NovelToon NovelToon
Rumah Jiwa Yang Lelah

Rumah Jiwa Yang Lelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: meiithandi

Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.

setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Artikel

Di Jalan Kota  C  12.30 Siang

Davina berjalan cepat menuju halte busway, langkahnya tidak beraturan. Angin panas Jakarta menerpa wajahnya, tapi ia tidak merasa apa-apa selain rasa terbakar di dada. Kata-kata Adit tadi masih bergema di kepalanya seperti gong yang dipukul keras. “Aku mencari tahu segalanya tentangmu.”

Bagi Adit, itu mungkin bukti cinta atau perhatian yang tulus. Tapi bagi Davina, yang baru saja belajar membangun batas-batas keamanan setelah kehancuran pernikahannya, itu terdengar seperti pengawasan. Seperti pelanggaran privasi yang membuatnya merasa kembali menjadi objek, bukan subjek dalam hidupnya sendiri. Ia sudah tujuh tahun berjuang untuk menjadi "Davina", wanita mandiri yang memegang kendali atas narasi hidupnya. Dan dalam satu jam, Adit meruntuhkan semua itu dengan asumsi bahwa ia berhak mengetahui segalanya tanpa izin.

Ponselnya bergetar di dalam tas. Nama 'Adit' muncul lagi. Davina menatap layar itu sejenak, lalu menekan tombol decline. Bukan karena benci, tapi karena ia butuh waktu untuk memproses kemarahan ini sebelum bisa berbicara lagi. Jika ia mengangkat sekarang, ia hanya akan melontarkan kata-kata yang kelak akan disesali.

Ia duduk di bangku halte, menarik napas panjang. Di sebelahnya, seorang ibu muda sedang menggendong balita yang tertidur pulas. Davina teringat Zahra. Perasaannya bercampur aduk; sisi lain dari dirinya ingin melindungi Zahra dari pria yang terlalu posesif, tapi sisi lain, sisi Vina yang dulu merindukan seseorang yang peduli sedalam itu. Konflik batin inilah yang membuatnya lelah.

Kafe Dekat Paud Alghajaly – 12.45 Siang

Adit masih duduk di meja yang sama, menatap cangkir kopi yang sudah dingin. Folder lamaran kerja itu masih tergeletak di hadapannya, ia tidak menyentuh kopi itu, ia membiarkan kopi itu dingin persis seperti ia rasakan, Ia bisa merasakan Davina Berhati dingin tanpa membuka celah sedikitpun untuknya masuk. Ia menunduk, tangan menyapu rambutnya ke belakang dalam gestur frustrasi yang tak tertahan.

Ia tidak marah pada Davina. Ia marah pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia, yang mengaku ingin  bahwa ia mencari tahu segalanya tentang Davina , justru melakukan kesalahan paling dasar? Ia mengira dengan mengetahui status perceraian Davina, ia bisa menjadi "penyelamat" atau setidaknya pendukung yang lebih baik. Ia lupa bahwa Davina bukan lagi gadis yang bisa diselamatkan.

Dia adalah wanita yang telah melewati neraka dan keluar dengan kulit hangus namun jiwa yang utuh. Mengetahui rahasianya tanpa diminta bukanlah bentuk dukungan; itu adalah bentuk arogansi terselubung.

Pelayan datang, ragu-ragu. "Mas, kopinya mau diganti?"

"Tidak," jawab Adit singkat. "Saya sebentar lagi pergi."

Ia mengeluarkan ponsel, mengetik pesan kepada Davina. Jempolnya melayang di atas keyboard selama beberapa menit, menghapus dan menulis ulang. Akhirnya, ia mengirim satu kalimat pendek:

"Maafkan aku, Davina." Hanya kata ini saja yang muncul di pikiran Adit.

Ia meletakkan ponsel menghadap ke bawah. Tidak ada jaminan Davina akan membaca atau membalas. Dan untuk pertama kalinya, Adit menerima ketidakpastian itu sebagai hukuman yang layak ia terima.Namun Davina Tidak membalas pesannya.

Kota A – Apartemen Rio – 13.00 Siang

Rio berdiri di depan jendela apartemennya, menatap jalanan Kota A yang ramai. Pagi tadi, setelah telepon dengan Siska, ia merasa sedikit lebih tenang.

Jantung Rio berdegup kencang. Bukan karena cemburu, tapi karena rasa bersalah yang menusuk. Ia meninggalkan Davina sendirian menghadapi badai itu. Sementara ia di sini, hidup dalam kenyamanan semu yang disediakan Siska, Davina sedang bertarung di medan perang yang sesungguhnya.

Siska masuk ke ruangan membawa nampan berisi potongan buah. "Rio, makan buah dulu. Kamu belum sarapan kan?"

