NovelToon NovelToon
Pergi Untuk Melupa

Pergi Untuk Melupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Persahabatan
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rohid Been

Ada duka ada cinta begitulah, yang dirasakan pria bernama Raihan Bachtiar. Berkali-kali dia dipatahkan oleh seorang wanita, yang selama ini dia sebut cinta. Ada cita-cita serta cinta dalam perjalanan hidupnya. Dia adalah pria yang optimis hanya saja sedikit skeptis. Dia meninggalkan segala karirnya, hanya untuk wanita yang pada akhirnya menyia-nyiakan cintanya. Patah hati membuatnya berubah menjadi seorang pria yang dingin dan menutup hatinya rapat-rapat. Akankah dia menemukan wanita yang mampu mengembalikan perasaannya yang telah lama hilang? Ayo, simak ceritanya ... dan selamat melupakan.

follow ig: @rohidbee07

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohid Been, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merayakan Sebuah Perasan di Bulan Agustus

Aku mencintaimu pada waktu ini Andira, pada sebuah dimensi yang tidak lagi sama pada saat itu. Aku mencintaimu yang berhasil mengubah seluruh raguku menjadi jingga dan biru dan itu warna favoritku. Sebentar lagi, semua jurnal yang aku lalui di masa mudaku akan terselesaikan. Tidak banyak mauku, aku hanya mau semua berjalan seperti mau Tuhan. Aku sudah memutuskan pada siapa semua cerita ini akan dituntaskan, pada siapa ujung cerita ini akan tersampaikan. Ada banyak bahasa di balik tanya dan tawa yang aku jalani bersamamu. Bersama malam dan juga kelap-kelip lampu warna-warni di pinggiran jalan. Tembok usang dan sebilah tikar menjadi penonton bagaimana tawa dan canda kita terselaraskan Andira..

Andira apakah kamu mencintaiku dengan penuh perasan ataukah hanya kepura-puraan tetap saja aku sulit membedakannya, sebab kamulah yang meminjam separuh hidupku. Separuh lagi kurasakan mutlak milikku, sudah dua tahun berjalan kita berjalan beriringan bersama. Aku paham sekali tidak mudah mempertahankan hubungan ini, yang terkadang rentan akan hancur lebur oleh yang kusebut itu takdir. Aku tahu mencintai seseorang memang penuh perjudian, entah itu berakhir kekalahan ataupun kemenangan yang kudapati saat bersamamu.

Namun, sejauh mata ini memandang matamu Andira. Aku selalu menekankan dalam diri, bahwa kamulah wanita yang bisa aku andalkan. Segala cara aku upayakan, untuk terus menggenggam tangan serta juga berada di sampingmu. Seberat apa pun nantinya, aku selalu membuatmu butuh akan keberadaanku. Tepat di bulan Agustus ini, aku mengabadikan banyak momen bersamamu. Kadang sedih, tertawa, rasa bosan dan juga keinginan saling melepaskan selalu menyertai hubungan ini. Kamu yang terkadang manja juga bersikap ke kanak-kanakkan, sedangkan aku orang yang berusaha lebih dewasa untukmu. Meskipun, aku pesimis dan juga skeptis sekali dengan diriku sendiri, tetapi semua bisa terselesaikan dengan rasa takut akan kehilanganmu. Mungkin, untuk kali ini semua masih bisa terkendali, walau banyak sekali kendala di persimpangan jalan kita.

***

"Andira boleh aku bertanya sesuatu?"

"Bo—boleh, mau tanya apa, Sayang?"

"Apa kamu bahagia bersamaku? Apa kamu merasa kesal saat aku terlalu ambisius dengan mimpi-mimpiku? Apa kamu berniat ingin mencari penggantiku, sebab aku pria yang sampai saat ini belum jelas masa depannya. Aku sampai detik memikirkan itu setiap kali kita sedang bertengkar hebat dan itu mengganggu pikiranku.."

"Tumben tiba-tiba kamu tanya seperti ini, Han?" ucap Andira, terlihat wajahnya bingung dihujani pertanyaan.

"Iya, sebenarnya sudah lama aku ingin menayangkan hal ini ke kamu, Andira. Tapi, lidahku seketika kelu untuk mengatakan isi kepalaku sebenarnya."

"Hmmm ... baiklah, Han. Memang aku pernah salah langkah meninggalkanmu waktu lalu, tetapi aku sadar aku bodoh banget ninggalin pria tulus sepertimu. Aku enggak mau menyia-nyiakan kamu lagi, aku tahu setiap manusia penuh dengan kekurangan. Makanya sampai detik ini aku masih bertahan untukmu. Iya, anggap saja menebus kesalahanku waktu lalu, meski sebenarnya wanita butuh kepastian juga kan?" ucapan Andira menatapku, dengan matanya yang teduh dan penuh rasa bersalah.

