NovelToon NovelToon
BENANG PUTUS KARENA CINTA PERTAMA

BENANG PUTUS KARENA CINTA PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Pelakor / Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Pelakor jahat
Popularitas:651
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Dhita selalu percaya bahwa pernikahan yang ia bangun dengan Reza adalah rumah yang kokoh—tempat ia menaruh seluruh harapan, kasih sayang, dan kesetiaannya. Namun semua runtuh ketika cinta pertama Reza kembali muncul, menghadirkan bayang-bayang masa lalu yang tak pernah benar-benar padam.

Dalam hitungan hari, Dhita yang selama ini berjuang mempertahankan rumah tangga justru dipaksa menerima kenyataan pahit: Reza menceraikannya demi perempuan yang pernah ia cintai bertahun-tahun lalu. Luka itu dalam, merembes sampai ke bagian hati yang Dhita pikir sudah kebal.

Di tengah serpihan hidup yang berantakan, Dhita harus belajar berdiri lagi—menata hidup tanpa sosok yang selama ini ia sayangi, menghadapi pandangan orang, dan menerima bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan berakhir. Namun Tuhan tak pernah meninggalkan hati yang hancur. Dalam perjalanan menyembuhkan diri, Dhita menemukan kekuatan yang tak pernah ia sadari, serta harapan baru yang perlahan mengetuk pintu hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Permintaan Reza

"Senangnya aku, kok tiba-tiba ketemu Ambardhita. Jadi dia tahu dong kita akan segera memiliki anak.” Tari tersenyum penuh kemenangan.

"Iya Tar.” Reza mengangguk cepat.

"Dia terlihat sedih lo Za.”

"Ya gimana gak sedih, pasti dia kepikiran kalau sebenarnya dia yang mandul. Selama ini dia kan bersikukuh kalau bukan dia yang memiliki masalah dengan reproduksi. Namun buktinya sekarang? Aku akan memiliki anak bareng kamu.”

"Iya Za, aku gak nyangka kita akan memiliki keturunan secepat ini.”

"Tapi sebenarnya kasian juga lho lihat dia tadi. Apa kita gak keterlaluan Tar?"

"Kok kamu ngomongnya gitu sih? Kamu masih suka dia ya?" Tari merajuk.

"Ya, gak seharusnya kita berbuat begitu kali Tar. Kita sudah nyakitin dia terus-menerus. Membohonginya, mengkhianatinya, terus sekarang kita malah pamer-pamer kalau kamu sudah hamil."

"Terus maumu apa? Tersenyum ramah padanya? Bicara baik-baik gitu? Jangan-jangan kamu masih mencintainya ya?"

"Ya nggak lah, Tar. Aku gak mungkin menceraikannya kalau aku masih mencintainya. Dia itu sudah masa lalu. Masa sekarang adalah kamu dan calon anak kita." Reza merangkul pinggang Tari, lalu mencium kepalanya. Tari tersenyum penuh kemenangan diperlakukan demikian oleh Reza.

"O ya Za, calon anak kita pasti akan menjadi anak yang paling disayang oleh papa dan omanya, dia akan jadi pewaris tahta keluarga Wijaya. Ya kan?”

"Pastinya."

"Emh senengnya.” Tari terlihat berbinar.

"Sekarang kita ke mana Tar?”

"Ke rumahmu saja, nanti malam kita ke club ya Za?”

"Jangan lah, kamu kan lagi hamil muda, masa mau ke club?”

"Gak papa lah, kita senang-senang merayakan kebebasanmu, dan juga merayakan kehadiran buah hati kita.”

"Nggak ah Tar, aku khawatir dengan kehamilan kamu. Kita harus menjaganya baik-baik, dia itu aset, anak yang sangat diharapkan keluargaku."

"Zaaa, cuma sekali ini aja."

"Ya sudah, asal kamu jangan minum Tar, gak baik untuk janin.”

"Sedikit gak papa kali Za, cuma malam ini aja.”

"Janji ya, cuma malam ini aja.”

"Iya.” Tari tersenyum menatap Reza.

***

Sementara itu, Bu Lastri yang tadi merasa agak kurang sehat langsung baikan, ketika tahu anak laki-lakinya_Reza akan segera menikah dengan calon menantu idamannya. Dia langsung bercerita pada teman-temannya yang saat itu datang menjenguk ke rumahnya.

"O ya Jeng, bukan depan aku mau menikahkan Reza dengan calon istrinya yang cantik dan kaya."

"Apa, menikah?” Terdengar suara Ranty teman arisannya bertanya heran.

"Iya Jeng, menikah lagi. Si Reza kan sudah cerai sama istrinya. Jadi, gak nunggu lama-lama, dia langsung tancap gas melabuhkan hatinya pada mantan kekasihnya dulu.”

"Lho, mantannya Reza kan Tari ya Jeng?”

"Nah itu tahu, iya Tari anak tunggalnya Pak Kusuma, pengusaha kelapa sawit.”

"Bukannya anaknya Pak Kusuma yang itu sudah tunangan ya? Kalo gak salah, sama pengusaha sawit juga.” Dahlia yang dari tadi mendengarkan ikut nimbrung.

"Ah gak mungkin, Jeng Dahlia ini ada-ada saja. Tari masih single, belum tunangan-tunangan sama yang lain, dia cinta banget sama Reza. Jadi yang kedua aja dia rela, Dhita menantu saya itu rela dimadu.”

"Padahal menantunya Jeng Lastri itu baik lho, sopan lagi.” Bu Broto yang sudah kenal lama dengan keluarga Bu Lastri ikut bicara.

