"Kau tidak punya pilihan lain selain menikah dengan ku Embun."ucap Alfaro.
Sementara gadis yang kini tengah menundukkan kepalanya itu tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Hanya karena satu peristiwa yang terjadi di malam kelahirannya gadis itu harus terjebak bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Sayang kamu sedang apa disana?"ucap Alfaro yang akhirnya mengetuk pintu kamar mandi tersebut karena Embun tidak kunjung keluar dari dalam kamar mandi.
Tidak lama pintu pun terbuka, Alfaro menatap kearah wanita yang kini menundukkan pandangannya karena dia tidak bisa memenuhi keinginan Alfaro dan dia begitu takut dengan hukum yang akan diberikan jika Alfaro benar-benar tidak sabar ingin melepas rindu dengan percintaan yang biasa mereka lakukan.
"Ada apa hmm... kenapa harus seperti ini?"tanya Alfaro.
"Al aku datang bulan."ucap Embun kini membuat Alfaro mematung di tempatnya untuk beberapa detik, hingga akhirnya ia bertanya.
"Apa kamu gunakan KB?, bukankah selama ini kamu sedang hamil dan orang hamil tidak akan pernah datang bulan."ucap Alfaro yang sebenarnya tidak pernah tau ciri-ciri orang hamil dan ciri-ciri orang ber-KB seperti apa, tapi Alfaro sangat berharap bisa memiliki anak dari Embun agar wanita itu terus bertahan di sisinya.
"Al aku tidak pernah hamil bahkan sejak awal, dan aku juga tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun jadi bagaimana bisa kamu berpikir tentang itu?"ucap Embun.
"Sayang aku tidak mau tau pokonya kamu harus hamil dan tidak boleh datang bulan faham."ucap Alfaro yang meraih roko dari balik jas nya, dan untuk pertama kalinya Embun melihat Alfaro merokok.
"Al kamu merokok?"tanya Embun.
"Hmm..."lirih Alfaro sambil berjalan menuju balkon kamarnya.
"Sejak kapan?"tanya Embun yang penasaran dan sedikit curiga karena tidak biasanya Alfaro seperti itu.
"Sayang kamu tidak perlu tau, sebaiknya kamu tidak usah ikut campur urusan pribadi ku. yang harus kamu lakukan adalah bagaimana caranya agar kamu bisa hamil dan tidak datang bulan disaat seperti ini."ucap Alfaro.
Deg...
Jantung Embun terasa berhenti berdetak karena ucapan Alfaro seakan tengah mengingatkan bahwa dia tidak berarti apa-apa bagi pria itu.
Embun pun bergegas menuju walk-in closed untuk berpakaian dan menggunakan pembalut, Alfaro selama ini tidak pernah tau bahwa tamu bulanan Embun selalu datang disetiap bulannya dan saat itu Alfaro sedang tidak ada di rumah.
Alfaro masih menyesap rokok nya itu sambil bersandar di pembatas balkon kamarnya, dia kemudian mematikan api dari rokok tersebut dan membuang puntung rokok itu ke pot bunga yang ada di sana.
Waktu masih sore hari dan Alfaro pun pergi begitu saja tanpa pamit pada Embun hingga membuat Embun menghela nafas berat, Embun merasa bahwa ada yang aneh dengan perasaannya saat ini.
Embun merasa sedih saat pria itu bersikap acuh padanya dan itu tidak biasanya tapi lagi-lagi dia sadar bahwa ia bukan siapa-siapa Alfaro.
Alfaro sendiri kini semakin frustasi karena tidak bisa melampiaskan hasratnya pada Embun, dan kini Alfaro tidak tahu harus kemana untuk melampiaskan kekesalannya itu.
Alfaro pun memutuskan untuk kembali ke rumah Embun setelah hampir satu jam berada di jalan raya dan tidak tentu arah tujuan tersebut.
Sesampainya di rumah Embun sudah berada di atas ranjang empuk mereka karena rasa lelahnya setelah bekerja seharian penuh dan dia tidak berfikir bahwa Alfaro akan kembali ke rumah mereka.
