"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."
Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.
Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.
Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.
Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.
Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Monster Berjas
Tangan kotor itu menyentuh leherku.
"JANGAN!" Aku menjerit sekuat tenaga, suara yang parau dan putus asa.
Aku tidak menyerah begitu saja. Naluri bertahan hidupku mengambil alih. Aku menendang tulang kering si pria besar dengan sepatu kanvasku yang tipis. Dia menggeram kesakitan, cengkeramannya sedikit melonggar.
"Dasar jalang!" makinya.
Aku memanfaatkan celah itu. Aku mencakar wajahnya, kuku-kukuku yang panjang dan kotor merobek kulit pipinya hingga berdarah.
"Aaaargh!"
Tapi perlawananku hanya bertahan dua detik.
Dua pria lainnya langsung menerjang. Salah satu dari mereka meninju perutku. Keras.
Bugh!
Udaraku habis. Rasanya seperti paru-paruku diremas oleh tangan raksasa. Aku terbungkuk, memegang perutku, mulutku terbuka tanpa suara.
Mereka tidak memberiku waktu untuk bernapas. Rambutku dijambak kasar, kepalaku ditarik ke belakang hingga leherku sakit. Mereka menyeretku—benar-benar menyeretku—menjauh dari lampu jalan yang remang itu, menuju sudut gang yang paling gelap dan lembap, di balik tumpukan kardus sampah yang basah.
"Lepas... kan..." rintihku, air mata bercampur debu mengalir di pipi.
Mereka melempar tubuhku ke tanah berlumpur. Punggungku menghantam genangan air kotor. Dinginnya air got langsung meresap ke dalam jaket dan kaosku, membekukan kulit.
Sebelum aku bisa bangun, si pria besar—yang sekarang pipinya berdarah karena cakarku—sudah menindih tubuhku. Berat badannya menghimpit dadaku, membuat tulang rusukku berderak.
Dia menampar wajahku.
PLAK!
Duniaku berputar. Telingaku berdenging. Rasa asin darah memenuhi mulutku.
"Kau mau main kasar, hah?" desisnya di telingaku, napasnya bau alkohol busuk. "Sekarang kau akan terima akibatnya."
Tangan-tangan lain menahan pergelangan tanganku ke tanah. Kakiku ditindih. Aku tidak bisa bergerak. Aku seperti serangga yang dipaku ke papan koleksi.
"Tolong..." bisikku lagi, tapi kali ini suaraku hanya berupa desisan udara yang lemah.
KREK.
Suara itu lebih menakutkan daripada pukulan fisik apa pun.
Itu suara ritsleting jaketku yang ditarik paksa hingga rusak. Lalu suara kain kaosku yang robek. Udara malam langsung menyentuh kulit perutku yang telanjang.
Mereka tertawa. Suara tawa yang menggema di dinding-dinding bata itu terdengar seperti suara iblis dari neraka.
Aku berhenti melawan.
Bukan karena aku ingin, tapi karena aku tahu aku kalah. Tenagaku habis. Tubuhku terlalu lemah karena kelaparan berhari-hari. Dan jumlah mereka terlalu banyak.
Aku memalingkan wajah ke samping, pipiku menempel pada lumpur yang bau. Mataku menatap kosong ke arah tembok bata yang berlumut.
Inilah akhirnya.
Dua belas tahun aku berjuang. Dua belas tahun aku menjaga diriku tetap utuh. Dua belas tahun aku menolak bantuan, menolak dikasihani, menolak menyerah pada kemiskinan yang mencoba membunuhku pelan-pelan.
Dan semua itu berakhir di sini. Di gang sempit yang bau kencing tikus. Di tangan tiga preman mabuk yang bahkan tidak tahu namaku.
Aku akan mati di sini. Atau lebih buruk... aku akan hidup setelah ini sebagai rongsokan yang lebih rusak daripada sebelumnya.
Lily benar. Aku bodoh.
Aku menolak menjadi peliharaan Ciarán Vane di istana emas, hanya untuk menjadi mangsa di selokan kotor ini.
"Lihat, kulitnya putih juga," komentar salah satu dari mereka, tangannya yang kasar mulai meraba pinggangku.
Aku memejamkan mata rapat-rapat.
Tuhan, tolong matikan saja aku sekarang. Jangan biarkan aku merasakan ini.
Aku menunggu rasa sakit selanjutnya. Aku menunggu akhir dari Elara Vance.
Tapi yang datang berikutnya bukanlah rasa sakit.
Yang datang adalah cahaya.
