Bagaimana rasanya jika tiba tiba-tiba kamu harus menikah dengan pria yang 10 tahun lebih tua darimu?
Seharusnya tidak masalah, bukan?
Tapi bagaimana jika pria itu adalah kakak sepupumu sendiri yang tumbuh bersama denganmu?
Seharusnya itu juga tidak masalah.
Tapi, bagaimana jika dia adalah tunangan kakakmu yg telah menjalin kasih dengan kakakmu selama 8 tahun?
Masih mau?
Elnaz Mikayla tidak punya pilihan selain harus menerima pernikahan dengan sepupunya sekilagus tunangan kakaknya sendiri.
Bagaiamana bisa?
Apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 8 - Hanya Ingin Melindungi
Elsa duduk termenung di kamar nya, matanya sudah sangat sembab karena ia tak berhenti menangis. Menangisi kisah cinta nya yg berakhir dengan begitu ironis, dan itu semua salah nya. Seandainya yg Arfan nikahi bukan adik nya sendiri, mungkin rasa nya takkan sesakit ini.
Begitu juga dengan Elnaz yg juga termenung di kamar nya, air matanya bahkan seolah sudah mengering dan tak mau keluar lagian sekalipun hati nya masih sakit dan sesak.
Sementara di luar, Yuni dan suaminya sedang menikmati makan malam mereka tanpa memanggil Elnaz. Dan Elnaz juga merasa malu jika harus keluar kamar.
"Bu, apa engga sebaiknya panggil Elnaz? Kasian dia, pasti lapar. Dari siang belum makan" ujar Adi.
"Untuk apa masih harus di panggil, Pak? Biarkan saja, dia itu menantu di sini, bukan ratu. Dia harus tahu diri di sini"
"Tapi kan dia juga masih keponakan kita, Bu. Bahkan dia keponakan kandung mu lho, dia menjadi menantu kita juga salah kita sendiri yg membiarkan Elsa pergi dan membiarkan Arfan menikahi Elnaz" tukas Pak Adi.
"Ya sudahlah, tidak usah bicarakan itu. Ibu belum bisa menerima Elnaz, dia masih kecil. Tidak cocok dengan Arfan, lebih cocok Elsa. Bapak juga tidak perlu sok perhatian pada Elnaz, biar dia tahu diri dimana sekarang dia tinggal"
Adi hanya bisa mendesah lesu dan melanjutkan makan malam nya. Istri nya itu memang sama seperti ipar ipar nya, tak mengharapkan kehadiran Elnaz. Apa lagi istrinya itu sangat dekat dengan adik ipar nya, Isna. Mereka cocok darah. Apa yg di sukai salah satu dari mereka, akan di sukai yg lain nya. Dan apa yg tidak di sukai salah satu dari mereka, maka yg satu nya juga pasti tidak akan menyukai nya.
Sementara di kamar, Elnaz merasa sangat lapar. Ia hanya makan bekal yg di berikan nenek nya tadi pagi, Elnaz pun memutuskan untuk tidur saja supaya lapar nya hilang. Selain itu, ia tidak mau berhadapan dengan Arfan atau melihat wajah pria itu.
Elnaz meringkuk di sisi ranjang, bahkan terlalu ke tepi. Ia memejamkan mata hingga alam mimpi menjemput nya.
.........
Jam 10 malam Arfan baru sampai ke rumahnya, ia melihat ibu dan ayahnya yg masih berada di ruang tengah dan menonton tv.
"Sudah pulang, Fan?" sapa sang ayah.
"Iya, Pa" jawab Arfan lesu.
"Sudah makan malam?" tanya nya lagi.
"Sudah, apa kalian sudah makan malam?"
"Sudah" jawab Adi.
"Apa Elnaz juga sudah makan malam?"
"Be..."
"Sudah" Yuni menyela ucapan suami nya dengan cepat. Adi melirik Yuni penuh tanda tanya, namun Yuni mengabaikan hal itu.
Arfan pun segera ke kamar nya, ia berjalan pelan pelan agar tak mengganggu Elnaz yg tertidur.
"El, kenapa tidur di tepi ranjang begini. Nanti kamu jatuh, Princess" gumam Arfan dan ia pun memindahkan Elnaz ke tengah ranjang.
Setelah itu ia segera membersihkan diri, melaksanakan sholat isya kemudian tidur di sofa yg ada di pojok kamar nya.
.........
Elnaz terbangun tepat saat terdengar suara adzan yg berkumandang, ia mengucek mata nya dan memperhatikan sekeliling nya. Sekali lagi, ia sadar itu bukan kamar nya melainkan kamar kakak sepupu nya. Hati Elnaz kembali terasa sesak setiap kali mengingat status nya kini yg sudah menjadi istri kakak sepupunya.
