Dion Arvion, siswa kelas tiga SMA yang kurus dan pendek, menjalani hari-harinya sebagai korban penindasan.
Diperas, dihina, dan dipaksa menyerahkan uangnya oleh teman-teman sekelas, Dion hidup dalam ketakutan dan keputusasaan tanpa jalan keluar.
Hingga suatu hari, saat hatinya hampir hancur, sebuah suara terdengar di dalam benaknya, sebuah layar hologram muncul di hadapannya.
[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]
Sejak saat itu, hidup Dion berubah drastis. Dengan bantuan sistem misterius, ia tidak hanya menjadi semakin kuat, tetapi juga berubah menjadi crazy rich dalam waktu singkat.
Uang, kekuatan, dan pengaruh, semuanya berada dalam genggamannya. Kini, Dion bukan lagi korban.
Dengan senyum dingin dan kekuatan sistem di sisinya, ia bersiap membalas semua penghinaan, menghancurkan para penindas, dan menginjak dunia yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: GRAND STAR TOWER
Di tengah lapangan basket yang mulai lengang, Dion berdiri diam.
Tatapannya jatuh pada tubuh besar Darma yang terkapar di lantai, napasnya berat namun teratur. Sosok yang dulu terasa seperti mimpi buruk, besar, menekan, tak tersentuh, kini tak lebih dari bayangan masa lalu yang runtuh di hadapannya.
“Apakah aku harus membunuhnya…?” gumam Dion pelan.
Nada suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh gema ruangan. Dadanya masih naik turun, bukan karena lelah, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih berat.
“Tapi dendam ini… tidak sedalam itu,” lanjutnya lirih, “walaupun, orang inilah yang membuatku menderita.” Ingatan datang tanpa izin.
Koridor gelap, tawa kasar. Tubuhnya ditahan, seragamnya ditarik paksa. Tatapan murid-murid perempuan yang terkejut dan ketakutan. Rasa malu yang membakar lebih sakit daripada pukulan mana pun. Dan di antara wajah-wajah itu, Darma.
“Bangsat…” desis Dion, wajahnya memerah, “kenangan pemilik tubuh ini… benar-benar membuat nadiku memanas.”
Tangannya mengepal. Untuk sesaat, dorongan untuk kembali menghajar Darma, mematahkan tulang-tulangnya, menghancurkan tubuh yang dulu menginjak-injak nya, terasa begitu dekat.
Namun Dion menarik napas dalam. Ia bukan lagi bocah tak berdaya yang dikuasai amarah. Ia tahu, satu langkah salah hari ini bisa menyeretnya ke jurang yang lebih dalam. Hukum, balas dendam, darah, semuanya bukan jalan yang ingin ia tempuh.
Ia tidak ingin membunuh, ia tidak ingin menghancurkan hidupnya sendiri.
Dion menatap Darma sekali lagi, lalu berkata dengan suara dingin dan tegas, meski tahu orang itu tak bisa mendengarnya.
“Aku mengampunimu untuk saat ini,” ucapnya, “kalau suatu hari nanti kau melihatku lagi… lebih baik kau menundukkan kepala.”
Nada suaranya mengeras, “Kalau tidak, aku akan benar-benar mematahkan tulang-tulangmu.”
Setelah itu, Dion berbalik. Langkahnya tenang saat ia meninggalkan lapangan basket indoor, melewati pintu besar tanpa menoleh lagi. Ia tak tahu, dan tak menyadari, bahwa di saat yang sama, namanya sedang meledak di seluruh SMA Cahaya Senja.
Beberapa jam kemudian, di dunia maya, sebuah video meroket. Judulnya sederhana, tapi mengguncang.
"Seorang Penindas Dikalahkan oleh Korban Penindasnya!”
Video itu menampilkan Dion yang terus menghindar dengan presisi, tubuhnya bergerak ringan seperti bayangan. Darma, dengan kekuatan dan kecepatan mengerikan, bahkan tak mampu menyentuh sehelai rambut Dion. Puluhan menit pertarungan berlangsung, hingga akhirnya Darma kehabisan napas.
Dan kemudian, satu pukulan. Satu pukulan yang menjatuhkan sang “beruang”.
Di SMA Cahaya Senja, hampir semua siswa menontonnya.
Lorong-lorong dipenuhi bisik-bisik. Kelas-kelas gaduh oleh ponsel yang disodorkan dari tangan ke tangan. Nama Dion bergema, berubah dari bahan ejekan menjadi legenda yang baru lahir.
Di kelas Bahasa dan Sastra.
“Alex! Coba lihat video viral ini!!” seru seorang murid laki-laki dengan suara tegang.
Alex yang duduk santai di kursinya mendengus kesal. Rambutnya berwarna birunya, wajahnya tampan, bahunya lebar, auranya jelas bukan siswa biasa.
“Apa yang kau teriakkan, bangsat?” balas Alex ketus, “video viral apaan sih?!”
“Kau harus nonton ini, Bos…” suara murid itu bergetar.
Alex merebut ponsel itu dengan kasar. Matanya menyipit saat video diputar, gerakan cepat. Benturan udara, ritme pertarungan yang tak bisa diikuti mata biasa.
