NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 013: Gosip di Rumah Anggrek

Video helikopter itu sampai ke Rumah Anggrek sebelum makan siang.

Galang Hartono yang pertama kali membawanya ke ruang keluarga. Ia masuk dengan ponsel di tangan, wajahnya tegang antara iri, marah, dan ingin terlihat paling tahu.

"Eyang harus lihat ini."

Bu Agung sedang membaca laporan saham. Ratna duduk di sebelahnya dengan tablet arisan terbuka, sementara Bimo mondar-mandir menelepon seseorang dari bank. Hendra dan Bambang juga ada di sana, masih membicarakan Cakra Capital seolah perusahaan itu hanya kabar bising di televisi.

Galang memutar video.

Di layar, helikopter turun di parkiran restoran. Angin berputar. Seorang asisten membawa map. Lalu suara yang cukup jelas terdengar:

Pak Arga, maaf mengganggu. Cakra Capital membutuhkan tanda tangan Anda sekarang.

Ratna langsung berdiri.

"Apa itu?"

Galang menjilat bibir. "Katanya dari reuni kampus Kiara. Temanku dapat dari grup alumni. Semua orang lihat."

Bimo mengambil ponsel itu. Ia memutar ulang bagian yang sama.

Pak Arga.

Cakra Capital.

Tanda tangan Anda.

Tiga frasa itu membuat ruangan berubah.

Ratna lebih dulu menemukan penjelasan yang paling buruk. "Kiara jangan-jangan dekat dengan orang Cakra. Arga cuma dipakai sebagai perantara?"

Hendra mendengus. "Atau dia jadi kurir dokumen. Orang miskin kalau tiba-tiba pegang map mahal, kalian langsung panik."

"Kurir dijemput helikopter?" Bambang bertanya.

Hendra terdiam sesaat. "Mungkin drama marketing."

Galang tertawa sinis. "Aku lebih percaya dia numpang nama orang. Bisa saja ada perempuan kaya di Cakra yang kasihan sama dia. Laki-laki seperti Arga itu pintar pura-pura menderita."

Ratna menutup mulut. "Maksudmu dia dipelihara?"

"Aku tidak bilang begitu." Galang mengangkat bahu. "Tapi siapa tahu?"

Bimo membanting ponsel ke meja. "Cukup. Apa pun itu, kalau video ini tersebar, orang akan mengaitkan Kiara dengan laki-laki itu lagi. Kita baru mau menata reputasi setelah Kusuma."

Bu Agung belum bicara.

Ia mengambil ponsel dan memutar ulang video dari awal sampai akhir. Tidak sekali pun wajahnya berubah. Tetapi siapa pun yang mengenalnya tahu diamnya bukan berarti tenang.

"Panggil Kiara," katanya.

Kiara baru pulang dari kantor pukul dua siang. Begitu masuk ruang keluarga, ia melihat semua orang sudah duduk seperti rapat darurat.

"Ada apa?"

Ratna langsung mengangkat ponsel. "Kamu jelaskan ini."

Video itu diputar lagi.

Kiara tidak bereaksi sebesar yang mereka harapkan. Ia sudah menonton video itu lebih banyak daripada siapa pun di rumah ini.

"Itu urusan pekerjaan Arga," katanya.

"Pekerjaan apa?" Bimo mendesak.

"Aku tidak bisa cerita banyak."

Kalimat itu membuat Ratna hampir meledak.

"Kamu melindungi dia lagi?"

"Saya hanya tidak membicarakan pekerjaan orang lain tanpa izin."

Galang tertawa. "Pekerjaan? Dia punya pekerjaan apa? Sopir helikopter?"

Kiara menatapnya. "Kalau kamu tidak tahu, lebih baik jangan menebak terlalu keras."

Wajah Galang menggelap.

Bu Agung akhirnya meletakkan ponsel di meja.

"Kiara, apakah Arga bekerja untuk Cakra Capital?"

Kiara diam.

Ia tidak tahu.

Ia punya dugaan. Punya video. Punya nama yang terus muncul. Tapi Arga belum mengatakan apa pun. Dan anehnya, ia tidak ingin menjadi orang yang membocorkan sesuatu yang bahkan belum diberikan kepadanya.

"Saya tidak tahu secara resmi," jawabnya.

"Secara tidak resmi?"

"Saya tidak akan berspekulasi."

Bu Agung menatapnya lama.

"Kamu berubah."

Kiara menjawab pelan, "Mungkin saya baru mulai memperhatikan."

Ratna menggeleng kesal. "Memperhatikan apa? Laki-laki itu membuatmu terlihat bodoh."

