Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Satu Pil Memulai Segalanya
Momo terbangun dengan satu pertanyaan yang langsung membuat darahnya terasa dingin.
Di mana kaus lusuhnya?
Kain yang menempel di tubuhnya bukan katun tipis yang biasa ia pakai tidur di kamar sempit belakang toko kelontong Ama. Ini sutra. Putih. Terlalu halus sampai kulitnya merinding setiap kali napasnya bergerak. Tali tipisnya menggantung di bahu, dingin seperti jari orang asing.
Momo menahan napas.
Langit-langit di atasnya tinggi, dihiasi ukiran emas yang berputar seperti sulur tanaman. Lampu kristal menggantung di tengah kamar, tidak menyala, tetapi cukup besar untuk membuatnya merasa sedang berbaring di bawah sesuatu yang mahal dan berat. Seprai yang menyentuh punggungnya juga putih. Bantalnya wangi, bukan wangi sabun murah yang biasa Ama beli di pasar, melainkan aroma lembut yang bersih, dingin, dan asing.
Ia mencoba bangun.
Dunia langsung miring.
"Aduh..."
Telapak tangannya menekan sisi kasur. Kepalanya berdenyut, seperti ada jarum kecil yang mengetuk dari dalam tengkoraknya. Perutnya kosong. Mulutnya pahit. Ketika ia mengangkat lengan kiri, ia melihat titik merah kecil di dekat lipatan siku.
Bekas suntikan.
Napas Momo tersangkut.
Ingatan datang tidak utuh. Bukan seperti film yang diputar rapi, melainkan pecahan kaca yang dilempar ke wajahnya.
Sebuah gang sempit di Pecinan Semarang.
Lampu toko obat yang berkedip.
Suara Ama, jauh dan pecah, memanggil, "Momo, jangan pulang terlalu malam, Cucu."
Lalu telapak tangan seseorang menutup mulutnya.
Satu pil putih kecil jatuh dari sela jarinya, menggelinding di lantai basah, berhenti di dekat sol sepatu hitam yang tidak ia kenal.
Setelah itu, gelap.
Momo memejamkan mata kuat-kuat. Ia mencoba menarik napas panjang, tetapi dadanya seperti diikat. Jika ini mimpi buruk, ia harus bangun. Jika ini rumah sakit, pasti ada suara perawat, bau antiseptik, bunyi roda ranjang. Jika ini rumah orang, pasti ada suara motor lewat, pedagang sayur, tetangga yang memanggil dari depan pagar.
Namun yang ia dengar hanya ombak.
Ombak.
Ia membuka mata.
Di seberang kamar, tirai putih setinggi dinding bergerak pelan ditiup angin. Di balik tirai itu, cahaya subuh masuk samar, membawa bau garam. Momo turun dari ranjang dengan lutut gemetar. Lantai marmer terasa dingin menusuk telapak kakinya. Ia hampir jatuh ketika ujung gaun tidur itu terseret di bawah tumit.
Gaun tidur.
Ada yang mengganti bajunya.
Pikiran itu membuat perutnya mual.
Lebih buruk lagi, kain itu seolah dipilih untuk membuatnya sadar pada tubuhnya sendiri. Setiap gerak membuat sutra menggesek kulit paha, pinggang, dan lekuk bahunya dengan kelembutan yang memalukan. Momo menarik napas pendek. Rasa takutnya tidak lagi hanya tentang diculik. Ada rasa lain yang lebih pribadi: seseorang telah melihatnya cukup dekat untuk menentukan kain apa yang akan menyentuh tubuhnya.
Ia membenci pikiran itu.
Momo mencengkeram kain di dadanya, menariknya rapat-rapat seolah itu bisa mengembalikan kaus lamanya, celana training pudar, dan rasa aman yang hilang entah di mana. Ia menoleh cepat, mencari tas, ponsel, dompet, apa pun miliknya. Tidak ada. Meja rias terlalu rapi. Sofa beludru kosong. Lemari tertutup rapat. Kamar ini seperti kamar hotel bintang lima yang disiapkan untuk pengantin kaya, bukan untuk gadis yang tadi malam masih menghitung uang receh untuk membeli obat batuk Ama.
