Lantunan ayat suci dan isak haru mengiringi momen Nabila Azra Humaira menyematkan mahkota kehormatan di kepala ibunya. Hari itu, ia resmi diwisuda sebagai Hafizhah 30 Juz di Pesantren Nurul Hasanah. Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap.
Sore harinya, kabar kecelakaan tragis orang tuanya membuat Nabila panik dan tergesa-gesa mengendarai motor. Naas, nasib buruk beruntun menimpanya. Nabila mengalami kecelakaan hebat yang merenggut penglihatannya secara permanen, bersamaan dengan kabar duka bahwa kedua orang tuanya telah berpulang.
Satu bulan Nabila mengurung diri dalam duka. Di tengah sunyinya masa keputusasaan itu. Seorang pria datang membawa pengakuan yang menghentakkan jiwanya. Pria itu menyebut dirinya Hafiz Habib Zafar, dan yang paling mengejutkan pengakuannya bahwa ia adalah suami sah Nabila.
Dibalik kegelapan yang menyelimuti hidupnya, Nabila terus bertanya-tanya. Siapakah sosok Hafiz Habib Zafar sebenarnya? Mengapa seorang pria asing tiba-tiba mengaku sebagai suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INDAHNYA MALIOBORO DI MATA HATIMU
Sore harinya, sesuai dengan janji manis yang diucapkannya, Hafiz mengajak Nabila untuk bepergian. Meskipun pondok pesantren tempat Hafiz mengabdi terletak di pinggiran daerah Sleman yang masih asri dan tenang, sore itu Hafiz sengaja membawa mobilnya meluncur menuju pusat Kota Yogyakarta. Ia ingin memberikan suasana baru dan memanjakan istri tercintanya.
Tujuan pertama mereka adalah sebuah pusat perbelanjaan dan butik busana muslim terkemuka di kota. Hafiz menuntun Nabila memasuki toko yang beraroma harum dan sejuk tersebut. Dengan penuh ketelatenan, Hafiz memilihkan beberapa stel gamis anggun untuk Nabila.
"Mas... tidak perlu terlalu banyak," bisik Nabila pelan saat merasakan beberapa gantungan baju didekatkan padanya. "Billa akan pakai apa saja yang Mas pilihkan. Selera Mas pasti yang terbaik untuk Billa."
Hafiz tersenyum hangat mendengar kepatuhan istrinya. Selama ini, ia memperhatikan bahwa Nabila hampir selalu mengenakan gamis berwarna hitam atau putih polos, sisa dari kebiasaan pondok lamanya yang melekat. Kali ini, Hafiz ingin melihat istrinya memancarkan kecantikan yang lebih berwarna. Ia memilihkan gamis berbahan lembut dengan warna-warna pastel yang teduh, seperti abu-abu muda, dusty pink, dan hijau sage yang anggun.
Tak berhenti di situ, Hafiz juga memilihkan beberapa jilbab lebar yang sudah dilengkapi dengan cadar senada. Setiap warna jilbab ia padukan secara cermat dengan gamis yang dibelinya tadi. Nabila hanya bisa menurut dengan senyum malu-malu ketika Hafiz sesekali menempelkan kain tersebut ke lengannya untuk memastikannya cocok.
Puas berbelanja pakaian, hari sudah beranjak malam. Hafiz kemudian membawa Nabila ke sebuah restoran bernuansa Jawa modern yang nyaman untuk menikmati makan malam. Di sana, mereka menikmati hidangan dalam kehangatan percakapan santai, melepas seluruh beban emosional yang sempat menimpa mereka dalam beberapa hari terakhir.
Setelah menyelesaikan makan malam dan menata barang-barang belanjaan yang kini memenuhi bagasi mobil, Hafiz memutar kemudi untuk perjalanan pulang. Di sepanjang jalan raya kota Jogja yang gemerlap, Nabila duduk di samping suaminya dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan murni.
"Mas..." panggil Nabila lembut, menyandarkan kepalanya pelan di sandaran jok mobil.
"Iya, Billa?" sahut Hafiz seraya tetap fokus menatap jalanan di depannya, sesekali melirik manis ke arah sang istri.
Nabila terkekeh pelan, mengenang sesuatu dari masa lalunya. "Dulu... waktu Billa masih di Jakarta dan mata Billa belum gelap seperti ini, Billa punya satu impian kecil. Billa ingin sekali jalan-jalan menyusuri Jalan Malioboro. Katanya kalau malam hari tempat itu sangat indah, ramai dengan lampu-lampu dan seniman jalanan. Tapi ya... sekarang rasanya impian itu sudah tidak berarti lagi. Toh, kalau ke sana sekarang, Billa juga tidak bisa melihat apa-apa."
Mendengar perkataan jujur yang tersirat kepasrahan itu, dada Hafiz berdesir. Tanpa sepengetahuan Nabila, Hafiz perlahan memutar arah kemudinya di sebuah persimpangan. Ia mengambil rute memutar, sengaja mengarahkan kendaraan meluncur lurus menuju kawasan jantung Kota Jogja.
Nabila yang tidak tahu-menahu hanya menikmati guncangan halus mobil yang bergerak pelan. Beberapa puluh menit berlalu hingga akhirnya mobil Hafiz berhenti di sebuah area parkir. Hafiz mematikan mesin mobilnya.