"Sayang kamu enak-enakan bobo sementara aku menderita sendirian karena mu."ucap Alfaro yang kini mengungkung tubuh Embun yang masih terlelap dalam tidurnya hingga dia meraup bibir manis itu dan tidak melepaskan nya meskipun pemiliknya kini terlihat sangat kaget dengan pria yang ternyata telah kembali ke rumah.
"Al kamu kembali, maaf tadi aku ketiduran."ucap Embun yang kembali berciuman karena Alfaro benar-benar tidak tahan dengan hasratnya, dia menginginkan pel*pas*an.
"Babe kamu bisa kan bantu aku untuk menyalurkan hasrat ini, kamu tau rasanya ini begitu sakit."ucap Alfaro yang kini menatap sayu Embun yang merasa tidak tega akhirnya Embun pun mengangguk pelan meskipun terpaksa Embun pun melakukan itu hingga beberapa menit lamanya Alfaro pun mendapat pelepasan dan itu membuat dia sangat lega dan langsung mengecup pipi yang sangat ia rindukan itu.
"Thanks babe."ucap Alfaro yang kini berulang kali mengecup bibir Embun yang terlihat sendu karena dia sudah seperti wanita murahan di luar sana yang memuaskan pria dengan bi*ir dan tangannya nya meskipun tidak sepenuhnya masuk kedalam tapi baginya itu sangat menjijikan.
"Kamu kenapa hmm..."lirih Alfaro saat melihat Embun hanya terdiam melamun di samping nya.
"Al aku lelah melewati semua ini, bukankah kalian akan menikah lalu kenapa hubungan ini belum diakhiri."ucap Embun yang membuat Alfaro bangkit dari ranjang lalu menatap tajam kearah Embun.
"Apa yang kamu katakan heh, sudah kubilang semua keputusan itu ada ditangan ku, dan kamu tidak berhak untuk menanyakan itu."ucap Alfaro tegas.
"Tapi Al aku lelah dengan semua ini apa aku tidak punya hak untuk memilih jalan hidup ku sendiri."ucap Embun.
"Sampai waktu yang ditentukan selesai saat itu semua akan berakhir dan sekarang tinggal delapan bulan lagi apa sulitnya bagimu untuk menjalani hidup ini, aku mencukupi seluruh kebutuhan mu dan kau pun dapat kepuasan dariku jadi apalagi yang kamu inginkan yang tidak pernah aku penuhi sayang?"ujar Alfaro.
"Pernikahan resmi Al aku lelah terus berbuat dosa, mungkin ini adalah hal yang lumrah bagimu tapi tidak dengan ku."ucap Embun.
"Kau lupa siapa kau saat terlahir ke dunia ini? Sekarang apa bedanya kau dan aku. apa pernah kau melihat ku berbuat tidak senonoh dengan wanita lain hingga kau bisa menyimpulkan bahwa ini adalah hal yang lumrah bagiku."ucap Alfaro yang kini menatap datar kearah Embun.
"Aku tidak berkata pernah menghina mu Al tapi kenapa kau selalu mengingatkan darimana aku berasal, sejak awal aku tidak pernah menuntut apapun darimu kamu yang membawa ku kedalam hidup mu, apa pernah aku merugikan mu sebelum itu? tapi kenapa kau selalu berbuat semaumu terhadap ku!"ucap Embun yang akhirnya meluapkan emosinya yang sedari tadi sangat menyesakkan dada.
"Kau tau kesalahan terbesar mu Embun kau tau itu jadi jangan berpura-pura seolah kau tidak pernah tau!"teriak Alfaro yang tidak terima Embun berteriak padanya.