Matanya jatuh ke pergelangan tangan kanan.
Di sana ada gelang.
Momo membeku.
Gelang itu tidak pernah ia lihat sebelumnya. Rantainya tipis, berwarna perak pucat, dengan hiasan sakura kecil dari batu merah muda bening. Cantik, terlalu cantik untuk berada di tangannya. Tetapi yang membuat tengkuknya meremang bukan keindahannya.
Gelang itu hanya setengah.
Ujungnya seperti sengaja dipatahkan. Bukan patah kasar, melainkan terpotong rapi, meninggalkan ruang kosong seolah seharusnya ada bagian lain yang menyambungnya. Momo menariknya. Tidak lepas. Ia memutar kaitnya. Tidak bergerak. Ia memasukkan kuku ke sela logamnya sampai kulitnya perih.
Tetap terkunci.
"Apa ini?" bisiknya.
Tidak ada yang menjawab.
Di balik sakura kecil itu, ada garis halus yang hampir tidak terlihat. Momo mendekatkan pergelangan tangannya ke cahaya. Ada titik kecil di dalam logam, seperti mata. Bukan perhiasan biasa. Sesuatu di kepalanya berbisik, ini alat. Ini tanda. Ini mungkin penjara yang dipasang di tubuhnya.
Ia mundur satu langkah.
Ombak kembali terdengar, lebih jelas.
Momo berlari ke jendela.
Tirai tersibak. Cahaya pagi menyambar matanya. Di luar, laut terbentang luas, biru tua di ujung dan perak di dekat pantai. Indah sekali sampai terasa tidak nyata. Tebing batu menjulang di salah satu sisi. Pohon-pohon palem bergerak pelan. Jauh di bawah, ombak memecah di pasir putih yang terlalu bersih, terlalu sepi.
Tidak ada jalan raya.
Tidak ada angkot.
Tidak ada atap rumah berdempetan seperti di Pecinan.
Hanya laut di semua arah yang bisa ia lihat.
Momo menempelkan kedua telapak tangan ke kaca. Kacanya tebal. Tidak dingin seperti kaca biasa, tetapi berat, seolah dibuat untuk menahan peluru. Ia mencari gagang pembuka. Ada, tetapi ketika ia menariknya, jendela tidak bergerak sedikit pun. Ia menarik lagi, lebih keras. Bahunya sakit. Kaca tetap diam.
"Tidak. Tidak, tidak, tidak..."
Ia berlari ke pintu.
Pintu kamar itu tinggi, dari kayu gelap dengan gagang kuningan. Momo menariknya. Terkunci. Ia memutar gagang ke kanan, ke kiri, mengguncangnya sampai bunyi logam memantul di kamar besar itu.
"Buka!" suaranya pecah. "Hei! Ada orang di luar? Buka pintunya!"
Tidak ada jawaban.
Momo menendang pintu. Sekali. Dua kali. Rasa sakit menjalar dari jari kaki sampai lutut, tetapi pintu tidak berubah. Ia memukulnya dengan kedua tangan sampai telapak tangannya panas.
"Tolong! Siapa pun! Tolong!"
Yang menjawab hanya ombak.
Kamar itu terlalu besar untuk satu orang, tetapi tiba-tiba terasa sempit. Udara berbau bunga samar dan garam. Semuanya putih, emas, bersih, mewah. Tidak ada debu. Tidak ada noda. Tidak ada bukti bahwa dunia luar pernah menyentuh tempat ini.
Momo menekan punggung ke pintu, lalu perlahan turun ke lantai.
Ama.
