NovelToon NovelToon
Bos Itu Mantan Pacarku

Bos Itu Mantan Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Balas Dendam
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.

Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.

Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.

apakah yang akan terjadi kepada mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tsania 5

Airmata Tsania menetes, menyatu dengan air hujan yang mengalir di pipinya. Rasa marah, kecewa, dan penghinaan membakar sisa-sisa kelemahannya. Tsania tidak sudi terlihat menyedihkan di depan pria yang kini begitu membencinya.

Dengan napas tersengal menahan emosi, Tsania bertumpu pada kedua tangannya di atas tanah becek. Ia berdiri perlahan, membiarkan pakaian mewahnya ternoda lumpur. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia memunguti satu per satu kertas analisisnya yang sudah rusak, melipatnya, lalu menggenggamnya erat.

Tsania berjalan mendekati panggung dengan langkah tegap, meski tubuhnya menggigil hebat karena dingin. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Arsen.

"Dokumennya basah, Pak Arsen," ucap Tsania dengan suara pelan namun sangat tajam.

"Saya akan cetak ulang dan serahkan hasilnya di meja Bapak setelah kita kembali ke kantor."

Arsen menatap Tsania yang kini berdiri basah kuyup dan kotor di depannya. Tidak ada air mata kepasrahan di mata wanita itu, hanya ada keteguhan yang membakar. Untuk sepersekian detik, rahang Arsen mengeras, ada kilatan emosi yang tertahan di balik matanya, namun ia dengan cepat memalingkan wajah.

"Bagus," sahut Arsen datar, berbalik membelakangi Tsania.

"Survei selesai. Kita kembali ke Jakarta sekarang. Kamu yang menyetir lagi."

Tanpa memedulikan Tsania yang masih menggigil hebat di belakangnya, Arsen melangkah pergi menuju mobil, meninggalkan Tsania yang berdiri sendiri memeluk dokumen basah di tengah gerimis yang tak kunjung berhenti.

Perjalanan dua jam kembali ke Jakarta terasa seperti siksaan tanpa akhir. Tsania menyetir dengan pakaian yang basah dan belepotan lumpur kering yang menyerap seluruh rasa hangat dari tubuhnya. Di sampingnya, Arsen memilih hening, hanya fokus menatap layar laptopnya seolah wanita di balik kemudi itu hanyalah seorang sopir yang tak kasat mata.

Begitu SUV hitam masuk ke area parkir basemen Pratama Tower, Tsania mematikan mesin. Sebelum ia sempat mengambil tasnya, Arsen sudah keluar lebih dulu tanpa menoleh sedikit pun.

Tsania menarik napas panjang, menelan bulat-bulat rasa hina yang menyumbat tenggorokannya. Ia memungut clipboard dan dokumen basah yang koyak, lalu melangkah keluar. Begitu kakinya memijak lantai marmer lobi gedung yang megah, beberapa karyawan yang lalu-lalang langsung menghentikan langkah dan berbisik-bisik.

"Ya ampun, itu Mbak Tsania, kan? Anak baru di tim Brand?"

"Kenapa bisa kotor berlumpur begitu? Kena musibah apa?"

Tsania menunduk, berjalan cepat menuju lift khusus staf. Maya, yang baru saja keluar dari ruang HRD dengan setumpuk berkas, mendadak menghentikan langkahnya saat melihat kondisi Tsania.

"Tsania?!" Maya memekik pelan, menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia bergegas menghampiri Tsania dengan tatapan tak percaya.

"Kamu kenapa? Kenapa bajumu kotor begini? Kamu kecelakaan?"

Tsania berusaha tersenyum, meski bibirnya yang pucat tampak bergetar menahan dingin.

"Tidak apa-apa, Mbak Maya. Cuma... tadi terpeleset di lokasi survei di Bogor."

Maya menyentuh lengan kemeja Tsania yang basah kuyup. "Astaga, ini basah dan kotor sekali, Tsania! Kamu bisa masuk angin parah kalau begini terus. Pak Arsen ke mana? Kok dia membiarkanmu pulang dengan kondisi seperti ini?"

"Pak Arsen sudah naik ke ruangannya duluan, Mbak," jawab Tsania lirih.

Maya menghela napas gusar, matanya menyipit penuh simpati sekaligus kekesalan yang ditahan.

"Pak Arsen memang keterlaluan kalau soal kerjaan, tapi tidak sampai tega begini juga harusnya. Ayo, ikut aku ke ruang Istirahat."

"Tapi dokumen revisi ini harus segera saya cetak ulang..."

