NovelToon NovelToon
Bukan Cinderella Sekolah: Deal Sinting Sang Pangeran Sekolah

Bukan Cinderella Sekolah: Deal Sinting Sang Pangeran Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Si Mujur / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cinta Murni
Popularitas:113
Nilai: 5
Nama Author: Dagelan

Kayyisa nggak pernah mimpi jadi Cinderella.
Dia cuma siswi biasa yang kerja sambilan, berjuang buat bayar SPP, dan hidup di sekolah penuh anak sultan.

Sampai Cakra Adinata Putra — pangeran sekolah paling populer — tiba-tiba datang dengan tawaran absurd:
“Jadi pacar pura-pura gue. Sebulan aja. Gue bayar.”

Awalnya cuma kesepakatan sinting. Tapi makin lama, batas antara pura-pura dan perasaan nyata mulai kabur.

Dan di balik senyum sempurna Darel, Reva pelan-pelan menemukan luka yang bahkan cinta pun sulit menyembuhkan.
Karena ini bukan dongeng tentang sepatu kaca.

Ini kisah tentang dua dunia yang bertabrakan… dan satu hati yang diam-diam jatuh di tempat yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dagelan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Operasi Rahasia Dua Orang Gagal Sandiwara

Langit udah berubah warna jadi ungu keemasan pas kami ninggalin lapangan sekolah. Angin sore nyapu rambutku, bikin debu-debu nakal nempel di seragam. Cakra nuntun motornya pelan-pelan, sementara Aku jalan di sampingnya, masih ngos-ngosan abis latihan akting yang malah jadi sesi bola dadakan.

"Gue nggak nyangka lo bisa main bola." katanya, sambil nyengir. Senyumnya itu, lho, bikin gue pengen nyubit pipinya. Eh, apaan sih pikiran ini? WARAS!!

"Gue juga nggak nyangka lo bisa kalah." sahutku cepat, berusaha nutupin rasa kagum.

"Itu bukan kalah, itu strategi ngalahin ego cewek biar nggak nangis." belanya, sambil melirikku lewat sudut mata.

Aku mendelik. "Wow, psikolog gagal detected," sindirku, tapi dalem hati ketawa.

Cakra ketawa, terus masangin helm ke kepalaku tanpa nanya dulu. Gerakannya cepet dan terlalu natural, kayak udah biasa aja. Tangannya nyentuh pipiku sebentar, dan bodohnya, aku malah membeku sepersekian detik. Jantungku langsung maraton, kayak lagi dikejar setan. Maklum pengalaman pertama berinteraksi sedekat ini bersama lawan jenis itu, sesuatu yang tidak normal dihidupku.

"Udah, naik. Sebelum lo nyesel latihan sama gue." ajaknya, sambil naikin alis.

"Gue udah nyesel dari paragraf pertama kontrak, Cak.” balasku, ketus walaupun sebenarnya pasrah.

"Telat." katanya, sambil nyalain mesin motor.

Aku naik ke jok belakang dengan hati-hati. Tapi kali ini jarak dudukku—yang biasanya sejauh mungkin—malah nggak bisa terlalu jauh. Motornya kecil, dan Cakra sengaja naro tas di bagian depan, bikin aku nggak punya ruang buat kabur. Sial, dia emang sengaja.

"Pegangan." katanya, tanpa nengok ke belakang.

"Gue bisa jaga keseimbangan," tolakku, jelas bukan gengsi lebih ke menjaga diri.

"Kayyisa, jalanan bolong. Lo mau jatuh dan bikin berita 'Cewek Jatuh dari Motor Cakra Adinata'? Viral, nanti." godanya, sambil ketawa.

"Bodo amat.” Aku mendengus. "Lo pengen punya pacar pura-pura apa trending topic, sih?" tanyaku, kesal.

"Dua-duanya nggak apa." jawabnya, enteng.

Aku akhirnya nyerah, megang sisi jaketnya. Tapi motor baru jalan dua meter, aku langsung ngerasa aneh—entah kenapa hawa di sekitar jadi terlalu tenang, dan bunyi mesin motor jadi kedengeran lebih keras dari biasanya. Gue ngerasa kayak lagi di film romantis murahan.

Cakra bener-bener nyetir pelan, seolah sengaja biar perjalanannya lebih lama. Apa dia ngerasain perasaan anehnya kayak aku?

"Cakra." panggilku setelah beberapa menit, mecahin keheningan.

"Hm?" sahutnya, singkat.

