NovelToon NovelToon
Di Sini Ada Arwah, Di Sana Ada Polisi

Di Sini Ada Arwah, Di Sana Ada Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Mata Batin
Popularitas:33.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.

Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.

Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.

Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelaku yang Sama

“Waduh,” gumam Prisa pelan.

“Kenapa?” tanya Nilan.

Prisa mengeluarkan lembaran uang dua puluh ribu yang sudah lecek dan ada solatip bening di salah satu sisinya. Melihat itu, Nilan menggelengkan kepalanya. “Astaga dompet si Gilang ngenes amat isinya,” celetuknya. “Aku cari Nino atau Asep dulu.”

Tanpa membuang waktu Nilan langsung menghilang. Hantu wanita itu hendak mencari keberadaan Nino atau Asep.

“Mana bayarannya?” tanya sang pengemudi.

“Hehehe … bentar, Pak. Teman saya lagi cari Pak Pol dulu,” Prisa yang berada di dalam raga Gilang melemparkan senyum manisnya. Bukannya terpesona, sang pengemudi malah dibuat bergidik.

Sementara itu di dalam kantor, Nilan langsung menemui Nino. Kebetulan pria itu tengah melintas di ruangan yang didatangi Nilan.

“Nino, tolong Gilang!”

Suara Nilan seketika menghentikan langkah Nino. Pria itu memberi isyarat agar Nilan mengikutinya ke tempat sepi. “Ada apa dengan Gilang?” tanya Nino tanpa basa-basi.

“Dia naik ojek ke sini, tapi nggak bawa uang. Ojeknya nungguin di depan.”

“Astaga, kirain apa.”

Bergegas Nino keluar dari kantor. Di pelataran kantor, tampak Gilang sedang berdiri di dekat motor pengemudi ojek.

“Bang Nino!” pekik Prisa senang. Wanita itu langsung menghampiri Nino lalu memeluk lengan pria itu.

Kening Nino langsung berkerut. Melihat gelagatnya, pria itu yakin Gilang sedang dirasuki Prisa.

“Berapa, Pak?” tanya Nino pada pengemudi ojek.

“Tujuh puluh ribu, Pak. Tadi dia janji mau bayar saya segitu.”

Mata Nino mendelik pada Gilang yang sedang dirasuki Prisa. Pemuda itu malah bersikap manja. Dia menyandarkan kepalanya ke lengan Nino. Sang pengemudi ojek sampai bergidik melihat tingkah Gilang kepada Nino.

Buru-buru Nino memberikan uang pada pengemudi ojek itu.

Setelah menerima pembayaran, sang pengemudi segera menjalankan motornya keluar dari pelataran kantor Polda.

“Ganteng, gagah, tapi doyannya sama laki juga, hiiii,” pengemudi itu bergumam pelan sambil menggerakkan tubuhnya pelan seperti orang kedinginan. “Eh nih motor kenapa enteng lagi? Tadi berat banget. Berarti bener tuh anak berat sama dosa.”

Pengemudi itu menambah kecepatan motornya. Biarpun mendapat penumpang aneh, yang penting bayarannya lumayan besar.

Setelah ojek itu berlalu, Nino mendorong kepala Gilang yang masih menempel padanya. “Nggak usah ganjen! Keluar!”

“Nggak mau. Kalau aku keluar si Gilang bakal pingsan lagi. Ada masalah serius.”

“Masalah apa?”

“Ada mayat baru, tuh arwahnya.”

Gilang alias Prisa menunjuk pada Riri. Nino langsung menoleh. Pria itu terdiam sejenak memandangi penampakan Riri. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka. Dan yang paling parah adalah luka di kepalanya.

“Di mana jasadmu?” tanya Nino pada Riri.

“Di bangunan kosong, tidak jauh dari klub Butterfly.”

Bergegas Nino masuk ke dalam. Dia melaporkan dulu kasus ini pada Miko. Tak berapa lama kemudian Nino berangkat ke TKP bersama Asep dan beberapa personel lainnya. Miko juga langsung menghubungi tim forensik untuk segera menyusul.

Berturut-turut mobil polisi melintasi bangunan klub Butterfly yang masih terpasang pita kuning. Prisa, Nilan dan Riri ikut di mobil Nino. Riri menunjukkan lokasi di mana jasadnya berada.

Mobil yang dikendarai Nino berhenti di depan bangunan kosong.

Beberapa pemilik toko dan pengunjung di sekitar jalan itu dibuat terkejut dengan kemunculan beberapa mobil polisi.

