Enough berkisah tentang kisah asmara seorang wanita bernama Dia Tarisma Jingga dengan seorang lelaki yang belum lama dikenalnya, Btara Langit Xabiru
Keduanya saling mencintai dan kemudian memutuskan membangun kehidupan keluarga kecil yang harmonis dan bahagia.
Namun sayangnya semua itu hanya menjadi angan saja, hal ini terjadi lantaran trauma masa lalu dan sikap Tara yang abusive, yang pada akhirnya menjadi prahara dalam rumah tangga mereka.
Akankah Tari dan Tara mampu mempertahankan rumah tangga mereka? Kisah selengkapanya hanya ada di novel Enough.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
"Baiklah." ucapTari, ia mengajak Caira menuju dapur. "Kompor dan gasnya belum terpasang, jadi kita harus memasangnya terlebih dahulu."
"Tidak masalah aku bisa melakukannya." dengan penuh semangat Caira membuka segel plastik pada tabung gas, kemudian ia memasang karet atau rubber seal yang berfungsi untuk merapatkan tabung gas saat dipasang pada regulator agar tidak terjadi kebocoran.
Tari nampak terkejut melihat kelihaian wanita cantik itu, tadinya ia berfikir jika Caira hanya akan menjadi juru masak yang manja, namun ternyata tidak sama sekali, bahkan ketika pakaian mahalnya terkena noda debu dari tabung gas yang di pasangnya, Caira seolah tak perduli.
"Tari apa targetmu untuk cafe ini?"
Tari teringat akan ucapan bundanya beberapa saat lalu, 'Tari, pokoknya jadikan cafe ini tempat nongkrong paling asik seJakarta.' Tari tersenyum "Tempat nongkrong paling asik seDKI."
"Wow bagus sekali, lalu apa kau sudah memiliki rencana bisnis?" Caira memutar tuas kunci berwarna hitam 180 derajat ke arah kanan.
"Sedang aku buat." Tari tak ingin mengatakan jika dirinya baru saja mendapatkan gelar magister bisnis administrasi, karena kedengarannya agak sedikit sombong.
"Katakan saja jika kau butuh bantuanku, aku kuliah di jurusan bisnis." Caira mulai mencoba menyalakan kompornya, ia nampak sangat kegirangan ketika melihat kompor yang telah di pasangnya berhasil menyala.
"Saatnya memasak telur dadar rumah makan padang paling enak!!!" serunya dengan penuh semangat.
"Sebentar, telurnya masih ada di dalam peti." Tari berbalik mencari peti telur yang tadi pagi ia simpan di kolong meja, namun sepertinya peti telur tersebut di pindahkan oleh orang yang merenovasi cafenya. "Rasanya tadi pagi masih ada disini?"
Tari, mungkin di sana?" Caira menunjuk ke arah tumpukan peti yang berada di sudut dapur.
'Issshh... Mengapa setinggi ini tumpukannya?'' batin Tari, ia menaiki kursi untuk memindahkan peti-peti yang menutup peti yang berisi telur.
Mungkin maksud dari para pekerjanya menaruh di tempat tersebut, agar tidak terkena debu dan cat, lagi pula telur tersebut hanya berisi setengahnya jadi tidak akan pecah jika di tumpuk dengan peti yang tak terpakai.
Tari mengangkat 2 tumpukan peti kosong itu sekaligus, namun rupanya salah satu peti mulai goyang, ia mencoba menyambar satu pegangan untuk menjaga keseimbangan, tapi peti-peti itu malah ambruk dan menimpanya.
Saat Tari terjatuh kakinya menekuk ke arah yang salah dan di ikuti dengan sengatan nyeri yang menjalar di sekujur kakinya sampai ke jemari.
Caira menaruh penggorengan yang ia ambil dari rak di atas kompor yang sudah ia matikan, ia kemudian berlari menghampiri Tari. "Tari!!" serunya. "Ya Tuhan, kamu tidak apa-apa?"
Tari bangkit untuk duduk di atas kursi, namun ia tak berani menumpukan berat badannya ke kakinya yang sakit. "Pergelangan kakiku sakit sekali."
Caira bergegas melepas sepatu Tari, kemudian ia mengeluarkan handphonenya dari sakunya. Ia mulai menghubungi satu nomor, kemudian mendongak ke arah Tari "Apa kulkas itu sudah ada es batunya?" tanya Caira.
Tari menggelengkan kepalanya.
"Sudah ku duga." ucapnya. Dia menyalakan loudspeaker di handphoenya kemudian menaruhnya di lantai, sementara tangannya menggulung celana panjang Tari.
Tari meringis, tapi bukan karena sakit, tapi ia tak percaya jika ia sebodoh ini. Ia berfikir jika kakinya patah maka kacaulah semuanya, padahal ia baru saja menghabiskan semua uang warisannya untuk membeli dan merenovasi tempat itu.
"Yess love," suara mesra terdengar dari telepon. "Kamu di mana sayang?"
Caira berdeham, kemudian "Di tempat kerja. Sayang, aku butuh....."
Pria itu memotong ucapan Caira. "Di tempat kerja? Sayang kau kan tidak punya pekerjaan!"
Caira menggelengkan kepalanya. "Sayang. Dengar!! Ini situasi sangat mendesak. Pergelengan kaki bosku mungkin saja terkilir atau patah. Tolonglah kemari, bawakan es batu untuk....."
Pria itu kembali memotong dan tertawa terbahak-bahak. "Bos? Sayangku kamu itu tidak punya pekerjaan, dan kamu juga tidak pernah bekerja sayang."
