ig : @dora_eyha
Kehidupan rumah tangga yang bahagia menjadi impian bagi setiap pasangan menikah. Namun, jalan terjal selalu siap menantang di masa depan.
Seperti yang dialami Daffin Miyaz Stevano dan istrinya Zafreena Evren Stevano, bertahun-tahun menikah mereka tak kunjung mendapatkan buah hati.
Hingga muncullah rencana gila dari Reena saat melihat Ayasya, janda muda yang di tinggal mati oleh suaminya.
Akankah, Daffin menuruti keinginan Reena?
Lantas, bagaimana nasib Ayasya sang janda muda?
Mari simak kisah romantis penuh haru yang di balut konflik dan intrik pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eyha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA TUHAN
CEKIIITTTT...
Suara mendecit ban mobil yang bergesekan dengan aspal jalanan, karena di paksa berhenti secara mendadak terdengar seperti mengiris telinga.
BRAKKK...
Mobil yang aku kendarai terlambat berhenti dan menabrak sebuah mobil sport berwarna putih yang sedang berhenti di lampu merah.
Tanganku gemetar menggenggam kemudi, aku sungguh ketakutan. Semua ini benar-benar di luar kendaliku. Aku hanya ingat jika aku ingin pulang ke rumah. Tanpa kusadari aku sudah berada di jalanan yang cukup ramai hingga aku kehilangan fokus dan menabrak kendaraan yang berada di depanku.
Aku melihat pengemudi mobil sport itu keluar. Ternyata, pengemudinya seorang pria berpakaian casual dengan wajah yang tertutupi oleh topi dan juga kacamata hitam.
Pria itu keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah mobilku. Aku pun menyadari kesalahanku dan segera melepas safety belt yang melilit tubuhku.
Terdengar suara ketukan pada kaca mobil di sebelahku yang di buat oleh pria tadi. Dengan cepat aku membuka pintu mobil dan bermaksud untuk menyelesaikan masalah kami secara baik-baik, tapi tiba-tiba pandanganku menjadi kabur dan kepalaku terasa berputar.
Aku masih sempat merasakan tangan pria itu menopang tubuhku dan menepuk-nepuk pipiku. "Hei, bangun!"
Suara riuh terdengar samar-samar di telingaku. Namun, mataku tidak ingin terbuka dan terus saja terpejam dengan telinga yang masih terus mengawasi keadaaan sekitar.
***
Rasa nyeri di punggung tanganku membuat aku tersadar dan seketika langsung membuka mataku.
'Dimana aku? Rumah sakit lagi?'
Aku melihat seorang perawat sedang memasukkan obat dari lubang jarum yang menempel di tanganku. Mungkin itu sebabnya aku merasakan sedikit nyeri pada punggung tanganku.
"Suster?" gumamku, masih dengan tenaga seadanya.
Perawat itu langsung mengangkat kepalanya dan menatapku. "Anda sudah sadar, Nyonya Stevano?"
'Apa? Apa!!! Nyonya Stevano apa!!!'
Apakah perawat itu salah mengenali orang? Ataukah jiwaku sudah salah memasuki raga nyonya Stevano?
"Saya akan memanggilkan dokter, Nyonya." ucap perawat tadi, meninggalkan aku yang masih terkejut dengan ucapannya.
"Suster, tunggu!"
"Iya, Nyonya?" Perawat itu menoleh dan kembali menghampiriku.
"Aku butuh cermin." pintaku dengan yakin, membuat sedikit kerutan di dahi perawat itu.
***
Aku masih berbaring di bed pasien sejak perawat tadi pergi. Pikiranku melayang, mencoba menyusun rangkaian ingatanku yang berserakan.
Seingatku, aku menangis di dalam mobil karena hadiah yang di belikan kak Erlan sebelum kematiannya. Setelah itu, aku mengendarai mobil untuk pulang ke rumah. Dalam perjalanan aku menabrak sebuah mobil, tapi aku masih sadar sepenuhnya. Lalu, bagaimana bisa aku menjadi nyonya Stevano? Permainan apa lagi yang sedang Tuhan mainkan denganku sekarang?
Saat tengah larut dalam lamunan, tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan seorang wanita yang mengenakan pakaian dokter dan perawat yang sebelumnya aku minta untuk membawakan cermin.
"Ini, Nyonya," Perawat itu menyodorkan cermin berbentuk bulat yang tidak terlalu besar kepadaku.
Aku langsung mendudukkan tubuhku dengan bantuannya dan menerima cermin itu dengan tanganku yang tidak terpasang selang infus. "Terima kasih, Suster."
Perawat itu hanya tersenyum sebagai jawaban dari ucapan terima kasihku. Tanpa menunggu lagi, dengan hati berdebar aku mulai mematut diriku di depan cermin. Karena hanya ada satu kemungkinan mengapa perawat itu memanggilku nyonya Stevano, yaitu aku bertukar tubuh dengan nyonya Stevano yang sebenarnya dan aku ingin memastikan hal itu.
Pantulan wajahku terlihat jelas di cermin. 'Ini masih wajahku. Lalu, kenapa perawat ini memanggilku nyonya Stevano? Atau mungkin aku salah dengar?'
