Cerita yang mengisahkan tentang dua orang yang awalnya cuma kenal secara basa-basi karena si cewek adalah pacar dari sahabat si cowok, namun siapa sangka jika keduanya adalah jodoh yang sudah tertulis ditakdir Tuhan, bagaimana awal mula mereka menyadarinya, cerita selengkapnya akan tersaji dalam bab demi bab didalamnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prepare Dan Packing Perlengkapan Liburan
Sarapan selesai, ayah mengajak bunda pergi keluar untuk membeli beberapa kebutuhan yang akan mereka bawa liburan nanti.
Kata bunda semenjak menikah ayah itu suka kurang percaya diri jika harus belanja kebutuhannya sendiri dan harus sesuai selera bunda.
Aku sendiri heran mendengarnya, tetapi hal ini adalah ilmu baru buatku jika seseorang sudah menemukan orang yang tepat maka segala hal yang menyangkut padanya pun harus berdasarkan pandangan pasangannya.
Lucu sih jika dipikir secara logika padahal kan setiap manusia terlahir dengan karakter dan selera masing-masing dan bisa seakan berubah begitu saja hanya dengan kata percaya dan cinta.
Aku jadi berpikir apakah gadis yang dinilai orang selama ini memiliki ketegasan dan prinsip kuat dalam menentukan pilihan akan mengikuti jejak orang tuanya.
Kelak etika sudah memiliki kehidupan sendiri atau masih sama bahwa logikanya masih lebih kuat dibandingkan perasaannya.
Entahlah aku rasa hanya waktu yang bisa menjawabnya, tetapi untuk saat ini dalam perjalanan hubunganku dengan Celo, aku masih mementingkan pemikiran logikaku.
Contoh saja kejadian kemarin pas dia melamar ku yang jika dirasa aku menuruti cinta mungkin hari ini kami sedang meresmikan acara lamaran dengan disaksikan kedua belah pihak keluarga dan sahabat-sahabat kami.
Tetapi aku justru menuruti logikaku untuk menolaknya karena ada hal lain yang membuatku mengambil keputusan itu meskipun resikonya ada sedikit perdebatan diantara kami dan aku harus meminta maaf padanya.
"Ternyata gen ayah muda mengalir deras padaku." Pekikku.
Saat asik mencerna pikiranku sendiri tentang karakter seseorang berubah ketika menikah tiba-tiba gawaiku berdering mengagetkan, ku tengok Celo lah yang meneleponku.
"Assalamualaikum sayangku." Kataku.
"Waalaikumsalam princess, sedang apa cantikku?" Tanya Celo.
"Rencananya mau packing perlengkapan dan peralatan yang nantinya akan dibawa ke acara family gathering yang bisa disebut liburan besok, tetapi masih mager hehe." Jawabku.
''Kalau begitu nanti saja packing nya nunggu mood, sayang aku mau bilang jika sekarang Rafka lagi menuju rumahmu, aku meminta tolong padanya agar dia mengantarkan yogurt kesukaanmu."
"Maaf ya aku lewat dia soalnya aku masih repot dan kita rencananya mau ketemu vendor karena rumah dia searah dengan rumahmu makanya aku titip biar sekalian kan." Terangnya.
"Sebenernya aku maunya lepas kangen sama kamu bukan sama yogurt apalagi sama Rafka kan aku belum terlalu kenal, ayah dan bunda juga gak ada dirumah." Rengek ku.
"Utututu maaf ya, next time aku janji deh bakal temani kamu seharian kemanapun kamu mau, by the way ayah dan bunda kemana princess?" Bujuk Celo.
"Mereka lagi beli beberapa kebutuhan yang akan mereka pakai pas liburan nanti, gak apa sayang anggap saja ini awal keakraban aku sama Rafka jadi nanti pas kita liburan aku gak canggung lagi." Jawabku.
"Manis banget sih pacarku ini, love you." Timpal Celo.
"Love you too." Kataku.
Telepon mati, aku menghela nafas sejenak dan merenung kembali sebenarnya mungkin inilah salah satu alasanku menolak lamarannya tempo hari.
Celo selalu saja menitipkan sesuatu untukku lewat sahabat-sahabatnya yang jika boleh berkata jujur aku kurang nyaman karena bagiku pertama dia secara tidak langsung lebih mementingkan urusannya daripada aku.
Kedua ini bisa jadi celah adanya kesalahpahaman kami karena jika aku terlalu akrab dengan sahabatnya bukan tidak menutup kemungkinan Celo akan cemburu karena aku paham dia.