Caira memutar bola matanya. "Mas Gala, aku serius. Ini darurat!!!"
"Okay baiklah sayang, kamu sekarang ada di mana?"
Caira bergegas memberitahu lokasi cafe milik Tari. "Jangan lupa, tolong bawakan es batu.."
"Siap sayang." pria itu mematikan teleponnya.
Caira kembali mengantongi handphonenya. "Aku akan menunggu suami dan kakakku di luar, kau tidak apa-apa di sini sendirian?"
Tari mengangguk.
"Okay kalau gitu aku tinggal ya." Caira mendorong bahu Tari sampai bersandar, kemudian ia berlari ke luar menunggu suami dan kakaknya.
Tari merasa pegawai barunya lebih mirip bos, dan ia agak takut padanya. Ia menunggu sekitar kurang lebih sepuluh menit, hingga akhirnya terdengar suara pintu di buka
"Ya ampun, apa-apan ini?" seru suara seorang pria. " kenapa kau sendirian di gedung yang berantakan ini?"
Tari mendengar Caira berkata. "Bosku ada di belakang."
Caira melangkah masuk di ikuti oleh seorang pria yang mengenakan kostum Tuxedo Bertopeng salah satu tokoh kartun animasi Sailor Moon. Pria itu tinggi, sedikit kurus tapi sangat tampan dan memiliki kulit yang bersih. Dan ia memegang sekantong es batu.
"Ini suamimu?" tanya Tari pada Caira, sembari mengangkat alis.
"Ya, dia suamiku." jawabnya, ia melirik ke arah suaminya. "Ini adalah bosku, tadi ia jatuh dari kursi dan tertimpa peti kosong." terang Caira.
Ternyata bukan hanya ada Gala, suaminya Caira. Namun ada seorang pria lain yang melangkah di belakang mereka, pria itu berjalan mendekat ke arah Tari.
Hal pertama yang tari perhatikan dari pria itu adalah lengannya. Astaga. Tari sangat mengenal lengan itu.
'Itu lengan seorang pengusaha batu bara asal Surabaya. Caira adik perempuannya? Adik yang memiliki lantai atas gedung apartement itu? Dengan suaminya yang bekerja hanya dengan menggunakan baju tidur mampu menghasilkan miliaran rupiah dalam setahun?'
Tatapan Tari langsung terpaut pada Tara, seluruh wajahnya merekah membentuk senyuman manis. 'Ya Tuhan sudah empat bulan aku tak melihatnya, aku tak pernah bilang jika aku berhenti memikirkannya, karena kenyataannya hampir setiap hari aku memikirkan pria itu. Tapi aku tak pernah menyangka akan bertemu dengannya lagi'
"Mas Tara, ini Tari. Tari, ini mas Tara, kakakku." ucap Caira memperkenalkan kakaknya pada Tari.
Tara menghapiri Tari dan berlutut. "Hai Tari," sapanya. "Senang berkenalan denganmu."
Hi Readers
Terima kasih kepada teman-teman semua yang telah membaca tulisanku, aku ingin sedikit menjawab pertanyaan kalian di kolom komentar bab 6. "Mengapa Tari tidak ingin tinggal dengan bundanya? Bukankah seorang anak harus berbakti pada orang tuanya???
Irma Menjawab:
Yuppz benar banget, kewajiban anak terhadap orang tuanya adalah dengan berbakti. Namun pada cerita novel Enough ini, telah di jelaskan di awal bahwa ayahnya Tari cenderung selalu memaksakan keinginanya atau mendikte anaknya sehingga Tari tidak memiliki kebebasan menentukan pilihan hidupnya sendiri.
Setelah ayahnya meninggal, Tari merasa itu adalah awal kebebasannya. Bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri, namun ternyata justru ibundanya menginginkan untuk tinggal bersamanya.
Tari keberatan bukan karena tidak sayang atau tidak ingin berbakti kepada ibundanya, namun ia takut ibundanya menurunkan kehendak ayahnya atau mendikte Tari seperti yang ayahnya lakukan. Penjelasannya ada di bab 6 paragraf terakhir.
Lagi pula di usia Tari yang baru menginjak 25 tahun, tentu ibundanya masih sangat produktif melakukan banyak aktivitas, di tambah dengan peninggalan kekayaan almarhum suaminya tentu juga memiliki asisten rumah tangganya yang siap membantunya 24jam.
Sementara Tari hanya ingin belajar lebih mandiri dan mewujudkan mimpinya yaitu dengan mendirikan sebuah usaha cafe sendiri. Walau pun Tari memiliki luka batin yang di akibatkan oleh pertengkaran orang tuanya, Tari masih berusaha menjadi anak yang baik dengan memberikan prestasi terbaiknya (Lulus S2 dengan nilai tinggi, memiliki jabatan COO) dan ia masih rutin mengunjungi orang tuanya.
Saya percaya setiap anak pasti berkeinginan mamberikan yang lebih dari apa yang di harapkan orang tuanya, jika orang tuanya benar-benar peduli dan memberikan semua kebutuhan yang bukan hanya materi, tapi juga hati.
Terima kasih😊
👏👏👏👍
banyak pesan moral yg didapat dari cerita ini.. asli keren kak.. bisa buat baper akut n nangis Bombay.. untuk kak Irma sukses terus sehat dan selalu di tunggu karya selanjutnya..
banyak pesan dan ilmu yang terkandung
Semangat Kak author,
Terima kasih untuk cerita yg luar biasa ini,
💪👍