Pikiran tentang Ama menusuk lebih tajam daripada sakit kepala. Ama pasti menunggu di rumah. Toko kelontong akan dibuka sendiri, dengan batuk yang makin sering dan napas yang makin pendek. Jika Momo tidak pulang, Ama akan menelepon. Jika ponselnya mati, Ama akan mencari ke tetangga, ke Chien, ke semua tempat yang biasa Momo datangi.
Tetapi bagaimana jika tidak ada yang tahu ia dibawa ke sini?
Bagaimana jika orang yang membawanya memang sudah memastikan tidak ada jejak?
Momo menutup mulutnya dengan tangan. Jangan menangis. Jangan sekarang. Menangis tidak membuka pintu. Menangis tidak memecahkan kaca. Menangis tidak membawa Ama ke tempat aman.
Ia harus berpikir.
Ia bangkit lagi, kali ini lebih pelan.
Kamar itu harus punya kelemahan. Semua tempat punya kelemahan. Ama selalu berkata, kunci yang dibuat manusia pasti punya cara untuk dibuka manusia juga. Dulu waktu pintu toko macet, Ama mengajarinya membuka kait dari celah kayu dengan jepit rambut. Momo tidak punya jepit rambut sekarang, tetapi mungkin ada benda tajam.
Ia memeriksa meja rias. Laci pertama berisi sisir gading, pita rambut, dan beberapa botol kecil parfum. Laci kedua kosong. Laci ketiga terkunci. Ia mengambil sisir, mematahkan salah satu giginya dengan paksa. Ujungnya tidak terlalu tajam, tetapi cukup untuk mencoba.
Sebelum ia kembali ke pintu, matanya menangkap sesuatu di meja kecil dekat jendela.
Sebuah kartu.
Kartu itu diletakkan di atas nampan perak, ditahan oleh gelas kristal berisi air. Kertasnya tebal, berwarna krem, dengan tulisan tangan hitam yang rapi dan tajam.
Selamat datang di Pulau Raja.
Kamu milikku.
Momo membaca kalimat itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Setiap huruf terasa seperti jari yang menyentuh tenggorokannya.
Pulau Raja.
Milikku.
Ia tidak tahu mana yang lebih menakutkan, fakta bahwa tempat ini punya nama, atau fakta bahwa seseorang menuliskan kata itu seolah ia sedang menyambut barang kiriman.
"Aku bukan milik siapa pun," bisiknya.
Suaranya kecil, tetapi kemarahan membuatnya tidak pecah.
Ia meremas kartu itu sampai sudutnya melengkung. Kemudian ia sadar, jangan rusak bukti. Ia membuka kembali kertas itu, membaca tulisan tangan tersebut, menghafal bentuk hurufnya. Orang ini percaya diri. Tidak menyembunyikan tempat. Tidak takut ia tahu nama pulau. Berarti pulau ini sulit ditemukan, atau orang itu terlalu berkuasa untuk takut.
Momo menoleh ke laut.
Pulau pribadi.
Kamar mahal.
Gelang terkunci.
Seseorang yang bisa membuatnya hilang dari Pecinan Semarang tanpa jejak.
Kakinya tiba-tiba lemas, tetapi ia menggigit bagian dalam pipi sampai rasa asin darah muncul. Rasa sakit membantu. Rasa sakit membuat semuanya nyata.
Ia menarik napas, lalu mulai memeriksa kamar lebih sistematis.
Pintu utama terkunci dari luar. Jendela tidak bisa dibuka. Balkon tidak ada. Ventilasi terlalu kecil. Kamar mandi luas, dindingnya marmer, tidak ada jendela, hanya cermin besar yang memantulkan wajahnya yang pucat. Di bawah wastafel ada handuk, sabun, dan kotak P3K kecil. Momo membuka kotak itu dengan tangan gemetar. Kapas, plester, antiseptik, gunting kecil.
Gunting.
Jantungnya melonjak.