Tetapi jika aku basa-basi sekedarnya pun justru aku yang tidak enak dengan dia ataupun sahabatnya karena terkesan aku tidak mau menerima kehadiran sahabatnya.
"Tok...tok...tok, assalamualaikum permisi." Kata suara dibalik pintu.
Mendengar seperti suara orang mengetuk pintu, aku segera membukakannya barangkali itu Rafka seperti yang disampaikan Celo ditelepon tadi.
Aku tetapi tidak boleh langsung yakin jika itu dia karena akhir-akhir ini sering terjadi kasus perampokan dengan modus mengetuk pintu rumah, maka aku akan mengintipnya dari balik jendela terlebih dahulu.
Setelah dipastikan jika itu Rafka maka aku pun membuka pintu untuknya.
"Waalaikumsalam, silahkan masuk dan duduk mas." Kataku.
"Gak usah mba, ini gw dimintakan tolong Celo untuk ngasih yogurt ke pacarnya." Jawabnya.
"Oh iya mas, terimakasih dan maaf jika merepotkan." Balasku.
"Don't worry mba, gw sekalian lewat juga kok karena anak-anak sudah menunggu maka gw pamit ya mba, assalamualaikum." Tegasnya.
"Baik mas, waalaikumsalam." Sahutku.
Rafka adalah teman Celo yang aku sendiri baru ketemu beberapa kali, tetapi diantara teman-teman dia yang lain sepertinya hanya Rafka inilah yang terlihat sedikit lebih cuek dan pecinta kerja makanya dia jarang banget terlibat dalam kegiatan-kegiatan geng mereka.
Terserahlah itu kan karakter setiap manusia yang terpenting sekarang aku harus segera memberi kabar Celo jika yogurt darinya telah aku terima dan akan aku jadikan teman santap ku sambil berkemas barang-barang yang akan dibawa.
"Sayang, yogurt telah sampai ke penerima dengan selamat dan dia sekarang sudah ada di piring bertugas menemaniku packing barang ke dalam koper." Tulis ku dalam sebuah pesan WhatsApp.
Makanan (yogurt) sudah ada, pakaian dan barang-barang lainnya juga sudah tertata rapi dihadapan ku artinya langkah selanjutnya adalah mengambil koper di gudang dan tidak lupa menyalakan musik agar lebih tenang dan damai.
Beberapa menit berlalu semua perlengkapan sudah tersusun dengan sangat sempurna. Saatnya rebahan sambil melanjutkan mendengarkan musik kesayangan dengan headset.
Relaksasi dirumah yang ramah dikantong tentunya tetap membuat hati happy dan penuh warna.
Asik mendengarkan musik, gawaiku berdering ku kira balasan dari Celo rupanya ayah yang menelepon segera aku angkat karena aku khawatir dengan kondisi ayah dan bunda.
"Assalamualaikum ayah." Sahutku.
"Waalaikumsalam sayang, lagi apa kamu dirumah sendirian aman?" Tanya ayah.
"Of course ayah, kenapa ayah dan bunda lama sekali shopping nya?" Sambung ku.
"Maaf nak soalnya bunda bingung memilih mana saja yang harus dibeli, dan ini ayah justru diminta sama bunda untuk menanyakan kamu mau gak jika kami belikan sebuah dress kata bunda dress nya sangat manis dan cocok jika dipakai kamu." Terang ayah.
"Sudah ku duga, kemarin bunda khawatir dan bilang aku suka belanja padahal kan aku ini lahir dari rahimnya jadi wajar dong, by the way untuk dress nya boleh deh ayah, hehehe." Kataku girang.
"Hahaha dasar inilah alasan ayah kerja keras karena ayah tahu istri dan anak ayah suka kalau berbau mall dan swalayan, kalau begitu tunggu kami pulang ya dengan membawakan dress untuk princes kalau kata pacarmu itu." Ledek ayah.
"Terus ayah ledek aku, sudahlah aku mau tidur siang dulu, bye ayah." Imbuhku sesaat sebelum mematikan telepon.
Kebiasaan ayah memanglah senang sekali meledekku, apalagi jika aku sedang berantem dengan Celo pasti akan jadi bulan-bulanan ayah.
Apapun itu yang jelas adalah bentuk bahasa cinta seorang ayah untuk putri tersayangnya, sudahlah daripada menunggu ayah dan bunda yang sepertinya masih lama berbelanja aku lebih baik tidur siang saja.
..