Hehehe… jadi istri penurut, cengeng, penakut? Tidak buruk sama sekali. Setidaknya Jia bisa makan gratis tanpa kerja, cukup menumpahkan air mata, pasang wajah sedih dan imut… sambil tetap menggerakkan suami buasnya sesuka hati.
“Aku harus ke bengkel sebentar, sedikit lagi pekerjaan selesai,” Su Hao lalu berdiri, namun terduduk kembali. Ia menatap istrinya dengan serius, nada suaranya tegas.
“Jangan coba-coba kabur lagi, kalau berani…!”
Su Hao kemudian mencondongkan tubuhnya, mendekatkan mulut ke telinga Lu Jia dan berbisik:
“Kedua tungkaimu… akan ku jadikan bahan bakar besiku.” Ia pun berbalik lalu melangkah keluar rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smi 2008, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Shā Jī Qǔ Luǎn: Membunuh Ayam Demi Telur”
--
Sret... sret... sret.
Su Hao mengiris bawang di atas telenan kayu. Aromanya pedas sampai menusuk hidungnya, bercampur asap daging yang mengepul di wajan.
Setelah insiden pencurian dan "penculikan" itu, Su Hao sebenarnya sudah berniat pulang. Tapi Jia tiba-tiba menunjuk sebuah kantong kecil yang tergeletak di dekat tubuh Bos Wang yang setengah sekarat. Kantong yang sebelumnya sudah ia lempar kembali diam-diam supaya suaminya tidak curiga.
"Apaitu... uangmu?" tanya Jia, dengan kepolosan yang begitu manis sampai terdengar meyakinkan.
Su Hao menoleh. Ia berjongkok, memeriksa, wajahnya langsung cerah. Benar, itu kantong uangnya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa dompet utamanya juga sudah dicopet oleh orang yang sama "menculik" istrinya.
Ia teringat pada pria yang katanya sudah menolong Jia. Dengan naluri lelaki yang terlalu tahu diri, ia merasa wajib memberi imbalan.
Tanpa pikir panjang, ia menyeret tubuh "si penolong" sampai terduduk. Dengan sejenis hormat yang polos, ia menyodorkan dua lembar besar, total dua puluh yuan, sebagai ucapan terima kasih.
Pria yang sudah babak belur itu langsung berbinar. Perasaan sakitnya hilang seketika. Melihat uang terbesar yang pernah ia pegang seumur hidup, ia menerimanya dengan hati yang sangat, sangat, sangat rela.
Jia berbeda. Gadis itu melotot. Ia ingin memprotes, tetapi yang keluar hanya isakan dan bibir cemberut. Su Hao mengusap kepalanya, seolah situasinya baik-baik saja, padahal sama sekali tidak.
Tangis Jia semakin pecah lagi. Ia merasa rugi, karena niat membantu suami malah membuat uangnya nyasar ke tangan pria yang hanya berbaring di tanah sebagai penonton bisu. Pada akhirnya, Su Hao terpaksa menggendong istrinya pulang seperti membawa karung beras yang sedang merajuk. Mereka hanya bisa membeli sayuran dan bumbu dapur dari sisa receh yang mengenaskan.
Emas yang dijanjikan? Hilang dari takdir. Uang Su Hao habis. Bahkan ongkos gerobak sapi pun harus ia utang. Ini namanya shā jī qǔ luǎn (membunuh ayam demi telurnya; )
Dan sekarang, disinilah mereka.
Su Hao memasak sambil terus mengiris bawang. Di sampingnya tergeletak beberapa sayuran, bumbu, telur, serta seekor ayam yang sudah ia bersihkan sendiri.
Sementara itu Jia hanya berbaring malas di sebelahnya. Sesekali ia mengangkat sehelai daun sayur, lalu menjatuhkannya lagi seolah sayur itu punya salah pribadi padanya.
"Kasih mentahnya saja. Buat apa sih dimasak lagi?" gumam Jia sambil mengernyit. Perutnya masih berontak. Sejak pulang, Su Hao hanya sempat memberinya enam telur rebus dan semangkuk nasi hangat, karena ia harus langsung mengolah daging sebelum rusak. Sarapan dibuat kilat agar ia bisa lanjut memasak.
"Besok pagi kita berangkat, dan daging ini tidak boleh dibiarkan membusuk," ujar Su Hao.
