Dikhianati tunangan dan kakak kandung, bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AgviRa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Ayu tiba rumah kontrakan setelah Isya, tadi dia diajak makan malam bersama dengan Hani, karena Ayu tak ingin mengecewakannya mau tidak mau Ayu menuruti permintaan Hani. Ayu diantar pulang oleh David. Tadinya Ayu menolak tapi, karena Hani memaksa mau tidak mau Ayu menyetujuinya. David sendiri juga tidak menolak.
"Ayo turun dan mampir dulu." Ucap Ayu.
David tidak mengeluarkan suara tapi, dia menurut saja. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan.
Ayu menyuruh David untuk masuk ke dalam.
"Duduklah dahulu, aku akan membuatkan mu minum. Maaf kalau kontrakanku yang kecil ini kurang membuatmu merasa nyaman. Berbeda dengan rumahmu yang besar dan megah itu." Ucap Ayu.
David sama sekali tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
Ayu pun ke dapur membuatkan kopi untuk David.
Ting! Ting!
Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering karena ada notifikasi pesan masuk. Ternyata itu dari asistennya David, sebut saja Pak Jonathan. Jonathan adalah orang kepercayaan keluarga David. Semua yang menghandle ketika David tidak ada adalah Jonathan. Jonathan mengirimkan laporan hasil pencarian terhadap data yang David minta sebelumnya tentang Ayu. David membuka dan membaca semua yang telah Jonathan kirimkan. Sekilas David menyinggung kan senyumnya.
*Ayudisa Candraningtyas, gadis berusia 25 tahun. Anak kedua dari Rudianto dan Sri. Gadis ulet dan mandiri. Bekerja di PT MERINDU sebagai Manajer keuangan. Sempat gagal menikah karena mantan calon suaminya mengkhianatinya dengan kakak kandungnya.*
"Aku memang tidak salah memilih. Nah, ini semakin menarik. Jadi, dia kemarin mengambil cuti untuk menikah tapi ternyata gagal. Dan mantan calon suaminya sekantor dengannya dan namanya Doni, hmm akan aku ingat-ingat. Jonathan memang selalu bisa diandalkan." Gumam David.
Terlihat Ayu datang dari dapur membawakan secangkir kopi untuk David. Gegas David langsung menyimpan ponselnya kembali kedalam saku jasnya.
"Ini, kamu minum dulu. Mumpung masih panas." Ucap Ayu.
David menyeruput kopi buatan Ayu.
'Hm, pas banget.' Batin David.
"Jadi, bagaimana dengan kelanjutan rencana kamu? Aku tidak mau terus menerus membohongi mamamu." Ucap Ayu terus terang.
"Kita akan turuti permintaan mama. Kamu mau minta bayar berapa saja nanti akan saya kasih. Setelah menikah kita akan membuat perjanjian." Jawab David.
"Semacam pernikahan kontrak begitu?"
"Seperti yang kamu tahu."
"Tidak, aku tidak mau seperti itu. Jika kamu hanya ingin jasa seorang wanita mending kamu cari wanita lain. Pernikahan itu sakral, aku tidak mau main-main dalam hal itu. Sudah dosa membohongi mamamu, dosa pula kepada Tuhan. Aku mending mundur dari sekarang. Buatku menikah sekali seumur hidup." Ucap Ayu menolak kemauan David.
"Jadi, kamu mau kita nikah beneran begitu? Tanpa cinta, apa kamu sanggup?" Tanya David.
"Aku lebih memilih menikah sekali seumur hidup meski lelakiku tak mencintaiku, aku percaya seiring berjalannya waktu perasaan akan tumbuh. Asal kita bisa saling menumbuhkan rasa nyaman, aku yakin, rasa cinta akan tumbuh dan memekarkan bunga-bunga yang indah. Tapi, jika kamu hanya ingin pernikahan kontrak, maaf. Aku menolak." Jawab Ayu tegas.
"Oke baiklah. Kalau begitu secepatnya kabari lah keluargamu. Aku tidak akan mundur, apalagi melihat wajah bahagia mama, aku bisa membuatnya kecewa. Aku akan tetap melamar dan menikahi mu." Ucap David.
"Baiklah. Tapi, aku ada masalah sedikit." Ucap Ayu.
"Masalah apa?" Tanya David.
