NovelToon NovelToon
GUNA-GUNA *Based On True Story*

GUNA-GUNA *Based On True Story*

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: MasYB

Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.

Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:

punya rumah sendiri.

Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.

Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.

Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.

Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.

Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.

Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasib Jadi "Penumpang"

Author jangan dicaci maki dulu ya kalau awalnya belum serem. Masa baru buka pintu, kuntilanak langsung keluar sambil jungkir balik? Kan gak lucu. Horor itu bukan mi instan yang diseduh tiga menit langsung matang. Kadang, rasa takut justru lahir dari hal-hal yang kelihatannya paling biasa. Dari rumah yang bocor. Dari meja makan yang selalu menyajikan tempe. Dari impian sederhana yang pelan-pelan berubah menjadi petaka. Jadi... sabar ya. Horornya lagi nyiapin panggung, masih nongkrong di tikungan jalan.

Hujan turun sejak sore.

Bukan hujan deras yang datang sebentar lalu pergi, melainkan hujan yang awet, seolah langit sedang menumpahkan seluruh isinya ke atas kampung kecil kami. Udara berubah dingin. Angin membawa aroma tanah basah yang bercampur lumut dari dinding-dinding rumah tua.

Di dalam rumah pun suasananya tak jauh berbeda.

Air menetes dari sela genteng yang mulai rapuh dimakan usia. Satu... dua... tiga titik bocor muncul di langit-langit ruang tengah. Sebuah ember plastik merah sudah kuletakkan tepat di bawah salah satunya.

Tik...

Tik...

Tik...

Suara tetesan air yang menghantam dasar ember itu terdengar pelan, tetapi entah kenapa akhir-akhir ini selalu terasa mengganggu. Mungkin karena pikiranku memang sedang penuh.

Di sudut ruangan, televisi tabung empat belas inci menyala dengan gambar yang sesekali dipenuhi semut. Tokoh sinetron sedang menangis sambil berteriak, tetapi suaranya kalah oleh bunyi hujan yang memukul genteng.

Aku menggeser ember itu sedikit.

Tetesan air kembali jatuh tepat di tengahnya.

"Mir... cucian belakang jangan lupa diangkat!"

Suara Ibu terdengar dari dapur.

"Iya, Bu..." sahutku.

Tanganku masih sibuk melipat seragam sekolah Lala. Kainnya belum benar-benar kering. Sudah tiga hari matahari seperti malas muncul. Seragam itu masih menyisakan bau lembap yang samar.

Mau bagaimana lagi?

Besok pagi anakku tetap harus berangkat sekolah.

Rumah yang kutinggali ini sebenarnya tidak besar.

Kalau orang bilang sempit, aku juga tidak bisa membantah. Tiga kamar dibuat seadanya dengan sekat papan yang mulai lapuk. Ruang tamu menyatu dengan ruang televisi. Dapur berada paling belakang, berdampingan dengan kamar mandi yang pintunya bahkan sudah tidak bisa dikunci rapat.

Kalau malam tiba dan semua penghuni rumah sudah berkumpul, udara rasanya ikut berdesakan.

Aku tinggal di sini bersama Ibu, ayah tiriku, adikku Safitri, suamiku Anto, serta kedua anak kami, Lala dan Andi.

Iya...

Kami masih menumpang.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi setiap kali kupikirkan, rasanya seperti ada duri kecil yang menusuk harga diriku.

Umurku sudah kepala tiga.

Anak sudah dua.

Namun sampai hari ini, jangankan memiliki rumah sendiri, pondasi rumah pun kami belum sanggup membuatnya.

Padahal, almarhum bapaknya Mas Anto masih meninggalkan sebidang tanah kecil di ujung kampung. Dekat pemakaman.

Sayangnya, tanah itu hanya bisa dipandangi.

Harga semen, pasir, batu bata, kayu, semuanya terasa terlalu jauh untuk dijangkau oleh penghasilan kami.

Kadang aku berpikir...

orang miskin itu bukan tidak punya mimpi.

Mereka hanya terlalu sibuk bertahan hidup sampai lupa bagaimana rasanya bermimpi.

"Mak..."

Lamunanku buyar.

Lala berdiri di depan pintu kamar sambil mengusap perutnya.

"Lala lapar."

Aku tersenyum.

