Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Kini waktunya istirahat, Sheila dan Risma melangkah menuju kantin.
Suasana kantin SMA International Bima Karya sangat riuh. Namun, seketika kebisingan itu mereda saat Sheila dan Risma melangkah masuk. Sheila berjalan dengan punggung tegak, mengabaikan bisik-bisik murid lain yang membicarakan keberaniannya menantang dominasi kelas IPS di olimpiade nanti.
Mereka duduk di meja pojok, tempat yang biasanya dihindari karena terlalu terbuka. Sheila mengeluarkan sebuah buku tebal berjudul Advanced Physics, benar-benar mengacuhkan menu makanan yang ada di depannya.
"Sheil, kamu benar-benar gak mau makan dulu?" tanya Risma khawatir, melihat wajah sahabatnya yang masih pucat namun memiliki sorot mata yang sangat tajam.
"Aku lapar akan kemenangan, Ris. Bukan makanan," jawab Sheila datar tanpa menoleh dari bukunya.
Tak lama kemudian, Devano, Indra, dan Bayu masuk ke kantin dengan gaya berlebihan. Devano memutar-mutar kunci motor sport barunya di jari telunjuk, sengaja menciptakan bunyi denting logam untuk menarik perhatian. Ia langsung menuju meja di seberang Sheila, berusaha memulihkan egonya yang sempat ciut tadi pagi.
"Wah, lihat ini! Ada calon juara olimpiade sedang akting membaca buku," cibir Indra dengan suara keras agar didengar seluruh penghuni kantin.
"Paling juga bukunya cuma buat nutupin wajahnya yang malu karena udah gue buang," tambah Devano dengan nada menghina, sambil menatap Sheila dengan tatapan remeh.
Sheila menutup bukunya dengan suara dentuman yang cukup keras. Ia mengangkat kepalanya, menatap Devano langsung di matanya. Tidak ada lagi tangisan, tidak ada lagi Sheila yang rapuh. Hanya ada seorang wanita yang kini mengetahui seberapa murah harga diri pria di depannya.
"Vano, kamu tahu perbedaan antara motor sport-mu dan otakmu?" tanya Sheila dengan senyum sinis yang mematikan.
Devano mengernyitkan dahi. "Apa maksud lo?"
"Motor itu punya kecepatan, tapi otakmu punya batas. Kamu membelinya dengan harga kehormatan orang lain, tapi kamu tetap tidak bisa membeli kemenangan di olimpiade nanti," ucap Sheila sambil berdiri. Ia melangkah mendekati meja Devano, membuat suasana kantin semakin mencekam.
"Nikmati saja kendaraan 'sampah' itu. Karena begitu namaku tertulis sebagai juara, semua orang akan ingat bahwa kamu hanyalah pria yang mengandalkan taruhan untuk terlihat hebat. Dan bagiku... kamu tetaplah pecundang yang paling menjijikkan," sambung Sheila tepat di depan wajah devano.
Byurr!!
Sheila mengambil gelas air mineral milik Risma dan menyiramkannya perlahan ke atas kunci motor sport yang tergeletak di meja Devano.
"Ups, maaf. Kuncinya terlihat haus," ucap Sheila datar.
Devano bangkit dari kursinya dengan amarah yang memuncak, namun ia terpaku saat melihat tatapan Sheila. Mata gadis itu tidak lagi menunjukkan cinta, melainkan kebencian murni yang begitu dalam hingga membuat Devano merasa merinding.
"Ayo, Ris. Kita kembali ke kelas. Materi Bu Ambar jauh lebih berharga daripada melihat pertunjukan topeng monyet di sini," ajak Sheila sambil berlalu pergi, meninggalkan Devano yang sedang menahan malu di depan seluruh murid.
Di dalam hati, Devano merasakan sesuatu yang remuk. Bukan karena kunci motornya basah, tapi karena ia menyadari bahwa Sheila bukan lagi orang yang bisa ia kendalikan.
Devano masih mematung di tempatnya, menatap kunci motor sport-nya yang basah kuyup. Suara tawa tipis dari beberapa murid di sekitarnya terdengar seperti ejekan yang menusuk telinga. Biasanya, ia adalah raja di kantin ini, namun hari ini, seorang gadis yang ia anggap 'sudah habis' baru saja menampar harga dirinya di depan umum tanpa menyentuhnya sedikit pun.
"Sial! Kenapa dengan perasaan gue?" batin Devano sambil mengepalkan tangannya di bawah meja. Tatapan mata Sheila tadi benar-benar berbeda. Tidak ada lagi binar pemujaan yang biasanya membuat Devano merasa perkasa. Yang tersisa hanyalah sorot kematian yang membuat jantungnya berdegup tidak menentu.
"Gak usah dipikirin, Dev! Mendingan kita makan dulu. Cewek kaya gitu emang lagi caper aja karena mencari perhatian lo," ajak Indra sambil menarik kursi, berusaha mencairkan suasana yang kaku.
"Caper?" gumam Devano datar. Ia menatap punggung Sheila yang menghilang di balik pintu kantin. "Kalau dia caper, dia harusnya nangis di depan gue, bukan natap gue seolah gue itu debu."
Di dalam kelas XII-IPA 1, Sheila tidak benar-benar menunggu materi Bu Ambar. Ia duduk diam dengan buku Advanced Physics yang terbuka, namun pikirannya sedang menyusun strategi. Rasa sakit fisik di tubuhnya mulai memudar, tergantikan oleh adrenalin dari kebencian yang ia rawat.
