Alfarizqi, putra Kyai pemilik Pesantren Bustanul Huffazh, kembali ke Indonesia setelah menamatkan studi di Madinah. Ia membawa serta janji suci yang terlanjur ia berikan pada wanita asal Maroko yaitu Sarah, seorang perempuan yatim piatu korban pemerkosaan yang kini tengah mengandung. Meskipun tidak ada cinta di hatinya, Alfa merasa bertanggung jawab penuh untuk menikahi dan melindungi Sarah, sebagai wujud pengorbanan dan rasa kemanusiaannya. Namun, janji itu terbentur takdir ketika ayahnya menjodohkannya dengan Rayya, demi keberlangsungan pesantren. Rayya, seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Belanda, memiliki mimpi dan masa depan yang telah ia rencanakan bersama Adam, teman sekaligus cinta pertamanya semasa SMA. Mereka berjanji akan menikah setelah Rayya kembali ke Tanah Air. Hidup Rayya yang bebas dan penuh ambisi seketika hancur saat ayahnya memaksanya pulang untuk sebuah perjodohan. Ada lagi Rumanah, santri pintar berprestasi yang sejak dulu sudah diam-diam menaruh hati pada Alfarizqy. Di bawah langit yang sama, dua insan yang tidak saling mengenal, dengan janji dan cinta yang berbeda, kini terpaksa berada di persimpangan takdir. Alfa terhimpit antara janji yang harus ia tepati dan kewajiban keluarga yang tak bisa ia tolak. Sementara Rayya, harus memilih antara cintanya pada Adam atau menuruti permintaan orang tua. "Ada Cinta di Langit Madinah" adalah kisah tentang perjuangan, pengorbanan, dan pencarian makna cinta sejati. Akankah Alfa dan Rayya menemukan cinta di antara ikatan yang tak mereka inginkan, atau akankah mereka tetap berpegang teguh pada janji yang telah terucap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alana alisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Badai di Hati Rayya
Di balik tembok yang dingin, dunia Rayya seolah runtuh. Kalimat yang ia dengar tidak utuh, namun cukup untuk membakar perasaannya.
"Memperistri lebih dari satu". Kata-kata Abah Ishak, meskipun terdengar samar, menusuk hatinya bagai belati.
Di atas kasur asrama, air mata membasahi pipinya. Rayya berusaha keras menahan isaknya, tetapi rasa sakit itu terlalu dalam. Ia bahkan belum menikah, tapi pembahasan poligami sudah semudah itu terencana!
Di ruang tamu, suasana tegang menyelimuti. Sarah masih mencerna ucapan Abah Ishak. Jantungnya berdebar kencang, ada secercah harapan yang muncul, namun juga rasa bersalah yang tak terhindarkan. Ia melirik Alfarizqi, yang tampak sama terkejutnya.
Ummi Maryam, yang masih terkejut dengan ucapan suaminya, menatap Abah Ishak dengan tatapan tak percaya. Ning Kamila, sebaliknya, tampak sangat senang. Ia tersenyum, mengacungkan jempolnya diam-diam ke arah Sarah.
”Ning, tolong antarkan Nona Sarah ke kamar yang sudah disiapkan!”
“Baik Ummi!” Ning Kamila menuntun Sarah dengan lemah lembut. Gadis yang fasih berbahasa Arab itu tampak tidak kesulitan berkomunikasi.
“Abah... apa maksud Abah?” tanya Ummi Maryam, suaranya terdengar tercekat.
“Ummi sayang, bukankah kau sendiri yang bilang bahwa Rayya adalah gadis baik? Sarah juga gadis baik?”
“Kita bisa mendidik mereka berdua,” Lanjut Abah Ishak, suaranya tenang dan tegas.
“Lagipula, kita punya Ma’had Bustanul Huffazh. Kita punya hotel, kita punya tanah berhektar-hektar dan masih banyak lagi. Aku butuh penerus yang mumpuni. Alfarizqi adalah harapan kita, selain Rayya dengan semua kesempurnaan nya, Sarah, dia ada juga adalah wanita timur tengah yang berbudi luhur. Perpaduan yang sangat tepat untuk masa depan Alfarizqi, masa depan dakwah!”
“Tapi, Abah, bagaimana dengan perasaan Rayya?” tanya Ummi Maryam tak percaya.
“Rayya, putri Kiai Rahman adalah wanita shaliha yang mengerti hukum agama! Islam mengizinkan Laki-laki memperistri lebih dari satu wanita, lalu apa salahnya? Kalau masalah adil, Abah tidak pernah meragukan kepemimpinan Alfarizqi! Putra kita dari kecil sudah di Ma’had, lalu ke Mesir, juga tidak tanggung-tanggung kita sekolahkan ke Madinah!” Suara Kiai Ishak meningkat satu oktaf.
“Tapi bagaimana dengan Kiai Rahman, Bah? Bagaimana dengan Nyai Aminah? Ummi kok merasa hal ini tidak adil!”
“Itu hanya perasaan Ummi saja, masalah Kiai Rahman, itu kita pikirkan nanti, toh yang lebih dulu menikah adalah Nak Alfa dan Putri Kiai Rahman, masalah nona Sarah, nanti kita pikirkan lagi!”
Ummi Maryam tak bisa berkata-kata. Ia tahu, jika Abah Ishak sudah mengambil keputusan, tak ada yang bisa membantahnya.
“Alfarizqi, bagaimana pendapat mu nak?”
“Sejak awal Alfa hanya ingin menikahi Sarah. Alfa sudah berjanji padanya, lebih baik batalkan saja pernikahan dengan Rayya! Alfa tidak ingin lebih menyakiti, Bah!”