"Lo sadar nggak sih, lo tuh terlalu... sempurna buat pura-pura?" tanyaku, jujur.

"Too handsome to be fake?" godanya, sambil ketawa.

"Too clean to be human, jangan terlalu pede." sahutku spontan, bikin dia ketawa. "Kayak... hidup lo nggak pernah kotor. Lo bahkan kayaknya nggak bisa ngupil atau ngomong jorok." jelasku, sambil ngebayangin dia ngupil. Pasti lucu banget.

Dia ketawa keras sampe motornya sedikit goyah. "Ngupil? Serius masih dengan saran itu?" tanyanya, nggak percaya.

"Apa? Itu aktivitas manusia normal, tahu." balasku, sambil nyengir meyakinkan.

"Gue manusia, Sa. Gue juga bisa ngupil." belanya, sambil masang tatapan serius di kaca spion.

"Bohong. Lo aja gunting kuku pasti dibantuin, kan?" tebakku, sambil ketawa.

Cakra nahan tawa. "Ya nggak lah," elaknya, tapi aku bisa liat dia bohong.

"Ngaku aja. Lo tuh kayak orang yang kalau ngomong 'pengen pipis' aja kayaknya nggak pantes." godaku, makin menjadi-jadi.

Dia pura-pura serius. "Jadi, lo mau ngajarin gue ngomong jorok?" tanyanya, sambil naikin alis.

Aku mengangkat dagu. "Yap. Pelajaran pertama: kalau perut mules, lo bilang aja 'aduh pengen berak'. Gampang, kan?" jelasku, sambil ketawa.

Cakra hampir nabrak tiang listrik karena ngakak. Sial, aku memang sepertinya jago bikin dia ketawa.

"Kayyisa... sumpah, lo tuh nggak normal." komentarnya, masih ketawa.

"Justru karena itu gue cocok jadi pelatih lo. Lo terlalu bersih buat jadi manusia biasa." balasku, sambil nyengir.

"Dan lo terlalu kacau buat jadi guru etika." timpalnya, bikin gue kesel.

Kami ketawa hampir sepanjang jalan. Orang-orang di trotoar mungkin ngeliat kami kayak dua anak bodoh yang terlalu bahagia di atas motor butut, tapi entah kenapa... Aku nggak peduli. Untuk pertama kalinya, dunia di luar gosip, kontrak, dan citra sekolah terasa kecil dan gampang.

Cakra ngelambatin laju motor pas kami ngelewatin taman kota. Lampu jalan mulai nyala, dan beberapa anak kecil masih main kejar-kejaran di bawah pohon. Suasananya jadi romantis, bikin gue salah tingkah.

Dia tiba-tiba ngomong, nadanya pelan. "Gue kadang pengen hidup kayak gini aja." katanya, bikin aku kaget.

"Naik motor butut sama gue?" godaku, berusaha nutupin rasa penasaran.

Dia tersenyum tipis. "Iya, yang nggak harus mikirin siapa yang ngeliat, siapa yang ngomongin. Lo tahu nggak, Sa, hidup gue tuh penuh 'aturan tak tertulis'. Nggak boleh salah, nggak boleh berisik, nggak boleh terlihat capek," jelasnya, bikin Aku kasihan.

Aku diem sejenak. Dari pantulan kaca spion, Aku bisa liat wajahnya—biasanya santai dan licin kayak karakter utama drama, tapi sore itu ada sesuatu di baliknya: lelah. Aku baru sadar, Cakra juga manusia biasa. Dia juga punya masalah, punya beban.

Jujur aja, itu pertama kalinya Aku pengen bilang sesuatu yang bukan sarkas. Tapi tentu aja, refleksku selalu milih bercanda. Aku nggak mau keliatan lemah di depannya.

"Yaudah, kalau lo pengen kayak orang biasa, mulai dari yang simpel," kataku, berusaha tetep cool.

"Kayak?" tanyanya, penasaran.

"Kayak ngeluh kalau capek. Bilang 'aduh, pengen rebahan'. Atau kalau males sekolah, ngomong aja 'gue pengen kabur ke planet Mars'."

"Gue nggak punya roket," jawabnya, bikin aku ketawa kecil

"Pakai ojek online," timpalku, makin menjadi-jadi.

Dia ketawa pelan. "Lo tuh absurd tapi menenangkan, Yisa." komentarnya, bikin jantung gue berdebar.