"Baik sih, cuma sayangnya mandul Bu. Saya kan butuh penerus keluarga. Nunggu dengan sabar selama 4 tahun, akhirnya kami nyerah juga.” semua yang mendengar hanya manggut-manggut, tak ada yang berkomentar lagi.

Saat Bu Lastri sedang menerima telepon dan masuk ke dalam kamarnya, Dahlia menyikut Bun Broto sambil berbisik. “aku tidak salah dengar lho, saat ART di rumahnya Pak Kusuma mengundang menghadiri acara tunangannya Si Tari itu.”

"Bisa aja putus Bu, karena ada calon suami yang lebih tajir. Gak apa duda juga yang penting cuannya lebih banyak.”

"Iya mungkin begitu Bu. Tapi kalau menurutku mendingan mantunya yang kemarin ke mana-mana, kalau Tari itu pakaiannya selalu terbuka dan kelihatan angkuh.”

"Bener banget, Nak Dhita itu sopan, selalu tersenyum dan menyapa kalau kita ketemu, dan yang pasti selalu rendah hati.”

"Pantesan kata Adik iparku yang rumahnya dekat dengan anaknya Jeng Lastri, anaknya Jeng Lastri itu sering bawa perempuan seksi menginap di rumahnya. Jangan-jangan itu adalah calon istrinya tersebut ya Bu?” Jeng Ayu ikut bicara.

"Bisa jadi. Tapi masa sih belum cerai sudah berani mengajak menginap di rumahnya? Ke mana istrinya?”

"Istrinya kan sibuk, dia punya jabatan di kantornya. Ya kadang tugas luar gitu Bu.”

"Kasian banget ya Jeng, istri capek-capek ikut memenuhi kebutuhan rumah tangga, eehhh suaminya selingkuh.”

"Begitulah Bu. Suami gak bersyukur itu namanya. Ih jadi gemes aku." Jeng Ayu ikut gereget.

"Sssstttt, dah ah, tuan rumah kemari."Bu Rini Broto memmebarikan isyarat untuk diam.

"Jeng, barusan calon mantuku telepon, dia lagi menuju ke sini. Jangan pada pulang ya, nanti aku kenalkan pada Tari. Eeemmmh pokoknya gini deh." Bu Lastri mengacungkan dua jempol.

"Duuh jadi penasaran, soalnya mantu Jeng Lastri yang namanya Dhita itu cantik banget, baik lagi, sekarang pasti lebih cantik dan baik juga ya?"

"Emh pastinya. Selera Reza kan tinggi Jeng." Bu Lastri tersenyum lebar. Yang lain hanya mengangguk-anggukkan kepala.

***

"Tar, boleh gak aku meminta lagi sesuatu?"

"Apa, mau service yang hot seperti biasanya?" Tari tersenyum nakal.

"Bukan itu, itu aku percaya Tar."

"Terus?"

"Aku mau kamu pakai baju yang lebih tertutup."

"Hijaban kayak mantan istrimu itu? No, no, no, aku gak bisa, gerah."

"Gak gitu juga sih, cuma jangan terlalu pamer paha dan dada aja. Aku gak suka?"

"Apa? Kamu gak suka? Padahal nyosor terus kalau deket aku."

"Ya, harusnya aku aja yang menikmatinya, orang lain ikutan gitu lho, Tar. Banyak mata lelaki jelalatan memperhatikan lekuk badanmu, Tar"

"Eh justru kamu harus bersyukur dan bangga, berarti aku ini banyak dikagumi laki-laki, termasuk kamu kan?"

"Iya, tapi itu cukup buat aku aja, Tar."

"Iya lah, pasti buat kamu aja, aku gak akan membaginya dengan yang lain. Kalau yang lain kan hanya menatapku, bukan memiliki seperti kamu. Udah ah jangan minta yang aneh-aneh, aku nyaman dengan style-ku ini." Tari menyudahi obrolan tentang gaya berpakaiannya.

"Ya sudah, kalau kamu keberatan."

"Iya aku keberatan banget, Za. Ibumu juga gak protes kok. Malah terlihat bangga kalau menatapku."

"Iya sih."

"Ya sudah jangan dipermasalahkan. Ok?"

"Ok." Reza akhirnya mengalah.

Mobil sudah memasuki halaman rumah Bu Lastri.

"Sepertinya lagi banyak tamu ya, Za?"

"Paling teman-temannya ibu."

Reza memarkirkan mobilnya di garasi, dia turun dan membukakan pintu samping. Tari turun, setelah sebelumnya membetulkan pakaian yang sedikit tersingkap.

Mereka berjalan bergandengan menuju ruang tamu, di mana teman-teman Bu Lastri berada. Semua mata tertuju ke pintu yang terbuka. Hampir semua mata terbelalak ketika Reza dan Tari masuk. Bukan keren kagum, tetapi lebih ke risi melihatnya.

Baju pakai dress mini warna merah menyala pas badan, yang belahan dadanya sangat rendah, sehingga menonjolkan buah dadanya yang lumayan besar. Pahanya yang putih mulus jelas terlihat, karena dress-nya sangat pendek.

"Jeng, ini calon mantu saya, namanya Tari. Putri tunggalnya Pak Kusuma. Tari, sini Nak, kenalan sama teman-teman ibu." Bu Lastri memperkenalkan Tari kepada teman-temannya.

"Hallo, senang bertemu dengan tante-tante di sini." Tari berkata, tangannya ditangkupkan di depan dada. Dia tidak berniat untuk mengajak salaman satu persatu.

"Oohhh ini toh, calon istrinya Reza itu, cantik." Bu Broto berkata mewakili teman-temannya.

"Terimakasih." Tari tersenyum lebar, dia melirik ke arah Reza, yang dilirik hanya mengedipkan matanya lucu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!