Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Pelipur Lara Untuk Aira.
Setibanya di rumah, Azam membopong tubuh Aira yang masih lemah. Tidak ada raut keceriaan sedikit pun di wajah cantiknya.
"Bi Nia, tolong buatkan makanan buat Aira, ya. Sayur bayam sama ayam goreng saja," kata Azam sebelum menaiki anak tangga.
Setibanya di kamar, Aira tidak mau jauh-jauh dari Azam. Mata bulatnya berkaca-kaca. Azam mengusap lembut rambut indah Aira, lalu memeluknya.
"Kalau kamu sudah siap buat cerita, cerita saja, ya, Sayang. Jangan dipendam sendiri," kata Azam lembut.
Aira mengangguk kecil.
"Mas, Momo mana?" tanya Aira lirih. "Momo sama Coco mana, Mas? Aku kangen mereka."
"Aku bawa mereka kesini dulu, ya," kata Azam yang langsung diiyakan oleh Aira.
Azam bergegas menuju pintu yang tidak jauh dari ruang khusus pakaian. Kamar mereka memang sangat luas. Bahkan, di dalamnya masih ada beberapa ruangan seperti kamar Momo dan Coco, ruang kerja, ruang pakaian, kamar mandi dalam, serta tempat kerja Azam. Meskipun tempat tidurnya terpisah, semua itu masih berada dalam satu ruangan.
"Momo! Coco!" kata Aira senang.
Azam membawa dua kucing kesayangan Aira, Coco dan Momo. Dua kucing itu selalu menjahili Azam dan membuatnya naik darah. Namun, saat bersama Aira, kedua kucing gembul berkaki pendek itu mendadak manja, kalem, dan ramah.
"Hati-hati, Mas. Jangan sampai jatuh, itu anak-anak aku," kata Aira menegur Azam.
Aira memeluk Coco dan bermain dengan Momo di atas tempat tidur mereka. Azam menghela napas lega saat melihat bidadarinya akhirnya kembali tersenyum.
"Sayang, habis ini makan, ya, terus minum obat," kata Azam lembut.
Aira mengangguk setuju. Lima belas menit kemudian, Bi Nia datang sembari membawa nampan putih. Di atasnya, ada satu mangkuk berisi sayur bayam, piring kecil berisi dua ayam goreng, satu piring nasi, satu gelas air putih, dan satu gelas susu putih.
"Permisi Tuan, Non Aira," kata Bi Nia sembari meletakkan nampan tersebut di atas nakas sebelah tempat tidur.
"Makasih ya, Bi Nia," kata Aira lembut, namun suaranya masih terdengar lemah.
Bi Nia mengangguk senang.
"Sama-sama, Non Aira. Semoga Non Aira cepat sembuh, ya, Non," kata Bi Nia tulus.
Setelah kepergian Bi Nia, Azam menyuapi Aira.
"Mas, besok sudah waktunya Momo sama Coco periksa mingguan, ya, Mas?" tanya Aira.
Azam mengangguk. "Iya, Sayang. Memang kenapa? Besok biar dokternya saja yang ke sini, okey?" kata Azam.
Aira mengangguk setuju.
"Mas," panggil Aira yang masih mengunyah nasi.
"Hemm? Apa, Sayang?" tanya Azam lembut.
"Aku kangen Mbak Safira, Mas," kata Aira tiba-tiba.
"Makan dulu, ya. Nanti baru telepon," kata Azam.
Aira mengangguk setuju. Setelah makanannya habis dan selesai meminum obat, Aira menghubungi nomor Safira.
"Assalamualaikum, Dek. Ada apa? Loh, kamu kenapa? Kok kamu pucat gitu? Pipi kamu juga lebam."
Suara lembut Safira terdengar hangat di indra pendengaran Aira. Sementara itu, Azam sudah pergi ke ruang kerjanya karena masih ada beberapa dokumen yang harus ditandatanganinya.
"Aira habis kena musibah, Mbak," kata Aira manja.
Satu jam berlalu, dan Aira masih asyik melakukan panggilan video dengan Safira.
"Ya sudah, Dek. Mbak besok ke rumah kamu, ya. Sekalian mengembalikan jasnya suami kamu," kata Safira.
Aira yang sudah mulai merasakan kantuk mengangguk. "Iya, Mbak. Besok aku tunggu, ya, Mbak," kata Aira semangat.
Setelah panggilan video dimatikan, Aira memeluk Momo gemas. Mereka sempat bermain sejenak hingga akhirnya Aira tertidur pulas.
Azam tersenyum manis melihat wanitanya yang sudah bisa berdamai dengan traumanya berkat Momo, Coco, dan Safira.
Setelah menjaga satu jam lebih dan Aira masih tertidur pulas, Azam meminta Hanum untuk menjaga Aira. Setelah kedatangan Hanum, Azam bergegas menuju rumah Ayah Fikri. Di sana sudah ada Ayah Fikri, Kinan, Ayah Niko, Seno, dan Ardi.
Kinan menundukkan kepalanya. Bibirnya tertutup rapat. Pertemuan ini terjadi karena permintaannya sendiri.
"Ayah? Kalian semua juga di sini?" kata Azam bingung, lalu bergegas duduk di sofa yang masih kosong.
"Maaf jika saya merepotkan. Pertemuan ini putri saya sendiri yang meminta saya untuk mengumpulkan semua orang di sini," kata Ayah Fikri.
"Ada apa, Kinan? Mau kasih tahu sesuatu tentang Vito?" tanya Seno dingin. Biasanya cowok itu barbar dan kocak, namun entah kenapa saat ini dia terlihat acuh tak acuh kepada Kinan.
Suasana mendadak hening.
"Bicara saja, Nak. Kami semua akan mendengarkan dan tidak akan...?"
Perkataan Ayah Fikri terhenti saat tiba-tiba Kinan mengucapkan kata maaf yang begitu pelan. Ayah Niko dan Azam saling berpandangan.
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