para mahasiswa dari Institut Seni Indonesia tengah melakukan projek pembuatan filem dokumenter ke sebuah desa terpencil. Namun hal tak terduga terjadi saat salah satu dari mereka hilang di bawa mahluk ghoib.
Demi menyelamatkan teman mereka, mereka harus melintasi batas antara dunia nyata dan alam ghoib. Mereka harus menghadapi rintangan yang tidak terduga, teror yang menakutkan, dan bahaya yang mengancam jiwa. Nyawa mereka menjadi taruhan dalam misi penyelamatan ini.
Tapi, apakah mereka sanggup membawa kembali teman mereka dari cengkeraman kekuatan ghoib? Atau apakah mereka akan terjebak selamanya di alam ghoib yang menakutkan? Misi penyelamatan ini menjadi sebuah perjalanan yang penuh dengan misteri, dan bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 08
Queen mengacak-acak tasnya, pakaian berhamburan seperti kapal pecah diterjang badai. Kamar berantakan. Wati, yang sedang berganti baju, terkesiap.
"Kakak ngapain? Kenapa semua dikeluarkan?"
Queen, mata menyapu setiap helai kain, memeriksa satu per satu dengan teliti.
"Cari celana jeans kesayangan, Wat. Pasti waktu packing gue masukin." Ia cemas, "Semua udah nunggu, gue pakai apa an? Masa pakai celana ini lagi?" Celana yang ia tunjuk tampak kusam.
Wati menawarkan solusi, "Punya aku, Kak?" Ia mengeluarkan celana jeans pendeknya.
Wajah Queen mengerut jijik. Bayangan mengenakan celana Wati saja membuatnya bergidik. Ia butuh celana jeans kesayangannya!
"Gak mau, Wat! Itu kan… pendek banget! Nggak biasa gue pakai begini," Queen mengernyit, merasa risih. "Pernah lihat gue pakai baju seksi gitu? Hi…"
Wati menahan tawa. "Daripada pakai celana itu lagi… Itu kan ada noda darahnya, Kak. Kakak lagi datang bulan."
Queen menghela napas. "Iya juga ya… Ya udah, gue pakai deh. Tapi sekali ini aja, ya! Rasanya aneh banget…"
Wati tersenyum lega. "Iya, Kak. Cepetan!"Sambil menunggu di luar kamar.
Queen merapikan celana pendek itu. "Mampus aku, pasti diledek Fahri sama Arjuna nanti!" gumamnya. Melihat kakinya yang terekspos, ia menambahkan, "Bener-bener nggak nyaman… Kalau nggak ada noda darah, ogah banget pakai ini!"
Ia keluar, bergabung dengan Wati. "Wah… Kak Queen jadi lebih… wah, ini celana pendek banget!" Wati menggoda, tersenyum jahil.
"Ledek terus aja, deh!" Queen balas dengan senyum tipis, berusaha menyembunyikan rasa kurang percaya dirinya.
Mereka menuju mobil yang sudah menunggu. Daffa, di pinggir mobil, menatap Wati intens. Tatapannya mencari seseorang di belakangnya. Wati tersipu malu di bawah tatapan Daffa yang begitu tajam.
Arjuna, melihat tatapan Daffa yang intens, langsung menyambar. Ia menepuk bahu Daffa, jari-jari usap cepat di kedua mata Daffa.
"Woooeee… kondisikan tuh mata! Wati punya gue, ya! Awas lu…" Arjuna meledek, senyum jahil mengembang. Nada bercandanya sedikit mengancam.
Daffa tersentak, pipinya memerah. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, gugup.
"Wait… wait… Wat, minggir dulu. Gue penasaran banget sama ‘wanita demon’ yang di belakang lu itu,"
Arjuna menggoda, senyumnya semakin lebar. Ia tampak sangat ingin melihat Queen.
Wati bergeser, memperlihatkan Queen yang tadinya bersembunyi di belakangnya. Seketika, suasana berubah. Semua mata terpaku pada Queen.