"Sudahlah lupakan yang sudah terjadi, Andira! Intinya aku sudah kasih kesempatan kedua buat kamu. Tinggal kamu mau berubah dan menerima semua yang telah nampak di matamu sekarang ini. Dan kamu banyak-banyak bersabar, semoga aku bisa menjadi pria yang kamu andalkan serta secepatnya memberikanmu kepastian."

"Thank you my dear. I hope you are the last man! Aku selalu bermimpi kita ke jenjang yang lebih serius, serta memiliki anak yang lucu denganmu." balas Andira meletakkan kepalanya di bahuku.

“Of course, Andira. As long as you believe I'm a good Man. I'm not try to do anything bad to you. Boleh aku memelukmu dengan erat?"

"So ... sweet banget, Han. Tentu boleh peluk saja aku!"

Hari itu pun aku mulai berani menantang semesta, bahwasanya kekuatan cinta adalah energi positif dalam sebuah harmonisnya sebuah hubungan. Meskipun, mulut berkata berani, tetapi hati masih setengah ragu-ragu. Apakah benar dia pantas kusebut cinta, jika akhirnya dia memberiku suasana neraka. Merayakan perasaan sama halnya, aku meminum sebuah minuman yang memabukkan. Siap tidak siap aku akan menerima konsekuensinya dan mulai tersadar fatamorgananya dunia yang penuh tipu-tipu. Tapi, sebagai manusia yang masih labil, aku tetap mengutamakan ekspektasi, daripada memikirkan kemungkinan yang belum pernah terjadi dan sangat rasional dalam memakai logikaku. Aku memang berusaha untuk tidak mencintai Andira secara berlebihan. Tentu itu jelas akan mubazir perasaan, tetapi aku yakin bahwa apa yang telah aku lakukan saat ini adalah benar dan tidak berprasangka buruk dengan Andira.

Barangkali, ketakutan itu men—sugesti seseorang agar tidak terlalu percaya akan cinta sejati. Padahal jelas bahwa rasa cinta itu wajar dimiliki setiap manusia dan itu fitrah diberikan Tuhan kepada semua makhluk yang masih hidup di bumi. Bahkan, binatang pun juga perlu akan sebuah cinta, lagi pula cinta itu universal dan tidak mengeneralisir suatu apa pun. Apalagi denganku seorang manusia biasa, di saat dunia berlaku tidak adil. Kita pun membutuhkan seseorang yang mencintai kita, untuk menopang tubuhku yang lelah menjalani hidup Memang cinta dari keluarga sudah ada, tetapi cinta dari seorang kekasih tetaplah aku memerlukan juga.

***

"Sudah puas memandangi laut, Andira?"

"Kalau ke sini bersamamu, aku betah kok, Han. Aku malah enggak mau pulang he he," balas Andira, sambil menatap pantai Sari Ringgung yang indah..

"I—iya janganlah, Yang. Kamu mau tidur di luar? Kita ini enggak bawa tenda camping ha-ha."

"Ish ... nyebelin banget sih kamu! Masak kamu tega pacarmu tidur di luar?" ucap Andira sambil mencubit perutku.

"Aw, sakit tahu, Yang! Kamu mah nyubit kuat banget loh."

"Lah biarin, lagian kamu nyebelin sih. Enggak pernah serius diajak ngomong." balas Andira sambil menyenderkan tubuhnya ke bahuku.

"Iya deh iya, Maaf. Oh, ya kamu tahu enggak?"

"Apaan, Han? Lagian kamu belum kasih tahu aneh."

"He he kamu tahu Rohid 'kan, Yang?"

"Iya tahu itu mah sahabatmu, Yang. Emangnya kenapa dengan dia?" balas Andira mulai penasaran dengan topik yang sedang aku bahas.

"Dia itu suka sama Ami sahabatmu itu, cuma dia itu orangnya pemalu buat dekatin si Ami. Aduh gimana ya, biar bisa comblangi mereka berdua?"

"Hah ... masak sih, Yang? Aku kaget loh dengarnya. Ternyata selama ini si Rohid suka sama Ami. Cuma sih setahuku Ami, lagi dekat juga sama cowok senior kita di kampus anak teknik mesin," balas Andira dengan nada serius menerangkan tentang Ami kepadaku.

