Raisa terlahir sebagai anak yang ceria selayaknya anak pada umumnya. Namun, setelah kejadian hilangnya sang adik semua kehangatan dan kebahagiaan yang dulu ia dapatkan di rumah sirna seketika. Hingga akhirnya ia menemukan sesuatu yang hilang berada di jalanan, melepas semua beban dan merasakan kebebasan yang telah lama terkurung dalam sangkar. Karena trauma masa lalu yang berbekas di hatinya, memaksanya terlihat kuat di hadapan semua orang. walau sebenarnya hatinya sangat rapuh, sampai dia tak tahu artinya pelukan hangat, pujian yang membanggakan dan kasih sayang yang tulus. Akankah Raisa menemukan jati dirinya lagi yang selama ini ia kubur dalam-dalam dan menemukan seseorang yang mampu melelehkan hatinya yang telah membeku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sjulerjn29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8. BELIEVE
"Bob, akhirnya tamat juga drama nya," ujarnya sambil meregangkan otot-otot tangannya.
"aku masih gak bisa move on dengan drama ini yah, apalagi inget pas pertemuan mereka kiyowo banget deh," Bobby jingkrak -jingkrak kegirangan. Kedua kaki mengayun dengan senyum yang melebar.
"Oh iya bener Bob, saat Ju-Young telat bangun terus lupa bawa dompet dan gak bisa bayar ongkos bis," Ayah Raisa menunjuk Bobby mengingat adegan dalam film. Matanya berbinar dan lesung pipinya terlihat jelas.
"Iya, dan Wang Ja Rim yang bayarin dia," Bobby sangat antusias dalam perbincangan itu.
"Bob satu lagi, saat bis tancap gas dan Ju-Young masih berdiri ngobrol sama Kyung-Woo, inget gak?" Ayah Raisa memegang pundak Bobby dan mengigit satu jarinya.
"Aku inget Yah, saat Ju-Young gak sengaja tarik kerah baju Wang Ja Rim kan?" Bobby memegang kedua pipinya karena menahan gemas.
"Bob, kita ngobrolnya pelan-pelan nanti Raisa bangun," Ayah memberi kode untuk menurunkan nada bicaranya.
"Oke, tapi aku gak bisa berhenti ngobrolin drama ini Yah," bisiknya sambil memandang Ayah Raisa dengan wajah yang berseri.
"Ayah juga Bob, kamu sih suka racunin ayah nonton drakor, kan jadi ketagihan," Ayah tertawa pelan dan membungkam mulutnya.
Mendorong tubuh Bobby hingga tersungkur ke lantai. Berjalan pelan menuju pintu kamar putrinya, menempelkan telinga memastikan Raisa tidak terbangun karena kebisingan mereka. Menengok ke arah Jam dinding yang menunjukan waktu yang sudah larut malam. Mulutnya menganga karena menguap menahan kantuk, mengajak Bobby untuk segera membereskan semuanya. Membersihkan tumpukan bungkus kripik yang berserakan dimana-mana dengan beberapa kaleng soda yang tergeletak di atas meja. Bobby memegang kepalanya yang terbentur lantai, segera bangkit dan menuruti perintahnya.
Namun saat semua sudah rapi dan bersih, Bobby terduduk termenung menyender di sofa ruang tamu setelah Ayah Raisa berpamitan untuk beristirahat di kamarnya. Hanya terdengar detakan jam dinding dalam keheningan malam. Bobby menengok ke arah pintu kamar Raisa dengan menyenderkan dagunya dengan kondisi keningnya yang memerah.
"Akankah kisahku juga sama seperti Ju-Young? cinta mereka bisa berevolusi dan aku mengharapkan hal yang sama," Bobby menghela napas panjang. Membalikkan badan dan terbaring di sofa dengan kaki yang menggantung karena tak sampai. Memandang lampu yang masih menyala, mendekap kedua lengannya.
"Sepertinya aku harus belajar dan meniru Ju-Young untuk mengejar cinta Raisa," menoleh ke arah meja dan mengambil ponselnya, melihat sebuah foto kenangan mereka bersama. Senyum merekah di wajahnya, mengusap lembut wajah Raisa di balik foto.
"Raisa, mungkin suatu saat nanti aku akan berani mengungkapkan rasa ini padamu," memandang ponselnya dengan wajah yang berseri.
"Setidaknya aku bisa mewujudkan harapan indah itu dalam mimpi hari ini," mengecup manis ponselnya dan memeluknya dalam dekapan. Matanya mulai terpejam namun mulutnya masih mengerucut dan kaki yang bergoyang kegirangan memikirkan sesuatu dalam pikirannya.
Namun dibalik itu semua, mereka tidak mengetahui apa yang sedang terjadi terhadap Raisa sekarang. Raisa sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya demi tanggung jawab seorang pemimpin. Dia harus menanggung segala resikonya. Antara dia berhasil menyelamatkan anak buahnya, atau dia harus terluka dan gagal dalam tanggung jawab. Tapi yang dia takutkan hanya satu, kepercayaan sang Ayah. Jika itu terjadi maka Raisa akan sangat hancur hatinya. Saat ini hanya sang ayahlah yang selalu berada di sisinya, menyayangi sepenuh hati, dibalik sosok ibu yang sudah membeku hatinya sejak lama. Hanya sosok sang ayahlah yang saat ini mengisi relung hatinya.
