Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Kunjungan Orang Tua
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji. Walaupun badanmu juga tidak bisa kamu gerakkan," lanjut Lana.
Fian tertegun. Padahal ia mengharapkan seseorang yang lain yang bicara itu padanya. Kenapa malah Lana? Mata pria itu berkaca-kaca, tapi ia coba berpaling dan mengedip-ngedipkan matanya agar wanita ini tidak melihatnya. Bibirnya mulai bergetar. "Pokoknya awas aja, kalau berani tinggalkan aku, aku akan kejar kamu! Aku akan ...." Ia mengangkat kepalanya.
"Iya!" ucap Lana dengan senyumnya yang paling manis.
Entah kenapa Fian merasa lega. Sempat menelan ludah. "Aku mau spaghetti aja. Sama jus jeruk," ucapnya dengan wajah dingin.
"Hadi mau apa?" Lana menoleh pada pria perawat itu.
"Eh? Gak usah, Bu. Saya sudah sarapan." Hadi menganggukkan kepala.
"Oh, ya udah."
Saat Lana ingin membayar, Fian menyodorkan kartu ATM-nya. Wanita itu kemudian menyerahkan kartu suaminya pada pelayan kantin. Mereka kemudian pindah ke sebuah meja di dekat pintu keluar. Lana membawakan nampan berisi makan dan menyerahkan kartunya pada Fian.
"Kamu saja yang simpan."
"Hh?" Sempat terkejut, Lana menerimanya dengan senang hati. "Ya, udah."
Hadi duduk di meja lain hingga keduanya leluasa duduk di sana. Saat Lana memasukkan kartu ATM Fian dalam tasnya, terdengar dering telepon ponselnya. Ia segera membuka karena itu dering pesan masuk. Setelah melihatnya, jemarinya bergerak lincah di atas benda pipih itu.
Fian yang baru mulai makan, penasaran. "Dari siapa?" Karena ia melihat Lana sepertinya senang melihat pesan yang diterima.
"Oh, Tala. Akhirnya dia bisa nyelesain kuliahnya. Surat-suratnya sudah lengkap, tinggal bayar uang kuliahnya aja. Sekarang dia nempatin kamar kost-kostanku, jadi gak perlu cari tempat indekost lagi," sahut Lana yang matanya belum teralihkan dari layar ponsel karena jemarinya masih mengetik.
Fian terkejut. "Kamu bayar uang kuliah adikmu?"
Lana melirik sekilas. "Oh, iya. Alhamdulillah ada uang dari pernikahan aku sama kamu jadi bisa ku pakai untuk bayar kuliah Tala."
Fian melongo. "Jadi dia menikah denganku karena ingin membiayai kuliah adeknya?" "Jadi bukan untuk kamu?"
"Apa?" Lana mematikan ponsel dan memasukkan ke dalam tas. Ia tidak mendengar apa yang diucapkan Fian barusan.
"Eh, tidak apa-apa. Ayo makan." Fian kini melihat istrinya dengan cara berbeda.
***
Lana sangat rajin. Di waktu-waktu tertentu, ia membantu Fian melatih gerakan kaki pria itu di tempat tidur atau memijit kakinya. Kadang menemaninya berjemur di pagi hari di halaman belakang sambil sarapan. Hari-hari Fian diisi dengan Lana yang repot ke sana kemari. Pria itu kini tak lagi kesepian.
"Lana."
Lana mengangkat kepalanya karena baru saja berbaring di sofa. "Apa? Mas mau apa?"
"Ke sini sebentar."
Malam biasanya pria itu butuh minuman. Lana mengambil gelas di atas meja yang sudah berisi air mineral.
"Tidak usah. Aku tidak ingin minum."
"Lalu, kamu mau apa?" Lana meletakkan gelas dan mulai merapikan rambut panjangnya ke samping sambil melangkah ke arah ranjang.
"Kamu tidur sama aku aja."
"Hah?"
Fian tampak sedikit salah tingkah. "Aku hanya tidak ingin kamu bolak-balik jauh saat aku butuh. Aku yakin, kamu tidak akan menyerangku, saat aku tidur, kan?" Ia menatap Lana memastikan.
Lana ingin tertawa saat itu juga. Kalau ia ingin ia bisa lakukan sejak lama, tapi melihat pria ini tidak menginginkannya, saat itulah perasaannya sudah patah. "Aneh. Kadang-kadang butuh tapi di saat yang lain malah menjaga jarak. Maunya aku ini jadi apamu?" Ia mengalihkan pandangan dengan menunduk karena kecewa. "Tidak." Wanita itu mengangkat selimut dan masuk. "Ayo, tidur."
