Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.
Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.
Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruangan CEO
Pintu lift kembali terbuka.
Lantai tiga puluh dua.
Seluruh area eksekutif mendadak menjadi lebih sunyi ketika Ralph dan Emma keluar bersama.
Puluhan pasang mata diam-diam memperhatikan.
Mereka tentu mengenal Lady Alexander.
Namun...
Inilah pertama kalinya wanita itu datang ke kantor.
Dan lebih mengejutkan lagi...
Lady Alexander baru saja keluar dari lift sambil menggandeng lengan Ralph Alexander.
Pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Christina berjalan satu langkah di belakang Ralph.
"Tuan."
"Hm."
"Ruang rapat kedua sudah siap."
"Baik."
"Kopi Anda juga sudah saya letakkan di meja."
"Terima kasih."
Emma melirik sekilas.
Wanita itu benar-benar hafal semua kebiasaan Ralph.
Mulai dari jadwal.
Minuman.
Hingga berkas yang dibutuhkan.
Emma menghentikan langkahnya.
"Christina."
Wanita itu langsung berbalik.
"Ya, Lady Alexander?"
Emma menatapnya dari ujung kepala hingga kaki.
"Kau sudah bekerja dengan Ralph berapa lama?"
"Tiga tahun."
"Tiga tahun?"
"Iya."
Emma mengangguk pelan.
"Berarti kau cukup mengenal suami ku."
"Tentu, Lady."
Jawaban itu terdengar profesional.
Namun Emma menangkap sedikit kebanggaan di balik nada suaranya.
Emma tersenyum tipis.
"Bagus."
"Kalau begitu mulai hari ini..."
Ia melirik Ralph sekilas.
"...ada beberapa hal yang perlu diubah."
Christina sedikit mengernyit.
"Maksud Anda?"
"Kalau urusan pekerjaan..."
Emma berkata tenang.
"...kau tetap sekretarisnya."
"Tapi di luar pekerjaan..."
Tatapan Emma berubah lebih tajam.
"...Tolong kau harus ingat batasanmu."
Koridor mendadak sunyi.
Beberapa staf yang kebetulan melintas langsung mempercepat langkah.
Mereka bisa merasakan ketegangan di udara.
Christina masih mempertahankan senyumnya.
"Saya selalu bersikap profesional."
Emma mengangguk.
"Aku harap begitu."
"Karena aku tidak suka wanita yang lupa siapa dirinya."
Senyum Christina akhirnya sedikit memudar.
"Saya mengerti."
Emma mengangguk puas.
"Bagus."
Ralph yang sedari tadi hanya memperhatikan akhirnya membuka suara.
"Emma."
"Hm?"
"Sudah selesai?"
Emma menoleh.
"Sudah."
Ralph mengangguk singkat.
"Lalu ikut denganku."
Mereka berjalan menuju ruang CEO.
Begitu pintu terbuka...
Emma langsung menghentikan langkah.
Ruangan itu sangat luas.
Didominasi warna hitam dan abu-abu.
Dinding kaca memperlihatkan seluruh pemandangan Manhattan... tidak, kota London dari ketinggian.
Rak-rak berisi penghargaan.
Beberapa maket proyek.
Dan meja kerja besar yang dipenuhi dokumen.
Emma langsung berjalan mengelilingi ruangan.
Matanya berbinar.
"Ini baru menarik."
Ia mengambil salah satu maket gedung.
"Proyek ini?"
"Kompleks perkantoran."
jawab Ralph.
Emma memperhatikan detailnya.
"Lahan sempit."
"Tapi parkirnya terlalu kecil."
Ralph sedikit terkejut.
"Kau bisa melihatnya?"
"Hanya sekali lihat aku langsung tahu."
Emma meletakkan kembali maket itu.
"Lalu pencahayaan bagian timur juga kurang."
Ralph tidak langsung menjawab.
Ia mengambil gambar rancangan proyek yang sama.
Beberapa detik kemudian...
Ia menyadari.
Apa yang dikatakan Emma benar.
Masalah parkir memang sedang diperdebatkan tim arsitek.
Sedangkan pencahayaan timur menjadi salah satu catatan konsultan.
Tatapan Ralph kembali mengarah pada Emma.
"Kau belajar arsitektur? Sejak kapan?"
"Tidak."
"Aku hanya menggunakan logika ku."
Emma mengangkat bahu.