Fahri bersiul panjang, matanya melebar tak percaya. "Wow… Queen? Itu… luu?"
Arjuna terbahak, "Hahaha… Nggak nyangka, Wat! Si Queen yang tomboy, sekarang… aduuh, ini bikin mata gue nggak berkedip!"
Daffa, yang tadinya gugup, kini menatap Queen dengan rahang mengendur. Ia tertegun, tak mampu berkata-kata. Ekspresinya campuran antara terkejut dan… tertarik?
Every Queen, demikian nama lengkapnya, adalah sosok yang dikenal di kampus sebagai ikon tomboy sejati. Bayangan gaun feminin dan riasan wajah nyaris tak pernah terlintas dalam pikirannya. Kaos oblong, celana cargo longgar, atau jeans kebesaran menjadi seragam kesehariannya—pakaian yang nyaman dan mencerminkan kepribadiannya yang bebas dan tak terkekang.
Penampilannya yang cuek, nyaris acuh, membuatnya menjadi magnet yang aneh. Para lelaki menjauh, tak berani mendekat, apalagi mengajaknya pacaran. Namun, ketidakpeduliannya pada norma-norma kecantikan justru menarik banyak teman laki-laki. Queen mudah bergaul, ramah, dan memiliki daya tarik tersendiri yang membuat banyak pria nyaman berteman dengannya. Ironisnya, ia lebih nyaman berteman dengan laki-laki daripada perempuan.
Di balik penampilan tomboy-nya, tersimpan kecerdasan yang luar biasa. Prestasi akademiknya gemilang sejak SMA, dan kini, di bangku kuliah, ia tetap mempertahankan reputasinya sebagai mahasiswi berprestasi.
Bahkan yang lain pun bergumam kagum, atau mungkin sedikit terkejut, melihat transformasi Queen yang begitu drastis. Suasana berubah menjadi riuh rendah, penuh dengan komentar dan lelucon yang ditujukan pada Queen yang tampak salah tingkah.
Queen mengenakan kaos putih polos yang sedikit ketat, menonjolkan lekuk tubuhnya. Di luar kaos itu, ia mengenakan kemeja denim oversized yang dibiarkan terbuka, memperlihatkan sebagian kaos di dalamnya.
Celana jeans pendeknya, yang sangat pendek, memperlihatkan paha mulusnya. Penampilannya yang biasanya tomboy kini berubah drastis, menampilkan sisi feminin yang tak terduga. Rambutnya yang biasanya terikat longgar kini dibiarkan terurai, menambah kesan sensual.
Queen berlari menghampiri Arjuna, marah setengah mati. Ia melayangkan beberapa pukulan ringan ke lengan Arjuna, tapi lebih seperti main-main.
"Emang kalian kurang ajar, ya! Kayaknya udah lama banget nih gue nggak tonjok lu!" gerutunya, namun suaranya dipenuhi tawa.
Arjuna, dengan ekspresi pura-pura ketakutan yang berlebihan, menghindar sambil berteriak, "Ampun, Ratu! Jangan bunuh hamba! Hamba salah! Hamba khilaf!" Ia berlari menghindari Queen.
Gelak tawa lepas menggema, yang lain ikut tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Arjuna yang kelewat lebay. Daffa hanya tersenyum tipis, pandangannya tak lepas dari Queen. Senyumnya menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar kekaguman.
Arin, dengan nada sedikit tegas namun tetap ramah, mengingatkan, "Udah, jangan bercanda terus. Nanti keburu sore, kita belum sampai ke Curug Sitawing. Arjuna, berhenti drama kocakmu!"
Arjuna, masih tergelak, "Baik, Nyonya Arin! Hamba akan patuh!"
Mereka segera bersiap. Para wanita masuk ke mobil Pak Parno, sementara yang lain ke mobil satunya. Mobil pun melaju meninggalkan tempat itu. Suasana riang dan penuh antisipasi memenuhi perjalanan mereka.