Candy Jovanka adalah seorang gadis cantik dan polos yang sedikit bodoh dari keluarga kaya. Ketika dia berusia 18 tahun, ke dua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan mobil.
Candy yang baru saja lulus sekolah harus menanggung hutang yang di miliki oleh perusahaan keluarganya yang tiba-tiba bangkrut.
Tidak dapat menanggung beban hutang yang terlalu banyak, kedua bibi dan Pamannya berakhir menjual gadis itu pada seorang Vampire Bangsawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Little Monster, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07 Dongeng Sepatu Merah
Dahulu kala ada seorang gadis cantik jelita. Dia begitu cantik dan mempesona hingga membuat setiap orang yang menatap akan jatuh cinta padanya.
Gadis itu adalah gadis sederhana dan biasa, tapi karena parasnya yang cantik serta tingkah setiap orang yang mencintainya. Dia tumbuh menjadi gadis yang egois dan tidak dapat menerima kekalahan.
Saat gadis itu dewasa, dia merasa sangat kesepian ketika melihat semua pria mencintai dan tergila-gila padanya. Dia merasa bahwa hal itu membosankan.
Hingga pada suatu hari, gadis itu bertemu dengan seorang Vampire tampan, begitu tampan dan memukau. Namun, kedua mata berwarna perak Vampire itu tampak sama sepertinya, KESEPIAN!
"Ibu, apakah perasaan kesepian itu buruk?" Sosok cantik gadis berusia 5 tahun bertanya kearah wanita yang tengah memeluk tubuhnya dengan kasih sayang.
Wanita itu tersenyum lembut atas pertanyaan putri kecilnya, dengan anggukan kecil dia menjawab "Bayangkan jika Candy harus hidup sendiri di rumah ini tanpa ibu dan ayah, apakah Candy akan baik-baik saja?"
"Aku tidak mau itu! Kesepian sangatlah buruk dan jahat. Aku tidak ingin merasakannya!"
Mendapatkan jawaban tegas dari Candy, wanita itu tertawa lembut seraya mengusap kepala putrinya "Itu benar perasaan kesepian memang buruk, tapi saat Candy menemukan sosok yang begitu penting untuk terus di ingat di lubuk hatimu, perasaan kesepian itu tidak akan pernah menghantuimu!"
Mata berwarna Amber Candy berkedip menatap bingung kearah sang ibu tidak mengerti atas ucapannya. Akan tetapi dia hanya diam dan kembali mendengarkan dongeng yang di baca sang ibu.
Sang gadis cantik itu menjadi dekat dengan Sang Vampir, walaupun pada awalnya si Vampire menolak. Dia pada akhirnya luluh dan mau bersama si Gadis cantik.
Namun, sekali lagi Gadis itu merasa tidak puas!
Dia ingin kebahagiaan yang dia rasakan bersama Vampire itu akan menjadi abadi selamanya.
Mengabaikan keinginan Vampire, Gadis itu hanya melakukan apa yang dia inginkan.
Pada akhirnya keputusan yang dia ambil itu membuatnya semakin terpuruk dan menjadi jauh lebih buruk dari rasa kesepian.
Dengan penuh penyesalan gadis itu berusaha kembali dan meminta si Vampire untuk memaafkannya.
Tapi, Sang Vampire itu menggelengkan kepalanya. Dia menyerahkan sebuah kotak hadiah untuk sang gadis dan berkata "Seharusnya kita tidak pernah bersama sejak awal, seharusnya aku mendorongmu menjauh dan tidak membiarkanmu mendekat. Kuharap kau akan selalu sehat dan hidup dengan baik di masa depan mengukir jalan hidupmu sendiri!"
Gadis itu menangis, dia menangis keras dan melihat kepergian Sang Kekasih Vampirenya.
Setelah menangis cukup lama, Sang Gadis membuka bungkusan kado yang di berikan untuknya.
Sepasang Sepatu Merah Indah.
Sepasang sepatu untuknya agar terus bergerak maju kedepan dengan berani mengukir setiap jalan yang dia tempuh tanpa sang kekasih Vampire.
"Lalu apakah sang gadis itu hidup bahagia?"
"Siapa yang tahu..." Wanita itu menghela nafas panjang akan pertanyaan Candy, dia tersenyum lembut dan melanjutkan "Tapi satu hal yang pasti, sejak saat itu Sang gadis selalu memakai sepatu merah dan melangkah maju kedepan untuk menjalani kehidupannya. Dia melangkah maju dengan tujuan untuk menemukan sepasang pendamping untuk sepatunya, pendamping yang telah pergi meninggalkannya karena kesalahan yang dia buat.."
"Jadi, apa bagusnya dongeng ini? Bukankah hanya sebuah sepatu dan tidak ada kisah yang indah di dalamnya!"
Melihat wajah Candy tampak cemberut dengan kedua pipinya yang menggembung, wanita itu terkekeh pelan dan mencubit pipinya gemas. "Tentu saja kisah sepatu merah ini mengajarkan kita untuk terus berani maju melangkah kedepan tanpa rasa penyesalan. Tapi Sang gadis sepatu merah tidak melakukan itu dan terus hidup dengan penyesalan dan harapan masa lalunya..."
"Aku tidak menyukai dongeng ini, ayo pilih yang lain ibu!"
"Baik, baiklah. Mari kita cari dongeng yang lainnya..." Dengan tawa yang sangat bahagia Ibu Candy mencarikan dongeng lain untuk di bacakan.
