Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Kapak Karat dan Kayu Besi
Langit masih gelap gulita ketika lonceng pagi Sekte Daun Angin berdentang tiga kali. Kabut dingin menyelimuti puncak gunung, menusuk tulang siapa saja yang berani keluar dari selimut hangat mereka.
Di sebuah gubuk reot yang terletak di sudut paling luar sekte, Awan sudah membuka matanya. Tidak ada ranjang empuk, hanya ranjang kayu berlapis jerami tipis. Seluruh otot di tubuhnya menjerit, memprotes siksaan menaiki Tangga Seribu Beban kemarin. Telapak kakinya masih dibalut kain perban yang merembeskan warna merah.
Namun, Awan tidak meringis. Ia bangkit, mengenakan seragam abu-abu kasar berlambang daun gugur—pakaian resmi Murid Pelayan—dan melangkah keluar menuju Dapur Selatan.
Dapur Selatan adalah pusat logistik yang memberi makan ribuan Murid Luar dan Pelayan setiap harinya. Area pelatarannya seluas lapangan bola, dipenuhi tungku-tungku raksasa dari tembaga dan tumpukan kayu yang menjulang setinggi bukit kecil.
"Kau bocah fana yang dikirim Penatua Kuang?" sebuah suara serak dan berat menyapa Awan.
Seorang pria gemuk dengan celemek bernoda minyak sedang duduk di kursi goyang sambil menggigit tusuk gigi. Ia adalah Mandor Zhu, pengawas Dapur Selatan. Mata kecilnya memindai Awan dari atas ke bawah, mendengus meremehkan saat tidak merasakan fluktuasi Qi sama sekali dari tubuh pemuda itu.
"Hormat saya, Mandor Zhu. Murid Awan melapor untuk tugas harian," Awan menangkupkan tangan, bersikap sopan namun tidak merendah.
Mandor Zhu tertawa sumbang, perut buncitnya berguncang. "Jangan panggil dirimu murid di depanku, Fana. Di sini kau tak lebih dari buruh kasar. Penatua Kuang bilang kau harus membelah sepuluh ribu batang kayu setiap hari. Jika gagal, jatah makanmu kucabut."
Mandor Zhu menendang sebuah kapak ke arah Awan. Kapak itu berat, gagangnya kasar, dan mata besinya sudah berkarat serta tumpul di beberapa bagian.
"Tugasmu hari ini membelah tumpukan di ujung sana," Zhu menunjuk ke arah bukit kayu yang berwarna lebih gelap dari kayu biasa. "Itu adalah Kayu Besi Hitam. Hanya bisa dibelah dengan mudah oleh kultivator Pengumpul Qi tahap kedua yang mengalirkan energi ke senjata mereka. Untuk manusia biasa sepertimu... heh, kita lihat apakah kapak itu yang patah, atau tulang punggungmu."
Awan memungut kapak tersebut. Beratnya sekitar sepuluh kilogram. Jauh lebih berat dari pedang besi tumpul miliknya di rumah. Ia berjalan menuju tumpukan Kayu Besi Hitam, mengambil satu gelondong, dan mendirikannya di atas tunggul pemotongan.
Kayu itu sangat padat. Saat Awan mengetuknya dengan jari, bunyinya menyerupai benturan batu.
Mandor Zhu kembali memejamkan mata di kursi goyangnya, bersiap tidur kembali. Ia yakin dalam satu jam, bocah kurus itu akan menangis dan memohon ampun dengan tangan berdarah.
Awan berdiri di depan tunggul kayu. Ia memejamkan mata sejenak, mengabaikan udara dingin yang menusuk.
Kapak bukanlah pedang. Titik beratnya berbeda, ayunannya menuntut tenaga yang lebih besar, dan presisinya lebih sulit dikendalikan. Namun, di dalam Seni Pedang Dasar Angin Jatuh, inti dari gerakan Menebas adalah mentransfer tenaga dari bumi, naik ke pinggul, berputar melalui bahu, dan dilepaskan di ujung mata pisau.
Awan membuka matanya. Tatapannya menajam.
Ia mengatur jarak kakinya selebar bahu. Otot-otot di betisnya mengunci tanah, menahan rasa perih dari luka kemarin. Menarik napas dalam-dalam, ia mengangkat kapak berkarat itu tinggi-tinggi. Bukannya menebas secara membabi buta mengandalkan tenaga lengan, Awan membiarkan gravitasi dan putaran pinggulnya yang bekerja.
Whush!
TRAKK!
Kapak berkarat itu menghantam bagian tengah Kayu Besi Hitam. Suara benturannya bergema keras. Gelondongan kayu itu terbelah dua secara simetris, terlempar ke sisi tunggul. Getaran dari benturan itu menjalar ke lengan Awan, membuat telapak tangannya terasa panas.
"Satu," gumam Awan.
Ia mengambil gelondongan kedua. Mengatur napas, mengayun, menebas.
TRAKK!
"Dua."
Di kejauhan, Mandor Zhu membuka sebelah matanya karena terganggu oleh suara hantaman yang sangat konstan. Ia mengernyitkan dahi. Suara belahan kayu itu tidak terdengar seperti orang fana yang memaksakan diri. Suaranya rapi, bertenaga, dan... berirama.
Satu jam berlalu.
Dua jam.