“Tidak bisa nak! Kau wajib menikahi putri Kiai Rahman!”
“Tapi kenapa, Bah?”
“Ada hal yang tidak kau mengerti! Nanti setelah kalian menikah dan punya anak, kau akan mengerti mengapa kau harus menikahinya!” Tutup Abah Ishak. Alfarizqi hanya bisa menghela napas berat.
Rayya terbangun dari tidurnya. Ia bermimpi buruk. Sangat buruk. Jantungnya berdetak kencang. Tadi ia tidak sengaja tertidur setelah banyak menangis. Ia melihat jam dinding, pukul 18.00 wib. Para santriwati pasti sudah ke mushola untuk shalat Maghrib. Rayya membaca taawudz dan beristigfar setelah sebelum nya membaca doa. Hati Rayya tidak tenang. Ia harus menjumpai Alfarizqi. Ia harus membatalkan rencana pernikahan mereka. Tapi bagaimana caranya?
Rayya dengan cepat mandi, mengambil wudhu’, shalat lalu dengan langkah tergesa-gesa, ia menuju rumah utama kediaman Abah Ishak.
“Assalamualaikum…” ucap Rayya memberi salam.
“Waalaikumsalam… ada apa ya?” Sahut asisten Ummi Maryam.
“Apa ada Ummi di dalam?” Tanya Rayya berhati-hati.
“Ummi lagi beristirahat, tidak bisa diganggu…”
“Sebentar saja Bu, saya mau mengatakan pada Ummi kalau saya mau pulang kampung!”
“Kalau hanya perkara pulang kampung, kamu bisa melapor dulu di kantor! Tidak perlu ke sini! Kamu bisa mendapat masalah!” Sahutnya ketus. Asisten Ummi Maryam dan yang lainnya memang belum mengetahui bahwa Rayya merupakan calon dari Alfarizqi.
“Sudah pergi sana! Jangan mengganggu!” Lanjutnya lagi. Rayya terdiam. Dengan tubuh lemas ia pamit. Rayya berjalan perlahan dengan tatapan kosong. Semangat yang tadi timbul lenyap seketika. Bersusah payah ia mengumpulkan keberanian untuk menemui Ummi Maryam. Kali ini ia berani, entah dengan besok. Tidak ada cara lain, ia harus menemui Alfarizqi dan membicarakan ini semua!
Rayya mengendap-endap ke mushala. Ia melihat kerumunan santriwati yang tengah belajar kitab kuning dengan hikmat. Raya tak melihat sosok Alfarizqi di sana. Perlahan ia putar haluan. Dengan hati kalut ia kembali melangkah ke kediaman Abah Ishak. Hatinya bergemuruh. Ia sendirian di tempat asing ini. Ia tidak tau harus bagaimana. Namun, jika ia tidak mengambil langkah nekat, ia akan terus terkurung dalam pusara kehidupan pesantren dan pastinya dalam waktu singkat akan menikah dengan orang yang tidak memperhitungkan dirinya sama sekali.
Dalam pekatnya malam Rayya mengendap-endap. Ia mencari di mana letak kamar Alfarizqi. Dari luar Ia memprediksi bahwa dihadapannya adalah kamar beliau.
Rayya merogoh saku nya. Ia mengambil surat yang sudah ia tulis tadi. Surat berisi ajakan untuk bertemu dan berbicara besok pagi. Rayya melihat kiri dan kanan. Seperti nya tidak ada orang di dalam.
“Rayya?” Seorang laki-laki memanggil nya.
“Mengapa kau di depan kamarku?” Tanya Alfarizqi kebingungan. Rayya terkejut. Keberadaan Rayya di depan kamar Alfarizqi tidak terlepas dari beberapa pasang mata yang melihatnya.
“Kita batalkan pernikahan ini! Besok aku ingin pulang!” Ucap Rayya gemetar.
“Tidak bisa. Kita harus tetap menikah!”
“Aku tidak mau dimadu! Aku tidak sudi!”
“Bukankah kau tidak mencintaiku? Lalu Apa susahnya?” Sahut Alfarizqi. Rayya terdiam. Sebenarnya ia punya segudang argumen yang bisa ia muntahkan, namun saat ini Ia kehabisan energi untuk berkata-kata.
“Aku mau besok kita membicarakan hal ini! aku akan kembali ke sini setelah shalat dhuha!” Ucap Rayya pergi.
Sementara beberapa pasang mata yang melihat tindak tanduk Rayya menyipitkan mata mereka, heran.
“Gus Alfa harus hati-hati! Santriwati baru itu ternyata wanita penggoda!”
“Benar! Kita harus laporkan kejadian ini agar dia dapat hukuman!”
“Aku tidak pernah semuak ini dengan seorang wanita! Tapi dia benar-benar murahan!”
“Benar! Kita juga menyukai Gus Alfa, tapi apa yang dia lakukan dengan menemui Gus Alfa dalam gelap lalu menggodanya sudah sangat keterlaluan!”
Bagai kilat menyambar, gelombang suara sumbang tentang Rayya gadis penggoda langsung menyebar cepat ke penjuru pesantren.
...****************...
IG: @alana.alisha
Si alfa juga salham, kayaknya doi mkir si Rayya masih suka ma Adam
Kayaknya Sarah n Emak mmg tulus ya… cuma yaaitu, ngeselin beuudddd 💔
Rayya jd mau ceraikan suaminya, klo bgtu…. Yaaa Adam udah siap untuk nampung wkwkwkwk💔🤣