"Tunggu sebentar ya, Nak. Nasinya hampir matang. Nanti Mak gorengin tempe."

"Iya..."

Lala mengangguk.

Anakku memang penurut.

Dia kembali duduk di depan televisi bersama Andi yang masih sibuk memainkan mobil-mobilan plastik kesayangannya. Rodanya tinggal tiga, catnya sudah mengelupas, tapi benda itu tetap menjadi mainan paling berharga baginya.

Kulirik jam dinding.

Hampir pukul delapan malam.

Mas Anto belum pulang.

Biasanya kalau sampai jam segini belum kelihatan batang hidungnya, berarti mandor sedang memberi lembur.

Aku justru berharap begitu.

Lembur berarti tambahan uang.

Tambahan uang berarti besok anak-anak masih bisa membawa bekal.

Sesederhana itu ukuran kebahagiaan kami.

Aku berjalan ke dapur.

Ibu sudah menunggu di depan kompor minyak yang apinya sesekali mengecil karena sumbunya mulai habis.

Begitu tempe masuk ke minyak panas...

Cessss...

Aroma gurih langsung memenuhi dapur sempit itu.

"Mir..."

Aku menoleh.

Ibu masih menatap wajan.

"Kamu gak capek?"

Aku mengernyit.

"Capek apa, Bu?"

"Numpang terus di rumah begini."

Tanganku berhenti membalik tempe.

Kalimat itu tidak keras.

Tidak juga diucapkan sambil marah.

Justru karena diucapkan pelan, rasanya lebih menusuk.

"Bukan Ibu mau ngusir."

Beliau buru-buru menambahkan.

"Tapi anak-anakmu makin besar."

"Sampai kapan mau begini?"

Aku menarik napas pelan.

Lalu tersenyum.

Senyum yang kupakai setiap kali ingin menyembunyikan rasa malu.

"Doain aja ya, Bu."

"Insyaallah kalau ada rezeki..."

"...aku sama Mas Anto pengen bangun rumah sendiri."

Ibu mengangguk pelan.

Namun dari sorot matanya, aku tahu...

beliau sendiri tidak terlalu yakin.

Belum sempat suasana kembali tenang...

BRAK!

Pintu depan terbuka.

Langkah sandal terdengar menghentak.

Safitri pulang.

Adikku masuk sambil memainkan ponselnya. Pakaiannya rapi. Aroma parfumnya langsung memenuhi rumah, menyingkirkan bau minyak goreng dari dapur.

"Wah..."

"Goreng tempe lagi."

Dia membuka tudung saji.

Lalu mendecak kecewa.

"Makan aja apa yang ada."

Ibu menjawab datar.

Safitri tidak langsung membalas.

Namun sebelum masuk kamar, matanya sempat melirik ke arahku.

Tatapan itu...

Sudah sangat kukenal.

Dingin.

Sinis.

Seolah aku bukan kakaknya.

Melainkan orang asing yang kebetulan tinggal serumah.

Sikapnya berubah sejak tahu kami hanya saudara beda ayah.

Sejak saat itu, jarak di antara kami semakin terasa.

"Aku capek kerja."

"Pulang-pulang lauknya tempe lagi."

"Gak ada daging?"

Aku memilih diam.

Kadang diam jauh lebih murah daripada berdebat.

"Ya syukur masih ada yang dimakan!"

Kalau gak mau ya gak usah makan!"

Kali ini Ibu mulai kesal.

Safitri mendengus.

Dia mengambil sebutir telur dari kulkas.

Lalu menutup pintunya keras.

BRAK!

Lala yang sedang makan kerupuk sampai menoleh kaget.

Aku hanya menarik napas panjang.

Sudah biasa.

Benar-benar sudah biasa.

Dipandang sebelah mata di rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman untuk pulang.

-----

Kepalaku masih bersandar di pundak Mas Anto.

Di luar, hujan belum benar-benar berhenti. Rintiknya memang tak lagi sederas tadi sore, tapi suara air yang menetes dari ujung genting ke halaman masih terdengar jelas, berpadu dengan suara jangkrik yang mulai berani bernyanyi dari balik semak.

Rumah sudah sepi.

Lampu ruang tengah sengaja kami matikan. Hanya televisi tua yang masih menyala dengan volume kecil, memancarkan cahaya kebiruan yang berkedip-kedip di dinding papan.