"Apa terlahir dari sebuah kesalahan itu adalah sebuah kejahatan?! Apa memiliki wajah seperti ku juga kejahatan kenapa kau selalu menjadikan itu sebagai alasan! Kau ini laki-laki pengecut Al, jika kau memang mencintai aku kenapa kau takut dengan dunia yang akan menghujat mu! Nyata semua kata cinta itu hanya omong kosong belaka kau bahkan memperlakukan ku seperti jalang yang tidak ada harganya! Sekarang juga aku akan pergi dari hidup mu!"Embun terus meluapkan emosi nya dengan nada tinggi hingga tangan kekar itu mendarat di pipi Embun yang kini tertunduk dengan cucuran air mata.
Plak....
"Kau tidak tau sedang berhadapan dengan siapa Embun, aku tidak pernah mengampuni siapapun yang berani melanggar peraturan ku, dan satu lagi jangan pernah berteriak padaku karena kau bukan siapa-siapa yang bisa membuat ku tunduk kecuali kedua orang tua ku."ucap Alfaro pelan tapi penuh penekanan.
"Kalau begitu sekarang juga kau bisa membunuhku Al,"ucap Embun yang meraih gunting dari dalam laci nakas pada Alfaro.
Alfaro meraih gunting itu dan Embun sudah bersiap untuk menunggu akhir hidupnya, tapi kemudian Alfaro melempar gunting itu kearah cermin meja rias hingga bunyi pecahan cermin tersebut terdengar nyaring dan Embun memejamkan matanya.
"Bahkan untuk mati pun aku tidak akan pernah mengijinkan hal itu."ucap Alfaro tegas.
Pria itu pergi ke luar kamar dengan menggunakan kimono tidurnya itu, dan dengan tangan bergetar hebat karena emosi yang tidak tersalurkan itu membuat Alfaro menghantamkan tinjunya ke dinding.
Hingga punggung tangan nya lecet dan berdarah Alfaro sedang menghukum tangan yang telah menyakiti wanita yang sangat ia cintai itu, meskipun dia merasa itu wajar dilakukan karena Embun berbicara dengan nada tinggi padanya.
...🍄🍄🍄...
Sementara Embun sendiri kini tengah berada di dalam kamar mandi dengan tangis pilunya,rasa sakit itu menjalar di dadanya bagaimana bisa dia punya rasa cinta pada pria yang sejak awal ia benci, Embun ingin mengakhiri hubungan itu sebelum dia terlanjur cinta pada Alfaro yang nanti akan mencampakkan dirinya setelah waktu yang ditentukan itu berakhir.
Tangis itu masih berlangsung hingga ia terlelap di lantai kamar mandi, dan tidak peduli dengan rasa dingin yang menusuk tulang itu.
Alfaro yang hendak pergi meninggalkan rumah itu pun memasuki kamar nya dan berjalan menuju kamar mandi tanpa melihat Embun ada di dalam kamar atau tidak, dia pergi begitu saja memasuki kamar mandi dan alangkah terkejutnya saat ia melihat Embun berbaring di lantai kamar mandi dia langsung mengangkat tubuh istrinya itu tanpa peduli dengan tangannya terluka itu.
Alfaro langsung melucuti pakaiannya yang dikenakan oleh Embun kecuali underwear yang terlihat tebal karena pembalut tersebut. Pria itu langsung menyelimuti tubuh Embun yang sudah pasti akan sangat kedinginan itu.
Alfaro pun mengurungkan niatnya untuk pulang, dia tidak mungkin meninggalkan Embun saat ini hingga dia selesai mandi dan berganti pakaian dengan piyama tidurnya dia turun kebawah karena merasa sangat lapar saat ini.
Beruntung ada roti dan selai juga beberapa buah pisang dan apel yang masih fresh di lemari pendingin hingga Alfaro bisa mengganjal perut nya dengan makanan ala-ala yang kini dia racik menjadi salad buah campur roti meskipun bentuknya tak karuan.
Tuan muda seperti Alfaro bisa membuat makanan sendiri itu sudah merupakan sebuah keajaiban karena memang Alfaro tidak pernah melakukan hal itu bahkan dia tidak tahu semua bahan makanan yang biasa dimasak kecuali nama-nama menu lezat yang sering ia nikmati di restaurant atau di rumah yang memang memiliki koki pribadi yang profesional untuk membuat semua makanan lezat tersebut.