"Sheil, kamu keren banget tadi!" bisik Risma sambil memberikan tisu untuk mengeringkan tangan Sheila yang terkena percikan air. "Tapi hati-hati, Devano itu punya pengaruh besar di sekolah. Dia pasti gak akan tinggal diam harga dirinya diinjak."
"Biarkan saja, Ris," jawab Sheila tanpa mengalihkan pandang dari rumus-rumus di depannya. "Dia cuma berani main kasar di apartemen sepi. Di sini, di dunia nyata, dia hanyalah seorang pengecut yang takut kehilangan pengikutnya. Aku akan hancurkan dia di tempat yang paling dia banggakan, statusnya sebagai murid jenius."
Beberapa jam kemudian, saat bel pergantian jam pelajaran berbunyi, Sheila berjalan menuju laboratorium fisika. Saat melewati lorong sepi dekat ruang musik, sebuah tangan menarik lengannya dengan kasar dan menyudutkannya ke dinding.
Itu adalah Devano.
Wajah pria itu sangat dekat, napasnya memburu karena marah. "Maksud lo apa di kantin tadi, hah?! Lo pikir dengan nyiram kunci gue, lo bakal kelihatan hebat?"
Sheila tidak terkejut. Ia bahkan tidak berkedip. Ia menatap mata Devano dengan sangat dekat, begitu dekat hingga Devano bisa melihat pantulan dirinya yang buruk di mata Sheila.
"Lepas," ucap Sheila singkat dan dingin.
"Gue gak akan lepasin sebelum lo minta maaf!" bentak Devano. Cengkeramannya di lengan Sheila menguat, mengenai bagian memar hasil perbuatannya semalam.
Sheila meringis sedikit, namun ia justru maju menantang. "Silakan, Vano. Tekan lebih keras. Tambahkan luka baru di atas luka yang lo buat semalam. Biar gue punya alasan lebih kuat untuk membenci lo."
Deghh!!
Jantung Devano seolah berhenti berdetak selama sedetik. Kata "membenci" keluar dari mulut Sheila dengan begitu tenang, namun efeknya jauh lebih menyakitkan daripada makian kasar. Cengkeraman tangan Devano di lengan Sheila melemah secara perlahan. Ia menatap mata Sheila, mencari sisa-sisa pemujaan atau ketakutan yang biasanya ada di sana, namun ia hanya menemukan lubang hitam yang dingin dan tak berdasar.
"Kenapa?" tanya Devano dengan suara yang tiba-tiba serak. "Kenapa lo berubah jadi kaya gini? Lo pikir dengan bersikap kaya gini, gue bakal kagum sama lo?"
Sheila menarik tangannya dari cengkeraman Devano yang sudah lunglai. Ia merapikan lengan seragamnya yang sedikit kusut, menutupi kembali memar keunguan yang masih berdenyut nyeri. Ia menatap Devano dengan tatapan yang biasa digunakan manusia saat melihat serangga.
"Kagum?" Sheila tertawa kecil, sebuah tawa sinis yang terasa sangat menghina. "Vano, kamu masih terlalu tinggi menilai dirimu sendiri. Aku tidak sedang mencari kekaguman dari iblis berwajah malaikat sepertimu."
Sheila melangkah maju satu tahap, membuat Devano refleks bersandar ke dinding koridor. Posisi kini berbalik; Sheila-lah yang kini mengintimidasi.
"Semalam kamu menghancurkan hidupku hanya untuk sebuah motor sport. Sekarang, aku akan menghancurkan duniamu hanya untuk kesenanganku. Jangan pernah berpikir aku akan menangis lagi di depanmu. Air mataku terlalu mahal untuk seorang taruhan murahan sepertimu," bisik Sheila tepat di telinga Devano, dingin dan tajam seperti pisau.
Devano terpaku. Ia merasa oksigen di sekitarnya menipis. Bau parfum Sheila yang masih sama seperti semalam mengingatkannya pada kejadian di unit 201, namun aura gadis di depannya kini terasa seperti orang asing. Ia merasa kecil. Ia merasa kotor.
"Gue... gue gak pernah niat buat..." Kalimat Devano terputus. Suaranya hilang di tenggorokan.
"Gak niat?" potong Sheila sambil menatap langsung ke mata Devano. "Simpan kebohonganmu untuk Indra dan Bayu. Karena mulai detik ini, bagiku kamu bukan lagi Devano sang most wanted. Kamu hanyalah sebuah 'kesalahan' yang sedang aku hapus dari ingatanku."
Tanpa menunggu jawaban, Sheila berbalik dan melangkah pergi menuju laboratorium fisika. Langkah kakinya terdengar tegas dan berirama di atas lantai koridor. Punggungnya terlihat sangat kokoh, seolah beban berat semalam telah ia ubah menjadi armor baja yang tak tertembus.
Devano masih berdiri di lorong sepi itu, menatap punggung Sheila yang semakin menjauh. Tangannya gemetar hebat. Ia merasakan sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya: ketakutan. Bukan takut karena ancaman fisik, tapi takut karena ia menyadari bahwa ia telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga yang pernah ia miliki secara cuma-cuma; cinta tulus dari seorang Sheila.
"Sial!" Bugh. Umpat Devano sambil meninju dinding laboratorium di sampingnya. Bukannya merasa menang karena mendapatkan motor baru, ia justru merasa menjadi manusia paling miskin di seluruh sekolah.
Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/