Nino dan Asep terlebih dulu mengenakan sarung tangan. Keduanya segera menuju bangunan yang ditunjuk Riri. Begitu pintu dibuka, jasad Riri yang tergeletak di lantai langsung terlihat.

Nino dan Asep segera mendekati jasad Riri. Personel yang ikut dengannya segera memasang garis kuning. Sementara personel yang lain segera mengamankan lokasi. Orang-orang yang berada di sekitar lokasi mulai berdatangan untuk melihat apa yang terjadi.

Suara sirine kembali terdengar. Kali ini mobil yang membawa tim forensik yang datang. Begitu mobil berhenti, dokter Bagas keluar bersama anggota timnya. Mendengar ada lagi mayat yang ditemukan, dokter forensik itu memutuskan datang ke lokasi.

Setelah memakai sarung sepatu dan sarung tangan, dokter Bagas dan timnya langsung memasuki TKP. Pria berusia lima puluh tahun lebih itu mendekati Nino dan Asep yang berada di dekat korban.

Sejenak dokter Bagas memandangi jasad Riri di depannya. Luka-luka yang ada di tubuh wanita itu begitu familiar. Dia berjongkok untuk memeriksa dari dekat. Sejumlah luka yang berada di tubuh Riri berasal dari pukulan benda tumpul.

Dokter itu kemudian memeriksa luka di bagian kepalanya. Pola pukulannya sama persis seperti Nilan, korban sebelumnya. Dia kemudian memeriksa telapak ibu jari Riri. Di sana terdapat dua titik hitam.

“Mungkinkah pembunuhnya adalah pelaku yang sama?” tanya Nino pada dokter Bagas.

“Kemungkinan besar pelakunya sama. Lihat ini,” dokter Bagas menunjuk dua titik hitam di telapak ibu jari Riri. “Dua titik hitam ini menandakan bahwa wanita ini adalah korban keduanya.”

“Posisi korban yang meringkuk seperti bayi serta titik yang ditinggalkan di tempat yang sama merupakan pola yang ditinggalkan pembunuh setiap kali dia beraksi.”

“Dasar gila,” maki Asep pelan.

Asep dan Nino meninggalkan jasad Riri. Keduanya mulai mencari petunjuk lain di sekitar lokasi. Nino mencari-cari petunjuk di gudang, sementara Asep mencari kamera CCTV yang terpasang di lokasi ini.

Riri tak berhenti menangis saat melihat petugas kepolisian dan forensik bekerja. Wanita itu masih belum bisa menerima kematiannya. Masih banyak yang harus dia lakukan. Jika dirinya mati, lalu bagaimana dengan keluarganya? Apalagi ibunya sedang sakit.

Riri jatuh terduduk di aspal. Nilan ikut berjongkok di dekatnya, berusaha menenangkan wanita itu. Prisa yang merasa prihatin juga ikut berjongkok.

“Sabar Riri. Aku tahu kamu tidak terima dengan kematianmu. Tapi semua sudah terjadi. Serahkan saja pada pihak berwajib. Semoga mereka bisa secepatnya menangkap pembunuhmu.”

Suara Prisa memang tidak keras, jadi tidak terdengar oleh orang-orang yang menonton di TKP.

Namun gerak tubuh Gilang yang sedang dirasuki Prisa tak ayal menarik perhatian orang-orang. Mulut pemuda itu tampak komat-kamit seperti mengucapkan sesuatu.

“Tuh anak kayaknya gila,” celetuk salah satu warga yang menonton sambil menunjuk pada Gilang.

“Mungkin pacar korban. Tahu pacarnya mati, makanya dia stres terus ngomong sendiri.”

“Atau mungkin dia indigo, lagi ngomong sama arwah mayat di dalam.”

Perhatian orang-orang itu teralihkan saat tim forensik membawa jasad Riri yang sudah dimasukkan ke kantong mayat. Tak berselang lama, kendaraan yang membawa tim forensik meninggalkan lokasi tersebut.

Asep kembali ke TKP setelah melihat-lihat sekitar lokasi. Dia mendekati Nino yang berdiri sambil menatap lantai yang sudah diberi garis jasad Riri. Genangan darah masih terdapat di lantai. Di beberapa bagian, cipratan darah sudah mulai mengering.

“Apa kamu menemukan sesuatu?” tanya Asep.

“Tidak, pelakunya cukup cermat. Bahkan dia menghapus jejak sepatunya,” Nino menunjuk lantai berdebu yang seperti terkena sapuan. “Tidak ada barang-barang yang tertinggal atau sidik jari. Benar-benar profesional. Bagaimana denganmu?”