Nabila yang mengira mereka sudah tiba di halaman pondok panggung meraba-raba pintu mobil. Namun, begitu kaca mobil diturunkan sedikit oleh Hafiz, suara riuh rendah manusia, dentangan alunan musik angklung seniman jalanan, serta aroma khas angkringan langsung menyapa pendengarannya.
Nabila mengerutkan dahinya bingung. "Mas... ini bukan di pondok, kan? Kenapa ramai sekali?"
Hafiz terkekeh halus, lalu keluar dan membukakan pintu untuk istrinya. Dengan lembut, ia meraih telapak tangan Nabila dan menuntunnya keluar dari mobil.
"Selamat datang di Malioboro, Billa," bisik Hafiz tepat di samping telinganya.
Nabila tercengang seketika. Matanya yang kabur membelalak kaget. "Mas Hafiz?! Kenapa kita ke sini? Billa kan baru saja bilang... Billa sudah tidak bisa melihat keindahan tempat ini lagi, Mas."
Hafiz menghentikan langkah mereka di tepi trotoar Malioboro yang rindang oleh deretan bangku kayu dan lampu-lampu taman yang hangat. Pria itu memegang kedua bahu Nabila, memiringkan tubuh istrinya agar menghadapnya.
"Bukankah Mas sudah berjanji semalam kalau Mas akan menjadi matamu, Billa?" ujar Hafiz dengan nada lembut namun penuh ketegasan cinta. "Kalau matamu tidak bisa melihatnya, maka biarkan mata Mas yang memandangnya untukmu, dan biarkan hati Mas yang menceritakannya padamu."
Nabila tertegun. Kata-kata itu begitu menghujam dada, membuat hatinya mendadak bergetar hebat oleh rasa haru yang tak terkira.
Hafiz kemudian merapatkan jemarinya di jemari Nabila, mengajak istrinya berjalan perlahan di atas trotoar batu Malioboro. Di sepanjang langkah kaki mereka, Hafiz tak berhenti membisikkan gambaran suasana di sekeliling mereka.
"Di sebelah kanan kita ini, Billa, ada deretan toko-toko tua bermarsipikal klasik. Di depannya ada lampu-lampu jalan berdesain kuno berkilau kuning keemasan," terang Hafiz puitis. "Lalu di sebelah kiri kita, ada jalan raya yang ramai oleh bentor dan dokar. Suara klotak-klotak sepatu kuda yang lewat itu... dengar kan?"
Nabila mengangguk cepat dengan senyum melebar. "Iya, Mas! Billa dengar!"
"Dan di depan sana..." Hafiz menunjuk ke arah sekelompok pemusik tradisional, "ada para seniman jalanan yang sedang memainkan alat musik angklung kayu. Mereka membawakan lagu-lagu Jawa yang sangat merdu. Suasananya benar-benar hidup dan hangat, Billa."
Nabila memejamkan matanya rapat-rapat, meresapi setiap deskripsi manis yang diucapkan oleh suaminya. Di dalam imajinasinya, bayangan Malioboro terukir begitu indah dan sempurna, bahkan jauh lebih indah dari apa yang pernah ia bayangkan saat matanya masih bisa melihat dulu. Kehadiran Hafiz yang menggenggam tangannya dengan erat membuat tempat yang ramai itu terasa bagaikan milik mereka berdua saja.
Saat melintasi sebuah kedai makan di pinggir jalan yang menyebarkan aroma harum bumbu rempah, Hafiz menoleh pada istrinya. "Billa... baunya harum sekali, kan? Itu aroma nasi gudeg khas Jogja. Mau Mas belikan nasi gudegnya sekarang?"
Nabila tertawa renyah, tawa paling lepas yang pernah Hafiz dengar dari bibirnya. "Mas Hafiz ini bagaimana... kan tadi di restoran Billa sudah makan sampai kenyang sekali. Mana muat lagi perut Billa, Mas."
Hafiz ikut tertawa renyah, merasa gemas dengan kepolosan istrinya. Ia merangkulkan tangannya di bahu Nabila, menarik wanita itu sedikit lebih rapat ke dalam dekapannya di tengah lalu lalang pengunjung.
"Baiklah kalau begitu," janji Hafiz seraya mengecup pelan pelipis istrinya yang tertutup jilbab. "Hari Minggu depan, Mas akan bawa Billa ke sini lagi khusus untuk wisata kuliner dan makan nasi gudeg. Sepakat?"
"Sepakat, Mas!" jawab Nabila penuh semangat dengan binar kebahagiaan yang meluap-luap dari balik cadarnya.
Setelah puas menikmati suasana malam kota yang romantis dan hangat, Hafiz akhirnya menuntun Nabila kembali ke mobil. Perjalanan pulang menuju pondok pesantren kali ini berlalu dengan keheningan yang menentramkan. Nabila tertidur lelap di sepanjang jalan dengan senyuman manis yang tak tanggal dari bibirnya, sementara Hafiz terus menggenggam sebelah tangannya, bersyukur atas takdir indah yang telah menyatukan jiwa mereka.