"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANG-BAYANG DI BALIK PINTU BESI
Bel pulang sekolah bergema panjang menyusuri koridor SMA Garuda Bangsa, menyuarakan kebebasan sejenak bagi ratusan siswa yang berhamburan keluar. Namun bagi Nayla, suara bel itu tak ubahnya ketukan penanda bahwa ia harus kembali memasuki kurungan emas yang kian memperketat cengkeramannya.
Di pelataran depan sekolah yang dipenuhi lalu lalang kendaraan, dua unit sedan hitam berpelat nomor khusus milik Alveric Group sudah terparkir rapi. Pintu belakang salah satu sedan terbuka, dan Julian Alveric berdiri di sana dengan kacamata hitam berbingkai perak dan kemeja formal yang lengannya tergulung rapi. Kehadiran abang kedua Nayla itu menandakan bahwa pengawasan terhadap Nayla sore ini dispesialkan secara langsung oleh anggota inti klan.
Nayla berjalan lambat menyusuri undakan tangga depan, didampingi oleh dua pengawal pribadi yang tetap menjaga jarak aman. Di belakangnya, Zavier berjalan dengan langkah tenang dan teratur. Seperti janjinya di taman tadi, Zavier mengawalnya hingga ke titik batas aman pelataran sekolah.
Julian yang melihat kedatangan adiknya bersama Zavier mendengus tipis. Ia melangkah maju dua tapak, menyilangkan tangan di depan dada saat Nayla dan Zavier berhenti tepat tiga meter di hadapannya.
"Kamu makin berani terang-terangan membawa anak Mahendra ini ke area penjemputan, Nayla," ujar Julian dengan suara datar namun tajam, menatap adiknya sebelum melemparkan pandangan dingin pada Zavier.
Nayla menatap Julian tanpa ada rasa gentar di matanya. "Zavier cuma berjalan searah menuju parkiran motor, Mas Julian. Tidak ada yang melanggar aturan."
Julian terkekeh pelan, sebuah kekehan kaku yang biasa ia gunakan saat menghadapi lawan negosiasi di meja bisnis. Matanya beralih penuh pada Zavier. "Zavier, sebagai sesama pria, aku sarankan kamu sadar diri. Kael Mahendra sudah secara resmi menyerahkan seluruh kendali operasional konsorsium bagian Mahendra kepada Raka. Kamu saat ini tidak punya posisi hukum apa pun di perusahaan ayahmu. Menempel pada Nayla tidak akan mengembalikan posisimu di mata Om Kael."
Zavier menatap Julian dengan pandangan lurus. Tidak ada jejak amarah atau provokasi di wajahnya, hanya ada ketenangan rasional yang justru membuat Julian menyipitkan matanya.
"Aku berdiri di sini bukan untuk mengincar posisi di Mahendra Group atau mencari validasi dari Papi, Mas Julian," balas Zavier dengan suara bass-nya yang tenang dan berat. "Aku di sini hanya memastikan Nayla sampai di kendaraannya dengan aman."
"Keamanan Nayla adalah tanggung jawab klan Alveric, bukan anak sekolah tanpa jabatan sepertimu," pangkas Julian dingin. Ia lalu menatap adiknya. "Nayla, masuk ke mobil sekarang. Ayah dan Bunda menunggu makan malam keluarga di rumah."
Nayla memutar kepalanya, menatap Zavier. Di tengah tatapan belasan murid yang memperhatikan mereka dari kejauhan dan intimidasi terselubung dari Julian, Nayla menyunggingkan senyum tipis—sebuah pesan rahasia bahwa ia akan tetap bertahan.
"Terima kasih sudah mengantarku sampai sini, Zav," bisik Nayla halus.
"Masuklah, Nay. Hati-hati di jalan," sahut Zavier pelan, mengangguk kecil.
Nayla membalikkan tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam kabin sedan hitam yang dingin beraroma kulit mewah. Pintu mobil ditutup dengan dentam berat dari luar. Julian sempat memberikan tatapan peringatan terakhir pada Zavier sebelum ia sendiri naik ke kursi depan di samping sopir.
Iring-iringan sedan hitam Alveric meluncur mulus membelah jalanan sore kota Jakarta yang mulai padat. Di dalam mobil, Zavier menyalakan mesin motor besarnya, memutar selongsong gas pelan, lalu melaju dari jarak aman untuk menjaga komitmennya untuk mengawasi rute perjalanan Nayla dari belakang hingga bayangan mobil itu menghilang di balik gerbang besi tinggi kediaman Alveric.
Satu jam kemudian, atmosfer di kediaman utama klan Alveric terasa amat pekat. Makan malam keluarga sore itu dihadiri lengkap oleh Alexander, Eleanor, Adrian, Julian, serta sang putri bungsu, Aurora.
Aurora yang baru berusia empat belas tahun duduk di sebelah Nayla dengan tenang. Anak perempuan berambut panjang itu lebih banyak menunduk memandangi piringnya, menyadari ketegangan tak kasat mata yang menyelimuti meja makan tersebut.
"Bagaimana perkembangan koordinasi dengan tim Barito Group untuk proyek infrastruktur, Adrian?" buka Alexander seraya memotong daging di piring porselennya dengan gerakan amat presisi.
Adrian menyapu bibirnya dengan serbet kain sebelum menjawab. "Semuanya berjalan sesuai rencana, Ayah. Gatan Rain menyetujui penambahan klausul keamanan obligasi. Namun, pihak Mahendra melalui Raka mulai mempertanyakan beberapa pembagian persentase dividen di divisi operasional."
Alexander tertawa dingin. "Raka Mahendra terlalu terburu-buru ingin membuktikan diri di depan Kael. Dia berpikir dengan menyingkirkan Zavier, dia sudah memegang kendali penuh. Padahal Kael sengaja membiarkan Raka maju untuk menguji seberapa jauh Barito bisa kita manfaatkan."
Nayla mendengarkan setiap patah kata itu dalam diam. Di rumah ini, manusia memang selalu diukur dari seberapa besar nilai kegunaannya dalam papan catur bisnis.
Alexander berpaling menatap Nayla, membuat suasana di meja makan seketika makin hening.
"Nayla," panggil Alexander dengan suara tebal penuh wibawa. "Mulai minggu depan, jadwal les privat manajemen investasimu akan ditambah tiga kali seminggu. Aku sudah meminta tim hukum Alveric untuk menyiapkan draf keterlibatanmu di yayasan Alveric Foundation."
Nayla meletakkan sendoknya secara perlahan. Keberanian yang ia bangun sejak pembicaraannya dengan Zavier di tangga darurat dan di taman sekolah tadi kini meluap penuh.
"Nayla tidak mau masuk ke Alveric Foundation, Ayah," ujar Nayla dengan suara jernih yang memecah keheningan meja makan.
Eleanor menahan napasnya pelan, sementara Adrian dan Julian menghentikan gerakan tangan mereka. Aurora melirik kakaknya dengan mata membulat kaget.
Alexander menyipitkan mata tajam. "Apa kamu bilang?"
Open 👉 ke bab selanjutnya
kekny zavier ini tipe aku 🤭