***
Cahaya itu bukan datang dari surga. Cahaya itu datang dari sepasang lampu LED xenon yang menyilaukan, membelah kegelapan gang kumuh itu dengan intensitas yang menyakitkan mata.
Sinar putih yang tajam itu menghantam kami seperti gelombang fisik.
"Bangsat! Apa itu?!" teriak si pria besar yang menindihku. Dia mengangkat tangannya untuk menutupi mata, tubuhnya sedikit terangkat dari dadaku karena kaget.
Aku menyipitkan mata, air mata masih mengaburkan pandanganku. Di ujung gang, di tempat yang seharusnya kosong, kini berdiri sebuah mobil hitam besar, sebuah SUV mewah yang mesinnya menggeram rendah. Lampu sorotnya yang tinggi mengunci kami di tempat, seperti rusa yang tertangkap basah di jalan raya.
Dua pintu mobil terbuka serentak.
Tiga sosok siluet turun.
Dua sosok di belakang berbadan tegap, mengenakan setelan hitam standar pengawal. Mereka bergerak cepat, tangan mereka sudah berada di balik jas, siap menarik sesuatu.
Tapi sosok di tengah... dia berbeda.
Dia tidak berlari. Dia tidak berteriak panik melihat seorang wanita sedang diserang di lumpur.
Dia berjalan.
Langkahnya pelan, terukur, dan santai. Suara sepatu kulit mahalnya mengetuk aspal basah dengan irama yang tenang—tak, tak, tak—seolah dia sedang berjalan-jalan di taman pribadi, bukan di gang sempit yang penuh preman.
Dia mengenakan setelan jas yang sama dengan yang kulihat tadi siang. Tangan kirinya dimasukkan ke saku celana dengan gaya nonchalant yang mengerikan. Wajahnya masih tersembunyi dalam bayangan backlight lampu mobil, tapi aku tidak perlu melihat wajahnya untuk tahu siapa dia.
Aura dingin itu. Aura yang membuat udara di sekitarnya membeku.
Itu Ciarán Vane.
"Siapa kalian?!" bentak si preman kurus yang memegang pisau. Dia mencoba terdengar berani, tapi suaranya goyah. Dia mengacungkan pisau lipat kecilnya ke arah sosok-sosok yang mendekat itu. "Ini wilayah kami! Pergi atau kutusuk!"
Ciarán tidak berhenti berjalan. Dia juga tidak menjawab. Dia hanya terus melangkah maju, menembus batas cahaya dan bayangan, hingga wajahnya akhirnya terlihat.
Ekspresinya datar. Benar-benar kosong. Tidak ada amarah, tidak ada kekhawatiran. Matanya yang gelap menatap si preman pisau dengan kebosanan yang menghina.
"Wilayahmu?" tanya Ciarán. Suaranya rendah, halus, namun mematikan.
Dia berhenti tiga meter dari kami. Dia melirik sekilas ke arahku yang terbaring di lumpur dengan baju robek. Tatapannya tidak bertahan lama di sana, seolah melihatku dalam kondisi seperti itu tidak cukup penting untuk mengganggu ketenangannya.
Dia kembali menatap si preman besar yang masih berada di atasku.
"Kau menindih barangku," kata Ciarán. Nada bicaranya seperti seseorang yang menegur anjing yang kencing di karpet mahalnya. "Minggir."
"Barangmu?" Si preman besar tertawa gugup, mencoba menutupi ketakutannya. Dia bangkit berdiri, meninggalkan tubuhku yang gemetar, dan mencoba membusungkan dadanya. "Cewek ini milik siapa saja yang menemukannya duluan, Bos. Kalau kau mau dia, kau harus bayar—"
Kalimatnya tidak pernah selesai.
Ciarán menjentikkan jarinya sekali. Ringan.
Dalam sekejap mata, dua pengawal di belakangnya bergerak. Bukan gerakan manusia biasa. Itu adalah gerakan mesin pembunuh yang terlatih.
Salah satu pengawal menerjang si preman besar. Terdengar suara krak yang muakkan saat lengan si preman diputar ke arah yang tidak wajar.
Pengawal lainnya menendang tangan si preman pisau. Pisau itu terlempar berdenting ke dinding.
Jeritan kesakitan pecah di gang itu. Tapi Ciarán tidak bergerak. Dia bahkan tidak berkedip saat darah mulai tumpah. Dia hanya berdiri di sana, di tengah kekacauan, merapikan manset kemejanya yang sebenarnya sudah rapi.
Dia bukan pahlawan yang datang menyelamatkan putri. Dia adalah monster yang lebih besar yang datang untuk mengusir monster-monster kecil dari mangsanya.