"Kalau orang mau menyewa gedung..."
"Hal pertama yang dicari adalah akses."
"Bukan bentuk."
Ralph kembali terdiam.
Wanita ini...
Selalu berhasil membuatnya terkejut.
Tok.
Tok.
Christina masuk membawa beberapa map.
"Tuan."
"Semua dokumen rapat kedua sudah siap."
Ia meletakkan map di atas meja.
Lalu tanpa sadar merapikan letak pena favorit Ralph.
Merapikan posisi laptop.
Dan menggeser cangkir kopi beberapa sentimeter ke kanan.
Gerakan yang sangat alami.
Seolah sudah menjadi kebiasaan.
Emma memperhatikan semuanya.
"Lumayan."
gumamnya.
Christina menoleh.
"Maaf Nyonya?"
Emma tersenyum tipis.
"Tidak ada."
Ia berjalan mendekati meja.
Lalu...
Dengan santai Emma mengambil sendiri cangkir kopi Ralph.
"Aku pinjam."
Tanpa menunggu izin, ia meminum seteguk.
Christina membelalakkan mata.
"Itu..."
Emma menoleh santai.
"Kenapa?"
"Itu kopi Tuan Ralph. Saya bisa menyuruh office boy menyediakan kopi untuk anda."
"Iya."
Emma mengangguk.
"Aku tahu."
"Lalu?"
Christina kehilangan kata-kata.
Emma mengembalikan cangkir itu ke meja.
"Rasanya terlalu pahit."
Ia melirik Ralph.
"Kau benar-benar menikmati kopi seperti ini?"
Ralph justru mengangguk tenang.
"Sudah terbiasa."
Emma mendecakkan lidah.
"Selera mu sungguh aneh sayang."
Christina benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Bukan karena Lady Alexander meminum kopi Ralph.
Tetapi karena...
Ralph sama sekali tidak marah.
Padahal...
Selama tiga tahun bekerja.
Tidak seorang pun berani menyentuh barang-barang pribadi CEO Alexander tanpa izin.
Ralph mengambil map rapatnya.
"Aku harus pergi."
Ia menatap Emma.
"Kau bisa menunggu di sini."
Emma langsung mengangguk.
"Baik."
"Jangan membuat masalah."
Emma mengangkat sebelah alis.
"Aku?"
"Iya."
"Aku selalu menjadi istri yang baik."
Ralph hampir tersenyum.
"Hm."
Ia berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, tanpa sadar ia menoleh sekali lagi.
Emma sudah duduk di kursinya.
Memutar pelan kursi CEO sambil melihat pemandangan kota dari balik dinding kaca.
Seolah ruangan itu memang sangat cocok untuknya.
Ralph memalingkan wajah.
Entah sejak kapan...
Pemandangan istrinya berada di ruang kerjanya terasa begitu... tepat.
Sedangkan Christina yang berdiri di dekat pintu mengepalkan jemarinya pelan.
Ia mengenal Ralph Alexander selama tiga tahun.
Tidak pernah sekalipun pria itu mengizinkan siapa pun duduk di kursi CEO miliknya.
Hari ini...
Ia bahkan tidak keberatan ketika Lady Alexander menguasai seluruh ruangannya.
Dan untuk pertama kalinya...
Christina mulai merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Ancaman.
Bukan terhadap pekerjaannya.
Melainkan terhadap harapan yang diam-diam ia simpan selama ini.
Emma menjatuhkan tubuhnya ke sofa besar di ruang CEO Ralph.
Ruangan itu kembali sunyi setelah Ralph pergi menghadiri rapat kedua.
Ia melirik jam dinding.
Pukul dua siang di London.
Emma segera mengambil ponselnya.
Ia menghitung cepat perbedaan waktu.
"Kalau di London pukul dua siang..."
"...berarti di New York baru pukul sembilan pagi."
Ia tersenyum tipis.
"Seharusnya Ella sudah mulai bekerja."
Emma menekan tombol panggilan video.
Beberapa detik kemudian...
Layar menyala.
Wajah Ella muncul.
Di belakangnya tampak ruang kerja modern dengan dinding kaca.
Ia masih mengenakan setelan kerja berwarna krem.
"Emma?"
Ella tampak terkejut.
"Kau menelepon pagi-pagi?"
Emma menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Sedang istirahat?"
