Gibran Tanuwijaya Gilbert, duda anak satu yang harus merelakan kepergian istrinya disaat lagi sayang-sayangnya, cinta Gibran sangat besar terhadap almarhum istrinya sehingga membuat Gibran menutup hatinya rapat-rapat untuk wanita manapun.
Kehadiran Livia yang merupakan guru sang anak mampu memporak-porandakan hatinya. Livia yang merupakan seorang janda tanpa anak itu sangat menyayangi anak Gibran begitu pun sebaliknya.
Akankah Gibran tetap menutup rapat hatinya atau akan menuruti keinginan anaknya yang sangat menginginkan seorang Ibu?
Supaya nyambung dan kalian tahu siapa Gibran, kalian baca dulu CINTA DOSEN GENIUS...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
💔
💔
💔
💔
💔
Gibran membawa Gilsya ke kamar Alsya dan merebahkan tubuh mungil itu, ditatapnya lekat-lekat wajah puterinya yang keseluruhannya mirip sekali dengan Alsya almarhum istrinya bahkan sifat dan kelakuannya semuanya mirip Alsya tidak ada yang mirip dengannya.
"Sayang, kamu sungguh curang kenapa Gilsya semuanya mirip denganmu tidak ada akunya sama sekali apa kamu sudah punya firasat mau meninggalkanku, mangkanya kamu menurunkan semuanya kepada anak kita supaya aku tidak merasa kesepian kan? supaya kalau aku merindukanmu, aku bisa melihatmu di wajah Gilsya. Terima kasih sayang, sudah memberikan malaikat kecil yang sangat cantik ini kepadaku," gumam Gibran.
Gibran mengusap wajah Gilsya dan mencium kening puteri cantiknya itu, Gibran bangkit dari duduknya dan berjalan menuju balkon kamar.
Gibran mendongakan kepalanya melihat bintang-bintang yang terlihat sangat indah, tiba-tiba bayangan wajah Alsya yang sedang tersenyum melihat kearah Gibran membuat Gibran kembali meneteskan airmatanya.
"Sayang, aku sangat merindukanmu kenapa takdir begitu jahat memisahkan kita," gumam Gibran.
Tubuhnya luruh ke lantai, wajahnya dia tundukan, pundaknya bergetar hebat, sungguh Gibran sangat merindukan istrinya dan sampai kapan pun Gibran belum rela melepas kepergian Alsya.
Malam ini Gibran lampiaskan dengan menangis, hatinya sangat sakit setiap mengingat istrinya.
***
Keesokan harinya...
"Papi ayo bangun, ini sudah siang," seru Gilsya dengan menepuk-nepuk pipi Papinya itu.
"Hmm...sebentar lagi sayang," sahut Gibran dengan mata yang masih terpejam.
"Ih, Papi kebiasaan deh Gilsya takut terlambat Papi cepetan bangun," rengek Gilsya.
"Iya-iya Papi bangun."
Gibran pun mulai bangun dan terduduk diatas tempat tidur dengan mengacak-ngacak rambutnya karena Gibran masih sangat ngantuk tadi malam dia tidur sudah sangat larut karena kegalauannya.
"Papi jelek kalau bangun tidur," cibir Gilsya.
Gibran membuka matanya dan melihat Gilsya yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan sinis.
"Ckckck...tunggu Papi mandi dulu, Papi akan berubah menjadi tampan."
"Tapi kalau sudah tampan, Papi jangan tebar pesona apalagi sama Ibu-ibu disekolah Gilsya," ketus Gilsya.
"Papi tidak pernah tebar pesona sayang, Ibu-ibunya saja yang kecentilan," sahut Gibran dengan masuk ke dalam kamar mandi.
Kebiasaan Gilsya dari dulu adalah selalu menunggu Papinya sampai Papinya selesai bersiap-siap. Tidak lama kemudian Gibran pun keluar dan menuju ruangan ganti baju, Gibran memang menyimpan pakaian kantornya disana juga supaya kalau sesekali menginap di rumah mertuanya itu, Gibran tidak perlu ribet-ribet membawa baju.
Setelah selesai memakai baju, Gibran pun mematut diri di cermin.
"Papi, kemarin ada guru baru loh di sekolah Gilsya."
"Iyakah? memangnya Ibu Hana kemana?"
"Ibu Hana kan sudah mau melahirkan Papi, jadi diganti. Namanya Ibu Livia, orangnya cantik dan sangat lembut," seru Gilsya antusias.
Gibran hanya melirik kearah puterinya sekilas kemudian melanjutkan merapikan rambutnya.
"Papi kok diam saja sih?"
"Lah, terus Papi harus bagaimana sayang?"
"Tanya dong sama Gilsya, apa Ibu Livia sudah menikah?" ketus Gilsya.
"Buat apa tanya seperti itu? memangnya kamu tahu kalau Ibu Livia itu sudah menikah apa belum?"
"Ga tahu sih, nanti Gilsya tanya sama Ibu Livia."
Gibran hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah puteri kecilnya itu. Setelah selesai, Gibran pun menggandeng tangan Gilsya untuk turun ke bawah.
Gibran melihat kaki Gilsya yang sudah memakai sepatu yang kemarin dia cari-cari.
"Itu sepatunya sudah ada, ketemu dimana?" tanya Gibran.
"Hehehe...ternyata ketinggalan disini Papi waktu itu."
Gilsya nyengir kearah Gibran dan Gibran dengan gemasnya mencubit kedua pipi Gilsya.
"Selamat pagi Oma, Opa, Mami Nasya!"
"Gilsya..." seru Gibran dengan menatap tajam kearah Gilsya.
Gilsya langsung menundukan kepalanya karena takut akan tatapan Papinya. Sementara itu Nasya hanya bisa menghembuskan napasnya kasar, bahkan Gilsya memanggilnya Mami saja tidak boleh.
Akibat dari teguran Gibran, Gilsya menjadi sedih dan tidak mau sarapan.
"Sayangnya Oma kenapa malah cemberut, ayo sarapan dulu."
"Gilsya tidak mau sarapan, Oma."
Gibran menghembuskan napasnya pelan, dia tahu kenapa Gilsya seperti itu.
"Sayang, ayo sarapan dulu katanya takut telat."
"Ga mau, Papi jahat."
"Ya sudah, kita makan di teras saja yuk biar tante yang suapin," ajak Nasya.
Gilsya pun menganggukan kepalanya dan ikut bersama Nasya ke teras lagi-lagi membuat Gibran harus menghembuskan napasnya secara kasar.
"Gibran, kamu jangan terlalu keras sama Gilsya wajar sekali kalau Gilsya memanggil Nasya dengan sebutan Mami karena wajah Nasya sangat mirip dengan Maminya," seru Oma Tasya.
"Tidak Mommy, Gibran tidak suka Gilsya memanggil Nasya dengan sebutan Mami karena Gilsya hanya boleh memanggil Mami kepada Alsya bukan Nasya, jadi walaupun Nasya mirip dengan Maminya tetap saja Nasya itu tantenya bukan Maminya Gilsya," sahut Gibran.
Oma Tasya dan Opa Alvian hanya bisa saling pandang satu sama lain, mereka tahu kalau Gibran sangat keras.
"Apa kamu tidak berniat menikah lagi Nak? jangan merasa terbebani oleh kami, kami justru ingin melihat kamu bahagia," seru Opa Alvian.
"Gibran tidak ada niat untuk menikah lagi Dad, lagipula posisi Alsya tidak akan tergantikan oleh siapa pun."
"Kamu boleh saja tidak mau menikah lagi, tapi kamu juga harus pikirkan Gilsya dia masih sangat kecil dan masih membutuhkan kasih sayang seorang Ibu. Cobalah kamu membuka hati kamu untuk wanita lain, kami akan sangat bahagia kalau kamu mau menikah lagi karena kamu dan Gilsya pantas bahagia," seru Oma Tasya.
"Entahlah Mom, yang jelas untuk saat ini Gibran masih ingin sendiri dan belum ada kepikiran untuk menikah lagi."
Oma Tasya dan Opa Alvian tidak bicara lagi, mereka mengerti dengan perasaan menantunya itu. Akhirnya setelah sarapan, Gibran dan Gilsya pun berpamitan selama dalam perjalanan Gilsya terlihat cemberut dan tidak mau bicara kepada Papinya.
"Sayang, Papi minta maaf ya."
"Papi kenapa selalu melarang Gilsya untuk memanggil Mami kepada Mami Nasya?"
"Sayang, dengerin Papi Tante Nasya itu bukan Mami kamu jadi kamu tidak boleh memanggil dia dengan sebutan Mami karena yang boleh dipanggil Mami hanya Mami Alsya Maminya Gilsya."
"Kalau begitu kenapa Papi tidak menikah saja dengan Mami Nasya biar Gilsya bisa memanggilnya dengan sebutan Mami?"
"Sayang kamu belum mengerti apa-apa, Papi tidak mungkin menikah dengan Tante Nasya karena Papi tidak mencintainya."
"Kalau begitu Papi menikah saja dengan Ibu Livia."
"Astaga..."
Gibran mengusap wajahnya dengan kasar, sungguh Gibran sangat bingung menghadapi puterinya yang kalau sudah merengek seperti itu.
"Gilsya janji akan memanggil Tante kepada Mami Nasya kalau Papi mau menikah dengan Ibu Livia."
"Gilsya sayang, Papi itu tidak kenal dengan Ibu Livia lagipula mungkin saja Ibu Livia itu sudah menikah. Pokoknya Papi tidak mau tahu, kamu harus rubah panggilan kamu menjadi Tante kalau tidak, Papi tidak akan membelikanmu boneka lagi," ancam Gibran.
Gilsya semakin cemberut, hingga tidak lama kemudian mobil Gibran pun sampai didepan sekolah Gilsya. Gilsya langsung turun dengan wajah yang ditekuk tanpa pamitan dan mencium Papinya itu.
💔
💔
💔
💔
💔
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
Monica emang ga waras mau membunuh bapak angkat nya.
ga waras, Gila