NovelToon NovelToon
Cintai Aku Suamiku

Cintai Aku Suamiku

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: shanum

"Aku gak bisa cinta sama kamu, karena di hatiku masih ada orang lain. Aku minta, kamu gak berharap lebih sama pernikahan ini. Tunggu tiga bulan lagi, aku bakal bebasin kamu dari pernikahan ini."

Kalimat itulah yang terlontar dari bibir tipis Daffa pada malam pertamanya dengan Vania. Dia memang masih mencintai mantan istrinya, seorang wanita yang tak pernah ingin digantikan dengan siapa pun. Namun, ibunya justru menjodohkan Daffa dengan Vania, dan tak mampu untuk ditolak karena kondisi kesehatannya.

Akankah Vania bertahan dalam pernikahan tanpa cinta? Atau, dia justru rela diceraikan ketika pernikahan sudah berusia tiga bulan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa Jodoh Vania?!

Vania mengembalikan map sudah ditutup pada Daffa. "Udah, Mas. Aku permisi," katanya, lalu berdiri.

"Mau ke mana?!" tegur Daffa, tapi perempuan sudah berjalan tertatih itu tidak menoleh atau menjawab.

Tangan menekan hendel pintu, bergegas Daffa berdiri dan mencegah lengannya. Berputar tubuh Vania menghadap, gerakan tangan Daffa terlalu kuat. Terkejut ketika melihat air mata masih saja membanjiri wajah, perlahan cengkeraman pada lengan dilepaskan olehnya.

"Kaki kamu sakit, jangan pakai jalan terus. Tidur di sini aja, biar aku yang keluar."

Vania mengangguk, sekali lagi ia harus menuruti apa yang dikatakan oleh lelaki yang masih menjadi suaminya. Lemah kaki melangkah, seolah sudah tak ada daya. Bukan atas rasa sakit dirasakan oleh kaki terkilir, tapi atas hati yang terus saja ditikam.

Perlahan ia naik ke atas ranjang, kepalanya tetap tertunduk. Vania menarik selimut, tidur memunggungi arah pintu. Daffa masih diam di sana mengamati, ada rasa sakit yang tak tertahan dirasakan tiba-tiba, melihat Vania memasang kesedihan semacam itu.

Membuka pintu dan menutup kembali, terdengar oleh kedua telinga Vania dengan sangat jelas. Tangis pecah tanpa sanggup ia tahan, terisak menyiratkan seberapa luka ia rasakan.

Mendekap selimut di depan dada, bulir air mata membanjiri bantal tempatnya bersandar. Dada dicengkeram kuat oleh tangan dengan sisa tenaga, menekan kesakitan yang tak mampu diketahui seberapa dalam di sana.

Luka pernah menyapa ketika dirinya menghadapi kenyataan akan diri yang dibuang oleh kedua orang tuanya dengan sengaja, membaca surat ditinggal dengan pemberian nama, itu kembali dirasakan dengan begitu hebatnya.

Ingin sekali mempertanyakan pada kehidupan, tentang apa kesalahan telah dilakukan, hingga terus saja menjadi korban atas apa yang tak pernah jelas dijabarkan.

Pernikahan yang diharapkan bisa menjadi jembatan untuk kebahagiaan, nyatanya hanya ruang untuk setiap luka tak henti dirasakan. Vania sekali lagi harus terlempar dalam lubang kelam nan dalam, seorang diri tanpa tangan merengkuhnya.

Daffa tidak benar-benar keluar dari kamar, ia masih berdiri dan hanya membuka serta menutup kembali pintu. Isakan tangis itu mampu didengar olehnya, dan menambah kesakitan yang juga dirasakan, entah apa penyebabnya.

Tuhan, apa yang Engkau lakukan sekarang? Kenapa hati ini terlalu sakit melihatnya seperti itu? Bahkan, ini jauh lebih sakit dari saat Engkau merebut Nessa dariku.

Daffa mempertanyakan dalam hati, tangan memegangi dada sedikit menekannya. Perintah tegas diberikan oleh hati untuk mendekat, tapi logika berkata jangan, karena itu hanya akan menambah rasa berat dalam keputusan.

Akan tetapi, sekujur tubuhnya tidak bekerja sama dengan logika, seolah menuruti saja ketika hati memberikan titah. Daffa berat mengendalikan, kaki yang ingin sekali melangkah.

Enggak! Ini keputusan yang paling baik, karena Nia juga berhak bahagia. Mungkin dia sedih sekarang, tapi enggak akan lama, karena dia bakal lebih sedih kalau terus sama aku yang gak pernah bisa nerima dia jadi istri!

Pikiran itu menentang hati, meyakinkan jika apa dilakukan sudah menjadi keputusan paling tepat dan tak akan pernah ditarik kembali. Bukan hari ini saja ia melihat kesedihan Vania, berulang kali terus melihat, tatkala penolakan diberikan.

Tidak, Vania tidak harus merasakan hal itu lagi dan lagi, akan sangat baik jika membebaskannya dari kepalsuan ini. Daffa bersandar pada dinding, menundukkan pandangan, tanpa membiarkan kedua mata mengamati Vania lagi.

Memutuskan untuk pergi dari kamar, sangat pelan ia membuka pintu dan menutup kembali. Membiarkan Vania melepaskan setiap apa dirasakan dalam hati, berharap esok hari semua akan terganti dengan senyuman yang lebih berarti.