Rio menoleh, tatapannya kosong sesaat sebelum fokus kembali pada Siska. Wajah Siska penuh harapan, seolah kehadiran Rio di sisinya adalah kemenangan kecil hari ini. Tapi Rio hanya melihat cermin dari pengkhianatannya sendiri.

"Sis..." ucap Rio pelan, suaranya serak.

"Hm?" Siska meletakkan nampan, tersenyum lembut.

"Aku... aku butuh bicara serius nanti malam. Tentang kita."

Senyum Siska membeku sejenak, tapi ia segera mengangguk, meski matanya menyiratkan ketakutan yang coba disembunyikan. "Oke, Rio. Aku tunggu."

Rio menatap punggung Siska yang berbalik menuju dapur. Ia sadar, percakapan malam nanti bukan tentang cinta. Itu tentang kejujuran yang harus ia berikan, bahkan jika itu berarti menyakitkan bagi keduanya. Ia tidak bisa terus-menerus memakan vitamin pahit sambil berpura-pura itu manis. Dan ia tidak bisa membiarkan Siska menunggu proses yang mungkin tidak akan pernah berakhir dengan cara yang ia harapkan.

Apalagi di kota A, Rio adalah pengusaha ternama, tiba - tiba ia sedang duduk sambil minum kopi.Tiba - tiba rio mendapat notif dari sekertarisnya.

" Pak rio , apa ini anda " bertanya seolah tidak yakin dalam artikel itu terlihat foto seorang perempuan dan laki - laki keluar , perempuan itu seperti memeluk Laki - laki itu di sebuah club.Perempuan yang mengenakan pakaian yang sangat minim.

Rio membelalakan matanya, dan betapa tekerjutnya dia, saat melihat dirinya dan perempuan itu ya sangat kenal itu adalah siska.Rio frustasi , Rio Menghela napas panjang.

Rio menghubungi sekertarisnya,ia harus segera menutup semua artikel yang telah beredar di kota A.Jangan sampai berita ini , di lihat oleh Davina dan Anaknya.

" Tolong kau atasi ini, cari tahu siapa menyebarkan Artikel ini, kau harus bisa menutup berita ini , jangan sampai ke permukaan, segera cepat !!!! ' Ucap Rio Marah.

Rumah Davina – 14.00 Siang

Davina membuka pintu rumah. Keheningan menyambutnya, tapi kali ini berbeda. Bukan keheningan yang sunyi, melainkan keheningan yang penuh kesadaran. Ia meletakkan tasnya di meja, lalu berjalan menuju kamar Zahra. Putrinya masih tidur siang, napasnya teratur dan damai.

Davina duduk di tepi tempat tidur Zahra, mengelus rambut halus anaknya. Di sinilah ia menemukan jangkar. Bukan pada Adit yang terlalu ingin tahu, bukan pada Rio yang terlalu lama menghilang, tapi pada momen ini. Pada tanggung jawab yang nyata dan cinta yang tidak menuntut penjelasan.

Ponselnya bergetar sekali lagi. Pesan dari Adit. Davina membacanya. Dua kali. Tiga kali.

"Maafkan aku Davina "

Kalimat itu seharusnya melegakan. Tapi Davina merasakan sesuatu yang lebih kompleks. Ini bukan penolakan. Ini adalah penghormatan. Untuk pertama kalinya, Adit memilih meminta maaf  atas kelakuannya bukan  karena menyerah, tapi karena memahami bahwa ia telah salah dan ia mengakui kesalahannya.

Davina tidak membalas. Ia hanya meletakkan ponselnya di nakas, lalu berbaring di sebelah Zahra, memejamkan mata. Esok hari, ia akan memutuskan apakah folder lamaran kerja itu akan diambil atau dibiarkan. Tapi hari ini, ia memilih untuk hanya bernapas. Menjadi Davina. Utuh. Terluka. Tapi tetap berdiri.

Di luar sana, tiga jiwa sedang belajar pelajaran yang sama dengan cara yang berbeda: bahwa cinta, dalam bentuk apapun, harus dimulai dari penghormatan terhadap batas dan kebenaran diri sendiri. Dan kadang, langkah terbesar bukanlah mendekat, tapi berani memberi jarak agar luka punya ruang untuk sembuh.

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr, penasaran nih alasan Davina minta cerai apa cuma gara-gara udah ga cocok atau ada hal lain?😌😳
Dian Meilani: jangan lupa pantengin ya, ku up ko okee
total 1 replies
ica
seru banget ceritanya👍
IRINA SHINING STAR
saya mampir kak, semangat ya kakk. 😆
Dian Meilani: makasih kk 🙏
total 1 replies
Kausafiksi.id
lanjut thor
Dian Meilani: makasih atas dukungannya
total 1 replies
Cilia
Baca ceritamu bikin ikut ngerasain kehangatan keluarga thorr, lanjutin terus ya! Semangat!
Dian Meilani: makasih kak atas dukungannya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!