"Biar aku yang bantu print!" potong Maya tegas seraya menarik lembut tangan Tsania.

"Kamu ganti baju dulu. Kebetulan aku punya kemeja ganti dan cardigan tebal di loker. Kamu tidak boleh kerja dengan baju basah begini, Tsania. Bisa sakit kamu!"

Kebaikan Maya yang sederhana itu mendadak meruntuhkan pertahanan Tsania. Airmata yang sejak tadi ditahannya hampir saja meledak, namun ia berhasil mengusapnya cepat sebelum Maya menyadarinya.

"Terima kasih banyak, Mbak Maya..."

Setengah jam kemudian, Tsania sudah mengeringkan rambutnya dan mengenakan kemeja biru muda milik Maya yang agak longgar serta cardigan rajut hangat. Walau badannya mulai terasa demam dan agak berat, ia tetap memaksakan diri mencetak ulang seluruh laporan strategi yang rusak.

Dengan tumpukan dokumen baru di tangannya, Tsania berjalan menuju ruang kerja CEO di lantai teratas. Ia mengetuk pintu dua kali.

"Masuk," suara berat Arsen bergema dari dalam.

Tsania mendorong pintu dan melangkah masuk. Arsen sedang berdiri di tepi jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung Jakarta yang tersapu hujan. Pria itu sudah memegang cangkir kopinya.

Saat mendengar langkah kaki, Arsen berbalik. Matanya sempat terpaku pada penampilan Tsania yang sudah berganti pakaian. Ada kilatan aneh di matanya ketika melihat Tsania mengenakan baju yang jelas-jelas bukan miliknya, namun raut dingin itu kembali terpasang dengan cepat.

"Ini dokumen revisi strategi pemasaran untuk peluncuran di Bogor yang sudah dicetak ulang, Pak Arsen," ujar Tsania formal, meletakkan berkas itu tepat di tengah meja Arsen.

Arsen melangkah mendekat, namun bukannya memeriksa berkas tersebut, ia justru bersedekap dan menatap Tsania intens.

"Baju siapa yang kamu pakai?" tanya Arsen datar, mengabaikan dokumen di depannya.

Tsania tersentak pelan. "Maaf?"

"Saya bertanya, baju siapa yang kamu pakai itu?" ulang Arsen, suaranya makin menekan dan dingin.

"Punya Mbak Maya," jawab Tsania jujur, berusaha menjaga nada suaranya tetap profesional walau kepalanya mulai terasa agak berat dan tenggorokannya kering.

Arsen tertawa sinis, melangkah satu titik lebih dekat hingga bayangannya menutupi Tsania.

"Hebat sekali. Belum ada dua hari kamu bekerja di sini, kamu sudah berhasil membuat orang-orang di kantor ini mengasihani kamu?"

Tsania menatap Arsen, menahan rasa sesak yang menghantam dadanya. "Maksud Bapak apa?"

"Berjalan di lobi dengan pakaian kotor berlumpur seperti tadi..." desis Arsen dengan tatapan penuh cemoohan.

"Kamu sengaja, kan? Supaya semua orang mengira saya adalah atasan jahat yang menyiksa bawahannya?"

Tsania tidak berteriak. Ia menggigit bagian dalam pipinya, menelan bulat-bulat rasa hina dan amarah yang bergejolak. Ia menatap lurus tepat ke dalam manik mata hitam pria itu dengan tatapan tegar, meski matanya menahan kaca-kaca bening yang hampir tumpah.

"Saya tidak pernah meminta dikasihani oleh siapa pun, Pak Arsen," sahut Tsania, suaranya pelan, datar, namun sarat akan keteguhan.

"Saya di sini hanya untuk bekerja. Jika kehadiran saya dan pakaian ini mengganggu pandangan Bapak, saya bisa memindahkan meja kerja saya ke lantai delapan bersama tim lainnya."

Arsen menyipitkan mata, rahangnya mengeras melihat betapa tenangnya Tsania menghadapi tuduhannya. Tidak ada teriakan, tidak ada tangisan kepasrahan. Hanya ada tatapan tegar yang melukiskan jarak membentang di antara mereka.

"Kamu tetap bekerja di ruangan ini," balas Arsen dingin, berbalik membelakangi Tsania dan kembali duduk di kursi eksekutifnya.

"Tumpukan berkas itu letakkan saja di meja. Dan pastikan esok hari kamu datang tepat waktu pukul delapan pagi. Saya tidak menerima alasan terlambat, lelah, atau alasan apa pun."

