Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.
Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.
Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.
Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.
____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?
kuyyy ikuti kisahnya ya~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08 Negosiasi
Tamara baru memasuki sebuah kafe modern, yang letaknya tak jauh dari kampus tempat Arvin mengajar.
Ia sudah janjian bertemu dengan Arvin hari ini, meski harus meruntuhkan gengsi menghubungi laki-laki itu lebih dulu.
Pandangannya menyapu sekilas tempat itu—luas, tidak terlalu sepi, tapi suasananya tetap tenang. Kontras dengan hingar bingar arus lalu lintas kendaraan di luar sana.
Tamara berjalan menuju area lebih dalam. Langkahnya stabil, tidak terburu-buru, dan cukup percaya diri membawa misi tersembunyi.
Hingga matanya tertuju pada salah satu meja pengunjung, di sudut ruangan yang tenang.
Arvin duduk disana—kemeja polos dengan lengan tergulung di siku, kacamata bertengger di pangkal hidung.
Wajahnya sedikit menunduk, sementara tangannya sibuk dengan laptop di depannya.
Tamara terpaku beberapa detik. Bahkan hanya duduk tenang dengan gerakan sederhana itu, aura laki-laki itu jadi terlihat lebih menarik di matanya.
Sampai Tamara menampar ringan pipinya sendiri. "Fokus, Ta!" sentaknya pelan, menyadarkan diri.
Ia mengatupkan rahang. Kendalikan diri kamu! Kamu kesini untuk menggoyahkan keputusannya, omelnya dalam hati sambil melanjutkan langkah.
Pandangan Arvin langsung teralihkan, saat Tamara berhenti di dekat meja—aura defensif, tidak angkuh, tapi juga tak tersentuh.
Tamara merapikan sedikit blazernya, menjaga sikap. "Kayaknya... aku ganggu waktu kamu," ucapnya, datar.
Arvin menutup laptop, meletakkannya di sudut meja. "Kamu bilang mau membicarakan hal penting. Aku usahakan ada waktu untuk itu," katanya.
Tamara menarik kursi, lalu duduk dengan tenang. Sengaja memasang wajah ala kesehariannya di kantor.
Wajah dengan sorot mata tegas, yang biasanya membuat jajaran manajer ciut dan staf magang merasa ingin kabur.
Tapi Arvin, terlalu santai. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda gentar di wajahnya.
"Mau pesan minum dulu?" ujarnya menawarkan.
Tamara menolak dengan suara pelan, namun tegas. "Nggak perlu, aku hanya perlu bicara sebentar."
Arvin mengangguk paham, lalu memusatkan perhatian ke arah Tamara.
Sikapnya tidak banyak tingkah, tapi cukup membuat Tamara bahkan harus menarik napas dulu sebelum mulai bicara.
"Aku mau terus terang... Aku pikir kamu harus tahu satu hal tentangku," katanya.
Arvin masih mendengarkan, tanpa memotong.
"Jujur... aku nggak percaya pernikahan. Kalaupun aku menikah, itu karena Papa. Bukan untuk mencoba mencari makna hubungan sebenarnya." Tamara meneruskan dengan suara terkontrol.
Ia berhenti sebentar, mencari celah—setidaknya minimal ada reaksi kecil di wajah Arvin. Tapi tidak ada.
Ia melanjutkan, "Aku terbiasa mandiri dan nggak bisa bergantung pada siapa pun. Aku mungkin nggak akan bisa, jadi istri seperti yang kamu inginkan."
Alisnya sedikit terangkat, matanya berkilat penuh siasat.
"Jadi, bukan kah lebih baik kamu pikirkan kembali keputusan kamu soal menikah dengaku?" sarannya.
Kamu bisa hidup tenang dengan menikahi perempuan mana saja, kecuali aku, lanjutnya dalam hati.
Arvin melepas kacamatanya, meletakkan di sisi laptop. Sorot matanya teduh, seolah tak terganggu dengan kalimat-kalimat yang dilontarkan Tamara barusan.
Tapi satu hal yang ia tahu, ia senang dengan keterbukaan Tamara.
"Terima kasih atas kejujurannya. Aku biasanya jarang mengubah keputusan... " ucapnya.
Ia meneguk sebentar sisa kopi miliknya. Diam beberapa detik, sebelum meneruskan.
"Aku tetap dengan keputusanku, akan menikahi kamu," kata Arvin mantap, dengan sorot matanya tanpa keraguan.
Tamara membulatkan mata. Kata-kata itu jatuh seperti batu yang menyentuh permukaan air, memecah seluruh isi pikirannya.
Ia bahkan sempat membisu dengan mulut sedikit terbuka, tanpa ada kata yang lolos.
Hingga detik berikutnya, Tamara menegakkan bahu dan bersuara dengan penuh penekanan. "Gini ya, kita baru satu kali ketemu, loh. Satu kali... "
Dagunya sedikit terangkat. " ...dan kamu langsung memutuskan setuju menikahiku?"
Arvin memberi anggukan penuh kepastian. "Aku ingin menikah bukan karena ingin mengikat kamu, Tamara... tapi karena aku memang siap menjalaninya dengan kamu," jelasnya dengan nada bicara tetap stabil.
Tamara menahan napas sebentar, hanya untuk memikirkan kalimat balasan. "Tapi kamu bahkan belum tahu banyak tentangku, begitu pun aku."
Arvin mengangguk sekali lagi, seolah memahami kegelisahan Tamara. "Kita masih punya banyak waktu untuk saling mengenal."