"Baru sampai kantor."
Emma terkekeh pelan.
"Bagus."
Ella memperhatikan latar belakang Emma.
Beberapa detik.
Lalu matanya membelalak.
"Itu..."
Emma sengaja memutar kamera.
Memperlihatkan meja kerja besar Ralph.
Dinding penuh penghargaan.
Lemari arsip.
Hingga pemandangan kota London dari balik kaca.
Ella langsung menutup mulutnya.
"Jangan bilang..."
Emma menyeringai tipis.
"Aku sedang di kantor suami mu Ralph."
"Apa?!"
Suara Ella spontan meninggi.
Beberapa pegawai yang melewati ruangannya bahkan menoleh karena terkejut.
Ella langsung mengecilkan suaranya.
"Emma..."
"Kau benar-benar ke sana?"
"Iya."
Ella masih tidak percaya.
"Tapi..."
"Aku bahkan belum pernah ke sana."
Emma mengangguk santai.
"Aku tahu."
"Itulah kenapa aku datang."
Ella menggeleng sambil tertawa kecil.
"Kau benar-benar..."
"...nakal."
Emma tersenyum puas.
"Aku bosan di rumah."
"Jadi aku ikut melihat bagaimana suamimu bekerja."
Ella menghela napas.
"Kalau Ralph marah bagaimana?"
Emma mengangkat bahu.
"Dia tidak marah."
"Malah membiarkanku menunggu di ruang CEO."
Ella semakin membelalakkan mata.
"Di... ruang CEO?"
"Iya."
Emma memutar kamera lagi.
"Lihat."
Ella benar-benar terpaku.
"Astaga..."
"Aku bahkan tidak pernah masuk ke ruangan itu."
Emma mendecakkan lidah.
"Sayang sekali."
"Ruangan ini jauh lebih menarik daripada rumah bangsawanmu."
Ella hanya bisa tertawa geli.
"Aku bisa membayangkan wajah Ralph."
Emma menyandarkan dagunya di telapak tangan.
"Oh..."
"Wajahnya memang lucu hari ini."
"Lucu?"
"Tadi aku sengaja menggandeng lengannya."
Ella langsung tersedak kopi yang baru diminumnya.
"hukk... hukkk..."
Emma tertawa pelan.
"Hati-hati."
Ella mengambil tisu.
"Emma!"
"Apa?"
"Kau benar-benar melakukan itu?"
"Iya."
"Kenapa?"
Emma menjawab datar.
"Sekretarisnya menyebalkan."
Ella mengernyit.
"Christina?"
"Kau mengenalnya?"
"Tentu."
"Dia memang sudah lama bekerja dengan Ralph."
Emma mengangguk pelan.
"Dan dia menyukai Ralph."
Ella terdiam.
Beberapa detik kemudian ia menghela napas.
"...aku juga merasa begitu."
"Tapi selama ini dia tidak pernah berlebihan."
Emma menyipitkan mata.
"Sekarang juga belum."
"Hanya saja..."
"Aku tidak suka cara dia memandang Ralph."
Ella tersenyum geli.
"Jadi kau cemburu?"
Emma langsung mendengus.
"Cemburu?"
"Aku?"
"Mimpi."
"Aku hanya menjaga identitasmu."
"Selama aku menjadi Ella..."
"...tidak ada wanita lain yang boleh terlalu dekat dengan suamimu."
Ella menutup mulutnya sambil tertawa.
"Aku kasihan pada Christina."
"Kenapa?"
"Karena yang dia hadapi bukan aku."
"Melainkan Emma Taylor."
Emma tersenyum puas.
"Tentu saja."
Keduanya tertawa pelan.
Sudah lama Ella tidak merasa seringan ini.
Melihat Emma yang biasanya keras kepala kini begitu bersemangat menjalani kehidupan sebagai dirinya justru membuat Ella ikut tenang.
Namun di saat yang sama...
Tak seorang pun dari mereka menyadari.
Di luar ruang CEO.
Pintu lift baru saja terbuka.
Rapat Ralph selesai lebih cepat dari perkiraan.
Dan kini...
Ralph sedang berjalan kembali menuju ruang kerjanya, sama sekali tidak tahu bahwa istrinya sedang menceritakan semua kenakalannya kepada saudari kembar yang berada ribuan kilometer jauhnya di New York.
mulai ngikuti sepertinya menarik