"Sebenarnya aku baru saja ambil cuti kemarin, karena mau menikah tapi, pernikahan aku gagal jadi aku tidak jadi menikah. Nah, aku kalau mau ambil cuti lagi takut kena SP di Kantor. Hehe." Ucap Ayu menjelaskan.
"Kasian sekali kamu, haha." Bukannya kaget dengan perkataan Ayu, David malah tertawa meledek Ayu.
Ayu kesal, David bukannya memberikan simpati dan jalan keluar malah meledek dan menertawakannya.
"Besok datanglah ke ruang CEO mu, ijin langsung kepadanya." Ucap David.
"Hah, apa? Mana bisa, aku saja belum pernah bertemu dengan CEO di Kantorku." Ucap Ayu.
'Ya bagaimana mau ketemu, aku saja baru balik dari Prancis.' Batin David.
"Sudah, percaya saja sama aku." Ucap David meyakinkan.
Ayu pun mengangguk.
Sebenarnya David mulai tertarik dengan Ayu. David menilai Ayu berbeda dengan wanita yang sering dia temui. Karena itu David yakin dengan Ayu.
Dirasa apa yang dibicarakan sudah selesai, David pamit pulang dan besok pagi akan kembali untuk menjemput Ayu untuk bekerja.
Setelah David pergi meninggalkan rumah kontrakan Ayu. Ayu gegas membersihkan diri dan melaksanakan shalat Isya.
Sementara David yang sudah sampai di Mansion, langsung menemui mamanya.
"Ma,"
"Assalamu'alaikum, sayang." Hani memberikan salam.
"Eh, Wa'alaikumussalam wa rahmatullah, maaf Ma." Jawab David.
"Sayang, bagaimana dengan Ayu? Mama sudah sangat cocok dengan dia, dia seperti membawa energi positif dalam diri mama." Ucap Hani mengungkapkan rasa hatinya.
"Lusa kita akan melamarnya, Ma. Semua akan David persiapkan. Mama tenang saja." Ucap David.
"Alhamdulillah" Jawab Hani lega.
*****
Pagi harinya. David menepati janjinya menjemput Ayu. Ayu juga sudah bersiap-siap.
"Assalamu'alaikum," Sapa David.
"Wa'alaikumussalam wa rahmatullah, ah sudah datang, kamu sudah sarapan?" Jawab Ayu.
"Belum, maka dari itu aku menjemputmu sedikit lebih pagi karena mau mengajakmu sarapan terlebih dahulu." Ucap David.
"Hm, sayangnya aku sudah masak, ini bekal sudah aku siapkan untuk dimakan nanti di Kantor." Jawab Ayu menunjukkan bekal yang sudah dia siapkan.
"Itu bekal dimakan nanti saja, ayo." Ucap David.
Ayu memanyunkan bibirnya. Mau tidak mau menuruti David.
'Tidak apalah, lagian dia yang mengajak kok. Hihi.' Batin Ayu.
Ternyata David mengajak Ayu sarapan di Restoran dekat Kantor. Mereka kini sarapan bersama. Selesai sarapan, ponsel Ayu bergetar. Terlihat notifikasi menunjukkan ada sebuah pesan baru dan itu dari Desi. Desi mengabarkan untuk Ayu segera berangkat ke Kantor karena CEO mereka hari ini akan datang ke Kantor.
"David" Panggil Ayu.
"Ya," Jawab David singkat.
"Bisakah kamu mengantarkan aku ke Kantor sekarang? Temanku bilang, CEO akan datang hari ini dan aku tidak mau sampai telat." Ucap Ayu menjelaskan.
David menarik tipis ujung bibirnya.
"Baiklah, ayo."
David pun membayar makanannya dan segera mengantar Ayu ke Kantor.
Setelah sampai di Kantor, Ayu pamit dan mengucapkan terima kasih pada David. Ayu segera masuk ke dalam Kantor menuju ruangannya. Disana Ayu sudah ditunggu oleh Desi.
"Untung kamu cepat dateng, sebentar lagi kita harus berkumpul di Lobi menyambut CEO kita yang baru saja pulang dari Paris. Ah aku tidak sabar ingin melihatnya, aku ingin membuktikan seberapa tampannya CEO kita." Ucap Desi.
"Hmm, kok aku tidak tahu ya? Tahunya dari kamu. Memangnya kamu dapat info dari mana? Eh, sudahlah tidak penting. Ya sudah yuk kita turun lagi." Jawab Ayu yang heran apakah hanya dirinya yang tak mengetahui hal itu.