"Tapi... memutuskan secepat itu?" Tamara tak habis pikir. "Aku nggak ngerti apa yang ada dalam pikiran kamu. Kamu terobsesi atau apa?"
Sudut bibir Arvin terangkat jelas, nyaris menahan tawa, tapi wajahnya tetap santai.
"Kamu nggak perlu nyoba untuk ngerti. Kamu hanya perlu tahu, kalau aku memang ingin mencoba—dengan caraku," suaranya tenang, tak goyah sedikit pun.
Tapi justru itu yang membuat Tamara nyaris frustasi. Rasa panas mulai menjalar di pipinya, antara kesal sekaligus tertantang.
Ia mencondongkan sedikit tubuh, satu lengan di atas meja. Tatapannya intens—sorot mata yang bagi sebagian orang, mengintimidasi lawan bicara.
"Aku kasih tahu ya, Profesor. Ini nggak sesederhana yang kamu pikirkan. Menikah denganku... sama saja artinya menikahi badai." Nada bicaranya pelan, namun tajam.
"Ba—dai," ulangnya, kembali menekankan.
Seolah kata itu ancaman halus, bermakna sesuatu yang harus diwaspadai dan patut diperhitungkan.
Arvin tak gentar. Ia membalas tatapan Tamara, tenang tapi dalam. "Kamu harus tahu juga, Bu CEO... aku bukan perahu kecil yang mudah tenggelam, sekali pun di tengah badai."
Tamara tercekat, tenggorokannya mendadak kering, seperti ada energi yang menyerap habis semua kata.
Bahkan tanpa ia sadari, tatapannya mulai melembut dengan sendirinya seiring detik yang terus bergerak maju.
Suaranya hilang, meninggalkan hening yang panjang. Hanya ada situasi yang terlalu tenang di ruang kecil obrolan mereka.
Hingga Arvin berkata lagi, tatapannya mencoba memahami. "Tamara, kita berdua memang nggak pernah memilih jalan ini, tapi aku rasa... kita bisa memilih bagaimana kita akan menjalaninya."
Tamara terdiam, belum ada niat untuk menanggapi. Tapi, sorot matanya sudah tidak setegas sebelumnya.
Arvin masih menatapnya, penuh kesungguhan, "Kalau kamu takut pernikahan akan membuat kamu kehilangan hidup kamu, maka izinkan aku menjadi orang yang nggak akan mengambilnya."
Hening kembali.
Tamara masih membisu. Napasnya memang masih teratur, tapi kakinya sudah bergerak-gerak tidak tenang. Kali ini ia bukan lagi gelisah tiap tiga detik, tapi hampir setiap detik.
Kata-kata Arvin memang tidak menyerangnya. Namun, cukup mengguncang dinding egonya, yang selama ini bahkan tak tersentuh.
Ia sedikit menunduk, anehnya, hatinya jadi sedikit melunak tanpa bisa ia lawan.
"Oke... Aku mungkin bisa hidup berdampingan dengan seseorang, tapi... ada ruang dalam hidupku yang nggak bisa dibagi ataupun dicampuri oleh siapapun, " suaranya melembut.
Wajahnya kembali terangkat. "Kedengarannya memang egois, makanya aku lebih baik jujur sama kamu dari awal. Maksud aku... kamu boleh pergi kalau nggak bisa terima."
Arvin tak langsung menjawab, sorot matanya tidak menilai ataupun menghakimi. "Nggak masalah. Kejujuran itu modal awal yang baik dalam sebuah hubungan," katanya.
Tamara menarik napas panjang, mencoba melayangkan senjata terakhirnya.
"Tapi aku nggak mau ada banyak tuntutan. Aku mau punya ruang untuk hidupku sendiri," pintanya, terdengar seperti sebuah persyaratan.
Arvin tersenyum tipis. "Iya... Deal," ujarnya singkat.
Tamara terperangah singkat, lisnya terangkat tinggi. "Kamu... nggak keberatan?"
Belum lama ia duduk di tempat ini, jantungnya sudah hampir terpeleset berkali-kali.
Arvin dengan ringan mengiyakan.
Tamara terdiam lagi, tak ada kalimat balasan ataupun reaksi berlebihan.
Tatapannya mencoba membaca wajah laki-laki itu. Sekadar mencari celah ambisi atau maksud tersembunyi, tapi yang ia temukan justru hanya ketenangan yang tidak menuntut apa-apa.
Orang seperti apa kamu sebenarnya? batinnya bertanya-tanya.
Tamara masih sulit percaya pada pernikahan, tapi sialnya, detik itu juga egonya mulai terusik. Dalam keheningan itu, untuk pertama kalinya muncul rasa penasaran dalam benaknya.
Bagaimana rasanya berjalan bersama seseorang yang tetap memilihnya, tanpa ingin menguasainya?
BERSAMBUNG...
Aku pun kalau jadi Tata juga bingung...
Kira-kira cowok modelan kayak Arvin ini, beneran tulus gak sih? Atau ada maunya juga... wkwk 😂
…
…
Mari kita kenalan dulu yukk sama sosok dua orang ini... kiw kiw... 😍
Gambar hanya pemanis ya...
Kepribadian sesuai simbol 😂
🌪 Tamara Hadinata (29 Thn) 🌪
🌾 Arvin Wicaksono (33 Thn) 🌾
arvin godaanmu sampai ke hatiku🤣
. yg lagi mahal sekarang🥺