Aku menatap lampu jalan yang berlarian di udara malam. "Lo terlalu waras buat ngerti absurdnya hidup." balasku, jujur.

Hening beberapa detik. Angin malam nyusup lewat sela helm, ngebawa aroma bensin dan udara lembap. akungerasa kayak lagi di adegan film romantis yang klise banget.

Aku kira dia nggak bakal jawab, sampe suaranya kedengeran pelan banget: "Mungkin itu sebabnya gue butuh lo." katanya, bikin aku sedikit kaget.

Aku langsung menegakkan punggung, jantungku langsung loncat-loncat nggak jelas. "Apa?" tanyaku, pura-pura nggak denger.

"Buat proyek pura-pura kita, maksud gue," ralatnya, sambil ketawa kecil.

"Oh." Aku berdeham, pura-pura nggak terusik. "Iya, proyek. Latihan. Kontrak," ujarku, ngingetin diri sendiri.

"Ya, kontrak," ulangnya sambil nyengir kecil. Tapi dari nada suaranya, ada sesuatu yang menggantung—kayak kalimat yang belum selesai. Apa yang mau dia omongin sebenernya?

Kami berhenti di depan gang rumahku. Lampu neon dari warung depan rumah nyinarin sisi wajahnya, bikin matanya keliatan lebih lembut dari biasanya. Sial, dia emang ganteng banget.

Aku turun dari motor, ngebuka helm. "Thanks," kataku pendek, berusaha nutupin rasa gugup.

"Sama-sama, partner pura-pura," balasnya, sambil nyengir.

"Lo beneran mau lanjut latihan kayak gini tiap hari?" tanyaku, penasaran.

"Kalau lo nggak kabur, iya." jawabnya, sambil naikin alis.

Aku nyengir. "Terus bayarannya gimana?" godaku, berusaha mencairkan suasana.

Dia bersandar di motor, matanya lurus menatap ku penuh rasa ingin tahu. "Lo mau minta apa?" tanyanya, bikin aku mikir banyak hal.

Aku pura-pura mikir keras. "Hmm... tiket liburan, uang jajan sebulan, atau lotre—"

"Sangat realistis." potongnya, sambil ketawa.

"Ya gimana banyak yang gue mau," selorohku, sambil nyengir. "Gimana kalau soal itu gue pikirin nanti aja. Terlalu banyak bikin bingung."

"Terserah, jangan malu buat bilang." jawabnya cepet, aku nggak kaget dengan respon santainya. "Karena Lo belum minta apa-apa gue kirim hadiah nanti."

"Terus untungnya buat lo apa Cak?"

"Waktu lo mungkin?"

Aku mengatupkan bibir rapat, pura-pura tidak mendengar omongannya. Waktuku dia beli, semudah itu? Sepenting itu? "Udah, pulang sana sebelum tetangga gue bikin gosip 'Anak sma mampir tiap malam'." usirku, berusaha ngalihin perhatian.

"Kalau gosipnya udah terlanjur?" katanya, sambil ketawa.

"Gue tuntut lo ganti rugi moral." ancamku, sambil bercanda.

Cakra natap aku sebentar, lalu tersenyum seperti biasa—senyum yang anehnya terasa terlalu hangat untuk ukuran pura-pura. Senyum itu bikin jantung aku berdebar lebih kencang dari biasanya.

Dia nyalain motor, tapi sebelum pergi, sempet nambahin, "Latihan hari ini bagus. Lo udah keliatan kayak orang yang suka sama gue."

Aku menyilangkan tangan di dada. "Lo terlalu pede, Cak." bantahku, berusaha nutupin rasa gugup.

Dia nyengir, mengedipkan mata. "Tapi lo gak bantah, kan?" tanyanya dengan nada sedikit menggoda? satu alisnya naik tadi ...

Dan begitu motor itu melaju pergi, Aku cuma bisa natap punggungnya yang ngejauh di antara deru malam. Jantungku masih bertepuk tangan sendiri, nggak karuan. Bodoh banget, tapi Aku nggak bisa ngendaliin diri sendiri. Gawat! Aku harus mengembalikan inti Cakra secepatnya pulang!

✨Bersambung ...

1
Yohana
Gila seru abis!
∠?oq╄uetry┆
Gak sabar nih nunggu kelanjutannya, semangat thor!
Biasaaja_kata: Makasih banyak ya! 😍 Senang banget masih ada yang nungguin kelanjutannya. Lagi aku garap nih, semoga gak kalah seru dari sebelumnya 💪✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!