MARKAS MUSUH
Ruangan itu seakan mengecil ketika dua kelompok pria bersenjata saling menatap dari ujung yang saling berhadapan. Raisa berdiri tegap dengan posisi bersiap memberi perintah. Sorot matanya tajam, meregangkan otot-otot tangannya, mengangkat satu tangannya sebagai tanda perang akan segera dimulai.
semua anak buahnya menuruti perintah dan mulai berkelahi satu sama lain. Lampu neon berkelap-kelip di langit yang minim penerangan. Memantulkan bayangan mereka di dinding yang retak. Meja-meja di dorong hingga berbenturan dengan tembok, kursi-kursi terlempar dan terbalik. Suara kayu berderit seperti keluhan sebelum badai. Teriakan histeris dan umpatan kasar memenuhi udara. Banyak orang yang tergeletak dan bangkit kembali, lantai dipenuhi dengan bercak, udara mulai terasa pengap dengan debu-debu yang berterbangan, helaan napas orang-orang mulai terdengar jelas dan keringat mengalir deras ditubuh mereka. Hanya satu tekad yang mereka perebutkan yaitu kemenangan dan harga diri.
Raisa berdiri tegap dengan posisi yang sama ditengah perkelahian, memandang Aldo yang sejak tadi sudah bersiap dengan senyuman sinis. Mereka saling berlari bersiap untuk menyerang. Gerakan Raisa begitu lentur namun bertenaga, setiap tendangan kilatnya membuat lawannya kewalahan. Dengan tatapan tajam Aldo berusaha menangkisnya dan balik menyerang dengan mengarahkan sebuah pukulan, semua otot-otot tangannya mengeras mengumpulkan semua tenaganya yang membuat Raisa terjatuh meringis kesakitan memegang perutnya, noda merah membasahi bibirnya, lututnya melemah seketika dengan senjata yang masih ia genggam dengan erat.
Meskipun terjatuh, Raisa mengusap noda di bibirnya dan berusaha bangkit kembali melangkah maju bersiap melancarkan serangan mematikan. Menangkis serangan lawan dengan tangan kirinya dan mengarahkan Brass knuckle tepat di wajah Aldo. Lawan terhuyung tak berdaya dengan goresan di pipinya. Dia terjatuh dengan posisi terlentang seraya memegang wajahnya yang terluka. Raisa menarik singletnya, dengan keringat mengalir di sekujur tubuhnya, ratapnya penuh amarah.
"Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang wanita, terutama jika dia seorang pemimpin." Berniat memukulnya namun Aldo memohon ampun untuk menyerah.
"Baiklah aku menyerah Blade, gue mohon ampuni gue, gue mengaku kalah." Aldo menyipitkan matanya dengan senyuman palsu seraya memohon ampun.
Raisa melepaskan tarikannya dan berniat menghentikan pertarungan, namun saat dia membalikkan badannya, Aldo berdiri dengan cepat dan mendekap lehernya dari belakang, mencekik dengan lengan berototnya. Raisa berusaha memberontak, napasnya mulai sesak.
"lo berani membohongi gue Aldo, gue gak akan percaya lagi," Dengan nada tercekik menahan sakit Raisa memberontak dengan mengeluarkan seluruh tenaganya, hingga senjatanya terlepas dari genggaman dan suara dentuman besi menyentuh lantai tak mampu terdengar karena keributan yang menggema di segala sudut ruangan.
"Lo terlalu baik Blade dan mudah tertipu," Aldo mencengkeramnya dengan keras sambil tertawa meledek. Badannya mulai melemah, napasnya terdengar berat dan mulai kehilangan kesadarannya. Aldo menyeret tubuh Raisa tanpa melepas cengkeramannya. Kakinya memberontak lemah, memukul lengan Aldo. Melempar tubuh Raisa ke tumpukan kardus yang tersusun rapi. Raisa meringis kesakitan, namun dia harus tetap bertahan demi satu orang yang mempertaruhkan nyawanya demi menjaga rahasianya.
Matanya mulai terpejam dan keheningan tercipta seketika. Aldo tertawa dengan keberhasilannya sambil melihat sekeliling yang tidak ada seorang pun yang menghiraukan mereka. Aldo memainkan dagunya dan mempunyai maksud tertentu. Menghampiri Raisa dengan perlahan sambil menyingkirkan tumpukan kardus yang menindihnya.
Namun tiba-tiba terdengar bisikan di telinga Raisa, memunculkan suatu ingatan di benaknya. Raisa mulai membuka matanya, sorot matanya tajam, melihat Aldo yang ingin mendekapnya. Raisa menendangnya agar menjauh.
Berdiri dengan tubuh masih sempoyongan, menggelengkan kepalanya supaya tetap tersadar dan mengingat satu pesan yang terlintas di benaknya, bahwa kita harus bersikap tenang dan mengamati musuh untuk mencari titik kelemahan musuh, jangan biarkan amarah menguasai pikiran. Itulah pesan dari sang ayah saat mengajarinya ilmu beladiri. Tubuhnya tiba-tiba tegap seperti ada sebuah energi yang masuk, tangannya mengepal dengan mata yang menyorot tajam. Aldo menatapnya heran, alisnya meninggi dengan posisi tubuh yang masih menunduk dan menelan ludahnya.
Gerakan Raisa berbeda dari sebelumnya, kini gerakannya terukur fokus pada target. Membuat Aldo semakin kewalahan dan mulai kehilangan keseimbangan tubuhnya.
Bersambung.....
Apa raisa akan berhasil mengalahkan Aldo?
Atau Raisa harus memenuhi persyaratan Aldo jika ia gagal?
Apa Ayah dan Bobby akan mengetahui Raisa tidak berada di kamar?
Wah semakin seru nih guys, jangan lupa suportnya ya kasih vote,like,komen dan subscribe agar tidak ketinggalan cerita selanjutnya...
Semoga aku bisa terus semangat lanjutin cerita Raisa... makasih.