"Waduh, jelas itu jadi penghalang besar dong buat kita dekatin mereka?"

"Enggak apa-apa sih, Han. Kalau memang dia ditakdirkan bersama. Sejauh manapun mereka berlabuh dengan hati yang lain, kalau jodoh pasti bersatu kok," balas Andira menanggapi pendapatku dengan bijak.

"Itu sih semacam bersama, tetapi tidak ditakdirkan hidup seatap berduakan, Andira?"

"Hah ... maksudnya, Han?"

"Enggak aku asal bicara aja, Andira. Sudah lupakan! Aku tadi ngelantur aja bicaranya berlagak puitis he he."

"Dasar kamu memang nyebelin!" ucap Andira sambil mencubitku untuk kedua kalinya.

Aku tidak peduli bagaimana ego berusaha memecah antara aku dan dia, aku juga tidak peduli bagaimana buruknya dia pada masa lalunya. Aku hanya ingin berusaha sebagai hutan Mangrove, yang menahan ombak besar merusak indahnya bibir pantai. Meskipun, sebenarnya dalam benakku berkata, tidak seharusnya aku menjatuhkan hatiku sepenuhnya terhadap seseorang yang pernah membuatku terluka. Mengizinkan kembali orang yang pernah menghianatiku, sama saja aku memberikan kesempatan kedua untuk dia melakukan itu kembali.

"A—ayo kita pulang, Han! Aku ada janji sama si Ami untuk anterin beli kado untuk Mamanya," ucap Andira meraih tanganku mengajakku untuk pulang.

"I—iya, Andira. Pelan-pelan dong! Nanti kita jatuh gimana? Tadi aku ajak kamu pulang lebih awal enggak mau katanya masih betah di pantai."

"Buruan, Sayang! Aku baru ingat barusan, pas kita bahas Rohid dan Ami," balas Andira menarik mengajakku untuk lebih cepat sampai ke motorku.

Aku memikirkanmu di setiap tarikan nafasku, aku melewati jalan hatimu setiap hari. Kamu berjalan seperti angin dan aku terbang seperti pasir (di sampingnya), tidak ada yang akan pernah mencintai kamu seperti aku. Perjalanan pandanganku berakhir padamu. Apa yang tersisa untuk dikatakan, aku sudah mengatakan semua yang aku ingin. Mataku milikmu sekarang, kamu tidak tahu apa-apa tentang itu wahai orang yang tidak sadar. Jika suatu saat nanti kamu merindukanku, maka pejamkanlah matamu dan rasakan aku selalu ada di setiap aliran nadimu Andira..

 

 

"Pada akhirnya yang kita butuhkan selamanya ialah kepala selembut hati, untuk melunakkan hati yang sekeras kepala."

-Rohid Bachtiar

 

 

 

 

 

1
Cita Anastasya
Impian anak ingin membahagiakan ortunya thorrr
Cita Anastasya
raihan bucin parah sama alinda wkwkwk 😁
Penulis Buku
Semangat updatenya ceritanya bagus;(
Penulis Buku
👍👍👍
Penulis Buku
semangat berimijansi!!!!!!!
Penulis Buku
Rekomendasi buat yang diksi puitis😅
Penulis Buku
lega jika di utarakan ⚡🔨
Penulis Buku
mantap ceritanya😀
Penulis Buku
nicee
Penulis Buku
sendu
Penulis Buku
Keren thor
Penulis Buku
keren diksinya, thorr
Cita Anastasya
quotesnya bgs!
Cita Anastasya
semangat Thor ceritanya kerennnn!
Cita Anastasya: Sama-sama
total 2 replies
Cita Anastasya
Yuhu bahagaia ending.
Cita Anastasya: hehe iya kk
total 2 replies
Bintun Arief
benaaaar, alangkah mengerikannya menjadi dewasa. Andaaaiiii waktu bisa berhenti saat aku masih bersama ayah dan kakak laki2ku thor, alahai jadi curhat 🤣
hm, dibagian ini ada satu pertanyaan apa aku melewatkan sesuatu thor? rehan kuliah jurusan apa? apa tidak ada hubungannya sama sekali dengan "penulis" ?
Rohid Bee: ada sdkit Kak hhe
total 1 replies
Cita Anastasya
😉😉😉
Rohid Bee: /Smile/
total 1 replies
Cita Anastasya
😔😔
Rohid Bee: /Chuckle/
total 1 replies
Cita Anastasya
✍😂
Rohid Bee: /Applaud/
total 1 replies
Cita Anastasya
next ⚡🔨
Rohid Bee: 👌ok siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!