NovelToon NovelToon
Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Orang Disabilitas
Popularitas:791
Nilai: 5
Nama Author: ELIYONA_5758

Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.

Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.

Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.

Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Bertemu Kembali

“Ditunggu.” Wanita itu memencet tombol. Menelepon sekretaris ruangan atas. “Pak, ada Bram Utama mau ketemu. Dia mengaku keponakan Bapak.”

“Mau apa?” suara di seberang menjawab gugup. Terdengar hela napas yang berat dan penuh kepanikan dari ujung telepon.

“Mau memberi kabar pernikahan.” Mawar melirik Satya dengan sudut matanya yang penuh rasa tidak suka.

“Suruh satpam mengantar ke ruanganku.”

“Baik.”

Sambungan diputus. Mawar mengempaskan gagang telepon ke tempatnya dengan kasar.

“Bagaimana?” Satya bertanya tak sabar. Ia memajukan tubuhnya, menuntut jawaban segera.

“Satpam akan mengantarmu.” Customer service itu terus mengawasi Satya. Penuh selidik. Lalu memanggil rekan kerjanya di dekat pintu masuk, “Pak Imam. Tolong antar pria ini menemui Pak Heru.”

Satpam bernama Imam itu langsung sigap. Mengantar Satya. Ke ruang lebih dalam yang dijaga ketat oleh pintu-pintu kaca elektronik.

Saat akan naik ke lantai atas. Di lift, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Bagas.

Pintu lift terbuka dan menampilkan sosok Bagas yang sedang sibuk mematikan layar gawainya. Ingin menyapa. Namun, Satya urung. Mengingat tujuannya adalah untuk bertemu Heru. Bukan putranya. Ia melangkah masuk ke dalam lift melewati Bagas yang sempat menoleh sekilas dengan dahi berkerut. Menatap punggung Satya yang tampak familier.

Imam mengetuk pintu kayu jati yang kokoh di ujung lorong lantai paling atas. “Permisi. Pak Heru. Ada yang ingin bertemu, Bapak.”

“Suruh masuk.” Suara berat dari dalam ruangan menyahut pelan.

Pintu terbuka, usai pemilik ruangan mempersilakan. Heru langsung bangkit dari kursi kebesarannya. Begitu melihat Satya masuk dan melepas maskernya, wajah pria paruh baya itu seketika berubah pucat pasi.

“Bram ….” Heru mendesah lirih, melangkah goyah mendekati keponakannya yang ia koarkan tewas.

“Paman, aku ingin bertanya dan ….”

“Duduklah.” Heru mempersilakan sang keponakan duduk. Mendorong tubuhnya, setelah menutup pintu dengan rapat dan memutar anak kuncinya demi menghindari intrik mata-mata istrinya. “Aku juga ingin memberi penjelasan padamu. Supaya kamu tidak salah paham.”

Heru kemudian berjalan cepat menuju jendela kaca besar, menghadap ke arah kota.

Menyembunyikan tetesan air mata pertamanya yang jatuh setelah bertahun-tahun menanggung beban rasa bersalah karena telah membuang darah daging kakaknya ke panti asuhan. Demi menyelamatkan nyawa anak itu dari kekejaman Risma.

“Paman.” Satya memecah suasana. “Aku sudah tahu semuanya.”

“Tahu apa?” Heru menyeka tetesan air di pelupuk matanya yang mulai mengerut. Ia berbalik, mengambil kursi di dekat meja kerja, lalu mengempaskan tubuhnya yang rapuh. Menghela napas panjang. Menatap Satya dengan tatapan yang dipenuhi rasa bersalah teramat dalam.

“Tentang alasan kenapa Paman membuangku.” Satya menuntut jawaban, menyorot langsung ke dalam manik mata pria paruh baya itu tanpa ada keraguan sedikit pun.

“Kau sudah tahu?” Heru berbisik lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.

“Ya.” Satya mengangguk. Langkah kakinya bergeser sedikit, berdiri kokoh di tengah ruangan mewah yang terasa begitu dingin dan mencekam.

Isak Heru kembali pecah. Bahunya terguncang hebat di balik setelan jas mahalnya. “Maafkan Paman, Bram Satya. Paman … terpaksa membuatmu pergi. Karena Paman tak memiliki pilihan.”

Satya diam. Menatap wajah lelah pamannya dalam. Keheningan yang sarat akan intrik masa lalu membentang di antara mereka, membuat atmosfer ruangan kian mendebarkan dan penuh drama.

“Sungguh, aku tertekan. Risma. Aku tak menyangka kalau dia memintaku untuk membuangmu. Bukan karena aku malu karena cacat fisikmu. Bukan! Tapi karena Risma yang mendorongku untuk itu.” Heru tergugu pilu, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang bergetar. “Tapi kamu jangan takut. Pamanmu ini sudah menyembunyikan bagianmu. Kamu bisa memakai uang itu untuk ….”