Bagas melihat putranya berjalan menyusuri rumah, pria itu belum tertidur dan masih membaca sebuah buku di ruang tengah. "Belum tidur, Fa?!" tegur Bagas menyentak putranya, Daffa menoleh pada sumber suara.

"Oh, belum." Menggeleng kepala sejenak, lalu mendekat. Duduk pada sofa putih terdapat pada ruang tengah, berada tepat di samping papanya. "Ngapain belum tidur, Pa?"

Bagas menghela napas, menutup buku dan melepaskan kacamata baca, memindahkan kedua benda itu ke atas meja dan menyeruput sedikit teh menjadi temannya.

"Kamu mau ceraiin Vania?" tanya Bagas, mengejutkan putranya.

"Y-ya?!" tersentak Daffa, menjatuhkan map di tangan ke atas karpet abu muda menghiasi ruang tengah.

"Map yang kamu bawa tadi, papa tau apa isinya. Papa bukan orang bodoh, Fa." Bagas menyandarkan punggung. "Pikir baik-baik sebelum kamu ngelakuin apa-apa, karena kamu gak akan pernah dapat istri sebaik Vania, yang bahkan mau buat terus kamu sakitin."

Lelaki dengan kedua kaki terbuka lebar membiarkan tangan menggantung di antaranya itu, terdiam mendengarkan.

"Fa, bukan papa mau ikut campur sama rumah tangga kamu, tapi papa cuma ingetin kamu aja. Semua yang udah terjadi, gak akan pernah bisa balik kayak dulu lagi. Seberapapun kamu mau buat itu terulang, tapi nyatanya waktu gak pernah bisa putar balik." Bagas berucap.

"Kalau kamu masih terus hidup dalam kenangan, semua gak akan pernah baik, Fa. Kamu harus berani buat ninggalin kenangan itu di belakang, tatap ke depan buat jalanin kehidupan. Gak ada yang minta kamu buat lupain, tapi kamu juga gak bisa buat bertahan sama kenangan itu, jalan di tempat yang sama dan nyiksa diri." Sambungnya.

"Papa gak akan pernah ngerti sama apa yang Daffa rasain, karena papa gak ikut alami. Daffa cuma mau Nessa, bukan orang lain. Mertahanin Vania, itu juga bakal nyiksa dia aja, ngehalangin jodohnya dia, Pa. Nia cuma bakal tersiksa kalau sama Daffa, karena emang Daffa gak bisa kasih kebahagiaan sama Nia." Tuturnya.

"Apa kamu tau siapa jodoh Vania? Tuhan kasih tau ke kamu sendiri? Kamu tau apa yang buat dia bahagia?" cecar Bagas.

"Daffa, kita gak pernah tau apa yang buat orang lain bahagia, kita juga gak pernah tau siapa jodoh buat orang lain, bahkan kita sendiri. Kita cuma manusia biasa, Fa. Kita gak pernah tau apa-apa, dan cuma bisa jalani, ngelakuin yang terbaik dalam hidup ini, lalu nyerahin semua keputusan ke Tuhan."

"Tapi emang kenyataannya kayak gitu, Pa! Nia gak akan pernah bahagia, karena Daffa gak bisa bahagiain dia, Daffa masih cinta banget sama Nessa, dan itu gak bisa digantiin sama Nia sampai kapan pun!" berubah tegas nada bicaranya.

"Itu karena kamu gak pernah usaha buat bikin Nia bahagia, kamu gak pernah usaha buat cinta sama dia, kamu terus aja nolak buat cinta sama dia. Coba kamu tanya ke dia, apa yang dia mau, apa yang buat dia bahagia, jangan asal mutusin dan akhirnya justru buat Nia jauh lebih menderita." Sanggah Bagas.

1
Lenika Ariska Milala
ktNy end... tpi kok gk ada lanjutany,,
Isti Rahayu
kenapa sih bilang cinta aj susah .emang cintanya cuma buat Nessa yg udah jdi tanah bawa tu cintamu Dafa Sampek ke liang lahat kenapa Dafa gak ikut masuk kubur aj kalo cinta mati .untung ketemu istri yg berhati emas seperti Vania bisa terima apa adanya😱
Anneke28 Annetje
ceritanya sdh tamat ya kak ke ingin vania berubah apa tdk ada ke lanjutannya ceritanya bagus lo
Rudi Yanto
bacakan
Nun Umshar
sellu is the best
Wati_esha
Terima kasih informasinya.
Omi Rohimah Omi
Luar biasa
Grace Kristianti
lanjut Kak ceritanya bagus, Maaf bintangnya baru dikasih
Rosikh Nurhayati
semangat thor,,
Rosikh Nurhayati
ngakak banget
Rosikh Nurhayati
sukaa tp gengsian
Rosikh Nurhayati
sediiiih
Rosikh Nurhayati
haduhhhh amit2
Ani
banjirrrrr air mata q
Ilham Risa: Hai kak, mampir yuk ke novel aku "Tentara Itu Ayah Dari Putraku" makasih kak🙏
total 1 replies
Tri Soen
Woalaaaah Dafa bilang nya gak cinta sama Vania tapi kok bisa2 nya cemburu gitu 😂
Tri Soen
Apa sich mau nya Daffa ...mau nya marah2 trs je Nia ...ntar darting lho 🤭
Yeti Budiawati
bagus ceritanya, di tunggu kelanjutannya 👍👍👍😘😘😘😘😘
Yati Maryati
keren banget
Yati Maryati
Daffa udah mulai bucin
kasian yang namanya Arif jadi sasaran hehehe
Poni Puspasari
Lanjutttt Thorrrrrr..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!