*****
Beralih ke pengantin baru.
Pagi ini Doni yang telat bangun marah-marah dengan Dina karena tidak membangunkan dirinya. Dina yang juga baru bangun pun tak kalah emosi dengan Doni.
"Astaga, aku sudah telat. Din, Dina! Bangun, kenapa jam segini kamu masih enak-enakan tidur? Aku hari ini sudah masuk, kamu bagaimana sih sebagai istri? Dasar istri tidak berguna." Ucap Doni emosi.
"Hoam," Dina menguap.
"Kamu kenapa sih, pagi-pagi sudah berisik? Biasanya juga begitu dan kamu tidak pernah protes, terus kenapa sekarang kamu marah-marah tidak jelas begini? Seenaknya saja kamu mengatai aku tidak berguna. Hello! Kamu sendiri sebagai suami juga sama, kamu sendiri juga tidak becus dan tidak berguna saja pakai banget. Mana kamu membohongi aku. Apes banget hidupku." Ucap Dina tak kalah emosi.
"Sudah, sekarang siapkan pakaian kerjaku, aku mau mandi, jangan lupa sarapanku." Ucap Doni lalu pergi ke kamar mandi.
"Apa tadi? Dia menyuruh aku? Enak saja. Mending tidur lagi." Ucap Dina dan malah memilih untuk tidur lagi.
Selesai mandi Doni semakin emosi saat melihat Dina bukannya melayani dirinya tapi malah kembali melanjutkan tidurnya. Alhasil dia memakai pakaian seadanya. Dan sarapan bersama kedua orang tuanya.
"Istrimu mana, Don?" Tanya Bu Sinta.
"Masih tidur, Ma." Jawab Doni singkat.
"Perempuan sudah punya suami kok jam segini masih tidur. Lagian kamu ini bagaimana sih, bisa-bisanya menikah sama dia bukannya sama Ayu? Mana jauh banget sikapnya. Apes banget kamu." Ucap Bu Sinta yang merasa kecewa.
"Iya, kamu itu bodoh sekali sih, Don. Bukannya mendapat berlian malah mendapatkan batu kali." Ucap Pak Dimas.
"Entahlah, Pak. Sudah, Doni sudah selesai, Doni pamit dulu, keburu telat." Ucap Doni gegas meninggalkan kedua orang tuanya.
Sampainya di Kantor, sedikit lagi dia telat. Yah, untungnya nasib baik masih berpihak padanya.
*****
Ayu dan Desi turun ke Lobi, ternyata sudah banyak karyawan yang berkumpul disana.
Yang ditunggu-tunggu datang juga, semua mata yang berada di Lobi barisan depan pun terpana melihat wajah CEO mereka yang begitu sempurna. Tubuh atletis yang menjadi idaman setiap wanita. Para karyawan yang berada dibarisan depan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama karena kebanyakan wanita semua. Sementara Ayu si mungil berada dibarisan belakang jadi tidak terlalu bisa memperhatikan wajah CEO nya tersebut, berbeda dengan Desi, meskipun dirinya berada di belakang namun badannya yang tinggi dengan hanya berjinjit sedikit dia bisa melihat bagaimana sempurnanya CEO tersebut. Sampai CEO hilang dari pandangan Ayu tetap tidak bisa melihatnya. Akhirnya para karyawan bubar. Ayu dan Desi juga kembali ke atas menuju ruangan mereka.
"Ah gila, itu CEO kita beneran ganteng banget." Ungkap Desi.
"Seganteng itu ya, Des? Aku tidak bisa melihatnya tadi."
"Kamu akan menyesal karena tidak melihatnya, huh idaman banget." Ucap Desi.
Ayu menaikan kedua bahu dan alisnya, yang dia pikirkan saat ini adalah bertemu dengan CEO itu dan meminta cuti lagi sesuai saran David semalam.
Ayu keluar dari ruangannya dan meninggalkan Desi, dia beralasan akan ke toilet agar Desi tidak banyak bertanya kepadanya, padahal dia akan ke ruangan CEO nya. Setelah Ayu naik ke atas dia sedikit gugup. Di sana ada sekretaris Jonathan, Ayu meminta ijin untuk bertemu karena ada suatu hal penting untuk dibicarakan. Akhirnya Ayu diijinkan untuk masuk. Ayu mengetuk pintu dan masuk.