Dia membuat itu satu mangkuk full dan membawanya ke atas dengan susu less sugar nya itu.
"Sayang bangun kamu belum makan malam kan ayo makan."ucap Alfaro yang kini mencoba untuk membangunkan Embun dengan penuh kelembutan seakan tak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.
Embun pun mengerjapkan matanya saat ini dia seakan baru saja melewatkan mimpi buruk setelah pertengkaran hebat diantara mereka lagi-lagi Alfaro bersikap hangat padanya seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
Tapi pipinya masih terasa panas dan bengkak saat ini ditambah lagi pecahan cermin yang Alfaro hancurkan tapi masih berserakan di lantai dan kini dia melirik kearah tangan Alfaro yang lecet dan sedikit berdarah karena Alfaro sudah mencuci tangan nya yang kini biru keunguan dengan luka lecet tersebut.
"Al tangan?"
"Jangan pedulikan itu ayo makan setelah itu kamu bisa istirahat aku harus pulang besok akan ada orang mengantar meja rias yang baru."ucap Alfaro
"Tidak perlu Al, lagipula aku malu untuk bercermin mengingat aku bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa untuk dilihat."ucap Embun yang menjadi pukulan keras bagi Alfaro yang selalu menyinggung perasaan Embun yang kini terlihat menerawang.
"Maaf, tapi bisakah kamu menuruti ku sayang aku ini suamimu sayang. Tidak seharusnya kamu berteriak padaku."ucap Alfaro.
"Kelak tidak akan pernah ada lagi yang berteriak padamu al setelah kita berpisah nanti jadi kamu bisa mempercepat proses nya."ucap Embun.
"Sayang aku ingin makan bukan ingin ribut lagi dengan mu."ucap Alfaro yang kini menatap lekat wajah cantik itu.
Wanita itu pun tak melanjutkan pembicaraannya dia langsung menyendok salad buah yang terlihat amburadul itu, tapi dia tidak berkomentar tentang rasa karena dia sudah pasti akan disalahkan saat mengatakan bahwa rasanya juga amburadul.
Sampai saat Alfaro meminta Embun untuk berhenti memakan makanan yang rasanya super hancur itu, tapi Embun dengan cueknya memasukkan makanan itu lagi dan lagi hingga membuat Alfaro geram dan merebut sendok milik Embun lalu ia lempar ke sembarang arah.
"Sudah kubilang berhenti apa kamu tidak dengar kata-kata ku."ucap Alfaro yang hampir melempar nampan berisi mangkuk besar dengan dua gelas susu yang masih utuh itu.
"Kenapa Al buang-buang makanan itu bukankah perbuatan dosa."ucap Embun yang mengingatkan Alfaro akan kejadian beberapa tahun lalu dimana Embun dipaksa untuk makan makanan sisa kucing disaat Embun hendak makan waktu itu piring berisi nasi dan lauk pauk miliknya di atas meja dapur itu sengaja di berikan pada kucing peliharaan kakak tirinya itu dan Embun dipaksa untuk memakan makanan tersebut dengan kata membuang makanan itu tidak baik apalagi Embun numpang tinggal di rumah itu.
"Sayang kamu masih mendendam akan apa yang terjadi di masalalu."ucap Alfaro.
"Kenapa apa untuk itu juga aku tidak punya hak?"tanya Embun.
"Aku punya alasan untuk semua yang terjadi di masalalu."ucap Alfaro yang kini bangkit dari duduknya.
"Aku juga punya alasan untuk membenci kalian semua seumur hidup ku."ucap Embun yang kini bangkit dan meraih nampan itu lalu membawanya ke luar dari dalam kamar kemudian turun ke bawah menuju dapur.
Embun tau Alfaro kelaparan saat ini, Embun pun akhirnya membuat nasi goreng dengan nasi sisa tadi dan telur ceplok yang kini ia hidangkan di meja makan.
ajaran dari mana itu ????????