Alex menonton tanpa berkedip, hingga akhir, hingga Darma tumbang. Seringai tipis terangkat di sudut bibirnya.
“Menarik…” gumamnya, “darma dari kelas Matematika. Terkenal dengan kekuatan beruangnya.”
Ia menghela napas kecil, matanya berkilat. “Tubuh sebesar itu, secepat itu… dan bocah ini tetap bisa menang.”
Di dalam hati Alex, ada bara yang menyala. Sejak lama ia ingin menantang Darma, mengalahkannya, dan mengukuhkan dirinya sebagai yang terkuat. Namun kini, orang lain lebih dulu melakukannya.
Dan itu membuat darahnya bergejolak.
“Seharusnya aku,” gumamnya pelan, lalu tertawa. “haha… ini benar-benar menarik.”
Alex bersandar, penuh semangat. “Aku tidak sabar bertemu bocah itu.”
Di kelas-kelas lain, Sains, Sosial dan Sejarah, Teknologi dan Komputer, Seni dan Kreatif, Bisnis dan Kejuruan, Bahasa Asing, reaksi serupa muncul.
Para siswa terkuat kelas tiga menonton video itu dengan mata tajam, mereka tahu satu hal dengan pasti. Darma adalah wakil kekuatan brutal dari kelas Matematika.
Dan kini, posisi itu kosong, digantikan oleh seseorang bernama Dion.
Sementara itu, Dion sudah duduk santai di bangkunya di kelas Matematika, menatap papan tulis dengan wajah tenang. Tasnya tersampir rapi, sikapnya biasa saja, seolah hari ini tak ada yang istimewa.
Ia tidak tahu, bahwa seluruh sekolah kini sedang membicarakan namanya.
.....
Sore hari menurunkan bayangannya perlahan di luar gerbang SMA Cahaya Senja.
Langit berwarna jingga pucat, kendaraan lalu-lalang mengalir seperti biasa, namun bagi Dion, hari ini terasa berbeda.
Ia berdiri sejenak di pinggir trotoar, tas sekolah masih menggantung di punggung, memandangi arah jalan pulang, arah menuju kontrakan lamanya yang sempit, bising, dan penuh suara-suara yang tak pernah memberinya ketenangan.
Dion menghela napas pelan.
Kontrakan kecil itu sudah terlalu lama menahannya. Dinding tipis, tetangga berisik, cekcok tiap malam, suara televisi yang tak pernah dikecilkan. Dulu ia bertahan karena tak punya pilihan. Sekarang, alasan itu sudah tak ada lagi.
“Aku seperti nya... harus mencari tempat tinggal lain.” gumamnya singkat, seolah memantapkan keputusan.
Di layar ponselnya, sebuah gedung tinggi menjulang terpampang jelas, Grand Star Tower. Bangunan mewah dengan lima puluh lantai, kaca-kacanya memantulkan cahaya kota seperti lautan bintang. Di puncak gedung itu terpasang logo berbentuk bintang berkilau, simbol kemewahan yang dikenal hampir semua orang di Lampung Selatan.
Tanpa ragu, Dion menghubungi nomor manajemen gedung yang tertera.
Klik!
Nada sambung terdengar singkat, lalu sebuah suara perempuan menjawab. Lembut, profesional, tenang.
“Selamat sore tuan, Aku adalah Manajer Grand Star Tower. Ada yang bisa kami bantu?”
Dion memperkenalkan diri dan menyampaikan maksudnya dengan lugas. Tak bertele-tele, tak berlebihan.
Beberapa detik hening berlalu, disusul jawaban yang membuat langkahnya terasa lebih ringan.
“Baik, Tuan Dion,” ucap wanita itu ramah, “kita bisa bertemu sekarang juga. Saya akan mengirimkan lokasi saya.”
Sambungan terputus.
Dion menurunkan ponselnya, lalu membuka aplikasi [Pesanku], platform komunikasi resmi Negara Konoha yang hampir menggantikan semua aplikasi pesan lama. Notifikasi baru muncul. Sebuah nomor tak dikenal, dengan label manajemen Grand Star Tower.
Ia membukanya, sebuah titik lokasi tertera jelas, lengkap dengan rute tercepat.
Tanpa menunda, Dion memesan Taxi Online. Beberapa detik kemudian, notifikasi pengemudi muncul di layar, jaraknya tak sampai dua puluh menit.
Dion melangkah ke tepi jalan. Angin sore menyentuh wajahnya, membawa aroma aspal hangat dan kebebasan yang samar. Mobil berhenti tepat di depannya, pintu terbuka otomatis.
Ia masuk, duduk dengan tenang, dan menyebutkan tujuan. “Grand Star Tower.”
Mobil melaju, meninggalkan gerbang sekolah di belakang.
Dion menatap keluar jendela, memandangi gedung-gedung yang perlahan berubah semakin tinggi, semakin modern. Di dalam dadanya, ada perasaan asing, bukan euforia, bukan pula kegelisahan.
Melainkan kesadaran, Bahwa hidupnya, benar-benar sedang bergerak ke arah yang baru.