Tak lama keduanya tertidur, tapi Lana kemudian terbangun. Ia ternyata hanya pura-pura tidur. Diperhatikannya pria yang tidur di hadapan. Wajahnya, untuk pertama kali, bisa melihatnya dari dekat.
"Wajahnya begitu sempurna. Sayang, ia cuma memanfaatkan aku aja. Aku tak mungkin memilikinya. Aku tak lain hanya seorang pesuruh di kantor yang biasa dia suruh-suruh." Sedih, tapi Lana tak ingin menangis. Ia memang bukan siapa-siapa sejak awal. "Padahal, dia kalo lagi gak galak, maniiss ... banget. Kayak anak kucing yang perlu disayang." Ia tersenyum sendiri mengingatnya.
Lana kemudian meraba ke balik bantal dan mengeluarkan ponselnya. Sambil mencari sudut yang bagus, ia mengarahkannya pada pria itu. Ia begitu mengaguminya, sayang untuk dilewatkan.
Setelah mengambil satu foto, ia berbalik. Dilihatnya beberapa foto yang sudah ia ambil. Tak sadar, Fian membuka matanya dan melihat, fotonya terpampang dalam berbagai posisi tidur di ponsel Lana. Bahkan saat di kantin waktu itu.
Pria itu tersenyum nakal. "Sudah kubilang, jangan jatuh cinta padaku. Tapi sepertinya kamu tidak dengar ya."
Lana mematikan ponsel dan menengok ke belakang. Pria itu masih tidur. Kemudian ia meletakkan ponselnya di meja nakas dan mulai tidur.
Fian kembali membuka mata. Ia tersenyum kecil lalu kemudian kembali memejamkan mata.
***
Fian solat subuh dengan hanya mengandalkan gerak tangan dan mata. Setelah selesai ia mengusap wajah dengan kedua tangannya. Saat itulah Lana terbangun.
"Ayo, solat subuh."
"Iya." Lana duduk sambil mengucek-ngucek mata.
Terdengar dering telepon. Ternyata itu dari ponsel Fian. "Halo." Pria itu diam sejenak mendengarkan hingga akhirnya menjawab. "Iya." Dan menutup teleponnya. "Lana." Matanya beralih ke wanita yang tidur di sampingnya. "Orang tuaku akan datang ke rumah bawa sarapan. Kamu cepat solat, gih!"
"Eh, iya." Dengan cepat Lana turun dan ke kamar mandi.
Namun, Fian memperhatikan penampilan Lana. Wanita itu selalu memakai baju lusuh setiap mau tidur. Entah bahunya yang robek atau warnanya pudar.
"Nanti sekalian mandi ya. Pakai baju yang rapi!"
"Iya!"
Setengah jam kemudian, orang tua Fian datang. Mereka berkumpul di meja makan dengan Lana membantu Sarah menata makanan. Ada pembantu yang juga membawakan piring ke meja makan.
"Sup ayam?" Lana melihat dengan sumringah.
"Iya, ini ibu bikin sendiri karena Fian suka yang isinya seperti ini. Ada tambahan telur puyuh, jagung dan sosis. Ayamnya pun harus disuir-suir seperti ini sukanya. Pokoknya ini masakan kesukaannya dari kecil." Sarah menuangkan dari plastik bungkus ke wadah keramik yang lebih besar.
"Wah, kayaknya enak, Bu."
"Mmh."
"Mas, mau makan?" Lana menoleh ke samping.
"Mmh, tapi ambil dulu nasinya," pinta Fian.
Lana mengambilkan. Sarah dan Hawari memperhatikan Lana yang sibuk mengurus Fian. Mereka terharu melihatnya. Selama berbulan-bulan Fian selalu sendirian setiap mereka datang, kini ada orang yang menemani anaknya dan mengurusnya. Fian juga tampak rapi dan pipinya sedikit berisi dari sebelumnya.
"Ibu, Ayah, ayo makan," ajak Lana.
"Iya," sahut Sarah lagi.
"Sini Saya ambilkan, Bu." Lana mengambil piring baru dan mengisinya dengan nasi.
"Tidak apa-apa, Lana. Ibu bisa sendiri. Urus saja suamimu. Dia 'kan belum diambilkan minum."
"Oh, iya. Mas mau jus jeruk lagi?"
"Oh, hari ini aku mau minum jus alpukat saja," ucap Fian santai.
"Jus alpukat!?" Lana mengerut dahi setengah melongo.
Fian menatap istrinya. Dibawah tatapan kedua orang tuanya, ia berusaha untuk tidak marah. "Kamu 'kan bisa bilang ke dapur. Nanti dibuatkan." Suaranya sedikit ditekan sambil melirik kedua orang tuanya.
"O iya." Lana langsung pergi ke dapur sedang Fian harus memijit dahinya menghela napas.
Bersambung ....
mau pakai baju terruutp