Senyuman manis menggantung dibibir kecil Candy ketika dia menatap sosok ibunya. Dengan kedipan mata, pemandangan itu kabur menghilang dan di gantikan oleh pemandangan yang berbeda.
"Apa kau bermimpi indah? Senyummu begitu cemerlang ketika tertidur?" Suara Bibi Jane terdengar, dia menarik sebuah gorden putih seraya tersenyum hangat kearah Candy yang sedang terbaring.
Mendengarkan hal ini, Candy tersadar! Dia baru saja bermimpi tentang masa lalunya.
Dengan sedikit rasa malu, Candy mengangguk kearah Bibi Jane "Aku bermimpi tentang ibuku.."
"Ibu?" Bibi Jane menghela nafas panjang mengerti "Dia pasti sosok yang luar biasa. Bagaimana tubuhmu? Apakah sudah merasa lebih baik?"
Candy tersenyum dan menggerakkan tubuhnya sedikit. Merasakan tubuhnya hangat dan tidak terlalu sakit dia mengangguk pelan "Setelah dua hari penuh istirahat tubuhku jauh lebih baik!"
"Baguslah, kalau begitu kau sudah harus mulai meneruskan tugasmu dan juga sedikit berolah raga..."
"Terimakasih Bibi.." Candy mengangguk mengerti dengan rasa bersalah.
Melihat hal ini Bibi Jane hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Bibi," Dengan sedikit ragu Candy akhirnya memberanikan diri untuk bertanya "Kapan Tuan Muda akan kembali?"
Sudah 3 hari sejak saat mereka berbicara, tapi Edward belum juga kembali. Walaupun dia telah mengetahui bahwa Edward pergi keluar untuk beberapa urusan, mau tidak mau dia merasa sedikit kesepian dan merindukannya.
"Beliau akan kembali ketika urusannya selesai. Tidak ada yang benar-benar tahu kapan itu terjadi. Lebih baik kau melakukan aktivitasmu seraya menunggunya kembali. Jangan khawatir, beliau pasti akan kembali" Jawab Bibi Jane dengan sedikit senyuman menggoda.
Melihat hal ini Candy hanya mengangguk mengerti dengan sedikit merah di pipinya.
.......
Tap Tap Tap
Suara langkah kaki terdengar di sebuah lantai marmer berwarna krem. Suara nyaring itu bergema akibat sepatu High Heels berwarna merah yang tampak indah dan berjalan dengan anggun.
Dengan kaki jenjang putih yang terlihat indah, sepatu merah itu tampak menawan. Dan ketika di lihat dari dekat, sosok yang memakai sepatu tersebut terlihat jauh lebih menawan di bandingkan sepasang sepatu merahnya.
Sosok cantik dan menawan itu terus berjalan hingga mencapai sebuah pintu berhiaskan emas besar. Dengan kedua tangan putihnya yang ramping dia mendorong pintu itu tanpa kesulitan.
BAM!!!
Saat pintu telah terbuka sepenuhnya, mata berwarna biru safir wanita itu mengerjap menatap sosok pria yang terduduk di sebuah kursi dekat jendela.
"James," pria bernama James itu tidak merespon dan tetap pada apa yang dilakukannya. Sang wanita menghela nafas panjang sebelum melangkahkan kaki mendekat "Seperti apa yang kau katakan, Edward datang kepertemuan itu..."
Ketika nama Edward terdengar, James menaikkan kepalanya untuk menatap gadis cantik yang telah tiba tepat di hadapannya. Dia tersenyum kearah sang wanita dan berkata "Itu bagus bukan, kau bisa bertemu dengannya! Jadi, kenapa kau malah pergi ke tempatku?"
"Katakan padaku!" Wanita itu menuntut kearah James dengan raut wajahnya yang tampak gelap "Apakah ada yang terjadi di Kastilnya ketika kau memberikan surat itu sehingga Ed mau datang ke pertemuan ketika dia tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya?"
"Austina Chayton..." James menatap Austina dengan helaan nafas yang panjang "Jika kau begitu penasaran kenapa kau tidak pergi ke Kastil Ed? Atau mungkin akan lebih baik jika kau pergi kepertemuan dan menanyakan langsung padanya?"
"Berhenti membual!" Austina menatap James marah dan berteriak "Kau sudah tahu sejak awal bahwa Ed akan datang. Bukankah pasti terjadi sesuatu saat kau menyerahkan surat itu?"
"Sudah kukatakan lebih baik kau bertemu dengan Ed dan bertanya sendiri! Sampai kapan kau akan mengawasinya dari bayang-bayang seperti itu? Tidakkah kau merasa lelah?"
"Cukup!" Austina mengalihkan pandangannya, dia mendesah panjang dan mulai membuat keputusan "Kalau begitu, lebih baik aku pergi ke Kastil Ed dan mencaritahunya sendiri!"
James terdiam melihat Austina yang telah pergi meninggalkan ruangan itu. Mata berwarna biru cemerlang miliknya menatap pada sepasang sepatu Austina yang melangkah pergi dengan sedikit kedutan.
Sudut bibir James terangkat ketika dia bergumam pelan "Edward itu, dia datang untuk melindungi gadis Manusia miliknya?! Tapi dia malah membuat seekor Rubah yang telah lama diam mengamati mulai bergerak. Yah, itu bukan salahku. Cepat atau lambat mereka akan bertemu! Dan untuk manusia itu, kuharap dia dapat bertahan hidup lebih lama..."
sungguh mantap sekali ❤️❤️
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