Ia mengambilnya dan langsung mencoba memotong gelang. Ujung gunting mengenai logam tipis itu, tetapi bukannya tergores, bilah guntingnya justru terpental. Ia mencoba lagi, lebih keras. Tidak berhasil. Ia menusukkan ujung gunting ke sela kunci, memutar sampai pergelangan tangannya merah.
Tidak terbuka.
"Sial," napasnya tersengal.
Ia tidak biasa mengumpat. Ama tidak suka. Tetapi kali ini kata itu keluar sendiri.
Momo duduk di tepi bathtub, menatap gelang itu dengan benci. Sakura kecilnya berkilau lembut, manis seperti hadiah ulang tahun. Padahal benda itu terasa seperti borgol.
Sakura.
Kenapa sakura?
Ia bukan gadis yang suka perhiasan. Ia bahkan tidak pernah membeli gelang selain gelang kain murah di pasar malam. Tidak ada orang yang cukup dekat untuk memberinya benda semahal ini. Tidak ada, kecuali...
Ingatan lain menyambar.
Bukan wajah. Hanya tangan.
Tangan besar dengan urat jelas, memakai cincin gelap berbentuk ular. Jari-jari itu mengambil pil putih dari lantai basah. Suara rendah berkata sesuatu yang tidak ia pahami, terlalu dekat dengan telinganya.
Wangi tajam, seperti hujan di atas batu.
Lalu tubuhnya diangkat.
Momo tersentak. Gunting jatuh ke lantai, berdenting.
Cincin ular.
Siapa pria itu?
Ia memaksa dirinya berdiri. Takut boleh ada. Panik boleh lewat. Tetapi ia tidak boleh diam. Jika pintu terkunci dari luar, maka ada orang di luar. Jika ada orang di luar, ia harus membuat orang itu membuka pintu. Bukan dengan menangis. Bukan dengan memohon. Dengan sesuatu yang membuat mereka panik.
Momo kembali ke meja kecil. Ia mengambil gelas kristal berisi air, menimbang beratnya, lalu melemparkannya ke lantai sekuat tenaga.
Prang!
Pecahan kaca menyebar seperti es. Suara itu keras sekali sampai membuat telinganya berdenging.
Ia mengambil botol parfum dan melemparkannya ke pintu.
Prang!
Aroma bunga menyengat pecah di udara.
"Buka pintunya!" teriak Momo, kali ini lebih keras. "Kalau kalian tidak buka, aku akan menghancurkan semuanya!"
Diam.
Ia mengambil botol kedua.
Sebelum sempat melempar, terdengar bunyi klik.
Sangat kecil.
Namun di kamar yang terlalu hening itu, bunyinya seperti petir.
Momo mematung.
Gagang pintu bergerak turun perlahan.
Ia mundur, satu langkah, dua langkah. Botol parfum masih di tangannya. Pecahan kaca mengilap di lantai di antara dirinya dan pintu. Jantungnya memukul tulang rusuk begitu keras sampai ia sulit bernapas.
Pintu terbuka.
Cahaya dari koridor masuk lebih dulu, panjang dan pucat. Lalu bayangan seorang pria memenuhi ambang pintu. Tinggi. Terlalu tinggi. Bahunya lebar, menutup sebagian cahaya. Momo tidak bisa melihat wajahnya jelas, hanya garis rahang, pakaian gelap, dan sesuatu yang berkilau di jarinya.
Cincin ular.
Tubuh Momo terasa dingin sampai ujung kaki.
Pria itu berdiri tanpa tergesa, seolah pecahan kaca, teriakan, dan ketakutannya hanyalah bagian dari pagi yang sudah ia perhitungkan. Tatapannya turun sekilas ke gaun tidur yang ia cengkeram di dada, lalu naik lagi ke wajahnya. Tidak lama. Tidak vulgar. Justru karena begitu singkat, wajah Momo terasa terbakar.
Ia merasa seperti pintu sudah dibuka, tetapi ruang untuk bernapas justru dicuri.
Lalu suara rendah itu terdengar.
"Sudah bangun?"