Matahari mulai merangkak naik, menyinari pelataran Dapur Selatan.
Keringat mulai mengucur deras dari dahi Awan, membasahi seragam abu-abunya. Luka kapalan di tangannya yang belum sepenuhnya sembuh kembali terbuka akibat gesekan dengan gagang kapak yang kasar. Darah segar merembes, membuat gagang kayu itu menjadi licin.
Bagi orang biasa, membelah seratus Kayu Besi Hitam sudah cukup untuk membuat mereka pingsan kelelahan. Tapi Awan tidak berhenti. Ia telah masuk ke dalam zona meditasinya sendiri.
Setiap kali kapaknya membelah kayu, ia membayangkan dirinya sedang menyempurnakan tebasan pedangnya. Ia mencari kelemahan pada serat kayu sebelum kapak itu turun, meminimalisir tenaga yang terbuang sia-sia. Awan tidak menggunakan ototnya untuk melawan kayu, ia menggunakan kejatuhan kapak untuk membelah seratnya.
"Seribu lima ratus," gumam Awan dengan napas terengah, pandangannya tidak pernah lepas dari tunggul kayu di depannya.
Waktu terus bergulir. Murid-murid pelayan lain mulai berdatangan untuk bekerja. Banyak dari mereka yang menyempatkan diri melirik Awan sambil berbisik-bisik, namun tak satupun dari mereka yang berani mendekat karena aura tekad yang dipancarkan oleh pemuda itu terasa begitu mengintimidasi.
Menjelang sore hari, tumpukan Kayu Besi Hitam yang menyerupai bukit kecil itu mulai rata dengan tanah.
Mandor Zhu tidak tidur sejak siang. Pria gemuk itu duduk tegak di kursinya, matanya melebar, dan rahangnya nyaris jatuh ke tanah. Ia menatap Awan seolah sedang melihat hantu di siang bolong.
Pemuda itu tidak memancarkan Qi Spiritual sedikit pun! Namun, ayunan kapaknya dari pagi hingga senja sama sekali tidak melambat. Bahu yang naik-turun, sudut siku yang bengkok, hingga ayunan yang merobek udara—semuanya identik pada setiap belahan, seakan Awan adalah sebuah mesin tanpa rasa lelah.
TRAKK!
Kayu terakhir terbelah menjadi dua dan jatuh menggelinding menyentuh kaki Mandor Zhu.
Kapak berkarat di tangan Awan akhirnya retak di bagian pangkalnya dan hancur berkeping-keping. Awan menjatuhkan gagang yang tersisa, napasnya menderu hebat bagai hembusan angin ribut. Wajahnya pucat pasi karena kelelahan, dan kedua telapak tangannya dilumuri darah yang sudah mengering.
Ia menatap tumpukan kayu yang kini terbelah sempurna, lalu menoleh ke arah Mandor Zhu.
"Sepuluh ribu," kata Awan, suaranya serak karena dehidrasi. Ia mengusap keringat di matanya dengan punggung tangan yang gemetar. "Tugasku hari ini selesai. Di mana jatah makanku, Mandor?"
Mandor Zhu menelan ludah kasar. Ia terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya berdiri dengan kaku. Kesombongannya di pagi hari entah menguap ke mana. Ia menyadari satu hal: pemuda di depannya ini mungkin tidak memiliki bakat kultivasi, tetapi tekad dan kekejamannya terhadap dirinya sendiri adalah sesuatu yang tidak dimiliki oleh para jenius di sekte dalam sekalipun.
Tanpa banyak bicara, Zhu berjalan ke arah dapur dan keluar membawa sebuah mangkuk kayu besar. Di dalamnya terdapat nasi yang memancarkan aroma harum tak tertandingi, beserta sayuran dan daging tumis yang masih mengepul panas.
Itu bukan makanan pelayan biasa. Itu adalah Nasi Roh kelas rendah yang biasanya menjadi jatah Murid Luar.
"Makanlah," ucap Mandor Zhu sambil menyerahkan mangkuk itu dengan wajah dipalingkan. "Kau pantas mendapatkannya. Besok... ambil kapak baru di gudang."
Awan menerima mangkuk itu. "Terima kasih, Mandor."
Malam itu, di dalam gubuk reotnya, Awan memakan Nasi Roh tersebut dengan rakus. Begitu makanan itu masuk ke perutnya, ia bisa merasakan aliran kehangatan yang sangat tipis menyebar ke seluruh organnya. Itu adalah esensi dari Qi Spiritual yang terkandung di dalam beras gandum ajaib tersebut.
Biasanya, seorang kultivator akan bermeditasi untuk mengarahkan kehangatan ini masuk ke Dantian melalui meridian. Namun, bagi Awan yang meridiannya tersumbat rapat, kehangatan itu mulai menguap, mencoba keluar dari pori-pori kulitnya karena tidak ada jalan masuk.
"Jangan harap kau bisa pergi," geram Awan dalam hati.
Ia langsung bangkit berdiri, menahan rasa sakit luar biasa di seluruh tubuhnya, dan memasang kuda-kuda pedang. Ia tidak membiarkan Qi itu menguap sia-sia. Dengan melakukan gerakan peregangan dan kuda-kuda dari Seni Pedang Dasar Angin Jatuh, ia memaksa otot dan tulang fananya menyerap sisa-sisa kehangatan itu seperti spons kering.