Ia menikmati saat Jia mengomel. Wajah istrinya selalu tampak imut ketika kesal; mata beningnya mudah berair, hidung mungilnya cepat memerah. Tapi ketika ia tersenyum, dunia serasa lebih lunak di mata Su Hao. Apa pun ekspresinya, Lu Jia selalu menarik. Bahkan ketika tangan mungil itu menjambak rambutnya sekali pun.
"Suruh mereka ke sini mengambilnya. Mereka itu punya kaki yang sehat, jangan mau enaknya saja. Sa-yang-ku, aku kasih tahu ya, semakin kau memberi, semakin mereka meremehkanmu. Lihat aku, Lu Jia. Aku kurus, aku kecil, tinggiku bahkan tidak setinggi guōchǎn di tanganmu. Aku tertindas selama tinggal bersama mereka karena aku terlalu baik dan selalu menurut. Aku bahkan harus menikah dengan pria yang tidak kukenali. Coba kau tidak tampan, mungkin aku sudah bunuh diri sebelum kau sempat menyelamatkanku," cerocos Jia tanpa saringan.
Gadis itu menutup wajahnya dengan bantal. Tangan kirinya meraih terong ungu di samping bantal dan menggigitnya dengan ganas, seperti hendak melampiaskan seluruh dongkolnya. Su Hao, yang sedang mendengarkan ocehan istrinya, tersenyum samar. Ada perih yang menusuk harga dirinya, kata-kata Jia terdengar kejam, tetapi di hati pria itu semuanya terdengar seperti rengekan seorang anak kecil yang terlalu lama ditindas.
Su Hao hanya menunduk. Ia tidak tahu harus menjawab apa - lidahnya kaku, tak pandai menenangkan orang, apalagi membuat hati merasa aman lewat kata-kata.
Lalu, tanpa berpikir panjang,
Ia menyimpan potongan bumbu di tepi kompor, lalu masuk ke kamar. Pria itu jongkok di depan lemari, menarik sebuah kotak kayu kecil. Di dalamnya tersimpan sepasang anting emas sederhana: bentuknya bundar, dengan sebutir kecil menempel di pangkalnya. Memang bukan perhiasan mewah, tapi di telinga yang tepat, kilau itu bisa jadi keindahan yang sunyi. Su Hao mengambilnya, menutup kotak itu, dan menyimpannya kembali.
Ia berjalan kembali ke arah istrinya yang masih merajuk.
"Biar kulihat wajahmu," ucapnya pelan sambil menyingkirkan bantal dari muka Jia.
Merasa tidak nyaman, gadis itu memelototinya dan menggeram, "Ngapain lihat? Baru sadar aku cantik?"
Su Hao mengusap pipinya, lalu memperhatikan telinga Jia yang kecil dan polos, dengan lubang tindik yang hampir tak terlihat. Dengan hati-hati ia memasangkan anting itu. Jia terlonjak kaget.
"Jangan bergerak dulu," tegurnya lembut. Ia melanjutkan, "Ini anting milik ibuku. Katanya, ia memakainya sejak masih bayi. Harganya tidak seberapa, tapi benda ini sangat berharga baginya, tidak pernah ia lepas sampai meninggal. Kalau tabunganku cukup nanti, aku akan membelikanmu anting yang lebih cantik dari ini."
Jia terdiam sesaat. Rona merah naik ke pipinya; hangat, cepat, dan sulit disembunyikan. Jantungnya berdebar halus. Sialan... aku baper, batinnya kesal pada dirinya sendiri.
Melihat wajah Jia yang memerah malu, Su Hao tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mencium bibir istrinya sekilas, lalu mengusap kepalanya dengan lembut. Jia langsung memalingkan wajah pura-pura kesal, padahal telinganya sudah merah padam sampai ke ujung.
"Breng-"
"Su Hao... Su Hao..."
Suara dari luar memanggil pelan, terdengar gelisah. Momen itu terputus seketika, dan umpatan Jia tertahan di tenggorokan.
Masuklah, Su Hao berjalan ke arah pintu. Di sana berdiri Ding Yonglin, 17 tahun, berkulit sawo matang, menatap Su Hao dengan malu-malu dan gugup.
"A... anu... Ka Su... punya madu dan telur, ya? Kakak perempuan, Yu Hua, mau melahirkan... dia sudah lama kesakitan, tapi anaknya belum keluar juga... tenaganya mulai habis," ucapnya sambil meneteskan air mata yang bercampur keringat di wajahnya.