Aku bergantian menatap wajahku di cermin dan perawat tadi yang kini sibuk mencatat sesuatu.
"Anda tetap cantik, Nyonya, dan saya yakin tuan Stevano juga berpikir seperti itu." ucap dokter yang masuk bersama perawat tadi.
'Aku yakin! Aku tidak mungkin salah dengar untuk yang kedua kalinya.'
"Ah, Nona Dokter, sepertinya Anda salah mengenali saya." ucapku, mencoba untuk memperjelas keadaan.
Dokter cantik dan perawat itu saling berpandangan dan kemudian menatapku secara bersamaan dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Mereka tidak salah mengenalimu." Suara seseorang dari ambang pintu mengalihkan perhatian kami bertiga.
***
Tatapan mataku tidak bisa lepas dari pria menyebalkan yang kini duduk di sofa yang berseberangan dengan bed pasien.
Benar. Pria itu adalah selebrita di lingkungan tempat tinggalku. Tuan Stevano.
Aku tidak takut sedikit pun padanya. Yang aku miliki kini hanya rasa kesal dan bingung yang bercampur jadi satu.
Seingatku, aku di bawa oleh pria yang mobilnya aku tabrak secara tidak sengaja. Namun, kenapa setelah aku tersadar tiba-tiba saja ada nama Stevano di belakang namaku?
Pria itu mendengus dan tersenyum licik karena terus mendapat perlakuan tidak menyenangkan dariku. Dia segera berdiri dan langsung menghampiriku yang tidak bergeming sedikit pun.
"Ini buku nikah kita!" Dia melemparkan dua buah buku di pangkuanku.
Sontak saja aku langsung membelalakkan mataku begitu mendengar ucapannya.
"Jangan memelototiku! Aku ini suamimu."
"Suami apa? Suamiku hanya kak Erlan dan dia sudah tiada."
"Lihat itu!" bentaknya sambil menunjuk buku yang tadi dia lemparkan.
Aku menatap dua buah buku yang kini berada di pangkuanku kemudian menatap pria menyebalkan itu yang kini berdiri dengan kedua tangannya tersilang di dada.
Aku menghembuskan nafas kasar dan dengan yakin membuka salah satu buku yang ada di pangkuanku.
"BOHONG!!! Ini penipuan!" teriakku, langsung meremas buku itu.
"Robek saja! Hancurkan kalau kamu bisa! Semua itu sah di depan hukum. Tidak ada yang bisa kamu lakukan!"
Aku melemparkan buku itu ke sembarang arah untuk meluapkan kemarahanku.
"Buku itu palsu! Itu bukan tanda tanganku!"
"Itu asli atau palsu, kenyataannya saat ini kamu adalah nyonya Stevano. Dan tidak ada yang bisa merubah hal itu atau ...."
"Atau apa?"
"Kamu harus menjual rumahmu untuk mengganti kerusakan mobilku yang kamu tabrak dua hari lalu."
'Dua hari? Itu artinya aku sudah pingsan selama dua hari? Dan apa katanya tadi? Aku menabraknya? Oh, Tuhan! Apa lagi ini?'
"Hei!!!" Pria menyebalkan itu menjentikkan jarinya di depan wajahku. Dengan kesal aku menepis tangannya.
"Hei... hei... hei... jangan menyentuhku!" lontarnya, kemudian mengibaskan tangannya seolah mengusir kutu yang menempel.
'Cih!' Aku hanya mendengus dan menggelengkan kepalaku melihat tingkahnya yang super aneh.
“Dengar! Mulai sekarang kamu adalah istri keduaku dan -"
"Apa maksudmu istri kedua? Itu artinya kamu belum menceraikan istrimu?"
"Tidak akan pernah dan jangan pernah memimpikan hal itu!" ucapnya sembari mendekatkan wajahnya dengan wajahku.
Aku menantangnya dengan terus menatapnya tanpa berkedip sekalipun. "Maka, batalkan pernikahan konyol ini sekarang juga!"
"Hahaha ... kalau kamu bersedia menjual rumahmu itu sebagai ganti rugi padaku."
Aku sangat yakin jika dia sudah tahu aku tidak akan melepaskan rumah pemberian dari mendiang kak Erlan, karena dia langsung berjalan keluar dengan angkuhnya tanpa menunggu jawaban dariku.
"Siapkan dirimu untuk menjadi Nyonya kedua Stevano, sepuluh menit lagi asistenku akan menjemputku." ucapnya, tanpa menoleh sedikitpun padaku.
"Hei, tunggu dulu! Mau kemana kamu, Udang rebus? Kepiting saos tiram! Ikan buntal! Hei, Plankton!!!" teriakku, dengan kemarahan level tertinggi.
Hallo semuanya🤗
Stay enjoy di ceritanya Ayasya ya 🥰
Dukung author dengan meninggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇 juga share cerita Ayasya ini ke temen ataupun kenalan kalian supaya makin banyak yang kenal sama Ayasya 😘 dan jangan lupa jempol 👍 dulu sebelum atau sesudah membaca serta votenya juga ya 😍
I ❤U readers kesayangan kuhhh
masya allah luar biasa ceritamu thorr,,, dari awal sampai di bab ini aku suka semuanya apalagi sifat ayaya huh yg begitu menggemaskan😘