Aku menikmati momen seperti ini.

Momen yang mungkin bagi orang lain terasa biasa saja, tapi bagiku sangat berharga.

Karena beginilah kehidupan kami.

Tidak ada makan malam mewah.

Tidak ada sofa empuk.

Tidak ada pendingin ruangan.

Tidak ada mobil terparkir di depan rumah.

Yang ada hanya dua orang yang sama-sama lelah, duduk berdampingan setelah seharian berjuang agar dapur tetap mengepul.

"Mas..."

"Hm?"

"Aku berat gak?"

Mas Anto melirikku sebentar lalu tersenyum kecil.

"Berat."

Aku langsung mendelik.

"Yaudah sana... pindah."

Belum sempat aku menjauh, dia malah tertawa pelan lalu merangkul bahuku.

"Berat karena dosamu banyak."

"Cih."

Kubalas mencubit lengannya.

Mas Anto meringis berlebihan.

"Aduh... galak."

"Biarin."

"Aku kan cuma bercanda."

Aku ikut tertawa.

Sudah lama rasanya kami tidak tertawa sesantai ini.

Sejak punya anak, obrolan kami lebih sering soal uang belanja, susu, biaya sekolah, atau pekerjaan.

Kadang aku rindu masa-masa awal menikah dulu.

Saat kami masih bisa berjalan kaki keliling pasar malam cuma untuk membeli es tebu satu gelas berdua.

Sekarang...

Bahkan membeli bakso lima belas ribu pun harus berpikir dua kali.

Mas Anto memandang televisi beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,

"Dik..."

"Iya?"

"Nanti kalau kita punya rumah..."

Aku menoleh.

"...aku bikinin dapur yang paling bagus."

Aku tersenyum.

"Lho, bukannya tadi aku yang ngomong?"

"Iya."

"Terus?"

"Aku hafal."

Dadaku terasa hangat.

Laki-laki ini memang bukan tipe yang pandai merangkai kata.

Dia bukan lelaki romantis seperti di sinetron.

Kalau disuruh menggombal, mungkin lima menit dia cuma garuk-garuk kepala.

Tapi setiap ucapannya...

Selalu terasa sungguh-sungguh.

"Aku serius."

Mas Anto kembali bicara.

"Dapurmu nanti jangan sempit."

"Biar kalau mas pulang kerja..."

"...mas bisa duduk nemenin kamu masak."

Aku menggigit bibir menahan senyum.

"Terus?"

"Ruang tengahnya agak gede."

"Biar Lala sama Andi bisa lari-larian."

Aku mengangguk pelan.

"Terus?"

"Kamar kita..."

Dia berhenti.

Aku menaikkan alis.

"Kenapa?"

Mas Anto tiba-tiba tertawa malu.

"Gak jadi."

"Eh... ngomong dong."

"Gak ah."

"Mas..."

Aku mulai menggoyang-goyangkan lengannya seperti anak kecil.

Mas Anto menghela napas panjang.

"Kamar kita jangan dekat dapur."

"Lho kenapa?"

"Soalnya..."

Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku.

"...biar kalau bapaknya Lala lagi sayang sama emaknya Lala..."

"...anak-anak gak dengar."

"Mas!"

Aku spontan memukul bahunya pelan.

Mukaku langsung panas.

Dasar.

Kalau sudah begini ternyata dia bisa juga usil.

Mas Anto malah tertawa pelan melihat wajahku yang memerah.

"Tuh kan."

"Malu."

"Siapa juga yang malu."

"Wajahmu merah."

"Itu karena gerah."

"Padahal hujan."

"Ya pokoknya gerah."

Dia tertawa lagi.

Aku ikut tertawa sambil menundukkan kepala.

Rasanya damai sekali.

Andaikan waktu bisa berhenti...

Aku ingin malam ini berlangsung lebih lama.

1
Ynti Kusmayanti
bikin penasaran cerita nya..
Ynti Kusmayanti
bikin penasaran cerita nya..
MasYB: nantikan update terbarunya ya kak..🙏😊
total 1 replies
puspusmeowliet
keren banget 👍
MasYB: terimakasih supportnya kaka🙏
total 1 replies
SiOmpong
Marni.... biasanya yg namanya Marni...
MasYB: biasanya kenapa Marni kakak..? 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!