"Mungkin aku memang pemain wanita, tapi aku tidak akan menelantarkanmu karena kamu sedang mengandung anakku." Adrian.
"Jika aku tidak mengandung anakmu, apakah kamu tetap akan bertanggung jawab padaku?" Amira.
Sebuah kecerobohan yang dilakukan Amira membuatnya harus kehilangan kesuciannya dan mengandung benih dari Adrian, pria yang terkenal dengan julukan casanova. Amira harus menjadi selir rahasia dari Adrian sampai ia melahirkan bayinya.
Follow ig : Siran_rhmwtii6
facebook : Siran Ran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemandangan tak terlupakan
Mira tidak menjawab pertanyaan Vika, sebaliknya ia hanya menunjukan senyuman tipis berusaha menghilangkan raut wajah takutnya.
"Mir, kamu baik-baik aja, kan?!" Vika beberapa kali menanyakan hal yang sama, perihal keadaan Mira.
"Aku baik-baik aja." Jawab Mira dengan wajah yang mulai agak tenang.
Vika tidak boleh tahu ini. Kalau dia tahu, aku bisa disuruh berhenti kerja.
Mira berdebat dengan batinnya sendiri, berusaha menutup-nutupi apa yang terjadi padanya hari ini di kantor.
"Jadi, kamu di terima kerja?" Mira menjawab dengan anggukan, kemudian tersenyum tipis lagi.
"Mungkin setelah aku terima gaji pertama, nanti mau cari kontrakan kecil." Ucap Mira sambil memandang lurus ke depan, ke arah sebuah vas bunga keramik di meja ujung ruangan.
Vika mengerucutkan bibirnya, tidak senang dengan kata-kata Mira.
"Kenapa? Padahal aku udah senang kamu tinggal disini."
"Kamu tidak suka tinggal disini?" Rentetan pertanyaan dari Vika mulai membuat Mira menghela napas panjang. Ia selalu kesal jika sifat asli Vika sudah muncul, selalu banyak bertanya.
"Bukan begitu, aku cuma mau mandiri. Boleh deh, kapan-kapan aku menginap disini!" Mira merangkul Vika, kemudian mengadukan pipi mereka.
Vika terkekeh geli, kemudian melepaskan pipi Mira yang menempel di pipinya.
"Iya, iya! Ok, nanti aku bantu carikan tempatnya, ya?!" Seru Vika bersemangat, yang hanya dijawab anggukan oleh Mira.
...******************...
Pagi telah tiba, membuat Mira menghela napas panjang saat bangun dari tidurnya. Ia merasa begitu malas pergi ke kantor, terutama jika dihadapkan dengan Adrian. Kini ia sedang memikirkan apa yang harus dilakukannya jika berhadapan dengan pria itu.
"Apa aku harus meladeni dia saja?" Tanya Mira dengan suara seperti bisikan. Ia tidak sadar, Vika berada di belakangnya.
"Meladeni apa? Kamu bicara sama siapa, Mir?"
Mira sedikit terhenyak kaget, namun ia berusaha menenangkan diri agar Vika tidak bertanya lebih banyak seperti semalam.
"Bukan apa-apa, hanya teman kantor yang sangat rewel." Jawab Mira dengan suara pelan.
Vika hanya meng-oh-kan saja sambil berlalu masuk ke kamar mandi. Sementara Mira memulai kembali perang batin dalam hatinya.
Mungkin aku harus pura-pura cuek saja, semakin aku meladeninya, mungkin dia akan semakin menggangguku.
Jam telah menunjukan pukul 7, Mira segera bergegas pergi untuk berangkat bekerja setelah ia berpamitan pada Vika yang masih di kamar mandi.
Sepanjang perjalanan Mira masih berusaha mengatur dirinya, agar terkesan tidak peduli pada Adrian. Hingga ia sudah berada di hadapan ruangan tempatnya bekerja, dia berusaha menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Mira melihat ke ruangan di seberang, masih terlihat kosong. Menandakan Adrian belum datang.
"Pak Adrian datang jam 9, Bu Mira! Kamu masih punya waktu untuk bersiap dan mempelajari pekerjaanmu lagi." Sahut Dimas yang baru datang.
"Eh, Em... Iya, Pak dimas." Mira gelagapan, ia tercyduk sedang memandangi ruangan Adrian.
"Sebaiknya jangan panggil Pak, bagaimana kalau nama saja?" Tawar Dimas dengan senyuman hangat, menambah kharismatik dan ketampanan di wajahnya.
"Tentu,"
"Baiklah, aku ke ruangan dulu, Mir!" Pamit Dimas.
Tiba pukul 9, suara derap langkah kaki yang cukup bisa Mira dengar membuat Mira segera mempersiapkan diri untuk menyapa atasannya tersebut.
"Selamat pagi, Pak Adrian." Mira menyapa pria itu dengan sedikit membungkukan badannya, memberi hormat.