“Aku sudah melihat-lihat sekitar. Ada tiga CCTV di sekitar lokasi ini. Sepertinya kita harus ke ATCS untuk melihat rekaman saat kejadian.”

“Ya, kamu benar.”

“Ahqam!”

Sebelum pergi, Asep memanggil dulu khodamnya. Seperti biasa Ahqam akan ditugaskan mencari tahu apa yang terjadi di lokasi ini di malam pembunuhan. Sedetik kemudian Ahqam muncul bersama Eris.

“Ada apa?” tanya Ahqam.

“Ada korban pembunuhan lagi. Dia ditemukan di sana,” Asep menunjuk garis jasad Riri di lantai. “Kemungkinan dia dibunuh malam hari. Pelakunya sepertinya orang yang sama. Aku mau kamu cari tahu soal ini.”

Eris terdiam di tempatnya. Hantu wanita itu ikut prihatin dengan apa yang terjadi. “Di mana arwahnya?” tanya Eris pada Nino.

“Ada di depan, sedang bersama Gilang. Oh ya, Gilang sedang dirasuki Prisa. Suruh dia pulang. Sesampainya di rumah, minta Prisa keluar.”

Eris segera keluar diikuti Ahqam. Tampak Gilang yang sedang dirasuki Prisa duduk bersila di aspal dekat dengan Nilan dan arwah wanita korban pembunuhan.

Cukup lama Ahqam memandangi wajah Riri. Luka di kepala wanita itu cukup membuatnya kesulitan mengenalinya. Hingga akhirnya dia ingat tentang Riri. “Aku tahu perempuan itu,” celetuknya, sukses menarik perhatian Eris.

***

Awas Eris cemburu😂

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tersepona ga tuh
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
hehhhh kau tuh hantuuuuu
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
pria siapa
nayla tsaqif
Q mikirnya visual aqham itu kayak jin nya aladin thor,, tinggi besar, botak warna biru,, 🤭
Munas Tuti
ada2 ajhaa Achqom, pake ganti wajah....jurig mah jurigg wee 😄😄
Cucun Sukmawati
bisa bisanya si ahqam berubah jadi Tom Cruise,,🤣🤣🤣
yula
💪💪💪💪💪thor
Nawang Kasturi
sa AE si ahqam🤣🤣
Sari Hastuti
apartemen pelaku smaa pradipta smaa y,,
Erchapram
🤣🤣🤣
sakura hanae @ mimie liyana❤️
Effort juga si ahqam🤣🤣🤣
sakura hanae @ mimie liyana❤️
😫AMNESIAAAA... streess lue pRisa😭🤣🤣🤣🤣
♋Ichageul💞
Lihat di cover🤣
Teti Usmayanti
pelakuny pintar, sangat profesional dan totalitas ya.. sprt belut. tp namany bangkai tertutup rapat akan tercium bauny. tenang asep dan nino pst akan ada temu titik terang mencari pelaku pembunuhan. by the way, jung kok itu di jadiin sandera sm pembunuh bertopeng. karena sdh lihat muka pembunuh bertopeng itu. apa2 jgn pembunuh bertopeng itu melakukan pembunuhan buat ritual dia ato buat hobi aja. ehm.. msh bnyk misteri yg blm terpecahkan.
Teti Usmayanti
🤣🤣 kykny cuma nino doank yg bisa menistakhan aqham 😄🤭. tuh eris, aqham berubah wujud jd tom cruise tambah ganteng.
tehNci
Tuuh di dalam tas ada drone sama laptop. Tergerak gak, hati Nino melihat kedua benda itu di tas si pembunuh? mungkinkah itu bukti awal yg bisa membongkar identitas si topeng Rahwana?
tehNci
Mission impossible nya Eris udah Dateng...tapi sekarang udah gak impossible lagi. Udah sangat possible kalo Eris makin cinta sama ahqam😅😅😅
tehNci
Lha....sebelum Asep dan Nino dibuang ke gunung Kawi, elu duluan yg dibuang ke kebun jengkol sama Abah Ade, trus gak bisa keluar dari sana karena kekuatan Abah Ade. Sampe mati kamu terpenjara di kebun jengkol Abah ade🤣🤣🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
cehhh ......
aaciieeeee.....
Ahqam cosplay jd Tom Cruise...emmhh biar Eris makin semakin...huweee /Puke//Facepalm/
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
ahahahahhaha..ada yg nepsong eungg di ghibahin..... Ahqam ooo Ahqam /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!