“Paman,” sela Satya, menatap sang paman prihatin. Ia melangkah mendekat, menghentikan kalimat Heru sebelum pria itu melangkah terlalu jauh ke dalam pusaran materi. “Aku sudah cukup bahagia dengan keadaanku. Meski … hanya bisa sekolah sampai diploma, kerja bengkel sampai harus mengontrak rumah. Aku bahagia. Meski awalnya, semua sulit aku terima. Aku bahkan membenci Paman.”

Heru tersentak. Wajahnya menatap Satya dengan sorot mata yang penuh kepedihan yang luar biasa. “Aku bisa mengerti. Kemarahanmu sangat beralasan, Bram.”

“Bukan mengertinya, Paman.” Satya tak bisa menahan nada suara yang merambat naik, dipenuhi letupan emosi dan harga diri yang selama ini tertindas.

Ia mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Menahan gejolak emosi. “Paman sudah menyakiti Tante Risma. Wajar saja kalau Tante sampai marah. Tapi kenapa … kalian sampai harus membuangku? Apa hubungannya … aku dengan selingkuhan Paman?”

Heru tertunduk sembari meremas lututnya sendiri. Mencoba mencari sisa kekuatan untuk menjabarkan konspirasi busuk yang telah ia kubur bertahun-tahun. “Aku dalam ancaman Satya. A-ku … tak berkutik karena memang aku salah. Tapi aku tak berniat membuangmu. Daripada harus membunuh.

Aku terpaksa. Karena Risma mengancam akan menggugat harta keluarga Utama kalau aku tidak membunuhmu. Sampai aku terpaksa membuat opsi membuangmu.”

Satya menahan napas. Dadanya bergemuruh hebat, seolah dihantam gada raksasa.

Dibuang bertahun-tahun, dianggap mati, hanya karena tuntutan tantenya, karena sang paman selingkuh.

Benar-benar tak masuk logikanya. Apalagi keluarga pamannya hidup enak dalam gelimang kemewahan. Dengan harta warisan orang tuanya. Sementara dia kesusahan di panti asuhan. Menanggung lapar dan cacat fisik tanpa ada yang tahu kalau dia pewaris sah keluarga Utama.

“Satya.” Heru memecah hening, menatap cemas ke arah keponakannya yang mendadak mematung. “Kamu tidak dendam sama Paman kan?”

“Sebelum tahu, iya,” jawab Satya lugas, suaranya terdengar dingin dan tajam. “Tapi setelah Pak To menjelaskan semuanya. Aku jadi bisa mengerti. Walau tak sepenuhnya. Karena dosa ini, Paman yang buat. Tapi aku ikut kena getahnya.”

Satya melangkah mundur, menjaga jarak aman agar emosinya tidak meledak di ruangan itu.

Ia memiringkan sudut lipatan bibirnya, tersenyum sinis. “Jujur aku ragu mau bertemu. Khawatir kalau Paman tidak mengingatku.”

“Mana mungkin aku tak ingat.” Heru mendesis gusar. Ia bangkit dari kursi, melangkah terburu-buru mendekati Satya seolah ingin memeluknya, tapi urung karena ketegasan tatapan sang keponakan.

“Oh tentu saja ingat. Luka wajah begini, siapa sih yang punya? Selain aku?” Satya menunjuk parut luka bakar di pipinya dengan tawa hambar yang menyayat hati.

“Bram.” Heru menyela, suaranya bergetar menahan kepedihan. “Paman berjanji akan membuat wajahmu pulih. Mengembalikan hak-mu. Tapi tolong jangan muncul ke publik.”

“Kenapa Paman takut aku muncul di publik?” Satya menatap penuh selidik. Ia menyipitkan mata, mengendus adanya intrik baru yang sedang disembunyikan oleh pamannya.

“Tak apa.” Heru menggeleng pelan, memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota.

"Jangan bohong, Paman." Satya tersenyum getir. Ia melipat kedua tangan di dada, langsung menyimpulkan ketakutan terbesar sang paman. “Apa itu karena aku sudah dibuat mati? Karena kalau ... aku muncul, maka nama baik keluarga kedua Utama, bisa menjadi bulan-bulanan publik. Ditambah kasus perselingkuhan Paman. Reputasi keluarga Paman yang baik, akan hancur dalam hitungan detik."

1
Harsoemi Akm
lanjutksn
Hesty Gemini
lanjut, jangan lupa mampir ya di karya aku. 🙏
ELIYONA: makasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!