Saat ia menegakan kembali badannya, Mira tercengang karena Adrian tidak sendiri. Di belakangnya sudah setia hadir seorang wanita berpenampilan sangat modis dan juga sedikit terbuka dengan mini dress yang ketat di tubuh indahnya.
"Selamat pagi," Adrian menyapa kembali Mira. Lalu meninggalkan Mira yang masih tercengang dengan wanita di belakangnya.
Belum lima langkah, Adrian membalikan tubuhnya kembali dan menghampiri Mira.
"Jangan biarkan siapapun masuk dalam 1 jam, aku sedang ada meeting dengannya." Adrian menunjuk wanita cantik di belakangnya itu. Tentunya meeting yang dimaksud Adrian bukan meeting pekerjaan, melainkan dalam artian lain yang tidak Mira ketahui.
"Baik, Pak." Mira mengangguk patuh. Adrian kembali melangkahkan kakinya memasuki ruangan. Sebelum masuk, Mira menangkap pemanangan aneh.
Adrian merangkul pinggang ramping wanita itu dengan begitu mesra.
"Meeting? Tapi... Dia..."
"Mir!" Seseorang kembali mengejutkannya.
"Ya, Pak... Eh, maksudku... Dimas!"
"Pak Adrian sudah datang?"
"Ya, baru saja." Mira kembali melirikan matanya ke arah pintu ruangan Adrian.
Dimas mengikuti arah lirikan mata Mira. Kemudian menatap Mira.
"Ada yang aneh?" Mira menggelengkan kepalanya, kemudian tersenyum tipis.
Dimas mengacungkan jempolnya, kemudian melangkahkan kaki menuju ruangan Adrian. Mira yang ingat akan pesan Adrian, segera menahan Dimas.
"Eh, Dimas! Pak Adrian berpesan agar tidak ada yang masuk ke ruangannya dalam 1 jam!" Dimas berhenti melangkah, mengerutkan dahi kebingungan. Satu pertanyaan muncul tanpa disengaja.
"Apa dia datang bersama seseorang?" Mira mengangguk. "Wanita?" Mira mengangguk lagi. Tiba-tiba Dimas menghela napas kasar, lalu menjauh dari ruangan itu.
Mengambil sebuah tanda yang tergantung di ujung ruangan. Ia menggantungkannya di knop pintu ruangan Adrian sambil kembali menghampiri Mira yang tengah duduk manis di atas kursi kerjanya.
"Mira, lain kali jika Pak Adrian datang dengan seorang wanita dan minta tidak untuk di ganggu, tolong beri tanda itu!" Perintah Dimas sambil menunjuk papan yang baru saja ia taruh di pintu ruangan Adrian.
"Tapi kenapa?" Mira mulai penasaran, tapi Dimas tidak menjawab sepatah katapun, hanya memberi gelengan kepala sambil tersenyum. Setelah itu ia pamit masuk ruangannya kembali. Meninggalkan Mira dengan seribu kebingungannya.
1 jam yang diberikan Adrian sudah berlalu. Mira mulai semakin penasaran dengan apa yang terjadi di dalam ruangan Adrian.
Tepat saat itu, bagian resepsionis menghubunginya.
"Mira, apa kamu bisa mintakan berkas di meja Pak Adrian? Atau bisa tanyakan, dia janji bertemu dengan siapa siang ini? Karena itu janji satu minggu yang lalu, jadi tidak ada dalam catatan kita." Suara Siska yang membuat Mira kembali memulai perang batin dengan dirinya sendiri.
"Iya, segera akan aku mintakan."
Setelah menutup telepon, Mira mulai bangkit dari duduknya, melangkahkan kaki menuju pintu yang masih tergantung tanda tidak boleh diganggu. Ia sedikit ragu dalam langkahnya, bahkan jantungnya mulai berdebar tak karuan.
Apa boleh aku masuk? Tapi ini sudah 1 jam!
Mira mengetuk pintu perlahan, ia melupakan bahwa ruangan Adrian kedap suara. Sampai hampir 5 menit ia baru mengingat itu.
Di putarnya knop pintu dengan ragu-ragu, membuat perlahan ruangan itu terbuka. Sedikit demi sedikit, Mira berhenti membukanya saat ia merasa darahnya mengalir begitu cepat dan jantungnya semakin berdetak kencang.
Apa sampai harus setakut ini? Lagipula kan dia hanya 1 jam menyuruh siapapun tidak boleh masuk!
Mira meneruskan tindakannya, hingga pintu ruangan terbuka lebar. Memberikan Mira pemandangan yang sangat-sangat tidak wajar jika dilakukan di dalam kantor. Matanya membulat sempurna. Bahkan kedua orang di dalam sama terkejutnya.
"Maafkan aku, Pak!"
Bruk...
Mira menutup pintu dengan sedikit keras.
"****!!!"
"Apa-apaan itu?!"
Bersambung....
apa bedanya dengan Adrian yang celup sana sini, alias Casanova 🤦🏻♀️
g punya kaca X Adrian 🤣🤣🤣🤣
mira.....liat apa an?????