Elnaz merangkak turun dari ranjang dan ia melihat Arfan yg masih tertidur di sofa.
Elnaz mencoba mengabaikan keberadaan Arfan, ia mengambil wudhu dan melaksanakan shalat sunnah dua rakaat yg di ikuti sholat subuh.
Setelah selesai sholat, Elnaz berdizkir dan berdoa yg di lanjutkan dengan ia mencari cari Qur'an nya di koper nya dan tidak ada. Itu artinya Arfan tidak membawakan Qur'an nya. Elnaz pun me ngambil Quran Arfan dan ia mulai membaca Qur'an, berharap hati nya lebih tenang setelah itu. Elnaz juga berdoa dengan sepenuh hati, memohon petunjuk pada Rabb nya. Karena sungguh, apapun yg terjadi di dunia ini selalu atas kehendak Tuhan dan Tuhan selalu di punya alasan di balik setiap kehendak nya.
Mendengar suara lirih Elnaz yg membaca Al Qur'an membuat Arfan terbangun dari tidur nya. Dan ia melihat Elnaz menggunakan Al Quran nya, Arfan baru teringat ia lupa membawakan Al Quran adik nya itu.
Arfan pun segera ke kamar mandi guna mengambil wudhu, ia melaksanakan sholat di samping Elnaz yg masih membaca Al Qur'an.
Setelah sholat, Arfan juga berdizkir dan berdoa. Berdoa memohon petunjuk lagi dan lagi, karena ia tak ingin menjadi orang yg egois dan dzolim.
Setelah semua aktivitas nya selesei, Elnaz merapikan ranjang nya. Sementara Arfan pergi ke kamar mandi untuk mandi.
Kedua nya masih sama sama membisu, bahkan saat Arfan mencari pakaian nya di lemari nya. Elnaz hanya duduk di tepi jendela yg ia buka lebar lebar.
"Hari ini jangan keluar rumah" seru Arfan pada Elnaz, Elnaz melirik suaminya sesaat dan kemudian ia kembali memalingkan wajahnya. Sementara Arfan yg sudah rapi pun bergegas keluar kamar.
"Ma..." seru Arfan yg melihat ibu nya hendak pergi ke pasar bersama ayahnya.
"Mau kemana, Fan? Pagi pagi buta begini sudah rapi?" tanya ayahnya.
"Ada pasien yg harus di tangani" jawab Arfan berbohong.
"Tolong ingatkan Elnaz untuk sarapan" pinta nya dan ayahnya pun mengangguk.
Arfan masuk ke dalam mobil nya dan segera menjalankan mobil nya, ia kembali berhenti di tepi sungai yg tepi.
Arfan menyandarkan kepalanya di setir mobil, kembali ia memikirkan masalah nya.
Arfan masih tidak tahu harus apa dan bagaimana. Sementara ia melarang Elnaz keluar rumah karena ia ingin melindungi Elnaz dari mendengar gosip gosip tetangga. Arfan tak mau psikis Elnaz semakin terpukul karena hal itu.
"Berikan aku petunjuk Mu, ya Allah. Agar aku tidak semakin menghancurkan Elnaz"
.........
Elnaz masih setia berdiam diri di kamar nya bahkan saat mentari sudah tinggi, ia sudah tak sanggup lagi menangis. Air mata nya sudah tak mau keluar lagi.
Elnaz menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nya perlahan. Elnaz pun memutuskan keluar dari kamar dan mencoba berinteraksi dengan mertua nya yg masih om dan tante nya. Elnaz juga tak ingin keluar rumah meskipun tidak di perintahkan oleh Arfan, karena Elnaz takkan sanggup mendengar gosip tetangga.
"Tante..." seru Elnaz yg kini sudah berada di dapur dan ia melihat bibi kandung nya itu sedang sibuk memasak "Ada yg bisa El bantu?" tanya nya namun Yuni seolah tak mendengar dan tak melihat siapapun. Hati Elnaz kembali perih di abaikan seperti itu.
Elnaz melihat ada ayam yg seperti nya belum di cuci, Elnaz pun mengambil ayam itu dan hendak mencuci nya namun dengan kasar Yuni merampas ayam itu dari tangan Elnaz, membuat Elnaz sangat terkejut. Air mata Elnaz kembali mengalir begitu saja.
"Masih ada stok air mata rupanya" Elnaz membatin sinis, menertawai diri nya sendiri.
Elnaz faham, Elnaz mengerti. Ia tak di terima oleh mertua nya. Yuni dan kedua orangtua nya memang sama saja, tak pernah begitu menyukai Elnaz sejak kecil. Mereka semua jauh lebih menyukai Elsa.
Elnaz kembali ke kamar nya, mengurung diri di sana dan ia menekan perut nya yg sangat lapar.