Ketika berada di dalam, CEO nya itu duduk memunggungi Ayu, jadi Ayu tak bisa melihat wajah CEO nya.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Ayu.
"Hm, selamat pagi." Jawab David.
Ayu merasa familiar dengan suara tersebut.
"Saya Ayu Manajer keuangan di sini, kesini karena ada perlu, Pak. Apakah Bapak bisa memberikan saya cuti untuk beberapa hari?" Ucap Ayu.
Terlihat kursi CEO memutar, Ayu dengan sigap menurunkan pandangannya.
"Bukankah kamu baru saja mengambil cuti?"
"Iya, Pak. Saya mau ijin memintanya lagi." Jawab Ayu.
"Kenapa kamu mau ambil cuti lagi?"
"Saya, ak-"
"Saya ijinkan, bagaimana calon saya tidak saya beri ijin, nanti saya tunangan dengan siapa kalau calon saya saja berada disini?" Ucap David memotong kalimat Ayu.
Seketika Ayu menaikkan pandangannya. Betapa kagetnya Ayu melihat keberadaan David.
"Da-David?" Ayu begitu syok melihat siapa yang dia lihat.
"Ya, saya." Jawab David.
"Ih, kamu, kamu CEO? Disini? Kamu mengerjai aku?" Kesal Ayu juga heran.
"Tidak, untuk apa? Hahaha." Seketika David pun tertawa menertawakan ekspresi Ayu yang terlihat kesal bercampur malu. Sangat menggemaskan.
Ayu yang kesal dan menghampiri David lalu mencubit lengan David.
"Aduh aduh, sakit, kamu kecil-kecil cubitannya sakit." David mengaduh kesakitan karena cubitan Ayu yang begitu terasa.
"Salah siapa kamu menyebalkan?" Nana benar-benar kesal.
Padahal tadi dia begitu gugup dan harus benar-benar mengumpulkan nyali untuk datang menemui CEO yang baru datang itu, ternyata malah begini endingnya.
Ayu pun kembali ke ruangannya setelah urusannya selesai.
Hhuhh,,,
"Kamu dari mana saja kok lama sekali, tidur di toilet? Mana wajah ditekuk begitu." Tanya Desi.
"Dari ruangan CEO, sebel, sebel, sebel." Jawab Ayu.
"Hah, ada perlu apa?" Tanya Desi kaget.
Ayu yang sadar pun langsung menutup mulutnya.
"Eh tidak, Des." Kelak Ayu.
Desi mendekati Ayu, dia memperhatikan setiap inci wajah Ayu. Ayu yang diperhatikan dengan sedekat itu pun sedikit risih dan gugup.
"Kamu tidak bisa membohongi aku, Ay." Ucap Desi.
"Em, aku ke sana hanya ingin minta cuti lagi, Des. Bener." Jawab Ayu.
"Nah, kenapa kamu minta cuti lagi, Ay?" Tanya Desi.
"Anu, em, aku belum bisa menjawab dan memberitahukan mu masalah ini, Des." Jawab Ayu gugup.
"Ayu, jadi sekarang aku sudah tidak dianggap sebagai sahabat nih? Kok sekarang main rahasia-rahasiaan begini!" Ucap Desi sedikit kecewa.
"Em, iya deh, tapi kamu jangan bilang-bilang ya, rahasia kita berdua saja." Jawab Ayu.
"Memangnya mulutku ini lemes apa? Kamu bisa percaya kepadaku, biasanya juga begitu."
"Hehe, iya sih, hanya saja yang satu ini itu sedikit sensitif." Jawab Ayu nyengir.
"Jadi?"
"Jadi, aku minta cuti untuk acara lamaran besok, Des. Dan calonku itu, emb, calonku itu, CEO kita." Jawab Ayu ragu.
Hahaha,,
Desi tertawa,,
"Ayu, CEO kita memang ganteng, tapi kamu jangan ngelantur lah, kamu ini gara-gara batal menikah menjadi ngelantur." Ucap Desi sambil tertawa cekikikan.
"Tapi, itu serius, Des." Ucap Ayu dengan wajah serius.
"Serius, Ay? Wah, gimana bisa, Ay?" Tanya Desu.
"Besok setelah aku balik dari cuti ya, Des. Jangan sekarang ya. Sudah kita lanjutkan pekerjaan kita." Ucap Ayu.
"Oke deh, janji ya."
Ayu pun menjawab dengan anggukan kepala saja. Mereka berdua pun melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda.