WARNING...!! SIAPKAN KOMENTAR TERPEDAS KALIAN YA😁
Novel ini di angkat dari kisah nyata mungkin pada awalnya si pihak perempuan bisa di bilang bodoh, kalau penasaran yuk lanjut baca kalau gak skip aja ya😁
"Tidak, bukan aku yang memulai. Kau yang lebih dulu mengkhianati ku. Lalu kenapa sekarang kau merasa paling tersakiti?" Winda menatap wajah suaminya dengan sesak di dadanya.
"Maafkan aku, aku khilaf. Tapi, kenapa kau malah berselingkuh dari ku?"
Lelaki yang tidak memiliki perasaan ini dengan entengnya melontarkan pertanyaan yang membuat Winda tertawa geli.
Bukan kesalahan Winda berselingkuh, sejak mereka menjalin hubungan di saat kuliah, Tama lah yang sudah mengkhianatinya terlebih dahulu.
Memaafkan berulang kali, begitu seterusnya hingga mereka menikah. Hati Winda benar-benar patah, wanita ini membalas pengkhianat suaminya. Mempertahankan rumah tangga demi nama baik masing-masing dari keluarga mereka. Linda dan Tama, hidup dalam kemunafikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 08
Winwin, begitu panggilan sayang Tama yang selama ini di sematkan pada Winda. Pagi ini Winda nampak berbeda, wanita ini seperti malas untuk beranjak dari tempat tidurnya.
"Win, kau tidak bekerja kah?" Tama bertanya karena heran saat melihat istrinya ini masih berada di atas tempat tidur.
"Tidak, badan ku sakit semua," jawab Winda yang membelakangi suaminya.
"Sudahlah Win, sebaiknya kau di rumah saja. Biar aku yang bekerja. Aku tidak ingin kau sakit karena kelelahan," ujar Tama langsung membuat Winda mengubah posisinya menjadi duduk.
Winda menatap tajam ke arah Tama yang sedang mengancing kemejanya.
"Sudah sebaik apa diri mu sehingga kau bisa mengatur ku seperti itu?" tanya Winda tidak suka.
"Aku bukan lelaki baik. Aku akui itu...!" ujar Tama, "tapi, kau istri ku. Sudah seharusnya kau menurut dengan ku!"
Winda tertawa renyah, kata-kata yang baru saja ia dengar begitu menggelitik di hatinya.
"Egois...!" seru Winda, "seorang suami memang berhak mengatur istrinya. Tapi, suami seperti apa dulu yang harus di patuhi?"
"Win, masih pagi. Aku tidak ingin berdebat dengan mu," ucap Tama mengalah, "wajah mu pucat, kita ke pergi ke Dokter ya?"
"Urus saja pekerjaan mu atau tidak gendakan mu. Aku tidak butuh perhatian mu!" ketus Winda.
"Jangan menuduh ku seperti itu Win. Aku tidak pernah lagi seperti itu...!"
"Terserah kau mau seperti apa. Ingat mas, kau yang memulai bukan aku!"
"Apa maksud dari ucapan mu Win?" tanya Tama yang seolah merasakan ada sesuatu yang sedang di sembunyikan istrinya.
"Tidak ada. Sudah, sana pergi. Aku bisa pergi sendiri ke rumah sakit."
"Biar aku antar ya,..." bujuk Tama.
"Gak usah, aku bisa sendiri. Sudah sana berangkat, nanti klien mu menangis lagi."
"Jangan seperti Win, atau gak aku telpon mamah aja ya buat temenin kamu?"
"Kamu ini lama-lama kok makin cerewet ya...!"
Tama menarik nafas panjang, pria ini tidak ingin membuat sang istri semakin kesal. Mau tidak mau Tama berangkat kerja dengan rasa khawatir akan keadaan Winda.
Winda memastikan mobil Tama pergi terlebih dahulu barulah dia bangun dan bergegas mandi. Sudah beberapa hari ini Winda merasa badannya kurang enak. Dengan rasa malas Winda pergi ke klinik terdekat.
Setelah melalui beberapa pemeriksaan, Winda sangat terkejut saat Dokter menyatakan jika dirinya sekarang sedang hamil satu bulan.
"Kok saya bisa hamil Dok, sedangkan pernikahan saya dan suami baru berjalan satu bulan lebih?"
Winda bingung.
"Begini bu, usia kehamilan itu di hitung dari masa haid terakhir. Mungkin saja ibu melakukan hubungan suami istri saat masa subur."
Winda tersandar lemas, dirinya belum siap memiliki anak mengingat bagaimana kelakuan Tama pada Tama. Bisa saja Tama membuangnya setelah tahu mereka akan memiliki anak.
Shiit,......
Winda mengumpat, wanita ini memukul kemudi mobilnya.
"Kenapa aku bodoh sekali, kenapa aku tidak melakukan pencegahan?"
Winda menyalahkan dirinya sendiri.
Puas mengumpat pada dirinya sendiri, Winda merasa perutnya sangat lapar. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Winda memutuskan untuk pergi ke restoran langganannya.
Baru saja Winda memasuki restoran, matanya sudah di kotori dengan pemandangan saat seorang wanita mengusap bibir suaminya.
Winda tersenyum sinis, mungkin rasa di hatinya sakit karena nyatanya Tama sudah berbohong.
"Kerja itu yang halal mas, jangan sibuk selingkuh terus!" celetuk Winda yang tiba-tiba duduk di meja tepat di belakang kursi Tama.
Tama yang mengenali suara Winda langsung berbalik badan. Dan benar, istrinya ada di sana.
"Win,....!" Tama terkejut.
"Siapa Tam?" tanya Wanita yang sedang makan siang bersama Tama.
"Kau pergi saja dulu, aku ada urusan!" titah Tama pada perempuan di depannya.
Mau tidak mau wanita tersebut pergi, baru lah Tama berpindah duduk ke meja Winda.
Winda tampak santai, sama sekali tidak terlihat emosi.
"Winwin, yang kau lihat itu tidak benar. Dia klien ku, dia sedang mengurus perceraiannya." Tama berusaha menjelaskan.
Winda menarik nafas panjang lalu membuangnya kasar.
"Terserah kau saja, aku tidak peduli. Toh sudah biasa aku melihat mu dengan bergonta ganti perempuan!"
"Aku tidak Win, dia klien ku!" tegas Tama.
"Kok ada ya seorang klien berani mengusap bibir patner kerjanya?" tanya Winda dengan tawa mengejeknya.
"Aku mohon, percaya pada ku. Kami hanya makan siang biasa!"
"Sudah ku bilang itu terserah mu. Nyatanya semua yang kau ucapkan pada ku selama ini hanya kata-kata pemanis saja," ujar Winda yang sudah kenyang padahal dirinya belum menyantap apa pun.
Winda memutuskan untuk pulang, Tama langsung menyusul Winda yang mobilnya sudah jauh pergi.
"Astaga, sial sekali aku. Bersusah payah menyakinkan Winda jika aku sudah berubah malah seperti ini jadinya...!"
Setibanya di rumah, Winda langsung menghempaskan diri di atas tempat tidur. Tak berapa lama Tama juga tiba di rumah, pria ini langsung mencari istrinya.
"Winwin, di mana kau?" teriak Tama, yang sebenarnya dia tahu jika Winda sudah pasti berada di kamar.
"Kau pikir rumah ini hutan kah?" wajah Winda sangat ketus.
"Win, aku bisa jelaskan semua ini. Herni teman SMA ku, dia meminta bantuan ku untuk mengurus perceraiannya." Tama kembali menjelaskan.
Winda meletakan lengannya di atas dahi, matanya terpejam tidak ingin melihat sang suami.
"Ya bisa saja kau membuat istri orang menjadi janda lalu kau nikahi dan membuat istri mu sendiri menjadi janda," ucap Winda dengan santainya.
"Jangan menuduh ku seperti itu Win, tidak ada kepikiran ku sampai ke situ. Kau satu untuk selamanya!"
Geli sekali hati Winda, wanita ini tertawa mendengarnya.
"Sudahlah Tam, setinggi apa pun kau merayu. Hati ku tetap akan sama," sahut Winda, "kau sangat beruntung Tam, orangtua ku dan orangtua mu selalu mendukung apa pun keputusan mu. Jadi, terserah kau ingin melakukan apa."
Buk,....
Tanpa sengaja Tama menjatuhkan tas Winda dari atas meja rias. Semua isi tas berserakan, mata Tama tertarik pada sebuah amplop berlogo salah satu klinik ternama di kota mereka.
Winda tidak peduli pada tasnya, wanita ini seolah lupa jika dirinya sedang hamil sekarang.
Tama yang penasaran membuka isi amplop lalu membacanya.
"Winwin, kau hamil?"
Tama tidak percaya jika Winda sedang hamil sekarang. Ada perasaan haru dan juga bahagia dalam benak pria ini.
Winda langsung membuka mata, menoleh ke arah suaminya yang sedang merasa bahagia itu.
"Iya, kenapa memangnya?" tanya Winda sangat acuh.
"Kau serius hamil?" sekali lagi Tama memastikan.
Winda memutar bola matanya malas, "berisik, jangan ganggu aku. Aku ingin istirahat. Keluar sana, pasti selingkuh mu sekarang sedang menunggu mu!"
"Win, dia teman ku!" tegas Tama sekali lagi.
Winda tidak mau mendengarkan apa pun lagi yang keluar dari mulut suaminya. Wanita ini menarik selimut menutup seluruh tubuhnya.
Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia karena kehadiran seorang anak terasa hambar. Tama sekarang bingung sendiri ingin berbuat apa. Winda sama sekali tidak ingin mendengarkan penjelasannya.
hajar terus win 🤣🤣🤣
niat hati baca novel untuk melepas penat , eh yang ada malah bertambah bahkan max level lagi