"Tunggu, aku ambilkan," kata Su Hao, lalu berjalan ke dapur dan mengambil botol madu yang berada di atas rak kayu yang menempel di dinding. Karena sering terkena asap kompor, botol madu itu sudah menghitam.
Jia bergerak, ia memasukkan 1 telur ke dalam bungkusan daun pisang.
"Cukupkan lima, Jia, perintah Su Hao."
"Ia, tanganku kecil, jadi wajar kalau ambilnya satu dulu," kilahnya, padahal gadis itu memang cuma mau memberinya satu.
"Kenapa tidak ke rumah sakit?" tanya Jia sambil menyerahkan telur.
"Sudah terlambat, rumah sakit jauh, sedangkan bidan katanya lagi ke kota."
"Jadi siapa yang bantu melahirkan?" tanya Jia lagi. Karena kasihan, Jia menambahkan satu terong panjang ke dalam bungkusan telur.
"Chǎnpó (dukun beranak), meskipun sudah tua dan pikun, dia masih bisa membantu melahirkan, mungkin," balas Ding, yang dia sendiri tidak yakin.
"Ini, pergilah dulu, aku dan istriku akan menyusul." Su Hao memberikan madu itu dengan botol yang sudah dilapnya.
"Terima KA Su, Aselya mu alai kung-" pemuda itu berlari keluar.
"Waselyamu selan," balas Jia geli, lidahnya hampir saja keseleo.
"Bersiaplah, kita juga ke rumah keluarga Ma Zhenli."
Jia mengangguk, gadis itu membawa masuk bantalnya. Huo sendiri memadamkan api; daging sapinya yang dimasak setengah matang sudah aman, bisa bertahan sampai besok.
KEDIAMAN KELUARGA MA
"Aaaaaaarg... huhuhu!" teriak Yu Hua kesakitan. Sudah tiga hari kontraksi, tenaganya makin lemah, dan makanan yang masuk ke mulutnya hanya bubur hambar dan air putih. Suaminya, Ma Zhenli, mengusap peluh di wajah istrinya yang hampir sepucat kertas.
"Sayang, tolong bertahanlah," lelaki kurus itu terus menangis.
"Jangan manja! Semua perempuan melahirkan memang sakit. Anak pertama saja sudah merengek, kau belum memberi satu cicit dan sudah banyak keluhan," semprot nenek Ma Suhrong, yang berdiri sambil melipat kedua tangannya, menatap garang suami-istri di atas ranjang usang.
"Bu, diamlah! Istriku sekarat!" Zhenli memohon wajahnya sudah memerah.
"Dia cuma berlebihan, dan aku sudah mengalaminya. Kenapa kalian ribut? Ini membuat malu," balas nenek Ma Suhrong. Zhenli menutup telinga Yu Hua yang sudah terlalu lelah berteriak, cukup fisiknya yang terluka, jangan lagi hatinya.
"Nyonya, ambilkan bubur lagi, tambah sedikit porsinya. Iparmu sudah terlalu lemah," pinta Chǎnpó, dukun beranak yang sedang mengelus perut Yu Hua. Posisi bayi tampak melintang, tangan tuanya berusaha memperbaiki posisi bayi itu.
Ma Jian, kakak perempuan Ma Zhenli, sejak tadi hanya mengintip di samping pintu. Ia mendengus, tapi tetap menurut. Langkahnya terhenti saat suara tegas ibunya terdengar:
"Tidak perlu. Yu Hua baru makan dua jam lalu. Apa dia serius mau makan lagi? Lahirkan saja anak itu segera."
Sudah tiga hari menantunya berteriak, dan itu membuat telinga sakit.
"Beras sudah habis," kata Ma Jian sambil menatap Zhenli. "Tinggalkan saja istrimu; kita mau makan kalau kau tidak kerja?"
"Kakak tidak punya hati! Istriku hampir mati, malah kau suruh aku pergi? Keluar semuanya!" bentak Zhenli yang sudah kehilangan kendali.
"Kurang ajar! Kau berani memarahi ibumu? Mau jadi anak durhaka, dasar anak terkutuk!" umpat nenek Ma sambil keluar dan meraih pintu.
" BRAAK..."
Suara bantingan pintu itu mengejutkan Yu Hua, membuat perutnya kembali sakit.
Ma Jian menyusul ibunya, lalu mendumel keras sampai suaranya masih terdengar dari luar:
"Jangan harap aku memberi kalian makan! Aku tidak mau suamiku jadi sapi perah!"