"Tidak, Bu." Kiara menatap ibunya. "Selama ini mungkin kita yang terlihat bodoh."

Ruangan membeku.

Bimo memucat. "Kiara."

Kiara tidak menarik kembali kalimat itu.

Bu Agung mengetukkan tongkatnya satu kali.

"Selidiki saja."

Galang langsung menegakkan tubuh. "Aku punya orang."

"Bukan temanmu yang suka gosip." Suara Bu Agung dingin. "Pakai penyelidik profesional. Aku ingin tahu riwayatnya. Pekerjaan, rekening, relasi, militer, semuanya."

Kata militer membuat Kiara menoleh sedikit.

Arga pernah berkata di bank: pernah ikut pelatihan.

Wulan mungkin tahu lebih banyak. Video bank mungkin bukan kebetulan. Helikopter Cakra juga bukan kebetulan.

Tetapi Kiara tetap diam.

Malam itu, seorang penyelidik swasta menerima tugas dari keluarga Hartono.

Ia memulai dari hal mudah: KTP, riwayat alamat, catatan perkawinan, data pekerjaan publik. Hasilnya membosankan. Arga Pratama, yatim piatu, pernah tinggal di Panti Asuhan Harapan, menikah dengan Kiara Hartono, tidak punya riwayat pekerjaan formal yang jelas dalam dua tahun terakhir.

Galang menunggu hasil itu dengan tidak sabar.

"Cari rekeningnya," katanya lewat telepon. "Cari utangnya. Cari perempuan yang membiayai dia. Orang seperti itu pasti ada celah."

Penyelidik itu menjawab kering, "Data rekening tidak bisa diakses sembarangan, Pak. Kalau ingin dipakai secara hukum, sumbernya harus bersih."

"Aku tidak minta kuliah hukum."

"Saya minta Bapak paham batasnya."

Galang memaki setelah panggilan terputus, tetapi penyelidik itu tetap bekerja dengan cara yang lebih aman. Ia menghubungi kenalan di administrasi lama, mengecek jejak kendaraan, alamat kontrak, riwayat pajak yang bisa dibuka secara sah, dan dokumen panti.

Semakin banyak ia mencari, semakin aneh hasilnya.

Arga terlalu kosong.

Kosongnya terlalu rapi untuk orang miskin tanpa jejak.

Kosong seperti halaman yang sengaja dibersihkan.

Lalu ia mencoba jalur militer.

Di sanalah pintu tertutup.

Keesokan paginya, laporan singkat masuk ke ponsel Bu Agung.

Bu Agung membukanya di ruang makan.

Galang berdiri di sampingnya, tidak sabar. Ratna dan Bimo ikut membaca dari belakang.

Isi laporan itu hanya beberapa baris:

Nama: Arga Pratama.

Status: veteran militer.

Catatan tambahan: informasi lanjutan terkunci. Tidak dapat diakses melalui arsip sipil.

Galang mengerutkan kening. "Terkunci?"

Ratna terlihat tidak nyaman. "Apa maksudnya?"

Bimo berusaha tertawa. "Mungkin sistemnya saja tidak lengkap."

Bu Agung tidak tertawa.

Ia menatap kata itu lama.

Terkunci.

Ia pernah membeli tanah sengketa dengan satu telepon.

Ia pernah membuat pejabat daerah menunggu di ruang tamu Rumah Anggrek selama dua jam hanya untuk menunjukkan siapa yang lebih perlu siapa.

Ia pernah memindahkan direktur yang membangkang dari kursinya dalam satu RUPS.

Tetapi laporan kecil ini tidak bisa ia dorong, tidak bisa ia suap, tidak bisa ia marahi.

Veteran militer.

Informasi lanjutan terkunci.

Kiara yang berdiri di dekat pintu ruang makan mendengar kalimat itu dari jauh. Tidak ada yang sadar ia sudah turun. Ia melihat wajah Bu Agung, lalu wajah Galang yang memerah karena frustrasi.

Untuk pertama kalinya, keluarga ini menatap nama Arga bukan sebagai lelucon.

Mereka menatapnya sebagai pintu tertutup.

Untuk pertama kalinya, perempuan tua itu merasa pintu yang selama ini ia kira bisa dibuka dengan uang dan nama Hartono, tidak bergerak sedikit pun.

"Cari cara lain," katanya.

Tetapi suaranya tidak sekeras biasanya.

Di meja makan, laporan tipis itu tetap terbuka, lebih berat daripada semua gosip yang mereka kumpulkan sejak pagi.

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!