Arsen langsung meraih pulpennya, kembali sibuk dengan dokumen-dokumen lain di mejanya, seolah Tsania hanyalah sosok asing yang tak berarti.

"Baik, Pak Arsen. Kalau begitu saya permisi kembali ke meja saya," ucap Tsania formal.

Tsania merapikan sisa-sisa posisinya, memutar badan, dan melangkah tegar menuju meja kecilnya di sudut ruangan. Walau tubuhnya menggigil menahan dingin dan kepalanya terasa berdenyut nyeri, Tsania duduk tegak di kursinya, membuka laptop, dan kembali bekerja tanpa mengeluh sepatah kata pun.

Di balik meja besarnya, Arsen sempat melirik tipis ke arah wanita itu dari balik tumpukan berkasnya, menatap sosok tegar yang kini sepenuhnya menutup diri di bawah bayang-bayang dendam yang ia ciptakan sendiri.

1
Jumi Saddah
semoga lancar deh,,tidak ada yg menggagalkan,,biar semua kembali ke tempat nya sebagai mesti nya💪💪💪arsen semangat
kymlove...
sabar nya tinggal 2 hari lagi, kalau sehari up 2 x berarti kurang 4+1 part lagi untuk menjelang malam Sabtu, kalau sehari up sekali berarti nunggu kurang 2-3 part lagi menjelang Sabtu malam... jadi harus bisa sesabar itu nunggunya aku🥲🤣
Oma Gavin
menunggu sabtu lama banget 🥺
nely_48
cinta mu begitu besar n tulus pd arsen ya tsania ☹️
nely_48
sama² terluka n hancur,,,
nely_48
semoga tsania mendengarkan curhatan mu ya arsen
nely_48
tenang tsania karna itu ada
nely_48
udh ga sabar nunggu detik² bpak nya arsen n aurelia live
nely_48
tsania km tenang, jgn histeris gtu,
nely_48
langkah yg tepat arsen,, liatt dr jauh az gpp, pastikan bpak dajjal mu itu hancur kehilangan semua harta n nama yg sll dia agung²kan
nely_48
gila bpak nya arsen jahat nya udh level dajjal
Eva Karmita
Tsania please jgn berpikir yg tidak" cukup kamu diam tenang jgn sampai membuat kesalahan dan itu bisa membuat Arsen dlm bahaya...ini demi keselamatan kamu dan Arsen 🥺
Eva Karmita
syukurlah Nia sudah mendengar semua pengakuan Arsen 🥺
Eva Karmita
bukan Arsen tidak mau mendengarkan penjelasan mu tapi kamu Nia yg ngak pernah mau menjelaskan dengan Arsen 🥺 ... kalian berdua sama"terluka dan korban ke jahat si Bisma dan keluarga Aurel, semoga kesalah pahaman ini cepat terbongkar
kymlove...
lalu kamu mau apa tsania?? pergi lagi dan berharap arsen akan tenang hidup nya?? atau mau menghalangi niat arsen untuk membongkar kejahatan bapaknya!!! trs apa lagi yang mau kamu mau?? sudah tau kalian sama2 korban kekejaman bapak nya arsen, harus nya kamu kalau bisa dukung tindakan arsen, jangan malah menghalangi dengan alasan takut arsen di hancur kan lagi, INGAT SEBELUM INI KALIAN JUGA UDAH HANCUR!! JANGAN SELALU JADI LEMAH ATAS NAMA CINTA!! CUKUP SUDAH PENDERITAAN MU INI!!
kymlove...
sabtu malam nanti segera lah tiba!! tapi ini. masih senin sore jadi kira2 kurang berapa. part lagi untuk mencapai. sabtu itu🥲 gak sabar banget. lihat para orang jahat itu hancur...
kymlove...: kayaknya kita harus sabar dulu nunggu sabtu nya kk.. soalnya sekarang masih malam selasa🤣😀
total 2 replies
Oma Gavin
kenapa menuju sabtu saja lama banget
Sri Suryati
kan Arsen nanya stania . kenapa kamu meninggalkan aku
kymlove...
kalian semua sama-sama jadi korban tapi menurut ku tsania lebih menyakitkan sampai kehilangan orang tuanya dan masih harus menerima kebencian yang mendarah daging dari keluarga arsen, jadi kalau dengan arsen menghancurkan keluarga nya dan langsung tsania maafin gitu aja, kayaknya gak terlalu adil banget buat tsania yang tersiksa terlalu lama...
gina altira
Puas kamu Arsen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!