? Kau itu jahat, aku sangat mencintai mu Vin. Hubungan kita pun sudah terjalin cukup lama, lalu kenapa kau sangat tega sekarang,” lirih Fira memasang wajah sedih yang hampir menangis.
“Aku tidak pernah salah mengambil keputusan! Hubungan kita memang tidak bisa diperbaiki lagi Fira! Kau harusnya sadar diri, aku begini juga, itu karena perbuatan mu.”
“Perbuatan ku? Memangnya apa yang sudah aku perbuat? Harusnya yang patut disalahkan itu kamu, Vin. Kamu yang tega selingkuh dari aku, padahal aku sangat setia padamu!” emosi Fira ikut tersulut, wajah yang tadi murung berangsur murka.
“Lalu ini apa? Bisa kau jelaskan maksud dari foto-foto ini,” Kevin melempar sebuah amplop yang langsung ditangkap Fira.
“Aku sudah baik, tak pernah membongkar kelicikan mu dibelakang ku, Fira! Kau setia? Haha, munafik sekali!” sindir Kevin mengulang ucapan Fira barusan.
Amplop itu Fira buka, banyak foto ia yang sedang berduaan dengan pria. Foto itu di ambil diberbagai tempat. Yang artinya Kevin sudah memata-matainya.
“Vin.., Kevin ini salah paham. Yang kamu lihat ini, bukan seperti apa yang kamu pikirkan. Aku tidak selingkuh, percayalah.”
“Ya, aku percaya—” ucap Kevin menggantung ucapannya. Fira langsung bereaksi, ia pikir Kevin percaya dengan pembelaannya barusan. Baru ia akan berucap membela diri, Kevin sudah lebih dulu menyerobotnya.
“Karena itu aku memilih mengakhiri hubungan kita!” sambung Kevin membuat wajah Fira seketika berubah masam.
Setelahnya Kevin menarik Fira keluar dari ruangannya. Ucapan yang terus dilontarkan wanita itu tidak Kevin dengar sama sekali. Dentuman pintu yang di tutup karas, memutus perjuangan Fira yang terus mengelak dengan ucapan belaga seperti korban.
“Aishhh.. Kenapa kamu bisa tahu, Vin! Ceroboh kau Fira,” sesalnya memukul-mukul jidatnya frustrasi.
Beberapa karyawan yang berlalu, memusatkan ekor matanya melihat Fira, namun saat wanita itu balas menatap dengan tatapan melotot mereka pun langsung menghindar pergi.
“Aku harus bikin rencana supaya Kevin luluh. Aku gak bisa putus dari kamu Vin. Aku—aku butuh kamu, lebih dari apa pun!” Fira seketika tersenyum licik. Segala siasat ia mulai susun di kepalanya. Bagaimanapun caranya ia harus merebut Kevin kembali.
Nayla bersiap untuk keluar rumah, ia sudah berpamitan dengan mama dan papahnya Kevin. Kedua orang tua itu menawarinya untuk di antar sopir pribadi papah, namun Nayla menolak karena ia tidak mau merepotkan siapa pun untuk sekarang.
“Ma, Pah. Nayla berangkat sekarang ya,” Nayla berpamitan lalu masuk ke dalam mobil. Di sepanjang jalan Nayla masih merasa biasa saja. Ia hanya akan keluar sebentar menemui sahabatnya di kafe.
Sudah lama ia tidak bertemu dengan Gina. Apalagi setelah ia mengenal Kevin. Mungkin sudah lebih dari tiga bulan mereka tidak berjumpa.
Pertemuan itu dilepas dengan pelukan hangat, lalu dilanjut dengan bertukar kabar. Susana Kafe yang nyaman dengan banyaknya menu yang di pesan membuat dua wanita muda itu lupa waktu. Berjam-jam mereka mengobrol namun seakan baru menghabiskan waktu beberapa menit.
“Ya ampun, udah mau jam sebelas ternyata. Aku pamit pulang duluan ya, Nayla,” seru Gina tersadar saat sang suami mengiriminya pesan.
“Astaga, aku juga gak sadar waktu. Maaf ya buat kamu jadi kelimpungan. Anak kamu pasti rewel kan di rumah sama ayahnya,” Nayla berujar tak enak. Memang kalau sudah bertemu teman lama dan larut dalam obrolan, suka lupa waktu.
