Squal dari novel Dosenku sang Casanova dan Istri Simpanan Tuan Jeremy, author Tessa Amelia Wahyudi.
~Aku tidak pernah memilih kepada siapa jatuh cinta, karena itu terjadi begitu saja. Meski mulut berkata tidak, hati tak bisa menolak.
Aku sudah berusaha untuk mengubur dalam-dalam cintaku padamu, Dave. Kenyataannya aku tak bisa!~
Anastasia Laurencia Lemos.
~Aku tidak bohong aku mencintaimu, cinta yang berusaha kusembunyikan dalam setiap sikap dinginku, karena aku tak ingin akhirnya hanya akan menyakitimu.~
David Sanjaya Grey.
***
"Tidak apa-apa kau belum mencintai ku. Tapi, aku akan terus berjuang untuk mendapatkan cintamu, Dave." Kata Ana yakin sembari memandang wajah dingin Dave yang saat ini ada didepannya.
"Silahkan, berjuanglah sampai kau merasa bosan mengejar ku. Karena sampai kapanpun, aku tidak akan pernah bisa mencintai gadis boddoh seperti mu!" Tekan Dave sembari menoyor kening gadis cantik di depannya, tanpa memikirkan perasaan gadis itu.
Yuk simak kelanjutannya,
CEKIDOT
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Azzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Setelah makan malam selesai, kini Daddy Alex dan Papi Ello berbincang-bincang membahas masalah bisnis.
Sedangkan dua wanita paruh baya itu hanya menyimak sesekali menimpali obrolan keduanya, sehingga suasana menjadi rame, apalagi saat Davian yang bertingkah konyol seperti biasa, membuat semua orang tertawa.
"Dave, bukan kah kau ingin menemani ku jalan-jalan?" Ana menatap Dave yang sejak tadi hanya menyimak obrolan para orang tua dan adik-adiknya tanpa mau menyahut, wajahnya datar seperti biasa. Ingin rasanya Ana membasahi wajah Dave agar tidak kaku seperti kanebo kering.
"Daripada kau mengajak si kanebo kering itu mending pergi dengan ku saja. Pasti kamu suka, Aku akan mengajak mu ke taman belakang untuk melihat ayunan milikku dan keluarga ku?." Tawar Vio memasang wajah semanis mungkin.
Ana hanya menanggapi dengan senyuman, karena yang dia inginkan bukan Vio, tapi kakaknya, Dave.
Dan tanpa diduga, Dave tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Ana. "Cepatlah!" Kemudian Dave berlalu mendahului Ana yang masih terbengong di tempatnya.
"Apa katanya tadi? "Cepat?" hanya itu saja?" Manusia es itu benar-benar kaku dan irit bicara.
Atau mungkin dia tidak mengerti bahasa manusia? makanya jarang bicara, dan sekalinya bicara sangat irit hingga orang yang mendengar tak mengerti dengan arti perkataannya.
Dalam otak pintar Ana, masih menerka-nerka kemungkinan-kemungkinan gangguan yang dialami Dave, hingga ia menjadi manusia sedingin dan se kaku ini.
Apa mungkin saat hamil, Mom Buu mengidam ingin berselancar di Kutub Utara tapi tidak dituruti ya? atau...
"Mau ikut atau tidak??" Suara berat Dave berhasil membuyarkan pemikiran boddoh Ana, ia langsung bangkit dari duduknya dan berjalan cepat mengejar Dave yang saat ini sudah di dekat pintu.
"Tunggu, Dave ..!" Ana mengejar Dave sedikit kesusahan, karena postur tubuh manusia es itu terlalu tinggi dibanding Ana hingga langkahnya pun sangat lebar dan Ana tidak bisa mengimbangi nya.
"Dave, tunggu! issh ..." Ana yang kesal karena Dave tidak juga menghentikan langkahnya, hanya bisa menghentakkan kakinya dengan wajah menunduk cemberut, sungguh tidak sesuai ekspektasi nya karena manusia es ini ternyata lebih dingin dari perkiraan nya.
Dugh!
"Auhh ..!" Ana memegang kening nya yang terasa ngilu karena baru saja menabrak tembok.
"Tembok? benarkah tembok? perasaan tadi tidak apapun disini?"
Saat Ana mendongak, matanya langsung bertatapan dengan netra tajam milik Dave.
"Dave ... "
"Lelet!" Dave kembali berjalan setelah meraih tangan Ana, keduanya berjalan beriringan dengan langkah sedang, menyesuaikan langkah Ana.
Hati Ana kembali berbunga-bunga saat mendapatkan perhatian Dava, apalagi tangannya kembali bertaut dengan tangan besar Dave membuat imajinasi konyolnya semakin melambung tinggi memikirkan hal indah yang akan terjadi saat dia sudah mendapatkan Dave sepenuhnya.
"Dave, kami itu hebat sekali. Masih muda, tapi sudah sukses dalam karir mu." Ana membuka mulai obrolan, berharap si kutub akan menyahut. Tapi prediksinya salah, Karena manusia es itu tidak berkata apapun.
"Dave, Apakah kamu memang selalu bersikap dingin pada siapapun?" Ana kembali bertanya.
"Kenapa kamu tidak pernah bicara, Dave?"
"Kenapa kamu selalu irit jika bicara?"
"Kenapa ... "
"Diam lah Ana!" Tegas Dave sembari menatap tajam Ana.
"Isshh ... kau itu menyeramkan sekali!" Gerutu Ana dengan wajah di tekuk.
"Tapi kamu sangat tampan. eh!" Celetuk Ana tanpa sadar, di detik berikutnya ia langsung membekap mulut lemesnya. Namun percuma, karena Dave sudah lebih dulu mendengarnya, membuat langkah Dave terhenti berganti menatap nyalang gadis cerewet di sampingnya.
"Eh maksudku, kau lumayan tampan hehehe" Ana kembali bertingkah konyol dengan tertawa menunjukkan gigi-giginya.
"Ah, tidak-tidak! maksudku kamu tampan seperti saudara kembar mu yang lain." Ana kembali bicara saat Dave masih terus menatap dirinya sampai membuatnya salah tingkah.
"Ah, maksudku ... "
"Cerewet!" Dave benar-benar menyesali keputusannya untuk menemani Ana mengelilingi mansion.
Niatnya hanya tidak ingin adiknya yang notabennya seorang playboy itu memangsa anak sahabat papinya. Maka dari itu, Dave memilih untuk menemani Ana, tapi sepertinya keputusan itu salah besar karena gadis di depannya ini tak bisa berhenti bicara seperti burung beo yang tak bisa berhenti mengoceh hingga membuatnya pusing dan ingin mengumpat. Sayangnya Dave bukan orang yang suka mengumpat karena tidak suka bicara.
...💙💙💙...
...TBC...
See you next chapter
Sempat menduga Dave tp sambil berpikir ga mgkn ga ada background jd dosen kan
Ternyata....oh ternyata dosennya si Edo
Si kutu kupret yg sok cool kepedean hbs kalo Ana bs ditaklukan no...no...no....😛😃
iy aj skeg masih datar muka ny kalau udh jatih cintrong gee berbunga bunga tuuh wajah ketemu ana,,
duduk diem aj anak di bangku meja makan jgn buat gaduh 😒
tpi apapun it aku ttep mampir,,