Gina melambaikan tangan sebelum memasuki mobilnya. Nayla pun balas melambai. Ia pun juga lantas bergerak pulang.
Nayla mengambil jalan pintas, karena dirasa sudah kemalaman. Keluarga Kevin di rumah pasti kini sedang menunggunya.
Suasana jalanan yang ia ambil nampak sepi. Tak urung Nayla tetap melajukan mobil melewati jalan itu. Ia mengemudi dengan kecepatan sedang. Namun Nayla malah dibuat terkejut, rem mobil ia injak dengan tiba-tiba.
“Ya ampun, ada yang ketabrak ya,” monolog Nayla menyalakan lampu dalam mobil. Tadi dengan begitu cepat sekali ada bayangan yang menerobos mobil Nayla. Tubrukan awak mobil dengan—entahlah apa itu membuat Nayla tersentak.
Ia turun dan memastikan apa yang sudah menyenggol mobilnya itu. “Tidak ada apa pun? Atau tadi hantu atau mungkin lagi begal,” Nayla mulai meliarkan pandangannya. Jalanan ini memang sangat sepi, bahkan mungkin hanya ia yang melewati jalan ini.
Waktu pun sudah berjalan hampir jam dua belas malam. Kevin mencari keberadaan Nayla lewat GPS yang ia pasang di ponsel wanita itu. Jaga-jaga kalau ada orang yang akan berbuat jahat lagi dengan Nayla.
Di GPS itu menunjukkan lokasi keberadaan Nayla sekarang. Kevin lalu bergegas menyusul, pasalnya jalan yang diambil Nayla sangat rawan akan kejahatan, apalagi di malam hari seperti ini.
Ia pun beberapa kali menelepon wanita itu, namun malah tak di angkat. Mungkin data hp nya ia matikan makanya tidak tahu kalau ada panggilan telepon masuk lewat whatsapp.
Nayla bergegas hendak masuk kembali ke dalam mobil. Namun kemunculan beberapa orang berbaju serba hitam bahkan wajahnya saja memakai topeng membuat Nayla menegang.
“Kalian mau apa. Kalian penjahat kan?” tanya Nayla polos. Sudah tahu musibah menantinya, masih sempat saja ia bertanya siapa orang-orang itu.
“Ayo tangkap wanita ini,” seru satu pria dari tiga penjahat itu.
“Kalian mau apa hah. Awas jangan ada yang mendekat,” interupsi Nayla berani. Tiga pria itu semakin mendekatkan diri, dan Nayla terkurung di samping mobilnya.
Tangan seorang pria mencoba meraih tangan Nayla, namun langsung ditepisnya kasar. “Kalau mau mobilku, ambillah. Tapi jangan kalian ganggu aku,” tawar Nayla mulai menciut. Satu lawan tiga, mana mungkin ia akan menang.
“Tapi nona, kami tidak membutuhkan harta benda anda. Sebaliknya kami malah membutuhkan anda untuk bos kami,” seru pria itu lalu menarik kasar tangan Nayla.
“Lepas.. Hey beraninya kau dengan ku. Lepas! Tolong.. Tolong, siapa pun tolong ak–” mulut Nayla langsung dibekap. Ia masih terus membela diri, memberontak dari kepungan tiga pria asing itu.
Bug..
Nayla menendang ************ pria yang ada di depannya. Dua pria lainnya tak luput dari serangan Nayla yang menggigit tangan dan menendang kakinya.
Kesempatan itu Nayla gunakan untuk lari secepat mungkin. Ia bahkan sempat tersungkur, lalu bergegas bangkit dengan kaki tersoek sakit.
“Kejar dia! Woy berheti...” ketiga pria itu mengejar Nayla yang kesusahan dalam pelariannya.
“Tolong.. Tolong..” pekik Nayla sambil terus berlarian.
Sebuah mobil sudah menghadangnya ditepian jalan. Nayla kira itu mobil orang dan ia mendekat untuk meminta tolong.
“Pak, buk.. Tolong buka pintunya. Tolong saya siapa pun.” Nayla menggedor-gedor jendela mobilnya sambil melirik ke belakang dimana para penjahat itu berlarian mengejarnya.
Pintu mobil itu lalu terbuka, Nayla merotasikan ke arah si pemilik mobil yang menampakan diri. “Aa-akram,” seru Nayla kaget.
“Akhirnya aku akan mendapatkan kamu Nayla,” gumam Akram jelas terdengar di kuping Nayla. Ucapan Akram itu membuat Nayla bingung memahaminya.
Baru akan mencerna kata-katanya ulang. Mata Nayla malah membola. “Jangan bilang ini semua rencana kamu, Akram! Benar begitu bukan?” tanya Nayla mendadak cengo.
“Iya, sayang!” tekan Akram dengan suara yang seram di pendengaran Nayla. Pria itu lalu menyeret Nayla masuk. Memaksa gadisnya yang memberontak.
“Lepasin, lo mau bawa gue ke mana Akram! Lepas gak. Tolong... tolong,” seru Nayla terpekik untuk meminta pertolongan.
Nayla di dorong dengan keras, dagunya terantuk sandaran kursi. Lalu Akram akan menutup pintu mobilnya, namun ada tangan yang menghadangnya.
“Lepaskan Nayla, Akram!” sentak Kevin tajam. Ia cekal tangan berurat Akram yang tak kalah kekar dari tangannya.
Nayla melihat Kevin diluar mobil. “Vin, tolong aku Vin. Aku takut,” pekik Nayla rusuh dengan menyembulkan diri, langsung Akram bereaksi dan mendorong Nayla kembali.
“Lo jangan main kasar sama perempuan, Akram. Lepasin Nayla sekarang juga, atau lo gua hajar,” Kevin masih berbaik hati. Namun Akram malah mendorongnya kasar.
“Nayla itu milik gua. Dulu maupun sekarang,” sentak Akram tegas. Tiga pria yang ia bayar untuk menangkap Nayla itu tiba, lalu ia perintahkan pula untuk menghajar Kevin.
Perkelahian itu berlangsung tak bisa dihindari, Kevin dengan seorang diri dikeroyok oleh tiga pria. Akram duduk di kemudi mobil, melajukan kendaraannya membawa Nayla.
“Akram turunin gua. Akram,” Nayla maju ke depan dan mencegat tangan Akram yang menyetir. Kendali kemudinya pun tak tentu arah. Nayla membuat Akram tidak bisa berkendara dengan benar.
“Nayla!” geram Akram kasar. Pada akhirnya mobil Akram terhenti dengan menabrak pohon. Beruntung kecepatan mobilnya tidak terlalu laju, jadi hanya benturan pelan yang di alami.
Kevin berlarian saat telah mengalahkan tiga pria suruhan Akram. Ia mengejar mobil yang membawa tubuh Nayla.
“Nayla, kamu gak kenapa-napa kan,” seru Kevin khwatir. Ia bawa Nayla turun, dahinya memar karena lagi-lagi terantuk kursi mobil.
Suara sirine mobil polisi berbunyi nyaring. Lampu senter turut menyoroti keberadaan mereka. Cakra datang dengan beberapa polisi yang mengiringinya.
“Pak Kevin, anda baik-baik saja kan,” seru Cakra panik. Kedatangannya terlambat, hingga membuat bos nya kacau. Memar dan darah di sudut bibir membuat Cakra merasa bersalah.
Bukan hanya Kevin yang terluka, Nayla kekasih atasannya itu pun tak kalah kacau dari kondisi Kevin sekarang.
Para polisi lalu menangkap tiga pria suruhan itu, Akram pun tangannya langsung diborgol oleh petugas lainnya. Sambil dibawa menuju mobil polisi, Akram terus saja memancarkan tatapan tajam, seolah menandakan ia belum kalah hanya karena ia diamankan aparat negara.
“Tunggu aku kembali, Nayla,” pekik Akram sebelum dinaikkan ke dalam mobil patroli.
Nayla ditempatnya langsung mememeluk tubuh kevin erat. Tubuhnya bahkan masih gemetaran dengan apa yang sudah terjadi.
kyak novel sblumx tapi sayang pake koin.🤦🏻akux masih penasaran sih...ama ceritax